DIJUAL CEPAT VILLA

DIJUAL CEPAT VILLA

Lokasi : Jln . Raya Uluwatu No. 2B, Kuta Selatan

Denpasar Bali – (Lokasi sebelum GWK)

Luas Tanah : 700 M2

Luas Bangunan : 400 M2

SPECC : 1. 3 Kamar Tidur + Kamar Mandi

2. Ruang Makan

3. Ruang Keluarga

4. Dapur

5. Tempat Jaga

6. Kolam Renang

Listrik : 10.000 Watt

Harga : Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar rupiah)

Bisa nego langsung pemilik

Status : SHM

Regards

Made L. Wijaya

HP. 0812 949 9049

HP. 0813 1102 2449

Informasi Lengkap silakan Klik :

http://olx.co.id/iklan/villa-dijual-cepat-IDoDbbL.html

Selasa, 30 Maret 2010

Bhagawan Drona dan Dewi Wilutama

Bhagawan Drona

Bhagawan Wraspati mempunyai putra bernama Baradwaja yang pernah memerintah di Negeri Antasangin. Tatkala memasuki masa wanaprastha ia melaksanakan tapa sebagai Brahmana Pandita di tengah hutan, berita ini terdengar oleh sahabatnya, Raja Pancala. Ia begitu terharu, karena ia tahu, sahabatnya masih mempunyai putra yang masih bocah bernama Kanwa dan Kumbayana. 

 

Akhirnya, ia putuskan untuk menitipkan putra mahkotanya, Sucitra, yang juga masih usia kanak-kanak padanya. Untuk diberikan pendidikan ilmu kawisesan. Sucitra, sangat senang berguru pada Rsi Baradwaja. Di mata Sucitra, Baradwaja adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Begitu pula Kanwa dan Kumbayana sahabat kecilnya, selalu mengalah dan memanjakannya. Terlebih-lebih Kumbayana, ia merasakan adanya rasa melebihi sosok saudara.
 
Sucitra mewarisi ilmu kepemimpinan dari Baradwaja. Sedangkan Kumbayana yang rajin berlatih kanuragan mewarisi ilmu memanah dari orangtuanya. Sekian tahun, mereka bersama. Akhirnya, tiba saatnya mereka berpisah. Raja Pancala menjemput putranya.

 
Kedua remaja itu berpelukan. Tak tahan, airmata mereka menetes, meliuk membuat sungai kecil di pipi. Mengharukan sekali. Sucitra kemudian membuat usulan. Kumbayana membisu. Ia tak bisa menolak ajakan Sucitra.

 
“Baiklah, ku takbisa memaksa, kelak ketika dewasa datanglah ke istanaku, kita kendalikan bersama kerajaan Pancala. Aku janji, demi Dewata, ku takakan menyia-nyiakan kamu….datanglah ke istanaku.”

 
“Baiklah, Sucitra. Aku percaya padamu. Aku janji, suatu hari nanti kuakan mencarimu.”

 
Hidup semakin redup sejak Sucitra pergi. Keceriaan Kumbayana berubah, ia tak lagi senang bermain kesana-kemari. Ia lebih senang diam di pertapaan, membaca sastra menemani Rsi Baradwaja.


 
Seiring waktu bertambah sekian jilid buku dilahapnya. Vedanta yang paling sulitpun dipelajarinya. Akhirnya, di masa dewasa ia tumbuh menjadi pemuda cerdas. Selain sakti mandraguna, ia sangat tahan uji, dan menjungjung tinggi nilai-nilai satyawacana (setia pada janji). Ia sangat membenci pada moral orang yang senang ingkar pada janji. Karena, ingkar pada janji akan menyebabkan kepribadian orang terpuruk pada lembah yang paling nista. Keyakinan itu, membawa Kumbayana pada keinginan yang menggebu-gebu utnuk menemui sahabatnya Sucitra.


Rsi Baradwaja, yang mengetahui keinginan putranya, rela hati melepaskannya. Apalagi secara nyata, Kumbayana mampu menunjukkan kemampuan menguasai ilmu filsafat Vedanta dan strategi perang yang tertinggi. “Pergilah, Nanda. Temui sahabatmu Sucitra, kurestui perjalananmu. Kini namamu Drona, yang berarti engkau telah lulus dalam upaya mencapai kepribadian tertinggi.”

 
Pagi cerah, mentari melumuri pepohonan dengan sinarnya yang sejuk. Perjalanan yang cukup jauh, sampai akhirnya ia harus tertambat pada laut yang luas. Ia berdiri dibatu karang. Ombak menghantam garang. Drona kecewa. Supaya mencapai Pancala. Ia sedapat mungkin, harus mampu berenang melintasi luasnya samudra. 


Ia menggeleng, pasrah. Pupus harapan bertemu sahabat lama. Dalam hati ia merutuki nasibnya. Berhari-hari ia tak makan, merenung melaksanakan darana, dyana, semadhi. Mulutnya kering, hanya air laut yang dikirim buih lidah ombak melumuri celah bibirnya. Ia bertekad, kalau tak mampu mencari solusi, biar saja, ia terkubur bersama keinginannya yang menggebu. Akhirnya di puncak ketiadaberdayaan, ia pun bersumpah.
 
“kalau saja ada yang mampu menyebrangkan diriku, andaikan lelaki akan kujadikan saudara tertua dan menghormatinya seumur hidup. Jika wanita kuperistri….” Sumpahnya.


Sumpah Drona didengar Hyang Guru di Swarga Loka. Beliau, lantas mengutus seorang bidadari bernama Dewi Wilutama. Turun ke dunia untuk menggoda Drona. Dewi Wilutama menyamar menjadi seekor kuda betina.

 

Saat Drona sedang berusaha menekan keinginan bertemu dengan Sucitra, seekor kuda betina menghampirinya. Uniknya, kuda itu tidak seliar kuda lainnya. Ia datang, lalu mengendus dan menjilati punggung Drona. Saat mata sang kuda bertemu mata Drona. Terjadilah keajaiban, dalam pikiran Drona terangkai kata-kata yang indah. Dan ia terpesona. “Siapakah yang merangkai kata-kata ini ?”
“Aku ? “
Drona celingukan mencari-cari orang yang berkata dalam pikirannya.

 
“Tataplah mata kuda dihadapanmu. Dan, mohonlah sesuatu.”
“Tak mungkin, aku mengulang suatu permintaan. Pernah kunyatakan, siapaun yang mampu menyebrangkan aku je Negeri Pancala maka kalau ia lelaki akan kuangkat saudara, kalau perempuan kujadikan istri.”

 
“Ya, aku mampu menyebrangkan dirimu menuju Pancala. Naiklah ke punggungku.”

 
Drona yang putus asa, akhirnya menunggang punggung kuda betina. Dan, ajaib, kuda itu melesat tanpa rasa takut menyebrangi laut yang luas. Lawaknya, ia mengendarai kuda di darat. Sehari, semalam. Kuda berenang. Sampai akhirnya mereka menemukan daratan. 


Awalnya, mata Drona menangkap puncak-puncak karang bermunculan pertanda daratan tak jauh lagi. Saat kaki mereka menginjak pasir. Drona nampak murung, ia teringat kata-katanya. Terbayang sumpahnya. Ia harus menepati semua janji-janjinya. Itulah, naursot (penebus janji) yang harus dilaksanakan. Ia harus mengawini kuda betina itu, untuk menebus janji-janjinya. Karena, kuda itulah yang mampu menyebrangkan dirinya. Di tengah hati yang membuncah, galau. Drona hanya bisa diam merenung. Sementara, ia tak melanjutkan perjalanan. 

Ia hanya duduk menghabiskan hari di pantai itu, menjawab pertanyaan yang memenuhi ruang logikanya. “Akankan aku harus mempersunting kuda ? Gila, adakah moral dimataku ! Aku bernama Drona, Vedanta tertinggi telah kuraih !! Alhasil. Semua pertanyaan sulit mampu kujawab. Siapapun ahli Vedanta di pelosok negeri akan menyerah padaku….

Kenyataannya kuharus mempersunting kuda. Mengawini layaknya anak manusia. Ah! Lalu aku harus bagaimana ? Andaikata seorang yang diinisiasi menguasai Weda tidak satyawacana. Tidak menepati janjinya ? Kematian yang pantas dipersembahkan padanya ? Atau ia harus dipermalukan seumur hidupnya.

 
Pertanyaan-pertanyaan Drona mengalir bagaikan air bah menghantam sendi-sendi kepasrahannya. Ia harus segera memutuskan, mana yang harus dipilih. Menghindar ? atau menebus janjinya (naursot). Akhirnya, ia memilih mengawini kuda betina itu. Langit pun terasa aneh, menyaksikan pernikahan unik yang tak lazim.

 
Berbulan-bulan mereka menghabiskan hari di pantai Pancala. Kuda betina itu hamil. Semakin hari, semakin nampak buntingnya. Drona semakin setress. Saat ia berjalan, tanpa sengaja seorang nelayan memergokinya. Rupanya, dari dulu, ia sudah diamati. Hanya tak berani menegur. 


Karena dianggapnya Drona manusia gila. Bagaimana tidak ? Seorang manusia bermesraan dengan seekor kuda. Manakala Drona sendirian, baru nelayan itu berani menyapa. Diajaknya Drona ke pondoknya, diberinya makan serta pakaian layak. Drona tersentuh dan tiada sengaja ia curahkan seluruh isi hatinya. Mengenai perjalanannya menuju Pancala, sampai akhirnya harus menikahi seekor kuda betina. Nelayan itu, manggut-manggut. Ia tak mampu meringankan beban penderitaan Drona. Ia hanya bisa prihatin.
 
Dari sinilah, cerita ini berawal. Penderitaan Drona, sampai ke telinga Patih Gandamana, lalu ke telinga Sucitra, yang kini bernama Drupada.
“Beristri kuda ?”
“Ya, Tuan……”

 
“Dimana moral manusia seperti itu ? Perbuatan salahtimpal hukumannya berat. Perbuatan asusila yang mencemari desa. Harus diadakan ruwat dengan upacara kurban kalau masyarakat nelayan itu mau selamat, “ kata Drupada, penuh kemuakan.


Suatu hari, Drona sangat panik. Tiba-tiba saja, kuda betina itu rebah. Mengerang, menahan sakit. Rupanya hendak melahirkan. Tiada lama, terdengarlah suara menyayat hati. Tangisan seorang bayi. Drona memungut lalu memangku orok yang terdampar di tumpukan ilalang. Dirangkulnya Drona, bayi itu menangis sejadi-jadinya. Drona hanya bisa bingung. Setelah diperhatikan ternyata si jabang bay sangat mirip dengannya. Lantas, mulut bayi didekatkan pada tetek kuda yang sedang rebah. Bayi itu pun menyusu.

 
Semakin hari bertambah, bayi itu semakin montok dan sehat. Kemana-mana Drona pergi, kuda itu menyertai. Pada suatu hari, ia hendak menghadap ke istana Sucitra. Kendati dilarang, kuda itu justru membangkang mau ikut jua. Akhirnya, Drona putus asa. Ia mengambil anak panahnya. 


Dan, membentangkan pada busurnya. Rencananya, sih menakut-nakuti, namun setan apa yang menyebabkan tangannya lalai, anak panah melesat. Prash..!! Tepat menembus jantung kuda betina. Saat sekarat, meregang nyawa, kuda itu lenyap. Dan, berubah menjadi sosok seorang Dewi yang cantik sekali.
 
“Wahai Drona, namaku Dewi Wilutama ,” katanya

 
“Aku seorang bidadari. Aku diutus Hyang Guru untuk menggodamu. Kini, pengabdianku telah berakhir. Aku akan kembali ke Swarga Loka. Namun, sebelum aku pergi. Kutitip anak kita padamu. Rawatlah anak kita, agar menjadi manusia berguna. Anak ini, tadinya belum punya nama. Maka, kuberi nama Aswatama.”

 
Setelah menyerahkan Aswatama, Dewi Wilutama kembali ke kahyangan. Hanya tinggal Drona dan Aswatama yang merana diguyur sunyi.
Kumpulan Dongeng Hindu olih Putu Sugih Arta

Senin, 22 Maret 2010

Diah Tantri

LUKISAN PAK SUTADI

Siklus kehidupan, dari usia kanak-kanak sampai renta, bagi mahkluk hidup terutama manusia, secara pribadi merupakan misteri yang tiada pernah terungkap sampai sekarang. Untuk mengungkap, mereka dibatasi umur. Disebut kanak-kanak sampai umur sekian. 


Usia remaja, dewasa...bla...bla...bla... tua dan mati. semua peristiwa yang dialaminya sirna terbakar api, tergerus angin dan larut dalam catatan air. Bagi sebagian orang, bertambahnya usia, adalah siksaan. Ketakutan terhadap dewi maut yang selalu mengintip, menjemput dirinya adalah siksa.

Selain usia, cinta pun misteri. Kadangkala, cinta datang, singgah sebentar lalu pergi tak pernah terpikirkan. Kendati gejalanya, terasakan sampai ke akar nadi. Namun, penyelesaiannya selalu melalui proses yang panjang untuk menuntaskannya. Cinta juga merupakan siksa.


Usia dan cinta, selalu berjalan beriringan. Namun, kadangkala saling menyimpang. Semua itu, karena kepuasan yang tak punya batas.


Kerajaan Patali, di daratan Jambu Warsa memang sangat disegani oleh pemerintahan apenage dibawah kekuasaannya. Tak terkira, aliran upeti setiap tahun diterima oleh rajanya, Sri Ari Dara. Kendati aliran upeti, emas dan permata yang melimpah ruah, ia tetap tak terpengaruh oleh kenikmatan dunia itu. Sehingga tak diragukan lagi, benar adanya, para bhagawanta istana, menjuluki beliau dengan gelar Sri Singapati yaitu orang besar yang telah mampu menaklukkan panca indra. Pasalnya, sedari muda ia begitu rajin belajar menekuni sastra Wedha.



Sekian tahun dalam hitungan hari umur buana bertambah. Seiring pula perjalanan usia sang penguasa Patali, yang ditunjukkan sengan raut yang mulai keriput, rambut mulai berwarna. Hatinya mulai gusar, apalagi melihat permaisurinya tidak lagi berkulit kencang. Guratan ketuaan memancar dari wajahnya. Untuk menghilangkan kegundahannya itu, ia pun mengadakan pesta pora untuk rakyatnya tercinta.


Tatkala pesta tiba, baginda raja merasa cemburu melihat pasangan muda dan mudi Patali berduyun-duyun datang ke alun-alun. Betapa mesra mereka di pesta itu. Angannya, menerawang masa mudanya. Api asmara itu menggelegar kembali, membunuhi perasaan tua. Ia merasa perjaka kembali. Namun saat ia menoleh ke arah permaisuri di sebelahnya. Uph! Binar jiwanya meredup. "Istriku tiada lagi menarik..." pekik bathinnya.

 
Rombongan undangan yang memadati upacara pesta rakyat semakin bertambah. Agak jauh dari singgasananya, duduk sosok sepuh penuh wibawa. Beliau dikenal dengan nama Rakryan Patih Bandeswarya. Di sebelahnya duduk istrinya yang bernama Diah Pinatih. Mereka tak bergeming menyaksikan tampilan tarian yang diiringi oleh gamelan Semar Pagulingan yang bersuara merdu.


Dari luar alun-alun, menyeruak di antara rimbunan penonton. Seorang dara manis diiringi dua orang dayang-dayang menuju ke arah Ki Patih. Orang tua sepuh itu tersenyum, lalu telunjuknya mengarah ke singgasana raja. Bersamaan Ki Patih bangun sembari membimbing lengan sang istri, si dara manis tergopoh-gopoh membuntutinya.


"Daulat Tuanku. Maafkan hamba yang rendah ini menghadap bersama keluarga di hadapan Tuanku."


Raja menoleh ke arah Ki Patih. Ia pun tersenyum, dipandanginya wajah-wajah dihadapannya. Tatkala, sepasang matanya menumbuk mata sayu Diah Tantri. Gemuruh badai menghantam jiwanya. Ia merasakan hal yang luar biasa. entahlah, mahluk apa yang bersemayam sehingga imannya runtuh. Lama ia bengong. Layaknya, melihat bintang jatuh tepat di hadapannya.


"Tuanku, ia putri hamba. Namanya, Diah Tantri."
Raja mengangguk, wajahnya merah menahan malu.
"Ki Patih, janganlah duduk berjauhan. Di sebelahku masih banyak kursi kosong. Silahkan, ambil tempat yang lebih dekat lagi...."
"Ba...baik. Tuanku...."



Ki Patih Bandeswaryapun mengambil tempat di sebelah kanan raja. Acara pertunjukan berlalu, namun mata raja selalu saja sempat mencuri pandang ke arah Diah Tantri. Ia tak pernah menikmati atraksi seniman yang menyuguhkan keindahan padanya.


Seminggu kemudian, tidak biasanya raja memanggil Ki Patih secara dadakan dan tanpa protokoler. Ia hanya mengutus pengawal, tanpa surat. Pangawal itu, hanya menyampaikan sepatah kata "Raja hendak membicarakan sesuatu yang sangat rahasia".
Pikiran Ki Patih tak mampu menduga, apa yang akan disampaikan raja. Secara tergesa-gesa ia pun menuju pendopo istana.


"Daulat, Tuanku. Patih menghadap, apa yang hendak baginda sampaikan ?"
"Ki Patih....! hendaknya Ki Patih memahami apa yang hendak aku sampaikan.


 Dalam pemujaanku setiap hari pada Dewata, aku selalu menggunakan sarana bunga dan dupa yang baru. Sangat nista sekali pemujaan itu, andaikata saja aku menggunakan bunga yang layu. Apalagi, bunga yang sudah kupersembahkan kupakai lagi. Ukh ! Betapa hina rasanya. Begitu pula, seorang gadis tak boleh duakali melayani di pelaminan. Ibarat bunga layu, sangat nista rasanya. Aku kembalikan kepadamu. Apakah raja yang megah dan agung, maha utama ditengah masyarakatnya nyatanya nista belaka ?"

Otak Ki Patih Bandeswarya yang cerdas mengolah kalimat junjungannya. Akhirnya, ia menyimpulkan, junjungannya mengalami masa puber kedua. Ia tak bisa menolak. Keputusan raja adalah utama. Apapun itu, ia harus melaksanakan.


"Baiklah, Tuanku. Hamba paham, seluruh gadis Patali adalah milik Tuanku. Hamba akan berusaha mencarikan yang Tuanku kehendaki setiap hari......"


Ki Patih pulang. Esoknya, Ki Patih mulai berburu gadis 'ABG' di desa itu. Jauh sampai ke pelosok perkampungan. Awalnya, sih mudah. Namun, semakin hari ternyata kian berat. Sedangkan raja tak mau menerima andaikata Ki Patih mengatakan gadis-gadis sudah mulai berkurang. Coba saja, selama kurun enam bulan ini, puluhan gadis telah menjadi korban sang raja yang penuh nafsu. Ia jadi pusing melihat kelakuan tuannya. Bayangkan saja, satu hari satu orang gadis. Habis melayani lalu dibuang.



Ki Patih yang mulanya ceria. Kini, mulai murung. "Andaikata  gadis-gadis di negeri Patali telah habis, tinggal putriku Diah Tantri. Orang tua macam apa aku ini, kalau saja rela menyerahkan putri semata wayangku pada raja angkara ?"

Sepulang dari istana, ia hempaskan tubuhnya di balai payogan. Tanpa bersalin pakaian, langsung tidur, lagaknya seperti orang yang frustasi saja. Gelagat buruk ini ditangkap oleh Diah Pinatih istrinya. Ia pun memanggil Diah Tantri, putrinya.

"Aduh, Ibu, ada apa memanggil Nanda ?"


Diah Pinatih menatap wajah putrinya lekat. Betapa terkejut dirinya, kulit kemayu itu pucat, seolah tiada dialiri darah, "Nanda, kamu sakit ?".
Menguneng Ragi dan Rarasati, embannya saling toleh. Lalu Manguneng Ragi menjawab, "junjungan hamba tidak sakit, Gusti. Hanya kecapaian, bayangkan saja setiap malam harus menghapal sastra yang diajarkan Dang Guru....."


"Bayangkan saja," potong Rarasati, "sastra yang dihafal tiga sergah, sembilan puluh sloka, serta tigaratus sepuluh penjelasannya. Belum lagi yang lain. Andaikata otak saya yang diperintah begitu, pasti saya sudah semaput, Gusti," lanjutnya terkagum-kagum.
"Sudahlah, Bibi. Jangan dilanjutkan ... saya senang melakukannya," ujar Diah Tantri.


Ibunya tersenyum. "Bunda bangga padamu. Bunda cuma ingin menyampaikan sesuatu, tentang ayahandamu. Lihatlah perilakunya, setiap hari seperti orang linglung. Bunda jadi kasihan. Cuma kamu yang bisa menghiburnya. Tanyakan apa yang telah terjadi ?".
"Baiklah, Bunda..."


Esok harinya, saat ayahandanya masih lelap dalam tidurnya, Diah Tantri sembari membawa pecanangan - tempet sirih - mengunjungi ayahandanya. Ia menunggu, sabar, di samping balai.
Saat ayahandanya mengendus, ia terperanjat.



"Oh, putriku. Sudah lama?"

"Baru saja, ayah...."

"Tidak biasanya, ananda ke mari. Adakah sesuatu yang kurang ? Andaikata ya, ayahanda akan membelikan apapun itu. "


"Tidak, ayah. Justru sebaliknya ada apa dengan ayah ? Tidak biasanya, ayahanda berubah jadi pemurung, jarang bicara dan nanda sering menjumpai ayah melamun di balai payogan ..."


Mendengar ketulusan putrinya, Ki Patih yang bertubuh kekar, meneteskan airmata haru. Maka diceritakanlah kejadian di istana. Raja yang suka mengumbar nafsu, sudah puluhan gadis Patali menjadi korban. Kini, para gadis sudah habis. Ia merasa tak mampu lagi mengabdi pada Raja Patali.


"Andaikata demikian, biarlah ananda untuk selanjutnya menjadi korban bagi Raja Patali. Demi ayah, ananda siap, kok ?"
"Janganlah, ananda berkata begitu. Ayahanda tak sudi menyerahkan dirimu pada raja..."



Akhirnya Ki Patih Badeswarya menyerah. Ia sendiri mengantar putrinya ke istana. Betapa senangnya, Prabhu Ari Dhara. "Andaikata Ki Patih menyadari, aku menginginkan putrinya, tentu kejadian ini dapat dihindarkan. Sampai saat ini, aku sangat menghormati kesetiaan dan pengabdian Ki Patih," kata batinnya.


Saat malam mulai merambah, sang raja sangat lelah. Ia pun merebahkan diri disamping Diah Tantri. Dengan sabar Diah Tantri melepaskan mahkota sang Prabhu, sembari bercerita. Ia menceritakan Nadhaka Harana. Sang Prabhu sampai tertidur mendengar kisah Diah Tantri yang luar biasa. Malam, keesokan harinya pun kejadiannya sama, Sang Prabhu minta dilanjutkan cerita, raja pun mengantuk lalu tertidur lagi. Begitulah seterusnya, Diah Tantri tak pernah selesai menuturkan ceritanya, selalu bersambung dan tak pernah habis ide ceritanya. Bagaikan air yang mengalir tiada henti.


Perjuangan Diah Tantri ternyata berhasil, raja mulai sadar. Ia kembali pada permaisurinya. Hidup rukun di usia senja. Selama menjadi istri kedua raja, Diah Tantri tak pernah disentuh, ya, seperti gadis Patali Lainnya. Prabhu Ari Dhara lebih menyukai tutur ceritanya yang menawan.

Kumpulan Dongeng Hindu olih Putu Sugih Arta
Suksma Lukisan Bapak Sutadi
Do you LOVEBALI ???

Minggu, 14 Maret 2010

Hari Raya Nyepi Caka 1932

Kebangkitan, Toleransi dan Kerukunan


Menurut agama Hindu, alam semesta ini pada mulanya kosong, sunyi, gelap gulita, tiada ada yang ada. Maka tibalah awal penciptaan, sebutir indung telur bernama Hiranyagarbha sakti merupakan benih pertama dari segala yang tercipta, disebut juga Mahadivya, pada awal yuga pertama. Inilah cahaya Brahman, Mahatman pertama, kekal abadi, tiada terlukiskan, cemerlang memancar kemana-mana, keseluruh penjuru. 


Ini adalah asal mula paling halus alam benda atau alam jasmani dan alam bukan-benda atau alam rohani. Dari indung telur cahaya Brahman ini terlahir Pitamaha, satu-satunya makhluk yang disebut Prajapati pertama.

Kemudian setelah Brahman, Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), Tercipta sendiri cahaya ilahi suci Wiwaswan atau Sambhu. Demikianlah kemudian Brahman menciptakan surga, ujung surga, planet, angkasa, bulan, udara, ether, air, bumi; kemudian tahun, musim, sasih (bulan), paksha ( tilem dan purnama), siang dan malam. 



Wiwaswan atau Sambhu sebagai personifikasi matahari menerima wahyu dari Brahman untuk menciptakan manusia pertama, yaitu Manu. Sambhu pula yang mengajarkan kepada Manu ajaran-ajaran suci dalam bentuk Weda-Desa. Manu kemudian mengajarkan wahyu, yaitu isi kitab Weda kepada Iswaku, hukum yang mengatur kehidupan di alam semesta, agar alam semesta dapat dilestarikan dan tidak musnah di Kala Yuga mendatang.

Abad I tahun Masehi ditandai oleh zaman keemasan bagi umat Hindu. Di India, dimana agama Hindu untuk pertama kalinya diwahyukan Hyang Widhi kepada manusia pertama, Manu, zaman gemilang ini dicatat dengan lahirnya Kanishka I dari keturunan Dinasti Kushana. Kaniskha I masyhur karena sikap toleransinya yang terlahir dari kebangkitan umat beragama, baik agama Budha, agama Hindu sekte Siwa, sekte Wisnu, Tantri, Tirtha dan sebagainya.


Kehadiran sang pendita Saka gelar Aji Saka yang teramat penting di bumi Indonesia tidak dapat dilewatkan begitu saja. Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah kebangkitan dan toleransi beragama yang sangat harmonis, serasi dan selaras dengan sikap dan watak bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Pendita Saka gelar Aji Saka ini adalah keturunan bangsa Saka dari Kshatrapa Gujarat, barat laut India, tiba di Indonesia pada tahun 456 Masehi, tatkala di India berkuasa Maharaja Diraja Skanda Gupta dari Dinasti Gupta Yang Agung, yang menaklukkan Dinasti Kushana.


Berkat ketekunan dan keuletan Pendita Saka gelar Aji Saka dalam menyebarkan doktrin kebangkitan dan toleransi beragama yang dirintis oleh Maharaja Diraja Kanishka I hampir 400 tahun sebelumnya, yaitu sejak tahun 78 Masehi di India, doktrin ini terus berkembang hingga kini dan makin hari makin subur.



Demikianlah hari tanggal satu bulan satu tahun satu Saka yang jatuh pada tahun 78 Masehi diperingati dan dirayakan oleh umat Hindu yang mengagungkan kebangkitan dan toleransi beragama sebagai Hari Raya Nyepi.



Bagi umat Hindu, mengagungkan Hari Raya Nyepi merupakan kebutuhan mutlak untuk meningkatkan spiritualitas pribadi masing-masing. Sebaliknya, umat Hindu meyakinkan dirinya bahwa kebaktian yang diberikan pribadi-pribadi untuk kepentingan agama sangat didambakan, walaupun kebaktian tersebut tidak dapat diukur dengan nilai tukar apa pun yang bersifat kebendaan dan hanya bisa diukur dengan kepuasan bathin.


Dalam menyambut Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan serangkaian upacara/upakara. Tujuan hakiki rangkaian upacara/upakara ini adalah memarisudha bhumi, menjadikan alam semesta bersih, serasi, selaras dan seimbang; bebas dari kebatilan, malapetaka, kekacauan sehingga umat manusia sejahtera, terbebas dari penindasan, kebodohan dan kemiskinan.
Rangkaian upacara/upakara ini adalah sebagai berikut :



A. Mekiis, melis, melasti
Mekiis, melis atau melasti dilakukan dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Bentuk upacaranya adalah melakukan bersih-bersih dan penyucian segala sarana dan peralatan yang dipergunakan dalam persembahyangan dan meditasi, dengan beramai-ramai mengarak sarana tersebut ke laut. Bagi umat Hindu, laut adalah lambang pembersih segala kotoran dimana Hyang Widhi dalam wujud Varuna (Baruna) siap membersihkan dan menyucikan dengan air suci tirtha.


B. Tawur Kesanga, tawur agung, mecaru
 
Tawur Kesanga atau tawur agung atau mecaru dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. 

Upacaranya bertahap menurut tingkat dan klarifikasi peruntukannya, yaitu untuk negara, wilayah, desa, banjar,rumah tangga, masing-masing sesuai dengan kelas atau tingkat persembahan yang disebut bhutayadnya atau korban suci bagi makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada manusia. 

Pada waktu senja kala, upacara/upakara ini disusul pengrupuk, mebuu-buu, yaitu pembersihan total di negeri, desa, banjar, dan rumah-rumah.


Tawur Kesanga adalah korban suci yang khusus diperuntukkan bagi bhutakala, yaitu makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia, yaitu setan, jin, kuntilanak, dedemit, memedi, gandarwa/gendruwo, leak, kuman, bakteri, virus dan lain sebagainya yang menimbulkan wabah penyakit, malapetaka, kematian, kesusahan dan sebangsanya, agar bhutakala tidak mengganggu keharmonisan hidup dan kelestarian alam.


Pengrupuk dan mebuu-buu yaitu membunyikan atau menabuh gamelan, kentongan, meriam bambu, mercon, petasan atau bunyi-bunyian apa saja dengan riuh ramai sambil mengarak ogog-ogoh berkeliling desa agar bhutakala lari tunggang langgang menjauh dari banjar dan desa. Tidak hanya itu, dengan obor dan kembang api bhutakala diusir biar enyah. 


C. Nyepi, sipeng
Nyepi atau sipeng dilakukan tepat pada tanggal satu bulan satu tahun Saka yang jatuh setelah tilem (bulan mati) sasih kesanga, pada bulan Maret tarikh Masehi, dengan jalan amati geni, amati karya, amati lelunganan dan amati lelangunan. Upacara ini disebut tapa brata.


Nyepi atau sipeng ini dilaksanakan sebagai kelanjutan upcara pembersih bagi alam semesta. Kalau dua hari dan sehari sebelum Hari Raya Nyepi telah dilakukan upacara/upakara pembersihan alat-alat persembahyangan sebagai media konsentrasi jiwa, kalau alam lingkungan sudah dobersihkan dan disucikan dari bhutakala, maka tiba saatnya untuk melaksanakan upacara/upakara pembersih diri manusia sendiri (buana alit) agar kesetabilan atau keseimbangan antara manusia ( buana alit atau mikrokosmos) dengan alam semesta (buana agung atau makrokosmos ) bisa terjamin.


Tepat pada Hari Raya Nyepi umat Hindu berkewajiban untuk tidak me-api-api, tidak melaksanakan kerja, tidak mengadakan perjalanan keluar rumah, tidak bersuka-ria.  Sebagai puncaknya, umat Hindu harus melaksanakan tapa brata, berpuasa, bersemedi, mengosongkan pikiran, menyatukan jiwa, manunggal dengan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa dalam situasi nang - ning - nung - neng - nong, yaitu; tenang, hening, merenung, meneng dan kosong !.


D. Ngembak api, ngembak geni
Ngembak api atau ngembak geni dilakukan sehari setelah Hari Raya Nyepi, yaitu ketika umat kembali menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari seperti biasa. Mulai hari itu umat melakukan sima karma , dharmasanti, saling bersilaturahmi. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian terakhir upacara/upakara Hari Raya Nyepi dengan bersembahyang dan berdoa diwaktu dini hari sebelum ayam jantan berkokok, seperti diajarkan dalam Bhagavadgita: "Berlindunglah engkau pada Hyang Widhi dengan seluruh jiwa ragamu. Dengan restu-Nya engkau akan mencapai kedamaian tertinggi yang kekal abadi."



Desa Kala Patra
Doktrin desa kala patra adalah strategi luhur bagi umat Hindu untuk menjalani hidupnya. Doktrin ini sudah diterapkan sejak zaman dahulu, jauh sebelum orang menggunakan tarikh Masehi untuk memperhitungkan waktu. Nenek moyang orang Hindu telah memperhitungkan apa artinya :



Desa : Tempat kita berada, lingkungan sekitar desa atau daerah, wilayah/kawasan dunia, alam semesta.

Kala : Masa dahulu (prasejarah, tahun Masehi, sejarah); sekarang (masa kebangkitan, pembangunan); nanti (tercapainya masa depan bangsa)

Patra : Keadaan situasi, kondisi, relevansi, dan inovasi.


Berdasarkan doktrin ini, umat Hindu akan bertanya pada diri sendiri, di mana pun, kapan pun, bagaimana hendaknya seorang berpikit, berbicara dan bertindak sesuai lingkungan tempat ia berada; pada waktu kapan sebaiknya ia berpikir, berbicara dan bertindak tepat; serta dalam situasi dan kondisi bagaimana pikiran,ucapan dan tindakannya harus dilakukan. Doktrin ini bersifat umum dan universal !.


Diukur dari luas berpijaknya umat Hindu (di mana pun di muka bumi), dalam kurun waktu kapan pun (sejak zaman prasejarah sampai sekarang), agama Hindu masih tetap ada (survive) karena agama Hindu adalah :



Sanatana Dharma : Agama yang abadi dan sudah ada sejak beribu-ribu tahun sebelum tarikh Masehi.

Arya Dharma : Agama orang-orang yang teguh, tangguh, dan perkasa.

Vaidhika Dharma : Agama yang diwahyukan Hyang Widhi Wasa.


Dalam konteks Hari Raya Nyepi yang dirayakan sebagai hari kebangkitan, toleransi dan kerukunan, doktrin desa-kala-patra ini merupakan pegangan yang kuat untuk penganut agama Hindu di luar bali yang tidak lagi merasa dipaksa untuk mengikuti kaidah-kaidah agama Hindu di Bali, tanpa mengurangi substansinya yang tetap berpola; tatwa, susila dan upacara. Harus disadari bahwa peranan adat dan seni budaya di Bali masih sangat kuat, dimana pelaksanaan ajaran agama Hindu diterapkan menurut situasi dan kondisi yang klasik.


Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi, Tahun Caka 1932

dikutip dari :
Nyepi; kebangkitan, toleransi dan kerukunan
oleh Nyoman S. Pendit

Jumat, 12 Maret 2010

Sang Subali Mayuda Ngelawan Sang Sugriwa

Wenten katuturan Rsi sane kalintang pradnyan maparab Begawan Gotama lintihang Brahmana Putra. Ida madue putra tigang diri, sane mapesengan : Sang Subali, Sang Sugriwa miwah Diah Anjani. Biang Idane maparab Dewi Naraci. 


Munggwing kesaktian Sang Subali miwah Sang Sugriwa sampun kaloktah tur kasumbung ring jagate, nyidayang ngasorang Sang Prabu Rahwana ratune ring Alengka, sane kabawos sakti mandraguna. Sang kalih punika karuruh olih Ida Bhatara Indra, sawireh kapikayun antuk Ida wantah Sang Subali sane nyidayang nandingin Sang Mahesa Sura miwah Sang Jata Sura, sane kabawos purusa parikosa.

Tan kacaritayang pemargin Ida, kancit kacunduk genah patapn Sang Subali miwah arine Sang Sugriwa. Nyingak sepengrawuh Ida Bhatara Indra, raris Sang kalih pranamia nyubakti ring Ida Bhatara Indra. Ida Bhatara Indra raris ngandika,"Udug Dewa Subali muwah Sugriwa, pastika sampun I Dewa makesiab risapang rawuh Bapane tan pesangkan. 


Nah, apanga I Dewa tatasuning teken bapane mai tusing ja ada len lakar ngidih tulung teken Dewa. Ne ada musuh bapane ane marupa raksasa maadan I Mahesa Sura maumah di gunung Kiskendane. Ida manyama, ajaka dadua tur polih panugrahan Dewata. Duaning asapunika, dados makarua raksasane punika, pada sakti mawisesa. Raksasane punika, tan prasida, kakalahang baan sarwa senjata. 


I Dewa, sareng kalih idihin bapa tulungan lakar nyiatin I Raksasa Mahesa Sura, muah adine ane maadan I Jata Sura. Yening sida, baan I Dewa ngematiang I Raksasa makarua, bapa lakar ngicen I dewa anak istri ayu pianak bapane ane maadan Dewi Tara anggon Dewa rabi. Risampune wenten runteh pangandikan Ida Bhatara kadi asapunika, raris Sang Subali muah Sang Sugriwa ngandap kasor pranamia matur saha nyembah pacang ngiring titah Ida Bhatara Indra.

Riwus punika, raris Sang Kalih maksat makeber ke ambarane. Tan asue angulayang ring ambarane, kancit sampun rawuh ring Jaba Puri Kiskendane. Ritatkala punika Sang Subali makinkin lan siaga pacang nyiatin I Raksasa, ketengah goane, nanging sadurung ngeranjing ke tengah goane Sang Subali mabesen teken Sang Sugriwa


Asapuniki daging pabesen Sang Subali,"Adi, adi Sang Sugriwa dini adi nyaga, sapetekan beline. Sampunang pisan adi tuna yatna tur waspada.  Nah, ne ada patinget beline yen ada getih barak maleset ke bungas goane sinah I Mahesa Sura muah I Jala Sura ane mati. Ditu adi apang enggal ngalih beli ketengah goane. Nanging yening ada, getih Putih maleset kebun gas goane, sinah beli ane mati, apang enggal adi nyampet bungas goane tur melaib". Sang Sugriwa matur pranamia satinut ring pabesen Sang Subali.

Sesampune wus ngandika ring arine, raris Sang Subali ngeranjing ke tengah goane. Irika raris Sang Subali mayuda ngarepin I Raksasa, makarua biih dewa ratu agung rames pesan siate, saling limpad, saling ungseng, saling kaplokin tur maruket. Sakewanten raksasa kalih punika, polih panugrahan luwih, yadiastun ping kuda, kapademan taler sida maurip malih, jantos kemewehan Sang Subali ngarepin. Siate wiakti sayan-sayan ngeramesan pisan. 


Duk punika wenten galah sane becik, Sang Subali polih nyambak bokne Sang Mahesa Sura miwah Sang Jata Sura.Irika raris I raksasa, kalih punika kapaluang tur kaantepang ngantos sirahnyane bencar tur enyag, polonyane makecrot maadukan sareng rahnyane. Sang Sugriwa raris nyingak wenten rah putih maadukan sareng rah barak mesu saking tengah goane. Mewastu kagiat kayune Sang Sugriwa ngantenang parindikane punika. Katarka rakane sampun seda, kamatyang olih musuhe sane kabinawa. Duaning asapunika wenten ring pakayunan Sang Sugriwa nyampet bungas goane antu batu sane ageng.



Wus punika raris Sang Sugriwa mapikayun jagi ngungang indik pemargin yudane ring Ida Bhatara Indra. Digelis raris Sang Sugriwa malesat ke ambarane nuju Indraloka. Tan asue kaceritayang sampun Sang Sugriwa rawuh ring Suarga tumuli nyogjog nangkil ring Bhatara Indra sarwi ngaturang sembah pangubakti maduluruang atur,"Inggih Ratu Bhatara Indra, musuh palungguh I Ratu sampun padem, mayuda sareng belin titiange Sang Subali. 


Sakewanten titiang sebet pisan, santukan belin tiange taler ngemasin antaka." Ida Bhatara Indra kalintang sungsut pekayunan Idane mirengang atur Sang Sugriwa sekadi asapunika. Raris nyawis nimbal ngandika minakadi Ida Bhatara Indra sada banban, "Udug Dewa, Sugriwa, Bapa banget merasa sedih baan sedan belin I Dewane. Sedan belin I Dewane mula nyalanang darmaning kesatria, bagia pisan makadi I Dewa kantun maurip. 

Ane jani apang tusing Bapa linyok teken semaya tur Nitiyawacana, I Dewa serahin Bapa Dewi Tara, maka cihna satya wacanan Bapane tekening I Dewa ajaka dadua, duaning I Dewa prasida ngalahang musuh Bapane I Mahesa Sura lan I Jata Sura. Sakewala yan Sang Subali tusing seda, mula belin ceninge ane patur nerima upahne. Sang Sugriwa raris matur pranamia,"Inggih Ratu Bhatara, daging paican Bhatara sane dahat mautama puniki jagi tunas titiang".


Critayang sane mangkin Ida Sang Sugriwa ngulurin kaulangunan ring Suarga Langen Cita sareng rabine Dewi Tara. Ida Sang Subali kantun ring goa Kiskendane. Sue Ida nyantos pangrawuh sang Sugriwa pacang nyambut ketengah goane, nanging nenten marawat. Duaning asapunika irika raris Ida nampekin bungas goane, pamargine nuut trebesan toyane sane marginin Ida duke ngeranjing ke tengah goane. Ida nenten uning bungas goane kasampet olih Sang Sugriwa. Kapakayun olih Ida pang ngarereh margi. Riantuk sue durung ngacundukang jagi medal, mawastu 'duka Ida Sang Subali raris kagebug tarib goane jagi anggen margi, ngantos tembus kaduur goane. 


Sesampune rauh ring sisi, raris Ida mawali tedun ngungsi bungas goane pacang matemu ring arine. Tangkejut kayun Ida santukan Sang Sugriwa nenten kantun ring bungas goane utawi sisi goane  tur bungas goane masampet antuk batu ageng lan kaseng-seng antuk punyan kayu ageng-ageng. Irika raris duka kayun Sang Subali. Bes keliwat brangti lan dukan Idane, bungas goane kagebug antuk tangan mawastu dekdek batu pangampet goane. 

Sang Subali raris ngeranjing ke tengah goane ngetep tanduk muah caling Sang Mahesa Sura lan Jata Sura pacang kaanggen bukti katur ring Ida Bhatara Indra. Raris Ida umiber ke ambune nuju Indraloka, nyorjor nangkil ring ajeng Ida Bhatara Indra, sane sedek ketangkilin antuk Rsi muah Gandarwane sami. Kagiat Ida Bhatara Indra nyingak, santukan Ida Sang Subali kasengguh sampun seda. Tan dumadi mangkin jeg rawuh ring ajeng Ida, sandi ngaturang tanduk Sang Mahesa Sura miwah caling Sang Jata Sura. 

sang Subali raris nguningayang Ida kasep tangkil, santukan muaran goane kasampet olih Sang Sugriwa mawastu sane nenten mrasidayang medal saking goane. Ida Bhatara Indra kemengan tur dahat sungsut sarwi ngandikaalon, "Uduh Sang Subali dahat suksma Bapa teken I Dewa, baan I Dewa polih di payudan ngematiang musuh Bapane, mewastu ngardinin kerahajengan suargane. Bapa mara uning, sawireh adin ceninge Sang Sugriwa rauh tangkil nguningan indik ceninge suba mati. Sapih siate ngelawan I Mahesa Sura. 

Sawireh keto aturne Sang Sugriwa dadine Dewi Tara serahang Bapa teken I Sugriwa. Bapa tusing dadi cedok teken subaya. Dadine Sang Sugriwa sampun merabian ngajak Dewi Tara di Suargan Langencita. Sang Subali raris matur,"Inggih Ratu Bhatara yening asapunika titiang pacang matemu ring adin titiange.


Pramangkin Sang Subali malesat nuju genah sang Sugriwa ring Taman Indraloka sane kasub kaasrian lan kaluihannyane. Kacarita sane mangkin Sang Subali dahat wirasa pisan ngandika ring Sang Sugriwa, " Ih cai Sugriwa, pesuang iban caine, ne Subali ane sengguh cai mati lakar ngajak cai masiat. Kai dot pesan ngiwasin kenken goban bojoge ane nista malaksana corah digumine. Jeg cai memongah nunas upah Widiadari. 


Lamun saja cai prewira jani edengan ksatrian ibane. Ne I Subali lakar nandingin, yen saja cai nyidayang ngematiang deweke, ditu mara cai maadan prewira sakti mawisesa".  

Wawu kapireng pangandikan sang Subali olih Sang Sugriwa asapunika, kalintang sungsut kayun Idane sarwi mapakayun-kayun, "Sinah beli Sang Subali rauh, idewek lakar nyadia pesan mati di pasiatan, negtohang kesaduan nindihin kapatutan sawireh sujatine mula getih putih ane meleset ka bungas goane. Kenken bayane ane lakar nibenin dewek lakar katatakin dewek, sawireh ngarepin I Beli sinah suba lakar tusing nyidayang. 



Yen dewek jeg nungkul nunas pangampura tekening I Beli lek deweke, miribang I dewek makardi ane tan patut. Buina dewi Tara suba kadung juang anggon rabi. Yen serahang Dewi Tara, kenken ya ucap jagate ngantos juang anggon rabi kangen teken urip. Beh tan mapikenoh pesan idupe, lasian I dewek mati katimbang enu hidup dadi kakedekan gumi." Sapunika kayun sang Sugriwa raris magebras ninggal rabine.


Sang Sugriwa raris nyaritayang rakane mayuda Ida santukan kaliput antuk duka ical baktin idane meraka, metu keneh jengah ring kayun idane tan dumade sampun jek maruket, sading gelut, saling tuuk antuk naka, tur saling gugut. Akeh wewangunane ring LangenCita rebah, taru-tarune irika taler balbal, panglantes, pasah mamasah ring timpal-timpal nyane antuk gejeran yudane pada ngangobin. 


Para dewatane sami pada nonton Ida Dewi Tara ibuk kayun idane nenten keni antuk Ida ngelingan rabine, santukan Sang kalih pateh warnane miwah kasaktiannyane. Ida Bhatara Indra kalintang kosak ring kayun sarwi nangsekin Sang Wenara Kalih tur ngandika, "Uduh Dewa makarua, siat I Dewane ngangobin pisan, liu wewangunane dini uug, tetamane telah balbal mewastu ilang keasrian Suargane baan I Dewa ajak dadua. 

Yen Tusing dadi belasang Bapa siat ceninge, kemu cening megedi uli Suargan, di mayapada tugtugan siat ceninge." Asapunika pangandikan Ida Bhatara Indra, nanging tan karenga olih sang mayuda, bilih bilih sayan-sayan rames yudane, saling pantigang, Sang Sugriwa kabayang-kabayang, tur katales utawi kateteh tangkah nyane mawastu nenten mrasidayang makiba. Sang Sugriwa kabtbat olih rakan idane sang Subali sarwi nyangkuak cokor Sang Sugriwa raris kauyeng tur kapantigang ring batune. 

Sang Sugriwa meras ring raga kakasorang, sarwi nangis, raris ngandika, "Uduh beli Sang Subali, tiang merasa teken dewek durusan sampun pademan tiang. Sakewanten sedereng tiang padem wenten hatur tiang amatra ring beli napi mawinan tiang nyampet bungas goane, duaning tiang eling ring pabesen beline sadurung mayuda, beli ngandikain tiang, yan ada getih putih pesu uli goane, ento pinaka cihna beli mati. Asapunika piteket beline ring tiang. 


Riantukan duke punika wenten maleset getih putih mecampuh barak meliah saking goane, manahang tiang beli sampun seda sareng Sang Mahesa Sura lan Jata Sura. Irika raris digelis tiang ngempet goane, santukan eling tiang ring pangandikan beline, raris tiang nangkil ring Ida Bhatara Indra nguningayang indik beline sampun seda. Boyaja sangkaning tiang mamanah corah, pacang ngedotan upah widiadari. 

Mangkin beli kantun maurip, saking iwang penarkan tiange patut tiang pademan. wantah beli sane patut mancut urip tiange. Sakewanten Dewi Tara sane sampun anggen tiang somah aturang tiang ring beli anggen ipun panyeroan."

Asapunika munggwing atur Sang Sugriwa sarwi ngembeng-ngembeng panyingakan Idane. sang Subali mireng atur sang Sugriwa ngetus kayun. Riantukan asapunika pramangkin jek enduk tur meneng ngetel toyan panyingakan idane santukan eling ring raga masemeton winaluya sepite. Wus punika raris Ida nyawis atur arin Idane,"Uduh adi sang Sugriwa mara beli inget, saja beli pelih ngeraos teken adi. 


Mula sangkaning pituduh Ida Sang Hyang Widhi beli adi wirasa mesiat ngajak nyama. Nah, ne jani beli suba inget teken awak. Unduke ibusan jalan engsapang, jalan ane jani nangkil ring Ida Bhatara Indra nunas geng rene pangampura baan iwang beline ngerusak Indra Lokane".


Sane mangkin kabaos raris sang kalih tangkil ring Ida Bhatara Indra, nunas ampura Ida Bhatara Indra kalintang ledang pakayun Idane rikala Sang Wenara kalih rauh tangkil. 


Risampune sang Kalih pranamia ring ajeng Ida Bhatara Indra, raris Ida ngandika, "Uduh cening makarua, Bapa lega pesan nyingak sapangrawuh ceinge tur suba adung tur asih kinasih ngajak nyama." Risampune wenten wacana Ida Bhatara Indra sakadi asapunika raris Sang Subali matur dahating pranamia pisan,"Inggih Ratu Bhatara boyaja wenten tios titiang sareng adin titiange nunas geng renesinampura, santukan laksanan titiange nyungjkanin kayun Bhatara Bhatari ring Suargan, semaliha purun titiang ngerusak Suargane. Mantukan asapunika Ratu, banget pinunas titiang mangda Ratu Bhatara ngampurayang sikian titiang sareng kalih. 

Sane mangkin titiang sampun eling, titiang mayuda ajak nyama mawit antuk manah momo angkara. Sane mangkin bangyang sampun ipun sane ngambil Dewi Tara anggen ipun somah, santukan sampun puput kawidi-wididanain, selantur ipun adin titiange Sang Sugriwa jagi wehin titiang Kraton Kiskandane mangda ipun ngadeg Ratu sareng somah ipune." Sesampune wenten atur Sang Subali asapunika, Ida Bhatara Indra ledang pisan mirengan, sarwi ngandika banban, "Nah yen keto idep ceninge Bapa ngastawayang pejalan ceninge dumadak dumadik cening rahayu, reng ejak dua. 

Bapa apang tusing linyok teken semayane ane malu Dewi Tara serahang Bapa teken I Sugriwa adin ceninge. Ane jani sangkaning cening lega nyerahang teken adin ceninge, dahat mautama papineh ceninge. Tresnane manyama kukuh teken brata yasa buina I Sugriwa serahin I Dewa Goa Kiskendane anggen puri.

 Buka cening sang Sugriwa apang sida nginutin kayun Belin I Dewane ngelarang brata mati raga. Eda cening engsap teken tresna, asih belin I Dewane, mani puan yen ada anak ngidih tulung teken I dewa ajak dadua apang I Dewa sayaga ngiringang.


Asapunika piteket Ida Bhatara Indra ring Sang kalih sang Subali muah sang Sugriwa. Raris Ida Sang Kalih saling magelut, saling rangkul tur mapamit ngungsi genah nyane soang-soang. Sang Subali makeber lunga ka tengahing alas nutugang kertin Idane. Sang Sugriwa sareng rabin Ida nuju Puri ring Goa Kiskenda.
Pupulan Satwa Bali olih I Ketut Keriana, M.p.d
Suksma image Jata Sura olih gigaboltmanowar

Senin, 08 Maret 2010

Kebencian Manusia yang Jarang Disadari

Ada sebuah sikap, yang sebetulnya adalah sikap kebencian yang paling sering membelenggu sifat-sifat manusia. Ia tahu sifat ini, tapi ia tidak sadar diri bahwa kebencian telah membelenggunya. Apabila ia merasa takut terhadap sesuatu, sesungguhnya ia telah membenci sesuatu itu.

Bila Anda melaksanakan suatu tugas atas dasar takut bahwa tugas tersebut harus dikerjakan, saat ini Anda sedang membencinya. Apabila anda melaksanakan pemujaan karena takut pada Tuhan dan hukumnya. Anda sesungguhnya sedang membenci-Nya.

 Jadi, lakukanlah tindakan mulia itu bukan karena rasa takut akan akibatnya, tapi sebagai rasa hormat Anda, karena rasa kasih Anda, atas dasar kemauan Anda, bukan paksaan. Bila rasa hormat telah menyelinap dalam hati, maka Anda akan melakukannya dengan sepenuh hati, dengan senang hati, disinilah kasih akan mengalir.

Sikap pengagungan diri, meremehkan orang lain sesungguhnya dalam diri Anda sedang terbenam rasa benci yang mendalam. Tegakkan kepala Anda, jika pada Anjing saja terdapat "AKU" yang sama, dan "AKU" itu pula yang hadir dalam setiap mahluk hidup, mengapa Anda meremehkan yang lainnya? Bukankah sesungguhnya bila Anda meremehkannya, Anda sedang tidak ingin bersamanya, bukankah ini berarti Anda tidak dapat larut pada-Nya ? Bukankah hal ini secara langsung Anda telah berusaha berpisah dari-Nya ? Bukankah ini suatu bukti Anda sedang berupaya berpisah dari Yang Kuasa ? Bagaimana moksha bisa dicapai dengan kebencian ?.


Cerahkanlah hati mereka yang penuh kebencian, walaupun Anda bertentangan dengannya ! Itulah kasih sejati.


Fitnah jauh lebih kejam dari pembunuhan. Karena fitnah akan menyingkirkan Anda dari pergaulannya. Orang sering tak berani mengakui kesalahannya sendiri. Ia sering cari kambing hitam untuk menutupi kesalahannya. Inilah kebencian nomor satu yang harus diberantas. Entahlah Anda menfitnah orang ataupun bukan orang, ini sama saja Anda sedang diselimuti awan kebencian. Bila ingin menerima cerahnya cahaya Sang roh, maka tepislah awan ini.



Marilah kita lihat contoh fitnah, tentang orang yang dimabuk asmara. Mereka yang tidak bisa mengendalikan nafsu seksnya, bila kemudian melakukan tindakan senonoh, dan ia tertangkap basah, maka ia mencari kambing hitam setan sebagai dalih pelakunya. 


Ia katakan, kami khilaf, kami kerasukan setan ! Itu katanya. Renungkanlah sejenak, apakah ini bukan merupakan fitnah yang sangat kejam? Seandainya ada setan yang kebetulan lewat, dia tidak ikut merasakan nikmatnya perbuatan tidak senonoh itu, tapi ia menderita akibat ulah Anda. Bukankah itu fitnah yang sangat keji? Atau bila barang Anda hilang atau ketlisut, dan kemudian Anda berkata, "setan gundul telah menyembunyikannya ",. Bukankah ini juga fitnah ?



Ingatlah, bila Anda difitnah orang lain, apakah Anda tidak sakit hati? Apakah Anda tidak ingin membalasnya? Inilah kebencian nomor satu. Hendaknya Anda tidak memfitnah siapa pun dan dalam bentuk apapun. Ketahuilah, dalam diri mahluk halus, juga terdapat "AKU" yang sama. Ika Anda melakukan kesalahan, akuilah kesalahan tersebut secara bijak, dan orang lain akan mengampuninya. Bagi mereka yang telah sadar, maka orang lain pun akan menyadarinya.


Orang sering menganggap remeh atau hina orang lain, bahkan kadang menganggapnya setan sekalian [Asura]. Padahal mereka adalah manusia yang sama. Bima menikahi Hidimbi, yang dianggap sebagai raksasi. Bukankah ia manusia yang sama seperti Bima, dan juga seperti Anda?. Ia hanya berasal dari ras yang berbeda saja. Lihatlah sekali lagi kedalam, didalam dirinyam ada "AKU" yang sama. AKU itu juga. Inilah "Tat Twam Asi".


Tatkala Gatotkaca putra Hidimbi maju ke medan perang, mereka menyangsikannya karena ia bukan ksatria secara keturunan. Lalu Sri Krisna (perwujudan Tuhan) berkata,"Gatotkaca adalah ksatria sejati walaupun tidak dilahirkan oleh ksatriani ?". 


Kakek  Bhisma mencapai maksha, bukankah juga setelah membebaskan para pembantunya? Ia bebaskan semua perbudakan yang berarti cinta kasih sejati telah mengalir.


Jangan melangkahi atau mengatasnamakan suatu tindakan. Banyak di antara mereka melakukan pembantaian sesama manusia atas nama Tuhan. Bukankah sikap ini sesungguhnya kurang ajar dan mencerminkan kebencian juga? Apakah Tuhan benar-benar menyuruh untuk melakukan pembantaian? Apalagi mengatasnamakan Tuhan? Bukankah ini suatu sikap yang mendahului tanpa koordinasi dengan Tuhan?


Renungkanlah dalam sebuah organisasi atau perusahaan, bila seorang bawahan mengambil suatu tindakan keliru, dan ia mengatasnamakan atasannya, sementara tanpa ada koordinasi atau perintah dari atasannya, bukankah hal ini suatu kekurangajaran belaka ?
Renungkanlah.
Membangkitkan Kesadaran Atman olih Sastrawan

Jumat, 05 Maret 2010

Cupak teken Grantang

Ogoh-Ogoh Nyepi

Ada katuturang satua, I Cupak teken I Grantang. Menyama ajaka dadua. I Cupak ane kelihan, I Grantang ane cerikan. Goba lan parilaksanan kaka adi punika doh pesan matiosan. I Cupak gobane bocok, kumis jempe, kales, brenges, lan bok barak keke alah duk. Basang gede madaar kereng pesan. Nanging joh bina ajaka adine I Grantang. I Grantang pengadegne lanjar, goba alep bagus, asing-asing anake ngantenang makejang ngedotang. Kemikane manis tur anteng magarapan.


Kacarita sedek dina anu, i Cupak ajak I Grantang matekap di carike, I Grantang matekap nututin sampi, nanging i Cupak satate maplalianan dogen gaene. Tusing pesan I Cupak ngrunguang adine magae. Disubane I Grantang suud matekap mara I Cupak teka uli maplalianan. 


Yadiastun keto bikas beline masih luung penampene I Grantang. I Grantang ngomong munyine alus tur nyunyur manis.

"Kemu beli malunan mulih tiang lakar manjus abedik. "I cupak masaut gangsar,"Lamun keto kola lakar malunan mulih, adi. I Cupak laut majalan mulih. Disubane joh liwat uli sig I Grantange manjus, ditu lantas I Cupak makipu di endute kanti awakne uyak endut. Disubane keto, I Cupak nutugang majalan ngamulihan saha jlempah jlempoh.


Kacarita ane jani i Cupak suba neked diwangan umahe, ditu laut I Cupak gelur-gelur ngeling. Meme bapane tengkejut ningehin eling panakne tur nyagjag laut nakonin,"Cening-cening bagus Wayan Cupak anake buka cening ngudiang cening padidi mulih buine blolotan, men adin ceninge I Made Grantang dija?" Disubane keto petakon reramane, laut masaut i Cupak sambilange ngeling. "Kene ento bapa lan meme Kola anak uli semengan metekap dicarike I Grantang anak meplalianan melali dogen uli semengan, buine ia ento ngenemin anak luh-luh dogen gaene". 


Mara monto pesadune I Cupak bapane suba brangti teken I Grantang. Suud keto laut bapane ngrumrum I Cupak. "Nah, mendep dewa mendep, buin ajahan lamun teka I Grantang lakar tigtig bapa, lakar tundung bapa uli jumah. "Lega pesan kenehne I Cupak ningeh bapane pedih teken I Grantang. Apang tusing ketara dayane jele, I Cupak pesu ngaba siap lakar mabongbong.

Ane jani kacaritayang I Grantang suba ngamulihang uli carik genah ipun magarapan. I Grantang majalan jlempah jlempoh kabatek baan kenyelne kaliwat. Tan kacaritayang malih kawentenang ipun ring margi, kancit sampun neked jumahne. Duk punika sahasa bapane teka nyag jag nyambak tur nigtig. Bapane ngomong bangras. Makaad cai makaad Grantang, nirguna bapa ngelah panak buka cai. Goba melah, solah jele, tur tuara demen nyemak gae, men nyak adung goba ajaka bikase? Dija cai maan ajah-ajahan keto? " I Grantang ngeling sigsigan merasa teken dewek kena pisuna. 


Ngomong laut I Grantang, sakewala raosne pegat-pegat duaning sambilange ngeling. "Nah, Bapa yan suba keto keneh bapane, nundung anake buka tiang....uli jumah, tiang nerima pesan tresnan bapane ento. Dumadak-dumadik sepatilar tiang uli jumah bagia idup bapa miwah belin tiange I Cupak. Amonto I Grantang ngomong teken bapane laut majalan makaad uli jumah. 

Lampah laku pajalane I Grantang tur jlempah-jlempoh pejalane kabatek baan naanang basang seduk. Sakit saja kenehne I Grantang ningeh munyin bapane abuka keto. Disubane joh I Grantang liwat, teka lantas I Cupak turnakonang adine I Grantang. "Meme...Bapa...adin kolane dija? " Mesaut laut bapane, "Adin I Dewane suba tigtig bapa tur suba tundung bapa uli jumah. Jani apang tawange rasan mayusne ento." Mara keto pasaut bapane I Cupak ngeling gelur-gelur tur mamunyi : "Ngudiang ketang bapa adin kolane. 

Dadi tundung bapa adin kolane, dija jani alih kola adin kolane ...anak kola ...anak ... anak kola ane mayus magae, ngudiang adin kolane tundung bapa?" Ningeh munyin I Cupake keto dadi engsek memen bapane, merasa teken dewek pelih. "Jani kola lakar ngalih adin kolane, lakar abang kola takilan!" Masepan-sepan memene ngaenang I Cupak takilan.


Kacarita jani I Cupak ninggal umah ngalain memen bapane lakar ngruruh I Grantang. Gelur gelur I Cupak ngaukin adine Adi....adi....adi..Grantang ... ene kola teka ngaba takilan ..Adi!" Cutetin satua, bakat bane ngetut adine, tepukina ditengah alase. 


Ditu lantas I Cupak ngidih pelih teken adine. Adi jalan mulih adi, ampurayang Beli adi, jalan adi mulih!" I Grantang mesaut alot, "kema suba Beli mulih padidi, depang tiang dini naenang sakit ati, diastun tampin tiang mati.Apa puaran tiange idup tusing demenin rerama. "Disubane buka keto pasaut adine laut nyawis nimbal natakin panes tis, suka duka ajak dadua. Jalan mareren malu adi, kola kenyel pesan nugtug adi uli jumah. 

Ene kola ngaba takilan, jalan gagah ajak dadua. "I Cupak lantas nunden adine ngalih yeh, "Kema adi ngalih yeh, kola nongosin takilane dini. "Nyrucut I Grantang ngalih yeh. Disubane I Grantang liwat joh, pesu dayane I Cupak lakar nelahang isin takilane. Sepan-sepan I Cupak ngagah takilane tur daara telahanga. Sesubane telah, kulit takilane besbesa tur kacakanga di tanahe. Nepukin unduke ento lantas I Cupak dundune teken I Grantang. I Cupak mani-mani kapupungan. "Aduh adi apa mesbes takilane ne? Bes makelo Adi ngalih yeh kanti takilane bakat kalain pules.

 Nah ne enu lad-ladne jalan gagah ajak dadua."Disubane ada raosne I Cupak buka keto laut masaut I Grantang, "Nah daar suba beh, tiang tusing merasa seduk" I Cupak medaar padidiana, ngesop nasi nginem yeh, celekutang nitig tangkah, suud madaar I Cupak taagtaag nyiriang basang betek.

Disubane I Cupak ajaka I Grantang maan mareren laut ngalanturang pejalane. Kacarita ane jani I Cupak lan I Grantang neked di Bencingah Puri Kediri. Di desane ento suung manginung, tusing ada anak majlawatang. Pejalane I Cupak ngetor kabatek baan jejehne, jani suba neked kone ia di jaba puri Kedirine, ditu I Cupak nepukin peken. 


Di pekene masih suung manginung tuah ada dagang nasi adiri buina mengkeb madagang. Ngatonang unduke buka keto, ditu laut I Grantang metakon teken dagange ento, "Nawegang jero dagang nasi, titiang matur pitaken, napi wastan jagate puniki, napi sane mawinan jagat druwene sepi. I Dagang nasi masaut, Jero, jero anak lanang sareng kalih jagate puniki mawasta jagat Kediri. 

Jagat puniki katiben bencana. Putran Ida Sang Prabu kapandung olih I Benaru. Ida Sang Prabu ngamedalang wecana, sapasiraja sane mrasidayang ngrebut putran gelahe tur mademang I Benaru jagi kaadegang agung ring jagate puniki. Wantah putrin Ida sane kaparabiang ring sang sane prasida mademang I Benaru. I Cupak masaut elah, "ah raja belog kalahang Benaru. Kola anak suba bisa nampah Benaru. Eh dagang, kema orahang teken rajabe dini. Bantes Benaru aukud elah baan kola ngitungang". 

I Grantang megat munyin beline, "Eda Beli baas sumbar ngomong, awak tusing nawang matan Benaru. Patilesang raga beline digumin anak. "Sakewala I Cupak bengkung ngelawan tur tuara ngugu munyin adine. "Adi baas setata, adi mula getap. Kalingke nampak ngadeg gumi, baanga ngidih nasi dogen beli nyak ngematiang I Benaru. "I Grantang nglanturang munyine teken jero dagang nasi. "Inggih jero dagang nasi durusang uningan marika ring Ida Sang Prabu. 

Titiang jagi ngaturang ayah, ngemademang ipun I Benaru. "Duaning asapunika wenten pabesene I Grantang, laut  I dagang nasi gagesonan nangkil ka puri. Nganteg ring puri I Dagang nasi matur, "Inggih Ratu Sang Prabhu sasuhunan titiang, puniki wenten tamiu sareng kalih misadia jagi ngemademang I Benaru. Riwawu asapunika atur I Dagang nasi, premangkin ledang pisan pikayun Ida Sang Prabhu. 

Raris Ida Sang Prabhu ngandika, " Ih memen cening, yen mula saja buka atur men ceninge, lautang kema tunden ia tangkil ka puri apang tawang gelah!" Sesampune wenten renteh wacanan Ida Sang Prabhu,'I Dagang nasi jek ngenggalang ngalih I Cupak teken I Grantang. Nganteg di peken dapetange I Cupak masehin lima mara suud madaar. I Grantang kimud kenehne nepukin beline setata ngaba basang layah. 

I Grantang laut ngomong. "Nawegang jero dagang belin tiange iwang ngambil ajengan, mangda ledang jero ngampurayang santukan titiang nenten makta jinah. "I Cupak masaut, "Saja kola nyemak nasi, ampura kola, tusing sida baan kola naanang basang layah. "I Dagang nasi anggen kenehne ningeh munyine I Grantang. Munyin I Cupake tan kalinguang. I dagang nasi laut nekedang pangandikan Ida Sang Prabhu, apang tangkil ajaka dadua. Sesampune katerima pabesene punika olih I Dagang nasi. 

Teked di puri hut panjake pati kaplug melaib, kadene I Benaru. Kacrita sane mangkin I Cupak lan I Grantang sampun tangkil ring ajeng Ida Sang Prabhu raris Ida Sang Prabhu ngandika, "Eh cai ajak dadua cai uli dija, nyen adan caine?" I Grantang matur dabdab alon,"Nawegang titiang Ratu Sang Prabhu, titiang puniki wantah jadma nista saking jagat Gobangwesi. Munggwing wastan titiang wantah I Grantang, niki belin titiange mewasta I Cupak

Titiang jagi matetegar nyarengin sewayambarane puniki ngamademang ipun satrun palungguh I Ratu I Benaru. Konden suud aturne I Grantang saget sampun kasampuak olih I Cupak, tur ngomong kene, "Kola seduk, kola lakar ngidih nasi abetekan. Basang kolane layah. Suud keto I Cupak ajak I Grantang mapamit. Ida Sang Prabhu mapaica cincin mas masoca mirah teken pajenengan puri Kediri. Ento pinaka cirin I Grantang dados utusan.

Gelisang carita I Cupak kebedak-bedak, lantas nepukin telaga linggah tur bek misi yeh. Ditu lantas I Cupak morahang teken adine. "Adi...adi Grantang mareren malu, kola kenyel tur bedak pesan, kola lakar ngalih yeh ditu di telagane. "Kasautin laut pamunyin Beline teken I Grantang, "Eda beli ditu ngalih yeh, ento anak yeh encehne I Benaru tusing dadi inem, beli, "Ningeh munyin adine keto I Cupak makesiab ngatabtab muane putih lemlem. I Grantang nutugang majalan. I Cupak buin nepukin gegumuk maririgan. 


Ditu buin I Cupak matakon teken adine, "Nyen ane ngae gunung gunungan dini adi?" sambilange maklemir I Grantang nyaurin petakon beline. "Ene tusing ja gunung-gunungan beli, ene mula tuah taine I Benaru beli. I Cupak makraik baan takutne. "Aduh mati jani beli adi, yan mone geden taine, lamun apa ja gedene I Benaru, adi?. Jalan suba mulih adi. I Grantang nguncangang majalan ngungsi Guane I Benaru. I Cupak bejag bejug nutug I Grantang.


Kacaritayang sane mangkin I Cupak ajaka I Grantang suba teked di sisin goane I Benaru. Umah I Benaru ditengah goane. I Cupak laut ngomong " Adi .... kola tusing bani tuun adi, adi dogen suba masiat ngelawan I Benaru. Kola ngantiang dini. Kewala ngidih olas kola teken adi, tegul kola dini adi! " Bincuh I Grantang ngalih tali anggona negul I Cupak. 


Disubane suud I Grantang negul beline, I Grantang laut matinget teken beline, "Ene tingalin tumbake buin ajahan beli, yan bah kangin tumbake ento pinaka cirin tiange menang di pasiatan. Sakewala yan bah kelod tumbake, ento pinaka cihna tiang kalah. "Suud matinget, teken beline, I Grantang laut tuun ka goane. Teked di tengah goane dapetange I Benaru nagih melagandang Raden Dewi. 

I Benaru matolihang tur matbat I Grantang. " "Eh iba manusa cenik, wanen iba teka mai, Yan iba mabudi idup matulak iba mulih ! " Disubane keto ada munyine I Benaru, laut I Grantang masaut wiring, "Apa..apa..orahang iba Benaru? Kai teka mai mula nyadia lakar ngalahan iba, tur kai lakar mendak Raden Dewi putran Ida Sang Prabhu. Kai lakar ngiring Ida ka Puri. 


" I Benaru lantas ngelur brangti laut ngamuk. Ditu I Grantang mayuda ngajak I Benaru. Sangkaning kepradnyanan I Grantang mayuda, dadosne I Grantang polih galah nebek basangne I Benaru nganti betel antuk keris pajenengan purine. I Benaru ngelur kesakitan basangne embud mebrarakan.

Kacrita ane jani, I Cupak baduuran ningeh I Benaru ngelur. I Cupak pesu enceh, tur tategulane telah tastas. Ditu lantas I Cupak inget teken patingetne I Grantang. Ningalin lantas tumbake ento suba bah kangin. Mara I Cupak masrieng kenehne liang. I Cupak laut ngomong, " Adi...adi Grantang antos kola Adi. Yan kola tusing maan  metanding ngajak I Benaru jengah kola, Adi. " I Grantang laut ngomong uli tengah goane teken I Cupak. "Beli tegarang entungan tali bune ka goane! "Disubane ada raos adine buka keto laut I Cupak ngentungan taline ento. 


Ditu lantas I Grantang ngelanting ditaline apan ngidang menek. I Grantang sambilange ngamban Raden Dewi. Disubane I Grantang lan Raden Dewi nengok uli ungas goane, gegeson pesan I Cupak nyaup Raden Dewi tur sahasa megat tali ane glantingine baan I Grantang. Duaning tali bune kapegatang, ditu lantas I Grantang ulung ngeluluk ditengah goane. Semaliha Ida Raden Dewi kasirepang olih I Cupak di batan kayune satonden megat tali bune ento. 

Kacaritayang sane mangkin, I Cupak ngiring Ida Raden Dewi nuju Puri Agung. Tan kacaritayang kawentenang Ida kairing baan I Cupak ring margi, kancit sampun  rauh Ida ring Puri. Ida Sang Prabhu ledang kayune tan siti, digelis raris nyaup Raden Dewi. Ida Sang Prabhu raris matemuang Ida Raden Dewi teken I Cupak sawireh I Benaru suba mati. I Cupak matur ring Ida Sang Prabhu, I Grantang sampun padem, kapademang oleh I Benaru. I Cupak mangkin kaadegang Agung ring Puri.



Kacaritayang sane mangkin I Cupak sampun madeg Agung ring Puri. Makejang  panjake keweh, duaning sasukat risapa madeg I Cupak sadina-dina panjaka makarya guling.


Sane mangkin iring menengang abosbos cerita sapamadeg I Cupak, iring sane mangkin caritayang kawentenang I Grantang ring tengah goane. I Grantang grapa-grepe bangun nyelsel padewekan. "Raturatu Bhatara nguda kene lacur titiange manumadi?" Kasuen-suen dados metu rincikan naya upanaya I Grantang bakal nganggon tulang I  Benarune menek. I Grantang ngragas tur makekeh pesan menek. Sakewanten sangkanin sih Ida SangHyang Parama Kawi I Grantang nyidayang ngamenekang. I Grantang jadi suba neked di baduuran. I Grantang lantas nugtugang pejalane nuju je puri. 


Gelisang carita I Grantang suba neked di puri. Ditu lantas I Grantang ngomong teken panyeroan I Cupake, "Jero tulung titiang, titiang jagi tangkil matur ring Ida Sang Prabhu. "Malaib panyroane ka puri nguningayang unduke punika teken Raden Cupak. I Cupak inget teken adine ane enu digoane. Ditu lantas I Cupak ngelur nunden panjake ngejuk tur ngulung aji tikeh tur ngentungang ka pasihe.

Kacarita buin manine Pan Bekung memencar di pasihe ento. Uling semengan nganti linsir sanje memencar tusing maan be naang aukud. Ngentungan pencar tanggun duri, pencare marase baat, mare penekanga bakatange tikeh. Buin Pan Bekung mulang pencar buin bakatange tikehe ane busan. Gedeg basang Pan Bekunge, laut tikehe abane menek tur kagagah. Makesiab Pan Bekung ningalin jadma berag pesan. Pan Bekung enggalang ngajak anake ento kepondokne. Teked dipondokne pretenina teken Men Bekung. Sewai-wai gaenange bubuh, uligange boreh. 


Dadosne sayan wai sayan misi awakne I Grantang. Dadi kendel Pan Bekung ajak Men Bekung iaan unduk panak truna tur bangus. Di subane I Grantang seger ditu lantas I Grantang ngae tetaneman. Megenepan pesan bungane tanema. Disubane bungane pada kembang, I Grantang  ngalap bungane ento tur adepa teken Men Bekung ka peken. Sadinadina saja geginane I Grantang metik bunga lan Men Bekung ngadep.


Kacarita ane jani ada wong jero uli puri Kediri lakar meli bunga. Makejang bungane Men Bekung belina baan wong jerone ento. Disubane suud mablanja lantas wong jerone ento ka puri ngaturang bunga. Bungane ane kaaturang katerima olih Ida Raden Dewi. Mara kearasan oleh Raden Dewi dadi merawat rawat anak bagus dibungane.


Eling lantas Ida teken I Grantang anak bagus ane ngamatiang I Benaru. Ida Raden Dewi raris metaken teken wong jerone. "Eh Bibi bibi Sari dija nyai meli bungane ene?"buin mani ka pasar apang kacunduk teken dagang bungane ene." Manine kairing Ida Raden Dewi lunga, matumbasan ka pasar.Gelisang carita raris kapanggih Men Bekung nyuun kranjang misi bunga mewarna warni. Raden Dewi raris nampekin. Kagiat Raden Dewi nyingak bungkung mas masoca mirah ane anggone teken Men Bekung. Bungkunge ento wantah druwen Ida Sang Prabhu lingsir, ane kapicayang teken I Grantang. 


Ngaksi kawentenane punika, raris Raden Dewi ngandika teken Men Bekung. "Uduh Meme, titiang matakon, dija umah memene?' Ajak gelah melali kema ka umah Memene apang gelah nawang. " Gelisang carita Ida Raden Dewi sampun neked di pondok Men Bekung. Pan Bekung kemeg-megan sinambi ngadap kasor saha nyambang sapangrauh Ida Raden Dewi. 

Ningeh Bapane makalukang tur epot laut I Grantang nyagjag. Ditu lantas I Grantang matemu teken Raden Dewi. Rikanjekan pinika Ida Raden Dewi nyagjag tur mlekur I Grantang sinambi nangis masasambatan, "Aduh Beli mgudal las beli ngutiang tiang. Ngudiang beli tusing ka puri tangkil ring Ida Sang Prabhu." Sasampune wenten ketel wacanan Ida Raden Dewi raris I Grantang nyawis tur matur dabdab alon, ngaturan parindikan pajalan sane sampun lintang.

Kacaritanyang mangkin I Grantang sareng Ida Raden Dewi suba neked di puri. Sang Prabhu maweweh meweh ledang kayun Idane nyingak putrane anut masanding ajaka I Grantang. Kacaritayang mangkin I Cupak katundung uli puri. I Grantang mangkin kaadegang agung ring puri. Sasukat I Grantang madeg agung, jagate gemuh kerta raharja. Panjake sami pada girang pakedek pakenyung duaning suud ngayahin raja buduh.
saking Pupulan Satwa Bali olih : I Ketut Keriana, M.p.d

Senin, 01 Maret 2010

Bhagawan Saradwan dan Bidadari

Dewi Bidadari

Bhagawan Saradwan dan Bidadari. Bagi seorang brahmana, perjalanan tirtayatra sembari menyampaikan pesan-pesan Kitab Suci Wedha pada seluruh umat manusia merupakan kebahagiaan sejati. Begitulah yang terjadi pada diri Bhagawan Saradwan, putra Bhagawan Gotama


Pagi itu, usai menyampaikan pesan-pesan Wedha yang tertuang dalam larik sloka kepada kelompok petani yang hendak berangkat menggarap tegalannya, ia pun melakukan meditasi surya sewana pada Dewi Savitri. Memujanya dan memohon keselamatan untuk dunia. Denting genta pun membahana menaklukkan batin yang resah menapaki ruang ketenangan.

Para petani itu pun lantas memohon berkah darinya. Bhagawan Saradwan sepenuh kemampuannya memberikan segala yang dimilikinya, sebelum pamitan utnuk melanjutkan perjalanan menuju selatan guna melanjutkan brata tirtayatra.


“Tuan, akan melewati hutan sebelum menemui dataran tinggi wilayah selatan….” Ujar salah seorang petani tua.
“Dan, ditengah hutan itu Tuan akan menemui sungai, yang kata orang, sungai itu berair jernih dan berbau harum….” Sahut yang lainnya.


“Konon, sungai itu tempat mandinya para bidadari…..” timpal petani yang lebih muda.
Bhagawan Saradwan hanya tersenyum saja, ia tak mau berkomentar membahas masalah itu. Karena sesuatu yang tak pasti, akan membuat perjalanannya tidak lancar.


“Terima kasih, atas informasi kalian. Kini, saya hendak melanjutkan perjalanan. Saya mohon diri,” katanya. Beberapa petani memetikkan buah-buah segar untuk bekal Sang Bhagawan melalukan perjalanan menuju wilayah selatan.


Hari mulai beranjak senja, manakala kakinya menginjak perbatasan desa dengan pinggiran hutan. Suara burung yang tadinya ramai berkicau, mulai meredup. Dan, berganti suara jerit kalelawar, yang mulai muncul satu, dua ekor beterbangan di udara menyambut langit jingga. Begitu pula, burung srigunting yang mencari mangsa mulai beterbangan dari sarangnya. Bhagawan Saradwan benar-benar menikmati nyanyian alam yang tidak pernah ia saksikan tatkala masih menuntut ilmu di pasraman ayahandanya.


Dilihatnya, belukar mulai melebat. Saat ia mulai memasuki wilayah hutan. Ia mulai memasang mata, karena tidak mau mengganggu jalannya sang ular. Jika terganggu bisa saja ia kesal, lantas mematuknya. Namun matahari mulai bersembunyi dibalik latar cakrawala gelap. Sinarnya, tak lagi menjangkau kedalaman hutan. 


Sehingga sepasang matanya tak mampulagi melawan kegelapan. Ia tak akan bisa mengharapkan sang rembulan membantunya. Sebab hari itu ia tahu benar, berdasarkan dauh rembulan mengalami proses kematian. Dauh menyebut dengan istilah Tilem. Akhirnya, ia putuskan untuk istirahat saja, namun sebelum menutup sang petang seperti biasa ia meditasi. Pasrah kehadapan Sang Pencipta, Brahman Yang Agung.

Malam semakin gelap, tak satupun bintang hadir menghias tabir langit. Seolah enggan menyapa mayapada. Suara lolongan srigala liar makin menjadi, begitu pula babi hutan. Sesekali auman macan menyiksa telinga. Sang Bhagawan sadar, kalau ia masih tinggal disana dan matanya lelah. Bisa-bisa saat mentari menguak pagi, tubuhnya tinggal kerangka saja. 


Maka, tanpa pikir panjang ia memanjat pohon besar. Sembari mulutnya komat-kamit mengucapkan sloka-sloka suci Wedha. Tepat pada puncak kegelapan. Ia terlelap di dahan ranting. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seseorang yang berparas cantik yang muncul dari rimbun bunga. “Akh! Siapakah gadis berambut cantik itu?” batinnya. Namun, si gadis tak berucap kata, ia hanya menyerahkan sebilah busur dan sepasang anak panah.

Bhagawan Saradwan menampik pemberian itu, pasalnya ia tak biasa membunuh. Namun, ia tak mampu menolak. Dirinya tak enak hati, kalau orang yang memberinya ikhlas jatuh kecewa. Dalam pergumulan bathin didalam mimpinya, membawanya kepenghujung pagi. Diufuk timur, sinar kemerahan jelas terlihat dari ketinggian. Kokok ayam hutan, membangunkannya. Burung-burung mungilpun ramah berlompatan di ranting-ranting dekat tempatnya istirahat. Ia tengadahkan tangannya, perlahan udara segar merasuk kealiran nadinya. 


Baru saja ia hendak turun, matanya terpaku pada busur dan sepasang anak panah. Ia usap kedua matanya, namun busur yang tergantung di ranting dan sepasang anak panah itu masih tetap teronggok dihadapannya. Ia cubit lengannya sakit. “Berarti malam itu benar adanya, gadis itu datang dan memberikan busur dan panahnya?!” pikirnya. Ia ambil benda itu, ditimang-timangnya, lalu dikalungkannya dilehernya. Sepasang anak panah itu digemggamnya, saat ia menyatukan telapak tangannya. Ajaib panah itu menghilang. Menyatu dengan busur yang bertengger dilehernya.


“Aneh!” pekiknya. “Sudahlah, aku tak akan membuang waktu. Usai mandi disungai aku harus melanjutkan perjalanan. Dan, aku sangat berterima kasih sekali, pada siapapun yang tinggal di pohon ini atas anugrahnya, semoga Tuhan memberikan jalan keselamatan baginya,”bisiknya.


Saat kakinya menyentuh tanah, suara halus aliran sungai didengarnya. Ia pun segera menuju arah suara debur. Hanya beberapa menit, suara itu semakin jelas. Sungai tak jauh lagi. Ia pun bergegas. Saat memasuki area sungai, betapa terperanjat dirinya oleh warna pelangi yang berpendar. Dan, ia melihat seorang gadis sedang mandi, berkecipak air bening. 


Secapat mungkin ia mengalihkan pandangannya, ia sadar perbuatan mengintip adalah dosa. “Uphs ! Sepagi ini aku mendapat godaan, namun diriku mesti tabah menghadapi,”gerutunya.
Ia pun menunggu gadis itu selesai mandi. Karena ia pun hendak mandi. Tak lama kemudian gadis itu menyongsongnya.


Kanda, aku telah selesai mandi,”tegurnya.

Merdu sekali suara itu. Karena merasa tiada orang lain di sana, Bhagawan Saradwan menoleh. Betapa terperanjatnya ia, gadis yang menegurnya itu; gadis yang hadir di mimpinya semalam.

“Aku seorang bidadari yang kena hukuman Dewata, Kanda. Dan, selama sekian tahun harus menetap dan tinggal di busur itu,”katanya, jemari lentiknya menunjuk ke leher Sang Bhagawan.


“Siapapun lelaki yang ikhlas, lantas mengalungkan busur dilehernya adalah suamiku. Kelak, aku melahirkan sepasang putra lelaki dan perempuan, baru kutukan itu selesai. Aku berhak kembali ke Swarga Loka.”
Mendengar pengakuan tulus gadis cantik itu, hati sang Bhagawan luluh. Ia pun menerima wanita itu sebagai istrinya.


Akhirnya, perjalanan Bhagawan Saradwan tertunda sementara waktu. Ia pun tinggal menetap disana bersama istrinya yang setia. Sembilan bulan setelah pernikahannya dengan putri bidadari, ia peroleh putra dan sembilan bulan kemudian, ia memperoleh seorang putri. Seperti biasa putra-putrinya keluar masuk di busur tempat bundanya menjalani hukuman. Setelah si bungsu sudah bisa merangkak dan belajar berdiri, Putri Bidadari menghadap Bhagawan Saradwan.


“Maafkan, Dinda. Berani lancang menghadap Kanda….”sapanya santun.
“Oh, tak jadi masalah, Dinda tidak mengganggu Kanda…”sahut Bhagawan Saradwan sedih, karena ia sadar istrinya akan meninggalkannya.



“Sudah saatnya Dinda mengakhiri masa hukuman, putra-putri kita sudah beranjak besar. Kanda sudah mampu mengasuh mereka, kalau mereka rindu padaku, ijinkan mereka masuk ke busur,”isaknya sedih. Lantas, ia menjatuhkan dirinya di dada bidang Bhagawan Saradwan.


Sembari mengusap bulir airmata yang membasahi pipi istrinya, Bhagawan Saradwan berujar bijak,” Roda kehidupan selalu berputar, pertemuan ada dalam satu masa, dulu, kini dan yang akan datang. Perpisahan selalu mengakhiri pertemuan, itulah roda kehidupan yang dipengaruhi ruang, waktu dan kondisi. Perpisahan bukanlah suatu kematian; namun babak baru, kehidupan baru. Lanjutkan perjalananmu, karena itu memang garis kehidupan Dinda. Setiap mahluk membawa jati dirinya mencari kesejatian utama. Mungkin dimasa yang akan datang, kita akan bertemu kembali….”


Usai kata-kata Sang Bhagawan putus. Di punggung Putri Bidadari tumbuh sayap-sayap halus, dipandanginya sebentar sepasang tubuh mungil di hadapannya. Mengecup dahi mereka. Lalu, tubuh Putri Bidadari mengecil, menjadi peri cahaya dan terbang menghilang dari hadapan Bhagawan Saradwan.

Alkisah, kegelisahan Raja Hastina, Prabu Santanu sepeninggal permaisurinya Gangga Dewi semakin tak tertahankan. Padahal waktu sudah lama berlalu, bahkan Bisma Dewabrata putranya, sudah tinggal bersamanya, dikembalikan oleh Dewi Gangga padanya. Namun, hati yang tandus memang tak ada pemecahannya. Sebagai Raja Agung, ia tak bisa mengobati lara jiwanya.

Untuk menghilangkan kegundahannya, kerapkali ia melakukan perjalanan jauh, berburu ke tengah hutan. Suatu saat, saat beliau sedang melakukan perburuan rusa. Rombongan istana terhenti pada sebuah tegalan kecil dipinggir sungai berair jernih. Manakala ia hendak membasauh wajahnya yang kering. 

Sepasang matanya melihat bayangan dua bocah kecil terpantul di permukaan air. Sepasang bocah itu baru saja selesai mandi, lalu diikutinya arah pulangnya sang bocah. Dan, betapa terkejutnya ia, bocah itu masuk kedalam busur. Dipungut, lalu dibawanya busur itu pulang ke istana. Bhagawan Saradwan, melihat dari kejauhan. Ia tersenym dalam hatinya berucap syukur putra-putrinya dipungut oleh Maharaja Agung.

Di dalam ruangan khusus Maharaja Santanu, busur itu ditempatkan di atas pegangan gading yang berukir indah. Pagi-pagi sekali, kedua bocah itu keluar dari busur, betapa terkejutnya mereka sudah berada di dalam ruangan yang penuh dengan ukiran emas.


“Kak, dimana kita? Di mana ayah ?”
“Aku sendiri tidak tahu, Dik ?”sahut yang laki-laki.
“Kalian berada di istanaku, Hastina Pura….” Sahut suara berat di hapannya.
“Siapa nama kalian ?”


Mereka menggeleng.
“Baiklah, aku yang memberi nama kalian. Kau yang sulung kuberi nama Kripa dan bungsu kuberi nama Kripi, kalian kuangkat anak, tugas kalian di sini sebagai teman bermain putraku Bisma Dewabrata, agar ia tak kesepian….”


Setelah mereka dewasa, Kripa seperti ayahnya, menjadi Bhagawan di Hastina. Mengajar putra-putra Raja dan dikenal sebagai guru dari Panca Pandawa dan para Kurawa. Sedangkan Kripi menjadi istri Bhagawan Drona, mengasuh Aswatama hingga dewasa.
Kumpulan Dogeng Hindu olih Putu Sugih Arta
Satua selengkapnya  silakan di dwonload Bhagawan Saradwan dan Bidadari
Suksma antuk lukisan Sutadi Art (lihat link of sameton)