Sad Guru berkata ," Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kau cintai, kau hormati dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi."

Baca Dulu Kawan

OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

Senin, 29 Agustus 2011

Brahma Catur Mukha

Brahma Catur Muka

Pada umumnya setiap Purana menyebutkan Brahma sebagai Catur Mukha, yang memiliki 4 wajah dan untuk mendukung ceritra Brahma memperoleh 4 wajah diceritakan di dalam kitab Matsya Purana. Brahma menciptakan Satarupa dari separo badannya, dan menjadikannya sebagai seorang wanita yang cantik berkeliauan sebagai istrinya. Brahma tidak dapat memalingkan pandangannya terhadap kecantikan istrinya walaupun sekejap saja. 


Untuk mencegah supaya melihat seluruh gerakan istrinya keberbagai arah, maka Brahma menciptakan wajahnya sendiri menjadi 4 wajah. Suatu kali Satarupa berjalan-jalan di angkasa, saat itu juga muncul wajah yang ke 5 dari gelung rambut pada kepala dewa Brahma. Wajah yang ke 5 ini kemudian ditebas oleh Sang Hyang Siva. Tentang ditebasnya wajah yang ke 5 milik dewa Brahma terdapat berbagai versi, antara lain :

Sabtu, 13 Agustus 2011

Menghitung Jasa Leluhur

Pura Ulun Danu Beratan

Dalam kitab suci Manawa Dharmasastra VI.35 ada dinyatakan bahwa dalam hidup ini seseorang tidak dibenarkan untuk mengarahkan hidupnya untuk mencapai kelepasan dari kehidupan duniawi apabila belum menyelesaikan hutang moralnya yang di sebut Tri Rna. Ini artinya jalan kelepasan menuju dunia rohani tidak akan mulus dicapai kalau kewajiban suci hidup di dunia ini belum diselesaikan. 


Hutang  moral yang disebut Tri Rna ini adalah; Dewa Rna yaitu rasa berhutang kepada Tuhan, Rsi Rna berhutang kepada Rsi ( orang suci ) dan Pitra Rna berhutang kepada leluhur atau Pitara. 
 
Dalam kita Nitisastra Kakawin VIII.3 ada dinyatakan lima perbuatan jasa leluhur kepada keturunannya. Lima perbuatan jasa leluhur itu disebut Panca Widha yaitu :

 
Sang Ametuaken 
   : artinya orang yang melahirkan kita.
Sang Maweh Binojana 
   : artinya orang yang memberikan kita makan, minum
Sang Matulung Urip Rikalaning Baya 
  : artinya orang yang menyelamatkan nyawa kita saat menghadapi mara bahaya.
Sang Mangupa Dyaya 
   : artinya orang yang memberikan kita pendidikan
Sang Anyangaskara 
   : artinya orang yang menyucikan rohani kita

Inilah Swadharma atau kewajiban suci orang tua atau leluhur yang disebut Panca Widha.

Kamis, 04 Agustus 2011

Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga

Rama Purusothama

Bhagawan Carabhangga adalah orang suci yang telah mencapai Moksa, selain itu terdapat; Bhagawan (Maha Resi) Byasa atau Wyasa atau Kresna Dwipayana yaitu putra Bhagawan Paracara dengan Dewi Sayojana Gandhi ( Satyawati), Sang Dharmawangsa (Yudhistira), Panca Pandhawa yang sulung, putra Pandhu dengan Dewi Kunti, Sang Budha (Budhha Siddharta Gautama) Putra raja Cuddodhana dengan Dewi Mahamaya, raja suku bangsa Sakhya beribukota di Kapilawasta (Kapilavatthu), Sang Gagang Aking-Sang Bubuksah, Empu Kuturan, Empu Bharadah,

 Shri Kresna salah seorang awatara Wisnu putra Prabhu Wasudewa dengan Dewaki, raja Dwarawati, Dukuh Sogra, Danghyang Dwijendra atau Padanda Cakti Wawu Rawuh - Padanda Cakti Wawu Dateng - Danghyang Nirartha - Tuan Semeru - Pangeran Sang Utpati, Sang Kulputih (Sang Kul Pinge) yaitu Pamangku di Pura Besakih, Rajapala dalam cerita Durma, Bhagawan Bhagaspati dalam wira carita Mahabharata dan Dukuh Blatung dalam Babad Pinatih.

Menurut Kita Kakawin Ramayana, dijelaskan keadaan Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga yang telah mencapai Moksa. Diceritakan pada waktu Sang Rama, Sita dan Laksmana,
sedang mengembara di hutan dan gunung Citrakuta, masuklah beliau ke pesraman Maha Resi Atri, kemudian meneruskan perjalanan ke hutan raya Dandhaka.

Bertemulah beliau dengan Raksasa yang dahsyat dan mengerikan, berjalan sungsang, kaki diatas dan tangan dibawah, takutlah musuh-musuhnya.
Raksasa itu bernama Wirada ingin segera membunuh. Dengan senjata kuku yang tajam serta mulut menganga lebar ia datang menyerang karena menganggap Rama dan Laksama orang lemah tanpa kekuatan atau kesaktian.

Rama dan Laksmana maju dan secepat kilat masing-masing menangkap kaki raksasa Wirada itu lalu dibelah ( disobek ) maka matilah raksasa Wirada dengan badan terbelah dua.


Setelah itu Rama dan Laksmana mengembara tiada bahaya mengancamnya, lalu masuklah beliau ke suatu pasraman yang asri, indah berwibawa, pertapaan Bhagawan Carabhangga. sang Bhagawan adalah seorang yogi yang telah berhasil semadhinya, sehingga dapat mengetahui keadaan di niskala serta tahu akan keparamarthan ( Moksa ).

Setelah bertemu dengan Rama dan Laksmana maka mohon dirilah Bhagawan Carabhangga untuk Moksa dan berkata :

 

 " Tuanku ialah Rama, putra seorang raja, hamba mohon diri untuk kembali ke alam niskala, yaitu Moksa; berbahagialah hati hamba dapat bertemu dengan uanku di tempat ini, Tuanku adalah Narayana, penuntun dunia yang agung. Tuanku, tiada jauh dari sin terdapatlah suatu asrama pertapaan seorang Yogi Sutiksna namanya yang dapat dijadikan sahabat baik, tempat berlindung ."


Setelah berkata demikian maka Sang Pertapa Bhagawan Carabhangga melaksanakan yoga semadhi, keparamarthan, maka keluarlah api dharana, yang lahir dari pemusatan pikiran yang tunggal lalu membakar badan jasmani Sang Bhagawan hingga sirna Moksalah Bhagawan Carabhangga tanpa jasad.

Sumber " Buku Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu Dalam Masa Pembangunan " Disusun oleh : Panitya Tujuh Belas di Jakarta  1986 . Di posting oleh : Rare Angon Nak Bali Belog

Translate

Famous - Sane Pinih Kasub