Sabtu, 13 Agustus 2011

Menghitung Jasa Leluhur

Pura Ulun Danu Beratan

Dalam kitab suci Manawa Dharmasastra VI.35 ada dinyatakan bahwa dalam hidup ini seseorang tidak dibenarkan untuk mengarahkan hidupnya untuk mencapai kelepasan dari kehidupan duniawi apabila belum menyelesaikan hutang moralnya yang di sebut Tri Rna. Ini artinya jalan kelepasan menuju dunia rohani tidak akan mulus dicapai kalau kewajiban suci hidup di dunia ini belum diselesaikan. 


Hutang  moral yang disebut Tri Rna ini adalah; Dewa Rna yaitu rasa berhutang kepada Tuhan, Rsi Rna berhutang kepada Rsi ( orang suci ) dan Pitra Rna berhutang kepada leluhur atau Pitara. 
 
Dalam kita Nitisastra Kakawin VIII.3 ada dinyatakan lima perbuatan jasa leluhur kepada keturunannya. Lima perbuatan jasa leluhur itu disebut Panca Widha yaitu :

 
Sang Ametuaken 
   : artinya orang yang melahirkan kita.
Sang Maweh Binojana 
   : artinya orang yang memberikan kita makan, minum
Sang Matulung Urip Rikalaning Baya 
  : artinya orang yang menyelamatkan nyawa kita saat menghadapi mara bahaya.
Sang Mangupa Dyaya 
   : artinya orang yang memberikan kita pendidikan
Sang Anyangaskara 
   : artinya orang yang menyucikan rohani kita

Inilah Swadharma atau kewajiban suci orang tua atau leluhur yang disebut Panca Widha.

Karena itu dalam tradisi umat Hindu di Bali juga disebut "Bapa". Artinya beliau yang melindungi. Lima kewajiban suci itu umumnya dilakukan oleh orang tua secara tulus dan iklhas berkorban. Inilah Yajna orang tua kepada keturunanya. Karena itu kitab suci Weda dan kitab-kita tafsirnya mengajarkan kepada umat Hindu untuk berbakti kepada leluhurnya baik saat beliau masih hidup maupun setelah beliau meninggal dan rohnya disucikan melalui suatu prosesi upacara yang disebut Upacara Pitra Yajna.

Dalam kitab Sarasamuccaya 250 ada dinyatakan suatu jani bahwa bagi mereka yang sungguh-sungguh berbhakti kepada leluhurnya akan mendapatkan empat pahala mulia yaitu ; Kirti, Bala, Ayusa, dan Yasa

Kirti : artinya kemakmuran dan kemasyuran. Masyur tidak sama dengan terkenal. Terkenal itu ada yang positif dan ada yang negatif. Tetapi masyur adalah terkenal karena mampu menunjukkan perbuatan yang sangat patut dipuji. Jadinya masyur itu adalah terkenal karena positif. Untuk mendapatkan kesempatan berbuat baik yang berguna bagi banyak orang tidaklah mudah. Tetapi bagi yang rajin berbakti kepada leluhur kesempatan itu akan terbuka. Demikian keyakinan ajaran Hindu.


Bala : artinya kekuatan. Bagi yang rajin berbhakti kepada leluhurnya akan mendapatkan kekuatan yang disebut Bala. Kekuatan dalam hal ini bukanlah dalam arti fisik semata. Bala artinya kekuatan lahir bathin. Sehat dalam arti jasmani dan rohani. Kuat menghadapi sukha dan dukha. Dalam kitab Bhagawad Gita II. 15 dinyatakan : sama duhha sukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi suka dan dukanya kehidupan.

 
Ayusa : artinya umur panjang. Ayusa ini tidak sama artinya dengan orang lanjut usia. Karena dalam Sarasamuccaya ada dinyatakan bahwa orang yang tidak berbuat Dharma dalam hidupnya ini sama dengan orang mati. Bedanya dengan mayat hanya karena ia bernafas. Jadinya dalam hidup ini kalau kita dapat pergunakan sebagian besar umur ini untuk berbuat baik itulah yang disebut Dirgha Yusa atau Ayusa.Orang yang selalu berbuat berdasarkan Dharma dalam hidupnya dapat mencapai keadaan yang disebut "hidup tanpa nafas" artinya orang yang mampu berbuat baik dalam hidupnya ini sampai perbuatan baiknya itu sampai menjadi sumber hidup dan kehidupan sampai turun temurun. 


Meskipun ia sudah tidak bernafas lagi alias sudah meninggal, namun perbuatannya yang dahulu terus menjadi suri tauladan generasi ke generasi. Seperti para Rsi, meskipun beliau sudah tidak ada secara fisik namun karya-karya beliau terus menjadi sumber hidup dan penghidupan sampai saat ini. Hal seperti itulah yang akan didapat bagi mereka yang rajin berbhakti kepada leluhurnya.

Yasa : artinya berbuat jasa. Salah satu harapan setiap orang yang hidup di dunia ini adalah mampu berbuat jasa kepada keluarga, masyarakat, bangsa, Negara dan Dharma. Untuk berbuat jasa itu adalah salah satu naluri hidup manusia. Cuma tidak semudah itu seseorang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berbuat jasa. Namun bagi yang rajin berbhakti pada leluhurnya kesempatan dan kekuatan itu akan lebih mudah diperolehnya.


Itulah empat pahala bagi orang yang memuja leluhur. Karena itulah umat Hindu dimanapun mereka berada umumnya memiliki tempat pemujaan leluhur. Bentuk dan corak pemujaannya itu ada yang bercorak Sapinda, Gotra atau Pravara.
Dari buku " Mengapa Bali disebut Bali " oleh Drs. I Ketut Wiana, diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu