DIJUAL CEPAT VILLA

DIJUAL CEPAT VILLA

Lokasi : Jln . Raya Uluwatu No. 2B, Kuta Selatan

Denpasar Bali – (Lokasi sebelum GWK)

Luas Tanah : 700 M2

Luas Bangunan : 400 M2

SPECC : 1. 3 Kamar Tidur + Kamar Mandi

2. Ruang Makan

3. Ruang Keluarga

4. Dapur

5. Tempat Jaga

6. Kolam Renang

Listrik : 10.000 Watt

Harga : Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar rupiah)

Bisa nego langsung pemilik

Status : SHM

Regards

Made L. Wijaya

HP. 0812 949 9049

HP. 0813 1102 2449

Informasi Lengkap silakan Klik :

http://olx.co.id/iklan/villa-dijual-cepat-IDoDbbL.html

Selasa, 27 Desember 2011

Mitologi Dalam Bale Gading

Bale Gading Semara Ratih

Bale gading merupakan kelengkapan upakara berupa bangunan yang berbentuk persegi empat seperti gedong yang dibuat dengan bambu yang berwarna kuning (tiying gading) memiliki atap serta dihias dengan hiasan serba kuning berupa bunga-bunga serba kuning demikian pula perhiasannya serta dekorasinya seperti pengider-ider, dan pajengan dibuat dengan warna serba kuning.


Kutipan cerita dibawah ini merupakan asal mula dari mengapa bale gading itu ada dan dipergunakan dalam upacara-upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali. 

Dalam upacara tertentu yang erat kaitannya dengan pemujaan Dewa Kama dan Dewi Ratih, maka dari itu sebagai linggih Beliau dan sebagai stana pemujaan Beliau maka dibuatlah suatu bangunan kecil dengan hiasan yang berwarna serba kuning yang disebut dengan “Bale Gading” sebagai lambang dari cinta kasih, tetapi cinta kasih yang dimaksudkan adalah cinta kasih seperti Dewa Kama dan Dewi Ratih, yang penuh dengan keinginan dan kesetiaan serta pengorbanan. Kepada Sanghyang Semara Ratih manusia memohon bimbingan, agar manusia mempunyai cita-cita yang luhur dan keinginan yang tinggi untuk mengabdi.
Dewa Kama dan Dewi Ratih

Diceritakan terbakarnya Sanghyang Semara dan Dewi Ratih oleh sinar mata ketiga dari Bhatara Siwa karena berani menggoda beliau pada saat Bhatara Siwa sedang bersemadi. Diceritakanlah bahwa sorga sedang diserang oleh raksasa Nilarudraka, seorang raksasa yang sakti ingin menguasai sorga. Para dewa-dewa semuanya kalah tidak ada yang sanggup melawannya.


Akhirnya para dewa-dewa datang menghadap Bhagawan Wraspati untuk menanyakan dan meramalkan siapa yang akan sanggup mengalahkan raksasa tersebut. Akhirnya hasil ramalan ternyata bahwa raksasa Nilarudraka hanya akan dapat dikalahkan oleh putranya Bhatara Siwa yang berkepala gajah.

Kamis, 15 Desember 2011

Kembali Lagi Sains Reinkarnasi

Kembali Lagi

Penjelasan terlengkap dan lebih gamblang dari yang sudah dikenal sebelumnya mengenai Reinkarnasi. Kehidupan bukan dimulai dengan kelahiran ataupun berakhir dengan kematian. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Sang Diri sesudah ia meninggalkan raga ini ? Bagaimana rantai reinkarnasi itu berputar ? Bisakah kita mengendalikan reinkarnasi kita yang akan datang ? 

Kembali Lagi menjawab misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang menantang tersebut, dengan penjelasan gamblang yang terlengkap dan asli di seluruh dunia, pencarian yang tak pernah surut untuk meretas pengetahuan mengenai perjalanan sesudah kehidupan ini.


Berikut adalah hal yang sebaiknya Anda ketahui dalam hal-hal yang berkaitan dengan Reinkarnasi. Semoga bermanfaat.

Acarya : Guru spiritual yang mendidik melalui teladan tingkah lakunya sendiri
Ahimsa : Anti kekerasan
Asrama : Padepokan pendidikan Spiritual
Asura : Raksasa atau orang yang bukan penyembah Tuhan / ateis
Atmarama : Seorang Resi yang berpuas di dalam dirinya
Avatara : Inkarnasi Tuhan yang turun dari dunia rohani
Badan halus : Penutup bagian dalam untuk sang roh yang terikat, terdiri dari pikiranm kecerdasan dan ego

Jumat, 02 Desember 2011

Manusia Bali Titisan Dewa

Soekarno  Kecil

Peradaban dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Nepoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Max, Adam Smith, Shakespeare, Mozart. Dunia mengenang mereka sebagai orang-orang jenius, yang merenung, bekerja, dengan akal, pikiran, kendati mereka demikian hebat, dunia tetap menerimanya sebagai manusia, bukan sosok yang turun dari langit, bukan utusan dewa-dewa dari kahyangan. Orang-orang jenius itu nyata, bukan perwujudan mimpi-mimpi, bukan dongeng.


Walau orang hebat sedikit, mereka ada di mana-mana, di setiap zaman, diseluruh waktu. Di Indonesia pun orang jenius itu ada, Sukarno, Proklamator kemerdekaan, seorang diantaranya. Jika di Barat sang jenius diterima dan ditelaah dengan akal sehat, tidak demikian di Tanah Air. Sukarno tak cuma dinilai sebagai manusia hebat, namun sering dianggap titisan dewa. 
Menjelang prahara politik disertai rentetan pergolakan berdarah September 1965, tampang Sukarno dikabarkan muncul di bulan. Tengah malam hingga dini hari, orang-orang mendongak ke langit, menatap bulan lama-lama, mencari wajah Sukarno di situ. Ada yang berteriak kegirangan mengaku melihat jelas wajah pemimpin besar revolusi itu. Yang lain justru bingung. " Aku tak melihat apa-apa, cuma bulatan keemasan dengan siluet hitam di permukaan bulan," ujar banyak orang. Namun wajah Sukarno muncul di bulan kala itu, sungguh berita yang berubah menjadi sihir, mencekam, menegangkan, sakral dan meninabobokan.
" Hanya manusia titisan dewa yang bisa begitu," komentar

orang yang mengaku pernah melihat Sukarno di permukaan bulan. Imajinasi tentang manusia keturunan dewa inipun segera disambut hangat oleh orang Bali. Jika Sukarno keturunan dewa, maka orang Bali juga titisan dewa. Bukankah Sukarno orang Bali ? Dia lahir dari gua-garba wanita Bali dari Buleleng. Jika seorang perempuan melahirkan "anak" dewa, tidaklah berarti ia juga perempuan utusan dewa ? Boleh jadi itu sebabnya muncul gelar Bali itu Pulau Dewata

Pulau ini tak cuma menjadi istana atau tempat pelesir dewa-dewa dari kahyangan, namun sesungguhnya sebuah pulau pemukiman titisan dewa. Wah, alangkah hebat Bali ! Jenius ! Pantas orang luar suka memuji Bali sebagai tanah tumpah darah kaum Local Genius.


Raja-raja di Bali, yang memerintah wilayah Badung, Mengwi, Klungkung, Gianyar, Bangli, Karangasem, memang dianggap titisan dewa oleh rakyatnya, inkarnasi dewa untuk menaburkan kerahayuan jagat, memberi perlindungan bagi rakyat. Raja Klungkung misalnya disebut sebagai Ratu Dewa Agung oleh rakyat dan bawahannya. 

Raja ini dianggap titisan dewa, yang membuat rakyat duduk bersimpuh di tepi jalan jika sang raja lewat. Rakyat menyembah raja tak beda dengan ketika mereka menyembah dewa; tunduk, takluk, berserah diri sepenuh hati, tanpa sisa.
P. Swantoro dalam bukunya, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, mengungkapkan,pendiri dinasti sering dinyatakan sebagai keturunan dewa. Kaisar Jepang dianggap keturunan dewa Matahari. Romulus, pendiri Roma, diyakini sebagai keturunan dewa Mars. Julius Caesar menyatakan diri sebagai keturunan dewi Venus, sedangkan Hengist, Pangeran Anglo-Saksen pendiri kerajaan Britania, bercikal balak dewa Wodan.

Ken Arok disebut-sebut pula sebagai titisan Bhatara Wisnu dan juga putra Bhatara Guru. Ken Dedes, istri Ken Arok, juga bukan perempuan biasa. Ia dihormati sebagai Ardhanariswari, perempuan yang gua-garbanya bersinar, pertanda ia paro-perempuan dari paduan Siwa-Durga. Siapa pun yang berhasil memperistri seorang Ardhanariswari bakal menjadi penakluk dunia.

Jika kita percaya orang Bali masih memiliki pertalian darah dengan dinasti Arok, pasti tidak sedikit titisan dewa di sudut-sudut Bali pendiri Majapahit. Kerajaan di Jawa Timur ini punya peran dan pengaruh kuat terhadap perkembangan peradaban Bali. 

Dalam ekspedisi Majapahit menaklukkan Bali, tentu banyak tokoh, senapati, prajurit, punggawa, kaum intelektual, akhirnya menjadi penduduk Bali, dan beranak pinak di sini.

Tentu Bali harus bersyukur pulau ini dihuni banyak titisan dewa, pertanda tak susah menciptakan kemakmuran, keamanan, kedamaian, disini. Apalagi jika orang-orang (dewa-dewa) itu bersatu padu membangun Bali. Tapi, mengapa belakangan sering terbit baku hantam, pembunuhan, perampokan, di Bali ? Orang Bali kini gampang bunuh diri, mudah marah, dan saling bacok, merusak dam membakar rumah kerabat.

Apakah dewa-dewa (orang Bali?) sedang memperagakan jurus "Dewa Mabuk" seperti dalam film kunfu ? Jurus yang mengharuskan pendekar mabuk dulu untuk merebut kemenangan.
Tetapi benarkah ada manusia titisan dewa? Jangan-jangan semua itu cuma mitos, dongeng untuk menghibur kita agar lupa pada kesusahan hidup sehari-hari.
Sumber Buku Jangan Mati di Bali Tingkah Polah Negeri Turis halaman 260 karya Gde Aryantha Soethama. Di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog


Rabu, 16 November 2011

Belibis Putih | Satua Mebasa Bali

Belibis Putih

Kacrita ada bendega madan Narajana. Ia nongos di pesisi kelod. Sadina-dina Narajana ngalih be di pasih. Narajana negakin jukung sambilanga mamancing. Di kenkene ia masih makena jala. Tibanan suba Narajana nyalanang geginane ento. 

Jani Narajana merasa sebet. Sawireh uli semengan pancinge tonden ada ngamahin. Kanti tengai Narajana tusing maan be angan aukud. Basangne marasa seduk. Awakne marasa panes. Peluhne nyrekcek sawireh panese ngentak.

Narajana ngliwat ka tengah pasihe. Ditu ia nepukin parangan gede. Pesu kenehne bakal mareren. Mawinan ia tuun, laut ngagah bekel. Ungkusan bekelne misi sangu asambekan. Tipat galeng duang bungkul. Pesan lindung akaputan. Sambel isen macakcak misi uyah kusamba atemelosan.
Suud madaar Narajana masayuban di beten kayune. Makelo ia mailih-ilih. Laut teka angine ngasirsir. Lega kenehne muponin dayuh. Mara Narajana matolihan kangin, saget tepukina ada belibis putih. Ditu ia iju ngejuk kedise baan jala.

Narajana tengkejut ningeh kedise mamunyi jlama, " Bapa ! Bapa ! Eda tiang tampaha, Bapa !, Yening Bapa olas nuduk tiang, bakal tulungin tiang Bapa ngalih be ."

Narajana nuutin munyin kedise. Sawireh tumben ada kedis Belibis Putih bisa mamunyi jalma. Belibise ngorahang dewekne nawang tongos bene mapunduh. Laut matujuhin Narajana ka tongose ento. Mawinan Narajana liu pesan maan be gede-gede tur mokoh-mokoh. Sasubane sanja belibise abana mulih. Laut gaenanga bada di sisin balene.
Narajana sayang pesan teken belibise. Sesai baanga dedaaran buka ane daara padidi. Mawinan belibise demen pesan atinne. Kasayangang baan Narajana buka nyayangang pianak.

Jumat, 04 November 2011

Mantra Siddha, Sadhya, Susiddha dan Ari

Power Mantras

Tidak terhitung jumlahnya Mantra. Semua sabda Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda adalah Mantra. Walaupun demikian banyak jumlah Mantra, Mantra-mantra itu dapat dibedakan menjadi 4 jenis Mantra sesuai dengan dampak atau pahala dari pengucapan Mantra, yaitu sebagai berikut :

 
1. Siddha , yang pasti (berhasil)
2. Sadhya, (yang penuh pertolongan)
3. Susiddha (yang dapat menyelesaikan)
4. Ari, musuh (Visvasara Tantra)

" Siddhamantra memberikan pahala langsung tidak tertutupi dengan waktu tertentu. Sadhyamantra berpahala bila digunakan dengan sarana tasbih dan persembahan (ritual). Susiddha-mantra, mantra tersebut pahalanya segera diperoleh, dan Arimantra, menghancurkan siapa saja yang mengucapkan mantra tersebut " ( Mantra Mahodadhi, 24,23 )


Maharsi Manu yang disebut sebagai peletak dasar hukum digambarkan sebagai orang yang pertama memperoleh Mantra dan mengajakan Mantra itu kepada umat manusia dan menjelaskan hubungan antara Mantra dengan objeknya, demikianlah Mantra merupakan bahasa ciptaan yang pertama. 


Senin, 24 Oktober 2011

Hindu | Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Sushruta
Om Swastiastu, Sumbangan Hindu Terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan judul lengkap halaman 176 buku  "Hindu Akan Ada Selamanya" karya Ngakan Made Madrasuta terbitan Media Hindu. 

1. Penemuan Angka Nol - di India, konsep NOL (ZERO) berasal dari kata Sanskrit Shunya artinya "Tidak ada apa-apa (nothing). Dalam Brahma-Phuta, Siddhanta dari Brahmagupta tertanggal abad ke 7 SM, nol ini dijelaskan dan diterjemahkan kedalam buku-buku Arab sekitar tahun 770 M. Dari sini angka nol dibawa ke Eropa pada abad ke 8 M. Teks Sanskrit dari abad ke 4 menjelaskan nol sebagai shunya atau tidak ada apa-apa. Sutra Pingala Chandala dari abad ke 2 menjelaskan angka nol. Terpisah dari itu satu inskripsi dari nol diatas piring tembaga sankheda ditemukan di Gujarat India tertanggal 585-586 M.

2. Pi - adalah sumbangan India kepada dunia - satu teks Sanskrit bernama Baudhayana Shulba Sutra dari abad ke 6 menyusun nilai Pi sebagai 3. Aryabharata dalam tahun 499 M menjelaskan nilai Pi adalah 3.1416 pada tahun 825 M seorang mathematikus Arab bernama Mohammad Ibn Musa mengatakan : Nilai ini telah diberikan oleh orang Hindu ( India ). Sekarang nilai Pi adalah 3.1428571.


Kamis, 06 Oktober 2011

POLENG POLENG BALI

POLENG BALI

Poleng, or chessboard pattern of alternating black and white squares is surely the most distinguished motif of Balinese cloth. One can hardly miss the presence of a poleng cloth around him due to the striking contrast of colors used in the motif. But poleng is not made for attracting attention of the onlookers, it express Balinese point of view towards life.


Since Poleng is the national color of Bali, it can be found virtually everywhere in the island. Poleng clothes are usually wound round big tree trunks, big rocks, statues and shrines. Banners, flags, and umbrellas that are used in a procession of the ceremony sometimes made of poleng clothes. Poleng clothes are also used by the Balinese traditional security forces (pecalang),

Jumat, 23 September 2011

Bade | Nagabandha

Nagabandha

Bade adalah sarana Pitra Yajnya dan tidak tergolong bangunan suci, namun bangunan tersebut beserta perlengkapannya mengandung makna simbolis yang dalam. Bangunan lainnya adalah Bade, Wadah, Petulangan sarana upacara ngaben, Bukur atau Madhya digunakan pada upacara Nyekah, Mamukur, Maligya atau Ngeroras. 

Bade bentuknya menyerupai Meru, namun terbuat dari kayu dan dilapisi dengan kertas warna-warni utamanya kertas emas. Seperti halnya Meru, maka Bade menggunakan atap tumpang, yakni yang tertinggi beratap tumpang 11 ( Solas ), atap tumpang 9 ( Sanga ), atap tumpang 7 ( Pitu ), atap tumpang 5 ( Lima ), atap tumpang 3 ( Telu ) dan atap tumpang 1 ( terdiri dari 2 atap tumpang ).
Bade adalah lambang " Bhuwana Agung " dengan puncak-puncak gunung yang disimbolkan dengan atap tumpang tersebut. Dengan ditempatkannya jenasah pada menara yang disebut Bade ini, diharapkan Roh ( Atma ) orang yang diupacarakan Ngaben tersebut segera mencapai alam Sorga ( Kadevataan )
Nagabandha. Berkaitan dengan upacara Ngaben dalam tingkatan yang besar (uttama) dan umumnya digunakan bagi para raja ( mantan raja ) dan juga pandita Hindu dari warga Brahmana Budha ( Budakeling ) adalah Nagabandha.


Jumat, 16 September 2011

DOA bertentangan dengan KARMA?

dalam kegagalan kita tetap punya harga diri

dalam keberhasilan kita tetap rendah hati

Doa dan Karma

Tetapi bukankah di dalam agama Hindu, hidup kita sepenuhnya ditentukan oelh perbuatan kita atau KARMA ? Andaikata kita mengajukan permohonan kepada Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permohonan kita, bukankah ini berarti Tuhan campur tangan atau bahkan melanggar HUKUM KARMA yang diciptakannya ?. Mari kita lihat dulu manfaat Sembahyang .



Ketenangan Pikiran
Mengetahui Tujuan
Isi Ulang Energi
Terhubung dengan Diri yang Lebih Luas
Membuat Kita Rendah Hati
Harapan Tanpa Kecemasan

Rabu, 07 September 2011

Vahana Devata | Binatang Suci Hindu

Visnu - Garuda
Dalam kitab suci Veda kita jumpai informasi tentang binatang suci seperti garuda, angsa, naga dan lain-lain. Binatang-binatang tersebut ada yang merupakan gambaran perwujudan-Nya, ada juga yang berfungsi sebagai Vahana para devata. 

Vahana Devata dapat berupa binatang dan burung, dimana para Dewa dan Dewi duduk mengendarainya, seperti Visnu diatas garuda, Brahma diatas angsa, Devi Durga di atas seekor singa, Kartikeya atau Kumara menggunakan burung merak sebagai kendaraannya, Ganapati kendaraannya seekor tikus, Indra atau Sasta di atas gajah (Airavata), Sani berupa burung merak, Yama berupa seekor kerbau, Dewi Ganga kendaraannya seekor buaya, Yamuna seekor kura-kura, Vayu kendaraannya seekor kijang, Surya keretanya ditarik oleh 7 ekor kuda, Dewi Candi kendaraannya seekor harimau, Nirrti kendaraannya seekor anjing, Varaha seekor ular, Rati, burung kakak tua, Gauri seekor biawak, Kubera kendaraannya manusia dan Revanta seekor kuda.

Beberapa Devata menggunakan benda-benda mati sebagai kendaraannya, antara lain seperti Sankhanidhi terompet kerang, Kurukulla perahu, Yoganidra pelbet, Kubera mahkota, Usnisavijaya petir dan lain-lain ( Ramachandra, II,1992:115)

Senin, 29 Agustus 2011

Brahma Catur Mukha

Brahma Catur Muka

Pada umumnya setiap Purana menyebutkan Brahma sebagai Catur Mukha, yang memiliki 4 wajah dan untuk mendukung ceritra Brahma memperoleh 4 wajah diceritakan di dalam kitab Matsya Purana. Brahma menciptakan Satarupa dari separo badannya, dan menjadikannya sebagai seorang wanita yang cantik berkeliauan sebagai istrinya. Brahma tidak dapat memalingkan pandangannya terhadap kecantikan istrinya walaupun sekejap saja. 


Untuk mencegah supaya melihat seluruh gerakan istrinya keberbagai arah, maka Brahma menciptakan wajahnya sendiri menjadi 4 wajah. Suatu kali Satarupa berjalan-jalan di angkasa, saat itu juga muncul wajah yang ke 5 dari gelung rambut pada kepala dewa Brahma. Wajah yang ke 5 ini kemudian ditebas oleh Sang Hyang Siva. Tentang ditebasnya wajah yang ke 5 milik dewa Brahma terdapat berbagai versi, antara lain :

Sabtu, 13 Agustus 2011

Menghitung Jasa Leluhur

Pura Ulun Danu Beratan

Dalam kitab suci Manawa Dharmasastra VI.35 ada dinyatakan bahwa dalam hidup ini seseorang tidak dibenarkan untuk mengarahkan hidupnya untuk mencapai kelepasan dari kehidupan duniawi apabila belum menyelesaikan hutang moralnya yang di sebut Tri Rna. Ini artinya jalan kelepasan menuju dunia rohani tidak akan mulus dicapai kalau kewajiban suci hidup di dunia ini belum diselesaikan. 


Hutang  moral yang disebut Tri Rna ini adalah; Dewa Rna yaitu rasa berhutang kepada Tuhan, Rsi Rna berhutang kepada Rsi ( orang suci ) dan Pitra Rna berhutang kepada leluhur atau Pitara. 
 
Dalam kita Nitisastra Kakawin VIII.3 ada dinyatakan lima perbuatan jasa leluhur kepada keturunannya. Lima perbuatan jasa leluhur itu disebut Panca Widha yaitu :

 
Sang Ametuaken 
   : artinya orang yang melahirkan kita.
Sang Maweh Binojana 
   : artinya orang yang memberikan kita makan, minum
Sang Matulung Urip Rikalaning Baya 
  : artinya orang yang menyelamatkan nyawa kita saat menghadapi mara bahaya.
Sang Mangupa Dyaya 
   : artinya orang yang memberikan kita pendidikan
Sang Anyangaskara 
   : artinya orang yang menyucikan rohani kita

Inilah Swadharma atau kewajiban suci orang tua atau leluhur yang disebut Panca Widha.

Kamis, 04 Agustus 2011

Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga

Rama Purusothama

Bhagawan Carabhangga adalah orang suci yang telah mencapai Moksa, selain itu terdapat; Bhagawan (Maha Resi) Byasa atau Wyasa atau Kresna Dwipayana yaitu putra Bhagawan Paracara dengan Dewi Sayojana Gandhi ( Satyawati), Sang Dharmawangsa (Yudhistira), Panca Pandhawa yang sulung, putra Pandhu dengan Dewi Kunti, Sang Budha (Budhha Siddharta Gautama) Putra raja Cuddodhana dengan Dewi Mahamaya, raja suku bangsa Sakhya beribukota di Kapilawasta (Kapilavatthu), Sang Gagang Aking-Sang Bubuksah, Empu Kuturan, Empu Bharadah,

 Shri Kresna salah seorang awatara Wisnu putra Prabhu Wasudewa dengan Dewaki, raja Dwarawati, Dukuh Sogra, Danghyang Dwijendra atau Padanda Cakti Wawu Rawuh - Padanda Cakti Wawu Dateng - Danghyang Nirartha - Tuan Semeru - Pangeran Sang Utpati, Sang Kulputih (Sang Kul Pinge) yaitu Pamangku di Pura Besakih, Rajapala dalam cerita Durma, Bhagawan Bhagaspati dalam wira carita Mahabharata dan Dukuh Blatung dalam Babad Pinatih.

Menurut Kita Kakawin Ramayana, dijelaskan keadaan Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga yang telah mencapai Moksa. Diceritakan pada waktu Sang Rama, Sita dan Laksmana,
sedang mengembara di hutan dan gunung Citrakuta, masuklah beliau ke pesraman Maha Resi Atri, kemudian meneruskan perjalanan ke hutan raya Dandhaka.

Bertemulah beliau dengan Raksasa yang dahsyat dan mengerikan, berjalan sungsang, kaki diatas dan tangan dibawah, takutlah musuh-musuhnya.
Raksasa itu bernama Wirada ingin segera membunuh. Dengan senjata kuku yang tajam serta mulut menganga lebar ia datang menyerang karena menganggap Rama dan Laksama orang lemah tanpa kekuatan atau kesaktian.

Rama dan Laksmana maju dan secepat kilat masing-masing menangkap kaki raksasa Wirada itu lalu dibelah ( disobek ) maka matilah raksasa Wirada dengan badan terbelah dua.


Setelah itu Rama dan Laksmana mengembara tiada bahaya mengancamnya, lalu masuklah beliau ke suatu pasraman yang asri, indah berwibawa, pertapaan Bhagawan Carabhangga. sang Bhagawan adalah seorang yogi yang telah berhasil semadhinya, sehingga dapat mengetahui keadaan di niskala serta tahu akan keparamarthan ( Moksa ).

Setelah bertemu dengan Rama dan Laksmana maka mohon dirilah Bhagawan Carabhangga untuk Moksa dan berkata :

 

 " Tuanku ialah Rama, putra seorang raja, hamba mohon diri untuk kembali ke alam niskala, yaitu Moksa; berbahagialah hati hamba dapat bertemu dengan uanku di tempat ini, Tuanku adalah Narayana, penuntun dunia yang agung. Tuanku, tiada jauh dari sin terdapatlah suatu asrama pertapaan seorang Yogi Sutiksna namanya yang dapat dijadikan sahabat baik, tempat berlindung ."


Setelah berkata demikian maka Sang Pertapa Bhagawan Carabhangga melaksanakan yoga semadhi, keparamarthan, maka keluarlah api dharana, yang lahir dari pemusatan pikiran yang tunggal lalu membakar badan jasmani Sang Bhagawan hingga sirna Moksalah Bhagawan Carabhangga tanpa jasad.

Sumber " Buku Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu Dalam Masa Pembangunan " Disusun oleh : Panitya Tujuh Belas di Jakarta  1986 . Di posting oleh : Rare Angon Nak Bali Belog

Jumat, 29 Juli 2011

Kematian Perjalanan Kembali ke Asal

Kematian seperti ini menyebabkan goncangan dan orang-orang tidak siap dengan transisi ini, roh mereka masih berada disekitar tempat kejadian dan mengembara disekitar tempat tersebut dan mencoba untuk memahami apa yang telah terjadi terhadap dirinya. Beberapa mungkin mengikuti badan fisiknya yang dibawa kerumah sakit.


Kematian
Kubawa jiwaku ke tempat yang tak terlihat, Beberapa kata-kata setelah kehidupan mulai terucap, Dan Jiwaku kembali kepadaku, Dan jawabannya adalah " Aku sendiri adalah Sorga dan Neraka " - Omar Khayyam The Rubaiyat

Artikel ini merupakan kelanjutan dari postingan Dialog Dengan Penghuni Sorga tetapi dengan mengambil judul artikel seperti dalam bab 4 yaitu Kematian - Perjalanan Kembali ke Asal.

" Apa yang sebenarnya terjadi pada saat kematian ?"  Kematian adalah misteri yang terbesar. Kematian dapat datang secara wajar, bunuh diri atau kecelakan/bencana alam. Kita hanya dapat membayangkan, membaca, berdoa dan berteori pada yang benar-benar terjadi, tetapi kita tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya sampai kita mengalaminya sendiri.

Mengapa banyak orang yang takut dengan kematian ?


Itu adalah suatu pengalaman yang tidak diketahui. Banyak orang-orang yang telah mengalami kondisi dekat dengan kematian " near-death ". Mereka yang sedang mengalami dekat dengan kematian merasakan bahwa badan fisiknya adalah suatu bagian yang sangat kecil dari diri mereka yang sesungguhnya, dan mereka merasakan menjadi bagian dari semua keberadaan. Mereka melihat Tuhan didalam semuanya. Ketika kematian tiba tidak ada kesakitan atau ketidaknyamanan. Sakit adalah suatu kondisi pada tingkatan badan fisik.

Proses Kematian

Ada berbagai cara kematian yang berbeda-beda yaitu cara roh untuk keluar dari badan fisik. Bagaimana masa transisi itu terjadi, seseorang dengan jelas melewati suatu perubahan kimia dan fisiologis. Pada saat kematian, badan roh dengan seketika dibungkus sarung pelindung etheric atau badan gandanya. 


 Roh dalam kondisi seperti ini hanya beberapa saat sebelum badan etheric keluar. Status badan etheric ini terjadi pada waktu roh benar-benar meninggalkan badan fisik. Ketika etheric keluar, badan astral mengambil alih. Dalam wujud astralnya roh mampu memasuki bidang energi dunia astral yang lebih halus.

Kematian yang wajar.

Seseorang yang meninggal secara alami, atau disebabkan oleh suatu penyakit di mana mereka menyadari bahwa kematian sudah mendekat, akan mengalami suatu transisi yang khas. Kesadaran mereka secara perlahan mulai meluas atau menguat. "Ketajaman" pada indra pendengaran dan pengelihatan, mereka " melihat masa lalu " ( life review ).


 Roh menyadari tindakannya dan sangat sensitif terhadap perlakuan orang lain. Mereka akan teringat dengan semua kerabat atau sahabat-sahabatnya, tiba-tiba memanggil anggota keluarganya yang ditinggal atau menggambarkan suatu peristiwa. Pada saat kematian, nafas berhenti dan roh meninggalkan badan fisik. Pada saat ini "Tali perak (silver cord)" serabut etheric yang menjaga roh ketika berada didalam badan fisik terputus dan roh akhirnya bebas.

Bunuh diri

Dalam kasus bunuh diri, roh dipaksa untuk keluar dari badan fisik. Siapapun yang memaksakan diri untuk mati secara dini akan menyadari bahwa walaupun ia dapat menghancurkan badan fisiknya sendiri, namun ia tidak bisa menghancurkan rohnya. Ketika roh meyadari apa yang telah terjadi; ia akan menyesal dan tertekan


Masalah seperti ini dapat diatasi oleh para penyembuh dan para guru spiritual yang dapat membantu untuk membawanya dalam kedamaian hati dan kesejahteraan. Doa-doa penuh kasih dari keluarga dan teman yang masih hidup untuk jiwa-jiwa seperti itu membantu kearah perubahan yang lebih baik. Itu sebabnya mengapa sedemikian penting berdoa kepada mereka yang meninggal.

Kematian yang tiba-tiba atau tak terduga
Dalam kasus kematian yang disebabkan karena kecelakaan, kekerasan atau bencana alam; roh dipaksa keluar dari badan dengan cepat dan hampir tidak menyadari apa yang telah terjadi. 

Roh sama sekali tidak merasakan kesakitan fisik dari kematian semacam ini. Dalam kematian seperti ini, seseorang mungkin kehilangan kesadaran atau mempunyai kesadaran secara spontan bahwa ia sedang berdiri di luar badannya dan sedang mengamati badannya yang sudah tidak bernyawa. 


Ia masih merasakan bahwa ia hidup dan mengira bahwa ia adalah badan fisik sampai menyadari bahwa ia bukanlah badan fisik. Roh ini mencoba untuk berbicara kepada orang-orang disekitarnya dan kebingungan ketika tak seorangpun mendengarkannya. Walau kita tidak bisa mendengar mereka, namun mereka dengan sepenuhnya mampu mendengar apa yang sedang kita bicarakan dan kita pikirkan. 

Kematian seperti ini menyebabkan goncangan dan orang-orang tidak siap dengan transisi ini, roh mereka masih berada disekitar tempat kejadian dan mengembara disekitar tempat tersebut dan mencoba untuk memahami apa yang telah terjadi terhadap dirinya. Beberapa mungkin mengikuti badan fisiknya yang dibawa kerumah sakit. ( Kalau di Bali ada upacara ngulapin di tempat terjadinya kecelakaan ) 

Setelah kematian biasanya ada anggota keluarga yang telah meninggal sebelumnya atau roh pemandu datang untuk menyambut dan membantunya dalam hal penyesuaian kondisi-kondisi yang tidak biasanya di alam roh.


Sumber dari buku Dialog dengan Penghuni Sorga - James Van Praagh, dan artikel ini tentunya tidak dapat memberikan gambaran isi buku secara keseluruhan terutama pengalaman-pengalaman penulisnya yang tidak disampaikan, untuk itu pengunjung agar membacanya. Diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog

Insert Picture www..gallerydunia.com

Selasa, 19 Juli 2011

Dialog Dengan Penghuni Sorga

Astral projection

Dialog Dengan Penghuni Sorga, bagian pertama

Sebuah Perjalanan Rohani Melalui Kehidupan Dan Kematian. "Dari mana asalku ?" Jiwa adalah inti keberadaan kita yang merupakan sinar Tuhan yang kekal abadi. Sang jiwa telah mengarungi luasnya alam semesta selama beribu-ribu tahun, merekam semua rahasia keberadaan yang tiada akhir. Itulah inti siapa diri kita yang sesungguhnya. Ketika kita meninggal, kita akan disambut oleh orang yang kita cintai serta pembimbing spiritual yang selama ini telah menemani kita dalam berbagai perjalanan. 


Di dalam dunia roh setiap jiwa menentukan sendiri apa yang ingin dialaminya, dan mengambil keputusan untuk terlahir kembali ke dunia fana. Pada kelahiran ini kita tidak terlahir dengan tangan hampa; kita membawa kebijaksanaan keabadian yang berada di dalam kenangan jiwa dan disertai pula oleh kekuatan surgawi.





Energi kekuatan Tuhan adalah pusat dari semuanya. Pikiran, roh dan badan kasar tersusun dari energi kekuatan Tuhan yang sama; namun vibrasinya berbeda satu sama lainnya. Pikiran merupakan jendela terhadap alam itu sendiri. Ketika kita memanfaatkan energi positif pikiran, hasilnya sungguh luar biasa. Dengan memahami bahwa otak bukanlah sumber ide/gagasan dan pikiranlah yang sebenarnya merupakan sumber ide/gagasan itu, kita harus pula memahami bahwa setiap pikiran manusia terhubung dengan Pikiran Universal dan terkait dengan unsur-unsurnya.

Pemikiran itu sungguh kuat, maka penting untuk memperhatikan apa yang anda pikirkan setiap hari. Kehidupan yang sedang anda jalani saat ini adalah hasil dari pemikiran anda.

 Ada 3 (tiga) sumber pemikiran.  


Yang pertama, pemikiran yang datang melalui doa dan meditasi yang mendalam. Dengan mencapai kesadaran pada tingkat ini akan menciptakan kerendahan hati, ketenangan, cinta dan kebahagiaan. 

Yang kedua, pemikiran yang datang dari lingkungan kita. Kita harus sadar dengan pengaruh yang besar dari lingkungan kita yang berakibat pada hidup kita sehari-hari. Pemikiran yang ketiga adalah pemikiran umum kita sehari-hari. Sigmund Freud pelopor psikiatris membagi kesadaran menjadi tiga tingkatan terpisah namun saling tergantung yaitu; sadar, bawah sadar dan tidak sadar


Pikiran sadar adalah pikiran yang kita pergunakan untuk menghitung sesuatu atau untuk membaca buku. Pikiran bawah sadar mengendalikan semua kegiatan atau proses tubuh yang dilakukan tanpa sengaja, seperti pengaturan tidur, pernafasan, pencernaan, sirkulasi dalam tubuh dan tidak pernah berhenti. Pikiran yang tak sadar adalah sesuatu yang tidak terlihat. Disinilah tempat semua pengalaman di masa lalu termasuk apa yang pernah kita pikirkan, rasakan, pelajari, atau kita saksikan di masa lalu.

Badan Manusia dalam Agama Hindu
Di dalam aura ada berbagai lapisan dan struktur yang terlalu komplek untuk diuraikan secara detil. Struktur yang utama sesuai dengan empat lapisan "badan" yang berpenetrasi antara satu dengan lainnya dan oleh ahli metafisika diyakini sebagai pembentuk keberadaan manusia.

Lapisan-lapisan tersebut adalah : badan etheric, yang berhubungan langsung dengan proses fisik; badan astral, tempat proses perasaan; badan mental, tempat semua pemikiran berlangsung termasuk pemikiran intuitif dan kekuatan batin; dan badan fisik.


Badan Etheric
Badan ini juga disebut sebagai badan ganda sebab merupakan duplikasi atau sama persis bentuknya dengan badan fisik kita. Badan etheric terdiri atas energi matrik yang menjadi satu dengan badan fisik pada berbagai titik. Titik-titik ini disebut sebagai chakra, yang merupakan simpul-simpul energi dalam badan. Kata chakra adalah bahasa Sansekerta yang berarti "Lingkaran". Melalui chakra-chakra ini energi kekuatan Tuhan, atau prana (bahasa Sansekerta) masuk ke badan kasar untuk memelihara berbagai organ-organ badan seperti kelenjar pineal, pituitari, gondok, parathyroid, thymus, ginjal, pankreas, hati limpa, kelenjar testis dan sistem saraf.

Badan Astral
Badan Astral juga disebut sebagai badan emosional. Badan astral ini tersusun atas tiga dimensi materi yang sangat halus dan merupakan badan yang paling tebal setelah badan fisik. Badan astral sebenarnya adalah suatu tiruan dari badan fisik, dan meluas keluar dari badan fisik kita kira-kira 5 s/d 8 inci.

Badan Etheric hanya terkait dengan sistem energi (Chakra), badan astral mencakup bagian emosional sesorang. Badan astral terdiri dari semua pemikiran, emosi dan berbagai keinginan yang ada di dalam pikiran (mind) anda. Semua hasrat duniawi, ingatan dan keinginan ada di dalam badan astral. Saat kematian tiba badan ini meninggalkan badan fisik dan masuk ke dunia astral.


" Mengapa anda sangat takut dengan kematian ? Anda mengalaminya setiap malam ! " Kenyataannya bahwa ketika kita tidur, badan astral meninggalkan badan fisik dan masuk ke dunia astral. Itu sama persis dengan konsep proyeksi astral, kecuali dalam hal ini badan astral meninggalkan badan fisik atas keinginan sendiri. Maka ketika " Kita mati setiap malam, " maksudnya roh kita meninggalkan badan fisik, seperti halnya saat kita akan  meninggalkannya ketika kematian tiba. Badan astral secara spontan juga meninggalkan badan fisik  ketika mengalami kecelakaan, atau ketika dibawah pengaruh narkotika, atau juga ketika seseorang pingsan. Jiwa akan bekerja pada dunia astral ketika badan fisik hilang kesadaran.

Badan Mental
Badan mental terdiri atas suatu unsur yang bahkan lebih halus dari pada badan astral. Badan mental dipercaya bertanggung jawab atas perpindahan energi mental yang halus terhadap lapisan badan yang lain. Energi ini adalah energi spiritual yang mulia dan ditransfer melalui badan mental dalam wujud informasi kekuatan bathin, seperti inspirasi, perasaan dan firasat.

Pada bagian kedua akan saya posting mengenai roh atau jiwa sesaat setelah kematian, yang dapat disebabkan oleh bunuh diri, kecelakaan dan lain sebagainya. Kemanakah roh atau jiwa kita ??


Dari buku " Dialog Dengan Penghuni Sorga " ( Talking to Heaven ) Sebuah Perjalanan Rohani Melalui Kehidupan Dan Kematian, oleh James Van Praagh, Diterjemahkan oleh Agus Widodo, Penerbit PT. Media Dharma Indonesia. Di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog

Selasa, 12 Juli 2011

Hindu dan Demokrasi

Mohandas K. Gandhi (1869-1948)

Nilai-nilai Hindu yang menunjang demokrasi. Dalam Buku Tuhan Agama dan Negara disebutkan ada beberapa nilai atau ajaran Hindu yang menunjang demokrasi, antara lain, konsep Istadewata, Hukum Karma, Tat Twam Asi, Ahimsa. Dan semua nilai ini berpangkal pada paham ketuhanan Hindu, yaitu pantheisme, dimana Brahman atau Tuhan berada di dalam (imanen) ciptaan. Ia Maha-ada dan Maha-takterbatas. Pengada-pengada dunia ini, tidak dapat membatasi atau menghalangi keberadaannya. 


Dengan demikian kekuasaannya menyebar mengikuti keberadaannya. Bukan seperti monotheisme, satu Tuhan yang menentukan segala sesuatu dengan tangannya sendiri, seperti seorang kepala suku yang otoriter, seorang diktator, dan berpihak pada satu kelompok manusia. Dan monotheisme menolak perbedaan dan kemajemukan. Berikut Nilai ajaran Hindu ;

- Kelima. Pembagian Kekuasaan.


Pertama Istadewata

Yang dimaksud dengan Istadewata adalah suatu konsep atau nilai, dimana manusia diberikan kebebasan untuk memilih Ideal, nama dan rupa dari Tuhan yang ingin dipujanya. Di dalam Hindu, ada berbagai sekte dan mereka saling menghormati satu sama lain.


Di dalam hal yang paling fundamental sekalipun, Hindu menghargai keberagaman (pluralisme). Penghormatan atas perbedaan di dalam juga terpancar keluar.




Terhadap agama-agama lainpun Hindu menunjukkan keterbukaannya. Pada umumnya orang Hindu berpikir bahwa kebenaran ( DHARMA ) itu memiliki banyak sisi, seperti satu permata yang bersisi banyak, tiap-tiap sisi memancarkan warna-warna yang berbeda,  ( Anekantawada ). Orang-orang Hindu, seperti GANDHI menganggap semua agama sederajat (perhatikan, Gandhi tidak mengatakan semua agama itu sama saja).

 Bila agama Hindu memasuki suatu daerah baru, ia tetap menghargai budaya atau ritual yang sudah ada. Hindu tidak ingin menyeragamkan segala sesuatu, ia tidak melakukan pilihan " all or nothing ". Hindu bukan imperialisme politik dan budaya dengan topeng agama.

Dalam mencapai keselamatan, Moksha, Hindu menyediakan empat jalan ( Catur Marga ) yang berbeda bagi tiap-tiap orang yang memiliki kemampuan dan kecendrungan yang berbeda. Hindu menganggap orang yang memilih jalan berbeda bukanlah musuh ( orang sesat yang perlu diselamatkan ). Berbeda bukan bermusuhan. Opposisi bukan pemberontakan. Secara singkat Hindu menghargai perbedaan dan pluralisme.

Kedua Hukum Karma

Dalam keyakinan akan Hukum Karma, masing-masing manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Manusia adalah agen yang bebas. " SVATANTRA KATAH " . Manusia yang berdaulat atas dirinya, adalah salah satu sendi dan sekaligus tujuan demokrasi.


Tuhan menjalankan kekuasaannya atas alam dan manusia melalui hukum, RTA dan KARMA. Hakikat demokrasi menghargai supremasi hukum. Demokrasi menjamin kebebasan berkehendak dan berpendapat.

Ciri demokrasi yang lain adalah supremasi hukum. Dalam agama Hindu, diyakini Tuhan tidak secara langsung mengatur alam semesta, tetapi melalui hukum, yaitu RTA untuk alam dan KARMA untuk manusia.

Manusia bukan sekedar mahluk yang hanya menjalankan nasib yang telah ditentukan dari atas langit. Inti demokrasi adalah 'manusia merdeka', manusia yang bebas memilih dan menentukan nasibnya sendiri. Maka Hukum Karma dapat dikatakan sebagai demokrasi spiritual. Karma adalah jiwanya demokrasi (politik dan ekonomi).

Ketiga Tat Twam Asi
Secara vertikal, esensi manusia sama dengan hakikat Tuhan. Atman adalah Brahman. Secara horisontal, setiap manusia memiliki esensi yang sama. Konsep Atman sebagai bagian dari Brahman, menurut Dr. SARVEPALLI RADHAKRISHNAN, adalah merupakan penghargaan terhadap martabat manusia. Each individual is a spark of the Divine.

 "DEHO DEVALAYO NAMA ."  Manusia yang bermartabat adalah salah satu tujuan utama yang diperjuangkan oleh demokrasi.


Keempat Ahimsa
Keputusan-keputusan penting yang menyangkut kehidupan manusia di dalam demokrasi diambil melalui konsensus, bukan berdasarkan paksaan kekuatan. GANDHI merumuskan relasi Ahimsa dengan politik dan demokrasi dengan tepat, sebagai berikut ;

" Revolusi pantang kekerasan bukanlah program pengambilan kekuasaan. Ia adalah program perubahan hubungan-hubungan yang berakhir  pada peralihan kekuasaan secara damai."

"Suatu negara yang menganut pantang-kekerasan harus secara luas berlandaskan pada kehendak rakyat yang cerdas, yang mampu mengetahui pikirannya dan bertindak sesuai dengan pikiran tersebut."

"Demokrasi hanya dapat diselamatkan melalui pantang-kekerasan, karena demokrasi selama ditopang olh kekerasan tidak menjamin kebutuhan atau melindungi kaum lemah. Pengertianku mengenai demokrasi ialah bahwa di bawah demokrasi, golongan yang paling lemah harus mempunyai kesempatan yang sama seperti golongan yang paling kuat " ( MK. Gandhi :"Nonviolance in peace and war" )

Kelima Pembagian Kekuasaan

Ciri yang ain dari demokrasi adalah pemisahan kekuasaan menjadi tiga, yaitu pembuat undang-undang, pelaksana pemerintahan dan peradilan (legislatif, eksekutif dan yudikatif). Dalam agama Hindu ada pemisahan kekuasaan antara penguasa agama ( Raj Dharma ) yaitu kaum pendeta (Brahmana) dengan penguasa politik ( Raj Niti ) yaitu Ksatriya dan penguasa ekonomi ( Raj Artha ) kaum Vaisya.  


Dengan pemisahan ini, bentuk pemerintahan absolut yang menyandarkan legitimasinya pada wahyu Tuhan (Teokrasi) tidak dikenal dalam agama Hindu. Pemisahan kekuasaan agama, politik dan ekonomi sebenarnya merupakan suatu dasar bagi pencegahan penyalahgunaan kekuasaan dalam bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme.

Selengkapnya dalam Buku TUHAN AGAMA & NEGARA oleh Ngakan Made Madrasuta terbitan MediaHindu. Diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog

Rabu, 06 Juli 2011

Satyakama Jabala

the story of Satyakama Jabala

Sekali peristiwa Satyakama bertanya kepada ibunya, Jabala, "Ibu, aku ingin menjadi pelajar pengetahuan suci (Weda). Apakah nama keluargaku (gotraku) ?" Lalu ibunya, Jabala menjawab : "Aku tidak tahu, anakku, apa keluargamu. Dalam masa mudaku, ketika aku banyak bepergian kesana-kemari, sebagai gadis pelayan, aku melahirkan kamu. Jadi aku tidak tahu kamu keturunan keluarga apa. Namun demikian, namaku adalah Jabala dan namamu adalah Satyakama. Jadi kamu dapat menyebut dirimu Satyakama Jabala (Putra dari Jabala)".


Lalu Satyakama Jabala pergi kepada Gautama, putra Haridrumat dan berkata : " Aku ingin menjadi pelajar pengetahuan suci. Bolehkah aku menjadi muridmu, Yang Mulia ?" Gautama berkata kepada Satyakama Jabala :
"Apa nama keluargamu, anakku ?" Satyakama menjawab : "Aku tidak tahu hal ini, tuan. Aku tanya ibuku. Dia menjawabku, "Dalam masa mudaku, ketika aku banyak bepergian kesana kemari, sebagai gadis pelayan, aku melahirkan kamu. Jadi aku tidak tahu kamu keturunan keluarga apa. Namun demikian, namaku adalah Jabala dan namamu adalah Satyakama. Jadi aku adalah Satyakama Jabala".




Gautama lalu berkata kepadanya : "Tidak seorangpun kecuali seorang Brahmana yang dapat berkata demikian. Bawa api itu, nak, aku akan menerimamu sebagai murid. Kamu tidak menyimpang dari kebenaran (Dharma)."


Setelah mendiksha Satyakama Jabala, Gautama memisahkan empat ratus kerbau kurus dan lemah dan berkata, " Pergilah dengan ini." Ketika membawa kerbau-kerbau itu pergi Satyakama Jabala berkata," Aku tidak akan kembali sebelum kerbau ini menjadi seribu ekor."

Setelah kerbau itu menjadi seribu ekor, Satyakama Jabala kembali ke rumah Gautama. Melihat Satyakama Jabala kembali, Gautama berkata : "Anakku, engkau bersinar seperti seorang yang telah mengetahui Brahman. Siapakah yang telah mengajar kamu ?" Satyakama Jabala menjawab, "bukan manusia. Tapi aku ingin, Yang Mulia, tuan sendiri yang mengajar aku." (Chandogya Upanisad IV.4 - 9


Satyakama Jabala sambil mengembala kerbau selama bertahun-tahun belajar pengetahuan suci dari kerbau yang digembalakannya, dari padang rumput dimana kerbau-kerbau merumput, dari pohon-pohon di mana ia berteduh, dari sungai di mana kerbaunya minum, dari gunung, yang dilihatnya di kejauhan, dari matahari yang menyinarinya di siang hari, dari bulan dan bintang yang menjadi penerangan di malam hari, dari alam semesta.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah diatas ?. Pengetahuan, termasuk pengetahuan suci, menjadi milik mereka yang mau dan berupaya untuk mempelajarinya. Pengetahuan, merupakan tangga untuk mencapai kemuliaan, baik secara material maupun spiritual. Dan pengetahuan itu dapat ditemukan dimana-mana. dan semua itu tidak ada hubungannya dengan keturunan. Satyakama Jabala adalah anak haram. Ibunya melahirkan dia di luar perkawinan yang syah. 


Ada yang mengatakan Jabala adalah seorang pelacur. Tapi Sankara hendak memperhalus "potret" Jabala, karena ia sibuk melayani tamu di rumah suaminya,ia tidak sempat mengetahui apa gotra suaminya. Sebuah pembelaan yang lemah. Tapi siapapun ibunya, berkat ketekunannya menuntut ilmu Satyakama Jabala mencapai kedudukan mulia di masyarakatnya. Ia akhirnya menjadi guru pengetahuan suci (Weda) seperti Gautama.

Dalam pustaka suci Hindu seperti Upanisad dan Begawad Gita terdapat banyak sloka atau mantra yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (Jnana) sebagai jalan pembebasan, pembebasan dari penderitaan, yang dapat berarti pembebasan setelah kematian (Moksha, bebas dari tumimbal lahir), maupun pembebasan dari penderitaan di dunia ini (kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan). Secara kolektif taraf pendidikan umat Hindu masih ketinggalan, penguasaan ilmu pengetahuan agama (tattva) kita masih sangat ketinggalan. Satyakama Jabala memberikan insspirasi dan semangat untuk mengejar ilmu pengetahuan spiritual itu.
Dari Buku " Hindu Akan Ada Selamanya " oleh Ngakan Made Madrasuta, terbitan MediaHindu. Diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

Insert Picture http://www.arunachala-ramana.org/forum/index.php?topic=6003.0

Jumat, 24 Juni 2011

Kausitaki Upanisad

The Sampradaya Sun

KETIKA seorang manusia bicara dia tidak dapat bernafas; inilah pengorbanan nafas kepada bicara. Dan ketika seorang manusia bernafas ia tidak bisa bicara; inilah pengorbanan bicara kepada nafas.
Inilah dua persembahan abadi tanpa henti manusia apakah dia bangun atau dia tidur.

2.5
Inilah tiga puja dari Kausitaki sang penakluk segala; Pada waktu matahari terbit dia berkata,"Engkau yang memberi kebebasan, bebaskan aku dari dosa-dosaku". Pada waktu matahari ditengah-tengah perjalanan di sorga dia berkata,"Engkau yang berda di tempat tingi dan memberi kebebasan, taruhlah aku di tempat tinggi dan bebaskan aku dari dosa-dosa". Pada waktu matahari terbenam dia mengucapkan sembahyang ini, "Engkau yang memberi kebebasan penuh, bebaskan aku sepenuhnya dari dosa-dosaku."
2.7
Ketika api membakar, Brahman bersinar; ketika api padam, Brahman pergi. Cahayanya pergi ke matahari, dan nafas kehidupannya ke angin.
Ketika matahari bersinar, Brahman bersinar dan ketika bulan terbenam, Brahman pergi. Cahayanya pergi ke sinar kilat, dan nafas kehidupannya ke angin.
Ketika cahaya kilat bersinar, Brahman bersinar dan ketika ia pergi, Brahman pergi. Sinarnya pergi ke wilayah sorga, dan nafas kehidupannya ke angin.
2.12
Pratardana, putra Devadasa,



menerangi cahaya batin dengan seluruh jiwanya dan dengan demikian mencapai rumah Indra, rumah kecintaan Tuhan. Indra berkata kepadanya: "Pratardana, mintalah satu hadiah." Untuk ini Pratardana menjawab: "Aku meminta hadiah yang engkau pikir paling baik bagi kemanusiaan."
"Seorang guru tidak memaksakan satu hadiah kepada muridnya," kata Indra, " Mintalah hadiah yang kamu sukai."

"Maka aku tidak akan mempunyai satu hadiah," kata Pratardana.

Tetapi Indra tidak meninggalkan jalan kebenaran, karena Tuhan adalah kebenaran. Karena itu dia berkata kepada Pratardana: "Ketahui aku, karena inilah yang terbaik bagi manusia: Mengetahui Tuhan."

3.1
Kemudian Indra bicara:
Aku adalah nafas kehidupan, dan aku adalah kesadaran hidup. Cintailah aku dan pikirkan aku sebagai kehidupan dan keabadian.


Nafas kehidupan adalah satu;
Ketika kita bicara, hidup bicara,
Ketika kita melihat, hidup melihat,
Ketika kita mendengar, hidup mendengar,
Ketika kita berfikir, hidup berfikir,
Ketika kita bernafas, hidup bernafas.
Dan ada suatu yang lebih besar dari pada nafas kehidupan. Karena seseorang dapat hidup tanpa bicara; kita dapat melihat orang bisu. Seseorang dapat hidup tanpa melihat; kita dapat melihat orang buta. Seseorang dapat hidup tanpa mendengar; kita dapat melihat orang tuli. Seseorang dapat hidup tanpa citta yang benar; kita dapat melihat orang gila
.

Tetapi adalah kesadaran hidup yang menjadi nafas kehidupan dan memberikan hidup kepada badan. Nafas kehidupan adalah kesadaran kehidupan, dan kesadaran kehidupan adalah nafas kehidupan.

3.2-3
Ketika kesadaran mengatur bicara, dengan bicara kita dapat mengucapkan kata-kata. Ketika kesadaran mengatur nafas, dengan tarikan nafas kita dapat mencium bau semua minyak wangi. Ketika kesadaran mengatur mata, dengan mata kita dapat melihat semua bentuk. Ketika kesadaran mengatur telinga, dengan telinga kita dapat mendengar semua bunyi. Ketika kesadaran mengatur lidah, dengan lidah kita dapat menelan semua rasa. Ketika kesadaran mengatur citta, dengan ctta kita dapat memikirkan semua pikiran.
3.6

Bukan wicara yang harus kita ketahui; kita harus mengetahui yang bicara. Bukanlah hal-hal terlihat yang harus kita ketahui; kita harus mengetahui yang melihat. Bukanlah suara-suara yang harus kita ketahui; kita harus mengetahui yang mendengar. Bukanlah citta yang harus kita ketahui; KITA HARUS MENGETAHUI SANG PEMIKIR.

3.8

Catatan.
Upanisad singkat terdiri dari empat bab, membahas beberapa topik, tetapi khususnya berkaitan dengan prana sebagai prinsip pertama, dan mengenai tafsir mimpi-mimpi. Kausitaki Brahmana Upanisad, juga disebut Kausitaki Upanisad tidak merupakan bagian dari Kausitaki Brahmana yang terdiri dai tiga puluh bab yang sampai kepada kita dan nama ini dapat diterangkan dengan melakukan Aranyaka di mana ia merupakan satu bagiannya Veda. Sankara merujuk kepadanya di dalam beberapa Samkarananda juga telah memberikan komentarnya atas upanisad ini. (Sarvepalli Radhakrishnan : The Principal Upanisads). Teks 2.7 merupakan dasar pelaksanaan Tri Sandya.

Dari buku UPANISAD HIMALAYA JIWA Intisari Upanisad Hal: 95  oleh Juan Mascaro & Swami Harshananda, editor Ngakan Putu Putra. Penerbit Media Hindu. Diposting olih Rare Angon Nak Bali Belog

insert picture The Sampradaya Sun 
http://www.harekrsna.com/sun/features/08-08/features1121.htm

Selasa, 07 Juni 2011

MISTERI GAYATRI MANTRA MELALUI MEDITASI

Maha Devi Gayatri
Om bhur bhuvah svah,
tat savitur varenyam,
bhargo devasya dhimahi,
dhiyo yo nah pracodayat.

artinya:

O cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.


Inilah makna dari Gayatri mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya. Om melambangkan Tuhan, Bhur mewakili bumi, Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. Sedangkan Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.

Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantra tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.



Gayatri mantra pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar manusia dan alam.


Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.

Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.

Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam

Banyak bermunculan duku-dukun serta paranormal yang menjanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.

Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri?

Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.


Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Andaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.

MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA


Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih (tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.

Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.

Tambahan:

Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.


TEORI MEDITASI





Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra "

OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"


ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima
kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.

Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram

" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat"


dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.

Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy, rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.

Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran selain getaran halus dari Gayatri mantra.

TIPS

Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca Gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. 


Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.


Sumber http://mudiasa.blogspot.com/