Sad Guru berkata ," Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kau cintai, kau hormati dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi."

Baca Dulu Kawan

OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

Selasa, 27 Desember 2011

Mitologi Dalam Bale Gading

Bale Gading Semara Ratih

Bale gading merupakan kelengkapan upakara berupa bangunan yang berbentuk persegi empat seperti gedong yang dibuat dengan bambu yang berwarna kuning (tiying gading) memiliki atap serta dihias dengan hiasan serba kuning berupa bunga-bunga serba kuning demikian pula perhiasannya serta dekorasinya seperti pengider-ider, dan pajengan dibuat dengan warna serba kuning.


Kutipan cerita dibawah ini merupakan asal mula dari mengapa bale gading itu ada dan dipergunakan dalam upacara-upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali. 

Dalam upacara tertentu yang erat kaitannya dengan pemujaan Dewa Kama dan Dewi Ratih, maka dari itu sebagai linggih Beliau dan sebagai stana pemujaan Beliau maka dibuatlah suatu bangunan kecil dengan hiasan yang berwarna serba kuning yang disebut dengan “Bale Gading” sebagai lambang dari cinta kasih, tetapi cinta kasih yang dimaksudkan adalah cinta kasih seperti Dewa Kama dan Dewi Ratih, yang penuh dengan keinginan dan kesetiaan serta pengorbanan. Kepada Sanghyang Semara Ratih manusia memohon bimbingan, agar manusia mempunyai cita-cita yang luhur dan keinginan yang tinggi untuk mengabdi.
Dewa Kama dan Dewi Ratih

Diceritakan terbakarnya Sanghyang Semara dan Dewi Ratih oleh sinar mata ketiga dari Bhatara Siwa karena berani menggoda beliau pada saat Bhatara Siwa sedang bersemadi. Diceritakanlah bahwa sorga sedang diserang oleh raksasa Nilarudraka, seorang raksasa yang sakti ingin menguasai sorga. Para dewa-dewa semuanya kalah tidak ada yang sanggup melawannya.


Akhirnya para dewa-dewa datang menghadap Bhagawan Wraspati untuk menanyakan dan meramalkan siapa yang akan sanggup mengalahkan raksasa tersebut. Akhirnya hasil ramalan ternyata bahwa raksasa Nilarudraka hanya akan dapat dikalahkan oleh putranya Bhatara Siwa yang berkepala gajah.

Kamis, 15 Desember 2011

Kembali Lagi Sains Reinkarnasi

Kembali Lagi

Penjelasan terlengkap dan lebih gamblang dari yang sudah dikenal sebelumnya mengenai Reinkarnasi. Kehidupan bukan dimulai dengan kelahiran ataupun berakhir dengan kematian. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Sang Diri sesudah ia meninggalkan raga ini ? Bagaimana rantai reinkarnasi itu berputar ? Bisakah kita mengendalikan reinkarnasi kita yang akan datang ? 

Kembali Lagi menjawab misteri dan pertanyaan-pertanyaan yang menantang tersebut, dengan penjelasan gamblang yang terlengkap dan asli di seluruh dunia, pencarian yang tak pernah surut untuk meretas pengetahuan mengenai perjalanan sesudah kehidupan ini.


Berikut adalah hal yang sebaiknya Anda ketahui dalam hal-hal yang berkaitan dengan Reinkarnasi. Semoga bermanfaat.

Acarya : Guru spiritual yang mendidik melalui teladan tingkah lakunya sendiri
Ahimsa : Anti kekerasan
Asrama : Padepokan pendidikan Spiritual
Asura : Raksasa atau orang yang bukan penyembah Tuhan / ateis
Atmarama : Seorang Resi yang berpuas di dalam dirinya
Avatara : Inkarnasi Tuhan yang turun dari dunia rohani
Badan halus : Penutup bagian dalam untuk sang roh yang terikat, terdiri dari pikiranm kecerdasan dan ego

Jumat, 02 Desember 2011

Manusia Bali Titisan Dewa

Soekarno  Kecil

Peradaban dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Nepoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Max, Adam Smith, Shakespeare, Mozart. Dunia mengenang mereka sebagai orang-orang jenius, yang merenung, bekerja, dengan akal, pikiran, kendati mereka demikian hebat, dunia tetap menerimanya sebagai manusia, bukan sosok yang turun dari langit, bukan utusan dewa-dewa dari kahyangan. Orang-orang jenius itu nyata, bukan perwujudan mimpi-mimpi, bukan dongeng.


Walau orang hebat sedikit, mereka ada di mana-mana, di setiap zaman, diseluruh waktu. Di Indonesia pun orang jenius itu ada, Sukarno, Proklamator kemerdekaan, seorang diantaranya. Jika di Barat sang jenius diterima dan ditelaah dengan akal sehat, tidak demikian di Tanah Air. Sukarno tak cuma dinilai sebagai manusia hebat, namun sering dianggap titisan dewa. 
Menjelang prahara politik disertai rentetan pergolakan berdarah September 1965, tampang Sukarno dikabarkan muncul di bulan. Tengah malam hingga dini hari, orang-orang mendongak ke langit, menatap bulan lama-lama, mencari wajah Sukarno di situ. Ada yang berteriak kegirangan mengaku melihat jelas wajah pemimpin besar revolusi itu. Yang lain justru bingung. " Aku tak melihat apa-apa, cuma bulatan keemasan dengan siluet hitam di permukaan bulan," ujar banyak orang. Namun wajah Sukarno muncul di bulan kala itu, sungguh berita yang berubah menjadi sihir, mencekam, menegangkan, sakral dan meninabobokan.
" Hanya manusia titisan dewa yang bisa begitu," komentar

orang yang mengaku pernah melihat Sukarno di permukaan bulan. Imajinasi tentang manusia keturunan dewa inipun segera disambut hangat oleh orang Bali. Jika Sukarno keturunan dewa, maka orang Bali juga titisan dewa. Bukankah Sukarno orang Bali ? Dia lahir dari gua-garba wanita Bali dari Buleleng. Jika seorang perempuan melahirkan "anak" dewa, tidaklah berarti ia juga perempuan utusan dewa ? Boleh jadi itu sebabnya muncul gelar Bali itu Pulau Dewata

Pulau ini tak cuma menjadi istana atau tempat pelesir dewa-dewa dari kahyangan, namun sesungguhnya sebuah pulau pemukiman titisan dewa. Wah, alangkah hebat Bali ! Jenius ! Pantas orang luar suka memuji Bali sebagai tanah tumpah darah kaum Local Genius.


Raja-raja di Bali, yang memerintah wilayah Badung, Mengwi, Klungkung, Gianyar, Bangli, Karangasem, memang dianggap titisan dewa oleh rakyatnya, inkarnasi dewa untuk menaburkan kerahayuan jagat, memberi perlindungan bagi rakyat. Raja Klungkung misalnya disebut sebagai Ratu Dewa Agung oleh rakyat dan bawahannya. 

Raja ini dianggap titisan dewa, yang membuat rakyat duduk bersimpuh di tepi jalan jika sang raja lewat. Rakyat menyembah raja tak beda dengan ketika mereka menyembah dewa; tunduk, takluk, berserah diri sepenuh hati, tanpa sisa.
P. Swantoro dalam bukunya, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, mengungkapkan,pendiri dinasti sering dinyatakan sebagai keturunan dewa. Kaisar Jepang dianggap keturunan dewa Matahari. Romulus, pendiri Roma, diyakini sebagai keturunan dewa Mars. Julius Caesar menyatakan diri sebagai keturunan dewi Venus, sedangkan Hengist, Pangeran Anglo-Saksen pendiri kerajaan Britania, bercikal balak dewa Wodan.

Ken Arok disebut-sebut pula sebagai titisan Bhatara Wisnu dan juga putra Bhatara Guru. Ken Dedes, istri Ken Arok, juga bukan perempuan biasa. Ia dihormati sebagai Ardhanariswari, perempuan yang gua-garbanya bersinar, pertanda ia paro-perempuan dari paduan Siwa-Durga. Siapa pun yang berhasil memperistri seorang Ardhanariswari bakal menjadi penakluk dunia.

Jika kita percaya orang Bali masih memiliki pertalian darah dengan dinasti Arok, pasti tidak sedikit titisan dewa di sudut-sudut Bali pendiri Majapahit. Kerajaan di Jawa Timur ini punya peran dan pengaruh kuat terhadap perkembangan peradaban Bali. 

Dalam ekspedisi Majapahit menaklukkan Bali, tentu banyak tokoh, senapati, prajurit, punggawa, kaum intelektual, akhirnya menjadi penduduk Bali, dan beranak pinak di sini.

Tentu Bali harus bersyukur pulau ini dihuni banyak titisan dewa, pertanda tak susah menciptakan kemakmuran, keamanan, kedamaian, disini. Apalagi jika orang-orang (dewa-dewa) itu bersatu padu membangun Bali. Tapi, mengapa belakangan sering terbit baku hantam, pembunuhan, perampokan, di Bali ? Orang Bali kini gampang bunuh diri, mudah marah, dan saling bacok, merusak dam membakar rumah kerabat.

Apakah dewa-dewa (orang Bali?) sedang memperagakan jurus "Dewa Mabuk" seperti dalam film kunfu ? Jurus yang mengharuskan pendekar mabuk dulu untuk merebut kemenangan.
Tetapi benarkah ada manusia titisan dewa? Jangan-jangan semua itu cuma mitos, dongeng untuk menghibur kita agar lupa pada kesusahan hidup sehari-hari.
Sumber Buku Jangan Mati di Bali Tingkah Polah Negeri Turis halaman 260 karya Gde Aryantha Soethama. Di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog


Translate

Famous - Sane Pinih Kasub