Selamat Datang

Gowes Menyan Gunung Bunder Halimun

GOWES GUNDER MENYAN SAH BERSEPEDA kini menjadi kebutuhan manusia, kesadaran akan kesehatan semakin diperhatikan, mengingat pola ke...

Kamis, 09 Desember 2010

Aum, Swastika, Padma

AUM SWASTIKA PADMA

"OM, awighnamastu," demikian seorang Hindu menyampaikan perasaan hatinya bila mensyukuri tugas pekerjaan yang telah ia rampungkan dengan baik dan memuaskan. Om awighnamastu kira-kira sama artinya dengan "berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa". Seorang Hindu akan memberikan salam "Om, swastyastu" bila bertemu dan menyapa seseorang. Om, swastyastu, kira-kira berarti "Semoga damai dan sejahtera."

Kata Om menurut agama Hindu berarti Tuhan Yang Maha Kuasa. Kata Om sesungguhnya suci karena Ia diciptakan oleh Brahman yang menciptakan diri-Nya sendiri. Jadi, sucilah kata Om, abadilah kata Om, karena Ia diciptakan oleh Brahman, Pencipta Yang Esa dan Ia sendiri adalah Brahman.

Brahman dalam wujud Brahma atau Hiranyagarbha memanifestasikan diri dalam kosmos mahat atau alam semesta. Seluruh alam semesta ini dapat dibayangkan, tetapi di balik itu berada sphota yang abadi dan tak terbayangkan."Kata" - lah yang merupakan juru manifestasi yang disebut logos.  

Sphota abadi ini adalah esensi materi semua ide atau nama dan merupakan kekuatan sakti Brahman yang menciptakan seluruh alam semesta. Ya, demikianlah Brahman berkondisi terlebih dahulu sebagai sphota, lalu menyatakan diri-Nya keluar dengan kongkret sebagai alam semesta yang dapat dijangkau oleh ide. Sphota ini memiliki satu kata sebagai satu-satunya simbul yang dapat diekspresika, yaitu Om


Demikianlah. dianalisa dari sudut mana pun orang tidak akan dapat memisahkan kata dari ide. Om sebagai kata dan sphota sebagai ide abadi tidak terpisahkan, karena merupakan ciptaan Brahman, Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kata yang paling suci dari semua kata adalah Om; induk dari semua nama dan bentuk abadi, asal mula alam semesta dengan ciptaan sebagai kelengkapannya.

Karena itu sphota disebut nada Brahma = suara Brahma : A U M. Dalam satu ucapan yang menunggal menjadi OM. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Om adalah satu-satunya simbol semua nada (suara) yang mungkin ada. A _ U _ M membedakan suara atau bunyi di dalam mulut yang berasal dari pangkal lidah dan berakhir di ujung bibir. 


Perhatikan penjelasan di bawah ini :


A  = suara/bunyi dari kerongkongan
U = suara/bunyi yang berasal dari pangkal lidah sampai ke ujung bibir
M = suara/bunyi dari bibir.

Ketiga suara/bunyi itu bila diucapkan secara menyeluruh dan sempurna menghasilkan kata OM. Ini adalah fenomena produksi suara/bunyi yang unik. Jadu Om dan sphota satu dalam penciptaan, bentuk dan ide, yaitu Brahma = Hiranyagarbha !.




Bicara tentang lambang swastika, ada perbedaan mendasar antara lambang swastika agama Hindu dan lambang-lambang swastika untuk tujuan lain dan berbeda, seperti lambang Nazi di zaman Hitler, menjadi merek dagang, entah lambang organisasi politik, sosial dan budaya. 

Lambang swastika telah dikenal beribu-ribu tahun lalu, seperti agama Hindu yang sudah ada sejak beribu-ribu tahun lalu. Swastika bagi umat Hindu adalah lambang perdamaian dan kesejahteraan, simbol keagamaan dan astronomi yang menggambarkan peredaran matahari, bulan, bumi, peredaran tahunan bintang biduk dan titik pedoman mata angin utama.  

Swastika juga melambangkan kebakaan, keabadian, Ketuhanan Yang Maha Esa, sumber energi (api), kekuatan magis, perputaran berbagai tata surya di alam semesta menurut jarum jam.  Bersama kembang teratai (padma) berdaun bunga sembilan helai, swastika melambangkan kerharmonisan, kedamaian dan kesucian abadi alam semesta ini.

Swastika berasal dari akar kata ; su + asti + ka = swastika;
su     = baik
asti   = ada
ka    = (imbuhan untuk membentuk kata benda) = kebaikan, kebajikan

Bandingkan dengan ucapan Om, Swastyastu;
su    = baik
asti   = ada
astu  = karunia nbagi Anda
        = "Damai dan sejahtera bagi Anda berkat karunia Hyang Widhi."

Disamping lambang swastika, bunga teratai atau padma juga merupakan lambang suci agama Hindu:


dalam telaga sejuk damai

menengadah sang surya

belaian hangat sinar cahaya matahari

di langit biru abadi

berguguran kelopak satu demi satu

ke pangkuan Ibu Pertiwi

menyebarkan warna dan bau wangi

ke seluruh pelosok alam semesta

akhir hayat di altar Hyang Widhi


Dengan metafora sangat indah Brahma dilukiskan duduk diatas kembang teratai. Dia dilukiskan dalam proses penciptaan-Nya, yaitu timbul dari air telaga, mengelopak menguak alam semesta. Bagaikan daun teratai - tak terjamah dan tak terbasahi oleh air, bagaikan air dengan minyak - licin dan terpisah. Demikianlah kesucian tidak terjamah oleh dosa :


bagaikan sekuntum teratai

kembang indah semerbak harum

semikian ungkapannya

dia yang berkata dan melaksanakan kebajikan

sekuntum teratai berkelopak sembilan

terselubung oleh tiga ikatan

demikian jiwa dalam atman

bagi mereka yang mengerti kitab-kitab Weda


Kedua lukisan dalam sloka di atas diambil dari kitab suci Dhammapada (IV.9.25) dan Atharwa Weda (X.8.43), melambangkan keindahan, keharuman dan kesucian disamping simbolisme hidup manusia di dunia. Atman, yaitu jiwa manusia dalam jasmani dikitari sembilang jalur karmendrya atau alat penggerak karma manusia, yaitu dua biji mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu mulut, satu dubur (anus), dan satu kemaluan (falus) yang senantiasa merupakan gerbang terlahirnya keinginan-keinginan instingtif manusia. Lewat sembilan gerbang ini, tiga pengikat - yaitu kecerdasan, nafsu dan kebodohan - membelenggu manusia sebagai hukum karma. 
Semoga diberi petunjuk jalan menuju ke kelepasan, moksha !

NYEPI kebangkitan, toleransi dan kerukunan oleh Nyoman S. Pendit hal . 139
di tulis dan diposting kembali oleh rare angon

2 komentar:

  1. makasih atas artikelnya kawan...
    nice post.

    BalasHapus
  2. Terima kasih kembali sahabat Entis Sutisna admin blog Go-blogg , success goodluck

    BalasHapus

Buku Tamu