Selamat Datang

Lirik Lagu Pop Bali Anak - Bapa

Bapa Arinka Lagu Pop Bali Anak // Bapa - Arinka // Officcial video clip 2017 Cipt. Ary Kencana Musik. Dek Artha Vocal. Arink...

Kamis, 27 Desember 2012

Buang Kesamenisme bila ingin Hindu Ajeg

** Jalan Abadi Menuju Kebenaran **


Buang Kesamenisme bila ingin Hindu Ajeg. Dikalangan kaum universalis atau pengikut Universalisme Radikal bahwa semua agama adalah sama saja. " Mitos Tentang Kesamaan Hindu " atau disingkat "Kesamenisme". Kaum Kesamenisme ini mengatakan agama Hindu, Buddha, Kristen dan Islam sama saja. Agama hanyalah kulit saja. 


Kebanyakan pengikut paham Kesamenisme ini berasal dari kalangan Hindu, Agama lain tidak mengakui hal ini.
Setiap kali seorang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa "Semua Agama adalah Sama", dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai. 

Menolak keunikan dan kebesaran agama Hindu membawa, pada gilirannya, kepada keadaan psikologis tidak sehat dari kebencian-diri, satu perasaan tidak berharga dan satu kebingungan schizophrenic pada siapapun yang ingin menganggap diri mereka Hindu. Ini khususnya masalah bagi kaum muda Hindu

Efek dari komplek rendah diri yang melemahkan ini, disertai dengan kekurangan dari klarifikasi filosofis, yang merupakan hasil pengaruh mencemarkan dari  Universalisme Radikal adalah alasan-alasan utama mengapa para orang tua Hindu menemukan anak-anak mereka sangat sering kurang minat yang dalam terhadap agama Hindu dan dalam banyak kasus, bahkan membuang agama Hindu untuk masuk agama yang kelihatannya lebih rasional dan agama-agama yang kurang menolak-diri-sendiri (self-abnegating). 

Siapakah, pada akhirnya, yang ingin mengikuti satu agama di dalam mana dinyatakan bahwa basis utama dari agama itu adalah merayakan atau memuliakan kebesaran dari agama-agama lain atas biaya dari agamanya (agama Hindu) sendiri? . Jawabannya adalah tidak seorangpun.

Bila kita ingin menjamin bahwa kaum muda kita tetap setia kepada agama Hindu sebagai satu jalan yang penuh makna, yang para pemimpin kita mengajarkan agama Hindu di dalam satu cara yang mempresentasikan tradisi itu secara otentik dan dengan bermartabat, dan yang masyarakat Hindu yang lebih besar dapat merasakan bahwa mereka memiliki satu agama yang mereka sungguh-sungguh dapat merasa bangga di dalamnya, maka kita harus membuang Universalisme Radikal

Bila kita ingin agama Hindu tetap hidup sehingga ia tetap dapat terus membawa harapan, makna dan pencerahan kepada generasi-generasi mendatang yang tak terbatas, maka lain kali ketika putra atau putri kita bertanya kepada kita mengenai apa sesungguhnya agama Hindu itu, janganlah kita mengulang seperti budak kepada mereka "semua agama adalah sama". 


Sebaliknya hendaklah kita melihat ke dalam mata mereka, dan ajari mereka tradisi kita yang secara unik sangat berharga, yang menyayangi secara indah, dan secara filosofis adalah kebenaran-kebenaran yang telah bertanggung-jawab menjaga agama Hindu sebagai kekuatan agama yang penuh semangat untuk selama lebih dari 5000 tahun. Marilah kita ajari mereka SANATANA DHARMA, jalan abadi menuju Kebenaran ( Brahman ).

Buanglah "Kesamenisme" bila kita ingin Hindu Ajeg.

Sumber bacaan " Hindu Akan Ada selamanya " penulis Ngakan Made Madrasuta, penerbit Media Hindu. Ditulis dalam blog rare-angon oleh Rare Angon Nak Bali Belog, sebagai renungan akhir tahun 2012 yang penuh dengan misteri ramalan tentang bumi yang akan kiamat. Selamat Datang Tahun 2013.

Senin, 17 Desember 2012

I Bikul Ke Swarga Loka

I Bikul / Mouse by Manuamador **

I Bikul Ke Swarga Loka. Duk ane malu dugas treta yuga masa *) 1, ada keceritayang Ida Sang Mahayogi sane meraga putus ane mapepasih utawi meparab Waikuntha. Ida Sang Waikuntha meraga mahamuni. Sedina-dina Ida Sang Yogi Waikuntha nguncar Weda Mantra memuja Ida Betara Wisnu.



Keceritayang jani rikala peteng, Ida Sang Yogi Waikuntha ngidupang parapen utawi damar melengis nyuh ditu di purane ento. Disubane keto Ida Sang Yogi Waikuntha metilar budal ke pondok Idane. 


Lengis damare ane keanggo ngendihang api di pura linggih Ida Betara Wisnu totonan, anak misi malem. Maleme ento mekada ngundang ia watek para bikul teke kema. Maleme totonan tedane teken I Bikul. Krana kageson baan layahne, ditu lengis damare ento mabreok mure tur kalalah baan apine. 

Ditu api damare sayan ngedenan. Di subane apine gede, sinar apine ngeranayang Pura linggih Ida Betara Wisnu dadi galang. Dugase ento Ida Betara Wisnu ledang kayun Idane sawireh ulian I Bikul linggih idane dadi galang, sing ja nu peteng dedet.
Gelisang cerita, sawireh suba maadan patitah karma pala, I Bikul tuah dadi amah-amahan I Lelipi, laut I Bikul mati. 


Melesat ngelayang atmane I Bikul nuju Yama Loka. Di Yama Loka, para bala-bala Ida Betara Yama negul tur ngantung atmane I Bikul sawireh bikasne di mercapada.
Risedek para cikra bala Ida Betara Yama ngeretang tali penegul atman ia I Bikul, ditu lantas rauh utusan Betara Wisnu tur ngandika,

" Ih para cikra balan Ida Betara Yama, bani-bani kite negul tur ngantung atman ia I Bikul. Mirib kite ajak makejang sing nawang. Ia I Bikul nenenan parekan Betara Wisnu. Bikule ene stata ngae galang ditu di pura Linggih Betara Wisnu. Dugase ento I Manusa tanpa rungu teken Linggih Ida Betara Wisnu. Sujatine I Bikul nenenan parekan tur bhaktan Ida Betara Wisnu. Lus taline, tur lebang ia I Bikul. Jani ia lakar ajak tiang ke Wisnuloka tangkil majeng ring Ida Betara Wisnu ".


Disubane keto lantas atman ia I Bikul kaserahang ring utusan Betara Wisnu. I Bikul ngiring utusan Betara nuju kayangan Ida Betara Wisnu. Atman I Bikul nemuang bagia sujati ditu di Wisnuloka.


Swen kasewen, suba lantas wates yusane atman I Bikul ditu di Wisnuloka, ditu atmane I Bikul katitah mewali ke mercapada buin. Atman ia I Bikul ketitah numitis dadi putran Ida Sang Prabu ane mahutama ane nyegjegang jagat. Ida Sang Prabu ane mekardi kerahayuan jagat.


Nah keto kone kacerita ia I Bikul ane ngayah tur ngemit perahyangan linggih Ida Betara Wisnu. Sang sapusira ja ane jemet, anteng, ngayah tur subakti tekening Ida Betara Wisnu, riwekas atmane lakar ngungsi Wisnu Loka utawi Suwarga Loka. Buin besikne, yening numitis ke mercapada lakar dadi manusa utama. Amonto kacerita pekardin subhakti ia I Bikul.


Tetuwek :
Iraga dadi manusa patut subhakti majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Manusa patut ngemit, nyuciang, tur ngereikin perahyangan linggih Ida Betara. Jadma ane subhakti tur dharma ento kasengguh manusa utama.

 

*)1. Pembagian Jaman yang sekaligus perjalanan Weda dibumi terbagi menjadi empat, yaitu: Jaman Satya, Jaman Treta, Jaman Dwapara dan Jaman Kali. Menurut Weda pada jaman Kali Yuga ini, " Prayenalpayusah sabhya, kalav asmin yuge janah, mandah sumanda-matayo, manda-bhagya hy upadrytah " Artinya : " Pada jaman besi ini, manusia ditakdirkan berumur pendek, suka bertengkar, pemalas, mudah ditipu, kurang beruntung dan selalu dipenuhi rintangan hidup " 

 (Srimad-bhagavatam kidung 1.1.1.10)

Satua Bali siosan mejudul; I Punyan Kepuh Teken I Goak, I Gajah Nyapa Kadi Aku, I Yuyu Mewales Budi, I Gringsing Teken Ni Ranjani, I Bikul Ke Swarga Loka, Pan Bagia Teken Pan Bonggan, Manis Mamanesin, Wikanan Anake Alit-Alit, Wayan Giri, Iriati, Jaran Pondongan, I Kurmawa Ngambul, Ampah, Belibis Putih, I Kepuh Mati Baan Dwrowaka, I Kambing Takutin Macan, I Cita Maprekara, I Kedis Sangsiah teken I Bojog, I Tuma teken I Titih, Be Jeleg Tresna Telaga, I Yuyu misi Enjekan Kebo.

insert picture http://manuamador.deviantart.com/art/Mouse-24245146

Rabu, 21 November 2012

Anda Bertanya Baba Menjawab

Swami Muktananda

   Anda Bertanya Baba Menjawab. Beberapa petikan tanya-jawab dalam buku Spiritualitas Hindu Untuk Kehidupan Modern yang ditulis oleh Swami Muktananda dengan editor Bapak Ngakan Made Madrasuta terbitan Media Hindu, akan Rare Angon Nak Bali Belog sampaikan dalam postingan kali ini, berikut petikannya:


T: Apakah pekerjaan saya sebagai pelaku bisnis menjadi kendala dalam perjalanan spiritual saya ?

 
Baba: Pada bagian akhir dari Gita, Krishna menjawab pertanyaan ini dengan berkata, 

"Keberadaan Tertinggi menjangkau semua arah. Semua kegiatan dan pencarian, semua nama dan rupa di alam ini hanya merupakan perbedaan manifestasi dari Kebenaran." 


Setiap orang yang memuja Tuhan sambil bekerja adalah orang yang menjalankan tujuan kelahirannya. Contohnya, seorang pemusik bisa memuja Tuhan dengan musiknya, tanpa motif ego. Seorang guru bisa memuja Tuhan dengan mengajar apa yang seharusnya tanpa motif pribadi. Seorang pelaku bisnis bisa memuja Tuhan tanpa keinginan yang dipenuhi ego. Seorang petani bisa memuja Tuhan dengan menanam jagung di sawah, dan tidak dikotori egonya. Dengan bekerja tanpa motif pribadi, saya maksudkan 'mempersembahkan' kerja itu kepada Tuhan. Apapun tujuan hidup di dunia ini, asalkan semua itu dipersembahkan kepada Tuhan, itu akan menuju ke arah jalan spiritual. Apapun bidang aktivitas anda, tanpa dikotori kepentingan pribadi, itu adalah aktivitas yoga.

T: Saya ingin bagaimana mengatasi perasaan kesepian yang menghantui pikiran ?

 
Baba; Suatu kali raja pergi berziarah dengan dua orang sahabatnya. Dalam perjalanan beberapa perampok mengejar mereka. Sahabat-sahabat raja menjadi khawatir dan raja pun bertanya, "Apakah kalian takut ?".
"Ya. jawab mereka, beberapa perampok mengejar kita".
Raja kembali berkata,"Sadarkan kalian siapa yang berada di belakang kita yang setara dengan berapapun jumlah perampok?".


Karena kamu berpaling dari-Nya, maka kamu merasa kesepian. Jadi sekarang gapailah Dia maka akan ada dua orang bersama kalian; Tuhan dan dirimu sendiri. Perasaan kesepian akan hilang . Ketika kuasa Tuhan berada di mana-mana, mengapa seorang harus merasa kesepian ?

T: Banyak orang memprediksi bahwa dunia akan menuju kehancuran.

 
Baba: Ada banyak sekali prediksi yang dibuat mengenai dunia yang membuat saya sendiri bingung memilih mana untuk dipercaya. Adalah hal berbeda jika mereka memprediksi hal yang sama. Kenyataannya dunia akan selalu dalam kekacauan. Di beberapa tempat bom diledakkan, ditempat lain kita lihat ada kemajuan. Di suatu tempat sepuluh orang meninggal; di tempat lain sepuluh manusia baru lahir. Di satu belahan dunia terjadi kepaparan, dibelahan lain orang menjadi sakit karena terlalu banyak makan. Di sini orang tertawa karena cinta; ditempat lain mereka menangis karena duka. Beberapa orang membagikan roti; yang lain memohon makanan. Prediksi apa yang berlaku di sini? Semua itu terjadi setiap hari.


Hanya satu prediksi yang benar-benar nyata; Perbuatan yang baik akan membuahkan hasil yang baik; perbuatan buruk akan menghasilkan konsekwensi buruk pula. Tulsidas, seorang suci besar berkata, 

"Oh Tuhan, sifat kami adalah berbuat kesalahan; sifatMU adalah memaafkan." 
 Saya benar-benar percaya akan hal ini. Kamu harus memiliki kesetiaan lebih kepada prediksi bahwa Tuhan akan selalu menjaga dan menyelamatkan kita.

T: Apakah pentingnya energi seksual? Mengapa seks dapat mempengaruhi Kundalini Shakti secara negatif dibandingkan dengan memainkan musik atau berkebun, jika seseorang tidak terika dengan berlaku wiweka terhadao perbuatan ?

 
Baba: Adalah konyol untuk berbicara tetap tidak terikat dalam kegiatan seksual. Kedua hal tersebut  berada pada dua kutub yang berbeda. Bagaimanapun, saya tidak mengutuk seks. 


Yang coba saya katakan adalah untuk tidak terikat pada seks dan menjadi korbannya. Cairan seksual adalah kehidupanmu dan tidak ada hal lain yang Kundalini lebih cintai. Ketika dengan menjaga cairang seksual, seseorang menjadi urdhvareta, seseorang yang cairan spermanya berjalan ke atas daripada seharusnya ke bawah, ia mendapatkan kekuatan Shaktipat atau aliran Shakti. Untuk itulah kamu harus menyalurkan cairan seksual seperti seorang yang pelit. Janganlah menjadi musuh bagi hidupmu sendiri. 

Seluruh tubuh dibentuk dari setetes cairan seksual. Maka dari  itu kamu harus menghargainya. Tubuh melemah ketika kamu menyia-nyiakan spermamu. Perlindungan akan cairan seksual merupakan suatu kesenangan; kebahagiaan.

Kenyataannya adalah setiap orang memiliki energi seksual. Krishna, Rama dan Budha juga memiliki energi seksual, dan mereka juga memiliki anak namun mereka menggunakannnya dengan cara desiplin. Energi seksual mereka tidaklah dalam bentuk kesia-siaan, dalam bentuk nafsu tak henti. Kamu harus memiliki kapasitas untuk kontrol diri dan juga suatu tingkatan renunsiasi. 


Kamu harus mencari tahu mengapa kamu dilahirkan sebagai manusia. Dalam hal apakah kamu berbeda dari pohon, hewan, atau burung ? Ini adalah pertanyaan penting. Mengenai energi seksual itu sendiri, siapa yang tidak memilikinya ? Siapakah yang tidak terlibat dalam kegiatan seksual ?

Rare Angon Nak Bali Belog berharap pada semeton untuk bisa membaca buku Spiritualitas Hindu Untuk Kehidupan Modern ini secara lengkap, agar informasi yang lebih jelas dapat dimengerti. Semoga pula petikan singkat dari buku setebal 206 halaman ini dapat menjadi penyemangat Semeton dalam mengarungi kehidupan modern ini. Rare Angon Nak Bali Belog mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kunjungannya ke blog ini. Suksma.

Rabu, 07 November 2012

Sekali Menjadi Manusia, Apakah Selalu Menjadi Manusia ?

NGABEN

 -- Sekali Menjadi Manusia, Apakah Selalu Menjadi Manusia ?. Mitos populer tentang reinkarnasi yang lain mengatakan bahwa sang roh, yang sekali mencapai bentuk manusia, selalu kembali ke dalam bentuk manusia dalam kehidupan berikutnya dan tidak pernah lahir dalam jenis kehidupan yang lebih rendah. Mungkin kita akan menjelma kembali sebagai manusia, namun kita bisa juga kembali lagi sebagai anjing, kucing, babi, ataupun  jenis hayati yang lebih rendah.


 Akan tetapi, meskipun sang roh memasuki badan-badan yang lebih unggul atau lebih rendah, ia tetap saja tidak berubah. Dalam keadaan apa pun jenis badan yang diperoleh sang roh dalam kehidupan berikutnya akan ditentukan oleh jenis kesadaran yang dikembangkannya dalam hidup ini dan oleh HUKUM KARMA yang tidak dapat diubah.

Bhagavadgita, sumber informasi yang paling absah tentang reinkarnasi, yaitu sabda TUHAN SENDIRI, menyatakan dengan jelas bahwa, " Bila seseorang meninggal dalam sifat kebodohan, ia akan lahir dalam kerajaan binatang." (Bg.14.15) . 


Tidak ada bukti secuil pun baik dari ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan, maupun Kitab Suci manapun, yang mengiakan pemikiran fantastis seperti ini, "sekali menjadi manusia, selalu menjadi manusia." Pemikiran seperti ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip reinkarnasi yang sejati, yang sudah dimengerti dan diikuti oleh berjuta-juta orang sejak zaman dahulu kala.

Logika Reinkarnasi

"Apakah Anda pernah berpikir bahwa perpindahan sang roh sekaligus merupakan penjelasan dan alasan tentang kejahatan yang ada di dunia ? Jika hal-hal buruj yang kita alami adalah akibat dari dosa yang dilakukan dalam kehidupan-kehidupan yang lalu, kita dapat menerima hal-hal yang buruk itu dengan ketabahan hati dan harapan bahwa jika dalam kehidupan saat ini kita berjuang menuju kebaikan, maka kehidupan-kehidupan kita yang akan datang akan kurang menderita. " W.Somerset Maugham The Razor's Edge


 
Menurut Rare Angon Nak Bali Belog, begitu jelasnya hal diatas menyatakan bahwa penderitaan saat ini sangat berkaitan dengan prilaku kita, itulah KARMA kita yang sudah pernah kita lakukan, semua orang setuju BERBUAT BAIK AKAN MENGHASILKAN KEBAIKAN...

Pendapat Para Ilmuwan Mengenai Reinkarnasi


"Saya yakin bahwa hal seperti hidup kembali itu betul-betul ada, bahwa mereka yang hidup itu berasal dari mereka yang sudah meninggal, dan bahwa arwah orang yang sudah meninggal itu masih ada. " ___ Socrates

 
"Sang roh berasal dari luar dan masuk ke dalam badan manusia, seolah-olah memasuki tempat tinggal sementara, lalu keluar lagi.... ia masuk ke dalam tempat tinggal yang lain, sebab sang roh itu kekal."
___ Ralph Waldo Emerson - Journals pf Ralph Waldo Emerson.

 
"Saya mulai ada bukan sejak saat saya lahir, ataupun sejak saat saya di dalam kandungan. Saya telah tumbuh, berkembang, selama beribu-ribu tahun yang lalu. Semua diri saya dari dahulu kala itu menyisakan suara-suara, gumaman, bisikan-bisikan di dalam diri saya ..., Wah, tidak dapat dihitung berapa kali lagi saya akan lahir . " ___ Jack London - The Star Rover

 
"Tidak ada kematian. Bagaimana mungkin ada kematian kalau segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa ? Sang roh tidak pernah mati dan badan sebenarnya tidak pernah hidup. " ___ Isaac Bashevis Singer - Pemenang Hadiah Nobel , Stories from Behind the Stove

"Dia melihat semua bentuk dan wajah itu dalam seribu hubungan... menjadi lahir kembali. Semua tidak kekal, sebagai contoh yang penuh gairah dan menyakitkan tentang segala sesuatu yang bersifat sementara. Namun tidak ada satu pun di antara mereka yang mati, mereka hanya berubah, dan mereka selalu lahir kembali, senantiasa mempunyai wajah baru; hanya waktu saja yang memisahkan wajah yang satu dengan wajah yang lain."
___ Herman Hesse - Pemenang Hadiah Nobel, Siddhartha

 
"Apakah kamu dapat membayangkan berapa kali kehidupan yang harus kita lewati sebelum kita mendapat gagasan pertama bahwa dalam hidup ada hal-hal yang lebih penting ketimbang makan, atau bertengkar, atau adu kekuatan antar kawan? Seribu penjelmaan, John, sepuluh ribu..! Kita memilih dunia kita yang akan datang melalui apa yang kita pelajari di dunia ini... Tetapi Anda, John, telah mempelajari begitu banyak sekaligus sehingga Anda tidak harus melewati seribu penjelmaan untuk mencapai kesadaran ini. " ___ Richard Bach, Jonathan Livingstone Seagull

"Seperti halnya kita mengalami ribuan mimpi dalam hidup kita sekarang, begitu pula hidup kita sekarang ini hanyalah salah satu diantara ribuan kehidupan seperti itu yang kita masuki dari kehidupan lain yang lebih sejati .... dan kemudian kita kembali sesudah meninggal. Kehidupan kita ini hanyalah salah satu di antara impian-impian dalam kehidupan yang lebih sejati itu, dan berlangsung untuk selamanya, sampai yang paling akhir, yakni kehidupan yang sangat sejati - kehidupan Ketuhanan." ___ Count Leo Tolstoy


"Melalui jalan DHARMA, kita pahami secara mendalam tentang HUKUM KARMA yang dialami oleh Alam Semesta beserta isinya ." Rare Angon Nak Bali Belog

 rare-angon

Sumber buku - Kembali Lagi, Sains Reinkarnasi
Sri Srimad A.G. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Penerbit: Hanuman Sakti, 2011

Kamis, 25 Oktober 2012

Memuliakan atau Menyenangkan Diri??

**Blog Radheyasuta**

   Memuliakan atau Menyenangkan Diri. Di dalam hidup ini manusia sering dihadapkan pada pilihan melakukan tindakan atau perbuatan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak (shreya) atau memberikan kesenangan bagi dirinya sendiri (preya). Hendaknya manusia memilih “shreya” daripada “preya”. “Shreya”, atau mementingkan segala sesuatu yang mulia dan bermanfaat bagi banyak orang, dan tidak memilih preya, atau sesuatu yang sekedar menyenangkan diri. 


Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan, atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Karena yang menyenangkan itu belum tentu baik belakangnya. Seperti halnya pada kutipan cerita berikut ini.
 
Resi Sukra adalah Guru dari Raja Asura Warsaparwa. Dewayani putri Resi Sukra berteman dengan Sarmishta putri Raja Warsaparwa. Pada suatu hari mereka dengan beberapa temannya mandi di sungai. Mendadak angin besar bertiup yang membuat pakaian mereka mulai terbang.


Para gadis segera naik ke pinggir sungai mengejar pakaiannya dan segera pulang sambil berlari. Tanpa sadar Dewayani bertukar baju dengan Sarmistha. Kemudian terjadilah keributan, Dewayani menganggap Sarmishta tidak sopan karena seorang asura mengapa berani memakai pakaian putri seorang brahmana. Padahal sang brahmana, Resi Sukra adalah Guru dari raja asura. Karena dibimbing Resi Sukralah  maka kaum asura menjadi jaya. 


Sarmishta tidak menerima Dewayani menghina ayahandanya dengan mengatakan, bahwa bagaimanapun ayahnyalah yang memberi makan sang resi, sehingga sang resi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka adu mulut, dan karena angin bertambah besar Sarmistha berlari duluan pulang. Sedangkan Dewayani yang berlari dalam keadaan angin yang bertiup semakin kencang, kemudian  terperosok masuk ke dalam sumur.

Pada hari itu Raja Yayati putra Raja Nahusa sedang berburu. Dan, tanpa sadar sang raja  mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang mengenalkan diri sebagai Dewayani, putri Resi Sukra. Ketika sang raja mau pergi, Dewayani menangis. Dewayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan memegang tangan kanannya. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya. 


Raja Yayati bingung, Resi Sukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja Asura Varsaparwa, dirinya sebagai raja manusia dan Indra sebagai  raja dewa pun menghormati Resi Sukra. Sang raja berkata bahwa dia tidak berani menjadi suami Dewayani sebelum Resi Sukra mengizinkannya. Sang Raja takut apabila Resi Sukra tidak berkenan dia akan terkena kutukannya.

Ketika Sarmishta melaporkan kejadian keributan antara dirinya dengan Dewayani kepada ayahnya, ayahnya khawatir Resi Sukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Kemudian raja Warsaparwa mengajak Sarmistha beserta seribu dayangnya diajak mendatangi rumah Resi Sukra. Pada waktu itu Dewayani juga sedang melaporkan kejadian adu mulut dengan Sarmistha kepada Resi Sukra. Sang raja berkata kepada Dewayani,  


“Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan Resi Sukra. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh sang resi sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Resi Sukra tetap menjadi mahaguru kaum Asura.”

Selanjutnya, Dewayani meminta agar Sarmishta beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani dan mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika Sarmishta ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Dewayani, Sarmishta berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah

harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi pengorbanan ini dilakukan demi seorang raja yang kebetulan menjadi ayahnya dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Saya patuh pada permintaan Dewayani.” Sejak saat itu Sarmishta dan seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani.

Dewayani berpikir bahwa menjadikan Sarmistha sebagai pelayannya akan menyenangkan dirinya. demikian pula kita semua yang mempunyai keinginan untuk membahagiakan diri kita.


Ketika Raja Yayati sedang berburu lagi, dia bertemu kembali dengan Dewayani diiringi seorang gadis cantik yang bernama Sarmishta beserta seribu dayangnya. Resi Sukra yang hadir di tempat itu mengizinkan dirinya mengawini Dewayani, akan tetapi berpesan agar tidak mengawini Sarmishta. Dan, Dewayani akhirnya menjadi istri Raja Yayati dan tinggal di istana. Sarmistha beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani di istana.

Di halaman istana yang luas Sarmishta dan seribu dayangnya melayani

Minggu, 07 Oktober 2012

PUSTAKA SUCI TIRTAYATRA

Hindu Menjawab

....."Lihat, saudara-saudaraku, yang mandi di air suci, Lihat, para sadhu, yang mandi di sungai, Hentikan, hentikan, pikiran-pikiran yang tidak suci, Hentikan pikiranmu yang penuh nafsu terhadap istri orang lain. Hentikan menginginkan harta milik orang lain, Bila engkau mandi di air suci tanpa menghentikan ini, Seolah-olah mandi dalam satu sungai yang kering "....


Sloka Basavana yang juga teks pertama dari Isa Upanisad. Tirtayatra memiliki fungsi untuk menghilangkan kemelekatan.

Pustaka Suci yang mengatur Tirtayatra sangat banyak. Di dalam Mahabarata dan Purana-Purana ada sekitar 40.000 (empat puluh ribu teks) yang mengatur tirtayatra. Juga terdapat dalam kitab-kitab lain, seperti; Krtya-Kalpataru oleh Laksmidhara (abad 12 AD); Caturvargacintamani oleh Hemadri (abad 13 AD); Tirtacintamani oleh Vacaspati (abad 15 AD), Tirthasara oleh Dalapati (1490 AD), Triteliseru oleh Narayanabhata (1570 AD)

Tujuan :


Tirtayatra telah dimasukkan sebagai salah satu dari Asmanayadharma (Kewajiban umum atau universal) oleh beberapa pustaka suci seperti Visnudharmasuktas. Tirtayatra dianggap menghancurkan dosa seseorang, memberikan punia agama dan menghasilkan kemurnian pikiran. Bahkan Rig Veda merujuk kepada kesucian dari sungai yang putih dan hitam (Gangga dan Yamuna) bertemu. Mandi di sini memungkinkan seseorang masuk sorga. Seseorang yang mandi di sini memperoleh amrtatva atau hidup abadi.


Keindahan dan  keagungan dari tempat-tempat semacam itu cocok untuk meditasi, dan juga berhubungan dengan tokoh-tokoh besar spiritualitas yang mungkin telah mengunjungi tempat-tempat ini sebelumnya, dan berbagai ide-ide terkait telah menganugrahi tempat-tempat ini dengan vibrasi spiritual. 


Arti etimologis dati kata "Tirtha" - tiryate anena iti tirtham, samsarasagarataranopaye-bhutam; '

itu dengan mana bila diseberangi, itu yang akan membantu menyeberangi samudra kelahiran kembali, adalah tirtha' - juga menunjuk kepada kesimpulan ini. Itulah sebabnya ketika orang-orang mengunjungi tempat-tempat ini dengan sikap benar, mereka akan mendapat manfaat besar.

Klasifikasi :


Brahma Purana mengklasifikasikan tirtha atau tempat-tempat tirtayatra ke dalam empat kelompok :


1. Daiva; yang diciptakan oleh para Dewa.
2. Asura; yang dikaitkan dengan raksasa, seperti Gaya.
3. Arsa; yang didirikan oleh maharsi atau orang suci, seperti Prabhasa dan Nara-Narayana.
4. Yang diciptakan oleh manusia, seperti Ambarisa, Manu dan Kuru.
Keempatnya ditujukan kepada empat yuga- Krta, Treta, Dvapara dan Kali. Namun keempat penggolongan ini tidak memiliki relevansi dengan kita dewasa ini.

Yang Memenuhi Syarat Untuk Tirthayatra

 
Satu pertanyaan yang sering didiskusikan di dalam Purana dan Dharmasastra adalah adikara atau syarat-syarat untuk tirthayatra. Tirthayatra dapat dilakukan oleh setiap orang, terlepas dari status atau kondisinya. Purana-purana lebih jauh menjelaskan bahwa mereka yang mandi di sungai suci atau di tempat-tempat suci tidak saja akan membebaskan dirinya sendiri, tetapi juga memurnikan tujuh generasi leluhur dan keturunannya.


Puja-puji hiperbolik tersebut jelas sekali ditujukan untuk mengajak orang-orang biasa agar melakukan tirtayatra. Terlepas dari pernyataan yang liberal tersebut, beberapa aturan utama telah ditetapkan bagi mereka yang ingin melakukan tirtayatra. Misalnya, seorang Brahmachari yang tinggal di rumah gurunya harus mendapat ijin dari gurunya. Seorang grihasta harus mengajak pasangannya, agar memperoleh punia (merit, jasa) dari tirtayatra itu.

Kehidupan Etik, Satu Prasyarat
Tirtayatra untuk menarik orang-orang biasa, para maharsi dari Purana tidak lupa menekankan pentingnya satu kehidupan bermoral dan beretika sebagai satu prasyarat, tanpanya tirtayatra akan sia-sia. Namun, juga diakui bahwa seseorang yang melanggar DHARMA, dan berdosa, yang melaksanakan tirtayatra dengan keyakinan, menyesali perbuatannya dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi, dipastikan akan memberoleh kebaikan dari tirtayatranya.


Sekalipun seseorang yang menjalani hidup murni tidak diharuskan melakukan tirtayatra, mereka juga akan mendapatkan manfaat dari tirtayatra dalam evolusi spiritual mereka bila mereka melakukannya.


Menarik untuk dicatat bahwa praktik-praktik keutamaan seperti jnana (pengetahuan akan kitab suci), ksama (pengampunan), daya (welas,asih) dan dama (pengendalian diri) adalah juga "Tirtha", karena mereka cocok untuk membersihkan pikiran. Demikian juga berteman dengan orang-orang suci.


Prosedur Yang Direkomendasikan


Purana dan Dharmasastra telah menggariskan prosedur untuk tirthayatra, diringkas sebagai berikut: berpuasa sehari sebelumnya; sembahyang di merajan keluarga, memberi hadiah kepada orang miskin pada hari keberangkatan; memakai pakaian warna kuning tua, janji atau sumpah (sankalpa) seperti yang didiktekan oleh pustaka suci, memberikan semua barang-barang mewah dan melaksanakan hidup sederhana, tapa, selama tirtayatra; setelah kembali, mengulangi pemujaan di merajan dan mempersembahkan hadiah.


Dalam konteks modern ketika bahkan tirtayatra telah menjadi satu bagian dari turisme, seseorang dapat memuja di merajan, mengunjungi satu pura dan meminta anugerah dari para tetua sebelum berangkat. Hal yang sama dapat diulangi setelah kembali dari tirtayatra.

Sumber Bacaan " HINDU MENJAWAB 2 - SUSILA DAN UPAKARA " oleh Ngakan Made Madrasuta. Penerbit Media Hindu 2012. Di tulis dalam blog rare-angon Nak Bali Belog.

Selasa, 18 September 2012

Dewi Katyayani Penguasa Jodoh Manusia

 ** Maa-Katyayani **

Dewi Katyayani Penguasa Jodoh Manusia. Dalam beberapa literatur Weda, kita akan menemukan banyak sekali dewa dan dewi yang berpasangan menurut nivid mereka masing-masing. Dalam sastra Weda ini disebut sebagai Swarupa Sakti, dan manusia juga memiliki hal yang sama, jadi dengan singkatnya bahwa setiap yang dilahirkan ke dunia pasti kelak akan menemukan pasangannya sendiri. Atau laki-laki akan berdampingan dengan wanita.


Entah dengan siapa yang jelas manusia hanya mampu berusaha, tapi penentunya tetap di atas, yach... seperti kalimat rempeyek kacang ijo, biar jelek yang penting jodo... Mencari jodoh bukan sebuah perkara mudah. Harus sesuai dengan kelahiran kita, sesuai dengan selera kita, yang paling penting dapat menerima kekurangan kita agar kelak tidak sering terjadi percekcokan.

Dalam beberapa kitab Purana, dewa yang mengatur pertemuan manusia ini dan itu yang sangat berkaitan dengan asmara adalah Dewa Kandarpa atau Sang Hyang Semara. Namun dalam beberapa kitab Sruti dan kitab Nibandha yang lainnya,  ada sosok Dewi yang menjadi pengatur, kapan wanita itu menemukan suaminya, kapan wanita itu berjumpa dengan pujaan hatinya, atau kapankah wanita itu bertemu dengan pasangan hidupnya.


Nama beliau adalah Dewi Katyayani. Di Bali nama beliau sangatlah asing dan hampir sebagian besar umat Hindu Bali jarang memuja beliau sebagai Dewi Jodoh. Pasalnya fungsi beliau sendiri sudah digantikan oleh Bhatara Semara untuk masalah asmara manusia. Namun dalam kitab Weda perlu kita ketahui bahwa jika seorang gadis yang umurnya dipandang sudah cukup layak untuk menikah, namun tidak satupun laki-laki yang datang menghampirinya, maka wanita itu dibenarkan untuk memohon kepada Bhatari Katyayani untuk mendapatkan suami.
Ada banyak versi mengenai cerita munculnya Dewi Katyayani ini. Ada sumber yang menyebutkan bahwa beliau adalah putri dari Maharesi Kata, oleh sebab itu beliau diberinama Dewi Katyayani. Ada juga yang menyebutkan beliau adalah bagian dari ekspansi penuh atau bagian dari bentuk paripurna Maha Durgha yang lebih dikenal orang dengan nama Mahisasura-mardhini.
Jika kita merujuk pada difinisi ini, maka beliau tidak lain tidak bukan adalah bagian lain dari Maha Durgha, yang merupakan sakti Bhatara Siwa yang tentu saja merupakan Dewata Penguasa Cinta dan Asmara. Setiap literatur Hindu mengagungkan Bhatara Siwa sebagai Dewatanya Asmara, Cinta dan bahkan dalam beberapa fase Bhatara Siwa dan Bhatari Parwati diidentikkan dengan seks.
Jika Dewi Katyayani merupakan bagian penuh dari bentuk paripurna Maha Durgha, maka kita akan menemukan seluruh atribut dan lambang kebesaran Maha Durgha juga menyertai atribut Sang Dewi Katyayani. Inilah fakta yang sejati, bahwa di setiap kuil yang di bangun untuk memuja Dewi Katyayani, maka atribut Maha Durgha juga disertakan secara utuh.
Namun meskipun demikian, tampilan wajah beliau sedikit lembut dan ayu. Layaknya Dewi Cinta yang menebarkan pesonanya kepada siapapun juga. Di India sendiri, terdapat sebuah tradisi yang disebut dengan Katyayani Vrata, atau sebuah ajang dimana anak-anak gadis yang masih belum memiliki pasangan hidup berdoa dan berpuasa untuk menyenangkan hati Dewi Katyayani dan berharap akan menemukan laki-laki yang mereka cintai untuk menjadi suami mereka.
Mereka mempersembahkan bunga, dupa dan buah dan tidak jarang juga bagi ibu-ibu atau wanita yang sudah memiliki suami, mereka melakukan puasa untuk keselamatan serta berdoa agar suami mereka panjang umur. Di Bali tradisi semacam ini tampaknya sudah mulai hilang, jika dahulu Katyayani lebih identik dengan sebuah kesetiaan istri pada suaminya, dan kini tampaknya kesetiaan itu harus dipupuk lagi, sebab banyak sekali kasus perselingkuhan yang terjadi belakangan ini.

Dalam kitab Ramayana, sewaktu Maharaja Janaka, seorang raja yang memerintah di negara Waideha tengah mengadakan sayembara untuk mendapatkan mantu, maka pujian Dewi Katyayani terdengar sangat agung. Banyak raja dan pangeran datang untuk mendapatkan Dewi Sita, putri Janaka. Namun dengan satu syarat, bahwa mereka harus mampu mengangkat busur Siwa dan membentangkan talinya.

Sebelum sayembara berlangsung, Dewi Sita datang ke kuil Dewi Katyayani dan berdoa kehadapan Maha Dewi berharap menemukan jodoh yang beliau idamkan, yakni Rama. Dewi Sita mencuci kaki sang ibu Dewi dengan air mata-nya dan beliaupun berkenan untuk memberikan Rama sebagai suami. Keesokan harinya ketika sayembara berlangsung, semua yang hadir tampak seperti tidak berdaya.
Sebab tidak satupun diantara mereka yang mampu mengangkat busur Siwa apalagi membentangkan dawai panahnya. Akhirnya tampillah Rama dengan enteng beliau mengangkat busur itu persis seperti anak kecil memungut jamur di tanah. 

Soraak gembira terdengarlah dan Rama bersatu dengan Sita. Gadis-gadis lain mengikuti jejak Sita, bahkan Dewi Draupadi sendiri berdoa kepada Dewi Katyayani untuk mendapatkan suami yang bijaksana, kuat, tampan, berwibawa dan penurut. Akhirnya Pandawa Lima datang sebagai jawaban doa Draupadi.

Dewi Rukmini juga melakukan hal yang sama. Dan ini tampaknya ditiru oleh banyak gadis di dunia untuk mendapatkan suami mereka. Tradisi ini berkembang hingga ke manca negara, namun dengan nama yang berbeda. Tampaknya sekarang beliau lebih dikenal dengan Dewi Fortuna, dan alangkah bijaksananya jika kita sendiri mengembangkan ini di tanah Bali. Sebab apa, wanita yang saleh akan baik jika mendapatkan laki-laki yang saleh juga. 

Untuk itulah, bagi pembaca yang budiman yang belum memiliki pacar, jodoh dan juga sampai kepala uban belum juga menikah lantaran sama sekali tidak bisa mencari, atau tidak berani merayu gadis atau karena ngekoh ngalih, maka jangan patah semangat. Bangkitlah dan imbangi dengan doa kepada Sang Hyang Katyayani. Niscaya apapun yang kita lakukan akan berhasil baik.
Sumber bacaan Buku Sang Hyang Purana karya Gede Agus Budi Adnyana, S.Pd.B. Ditulis dalam blog rare-angon nak bali belog.
Insert Picture Maa-Katyayani http://www.totalbhakti.com

Jumat, 14 September 2012

Si GOBLOK | Catatan Perjalanan Orang Gila |

BUKU THE FOOL " SI GOBLOK "

Si GOBLOK - Catatan Perjalanan Orang Gila . Buku karya Anand Krishna yang merupakan sebuah catatan perjalanan pencarian jiwa tentang kesadaran yang lebih tinggi atas cinta dan kebahagiaan sejati. Bahasanya sungguh sederhana, namun sangat universal dan penuh makna. Beragam ekspresi Guruji telah menjadikan 'The Fool' sebuah catatan perjalanan yang sangat unik.


Kala ini tahu, selanjutnya tidak tahu;
Kala ini sadar, selanjutnya tidak sadar...
Berlalunya waktu adalah gabungan keduanya, hanya sesaat, tak abadi;
Tahu dan sadar, keduanya hanyalah tipu daya ....

Catatan perjalanan ini amatlah berbahaya dan bersiko tinggi. "Kewarasan" Anda taruhannya.

 Jadi, janganlah lanjutkan jika Anda belum siap mengambil resikonya. Saya harus memperingatkan Anda, dan ini peringatan orang gila --- orang gila bisa menjadi cerdik namun tidak pernah berdusta. Catatan ini amat sangat provokatif dan bisa langsung memicu kegilaan.
Ingat: waspadalah !

Diawali dari catatan penulis mengunjungi seorang wanita renta 'The Tarot Card Reader', Pembaca Kartu Tarot paling ulung se-Indonesia. Ia membuka halaman buku 'The Pictorial Key to the Tarot'  oleh W.E. Waite. ia membuka halaman berjudul: "The Fool." Saya telah menunggumu. Saya menunggu Si Goblok. Dan, ya, Si Goblok ini tepat di hadapanku. Kemarilah, baca ini : ...........

Sandiwara Mental

Uang, materi dan pikiran - menurut Buddha, Yang Terbangkitkan - adalah "benda". Dan, seperti benda lainnya memiliki awal dan akhir. Semua itu hanyalah temporer, sementara.

Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kinikmatan pun tidaklah abadi.
Lalu, kita pun kecewa.

Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara.

Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi ?

Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa ? Karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar.

Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif; keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Albert Einstein. Jadi ?

"Pemahaman yang benar, kawan, "si wanita tua memotong, " seseorang harus memiliki pemahaman yang benar akan sifat dasar segala hal. 

Tubuhmu hanya sementara, begitu pun juga dengan benda-benda di sekitarmu, bahkan jiwamu pun hanya sementara. Semua yang kamu bahas, dan siapapun yang kamu ajak obrol - dua-duanya hanya sementara."

"Kamu hanya sementara, saya pun demikian. Jiwa dan ruh pun hanya sementara." 

"Jadi, nikmatilah kesementaraan untuk sementara waktu. Jangan harap kesementaraan dapat berlangsung untuk selamanya. Ketika saya memahami ini, saya merasakan sesuatu yang saya sebut kebahagiaan. Tetapi, jujur saja, saya lebih suka menyebut perasaan ini tanpa nama. Saya tidak mau mendefinisikan. Karena, memang saya tidak bisa mendefinisikannya."


Upanisad, esensi dari Veda, kitab suci umat manusia ini mendefinisikan ananda atau kebahagiaan sebagai berikut : Seperti mengharapkan orang dungu yang menjelaskan manisnya gula.

Bahkan orang tercerdas pun sulit menjelaskan rasa manis gula. Jadi, mereka yang sudah merasakan kebahagiaan akan tetap diam. Mereka yang belum merasakan biasanya petatah-petitih menggambarkan kebahagiaan itu.

Untuk lebih jelas dan lebih dapat memahami, mohon untuk membaca Buku Si Goblok ini yang mana terdiri dari dua bahasa, Si Goblok dengan format bahasa indonesia dan The Fool dalam bahasa inggris namun hanya dalam satu buku (bolak-balik). Selamat Membaca !

Ditulis dalam blog oleh Rare Angon Nak Bali Belog ...

Sabtu, 08 September 2012

Sivalila

**PETIRTAN PENGLUKATAN**

SIVALILA. Kitab-kitab Purana menyebutkan  64 Lila atau aktivitas yang memberikan kebahagiaan kepada para dewa dan umat manusia, yang dilakukan oleh Sanghyang Siva, sebagai berikut :

  1. Membebaskan dosa dewa Indra
  2. Membebaskan dosa Airavata
  3. Membangun Madhurapura di hutan Kadamba
  4. Sri Parvati lahir sebagai Tataka
  5. Pandyadewa mengawini Tataka
  6. Menari di hadapan rsi Patanjali
  7. Kundodara dianugrahi kekuatan untuk mampu memakan banyak nasi
  8. Memadamkan rasa lapar dan harus dari Kundodara, makan nasi dan minum air sungai Vaiga
  9. Membawa 7 samudra ke tempat yang dekat dengan saktinya
  10. Membawa Malayadhvaja dari Devaloka ke bumi
  11. Menurunkan putra bernama Ugra
  12. Ugra memperoleh anugrah Trisula
  13. Memindahkan laut dari sisinya
  14. Memecahkan mahkota dewa Indra
  15. Ugrapandya diberi hadiah emas dari gunung Mahameru
  16. Mengajarkan para maharsi tentang arti Veda
  17. Menjual permata kepada seorang raja untuk mahkota
  18. Menjadikan mendung minum air laut
  19. Menyetop turunnya hujan
  20. Menunjukkan kemahiran realisasi
  21. Membuat gajah dari batu dapat minum air gula aren
  22. Membunuh seekor gajah yang dikirim oleh seorang Sannyasin Buddha yang melakukan BlackMagic
  23. Memberikan karunia kepada seorang gadis Brahmana
  24. Menciptakan bermacam-macam tarian

Kamis, 30 Agustus 2012

Kematian dan Kesetiaan

 TIADA YANG LEBIH LUHUR Kematian dan Kesetiaan. 

Perempuan Dalam Dunia Kakawin

 Bunga-bunga berguguran, disertai oleh pelangi, memenuhi kereta;

Guntur tampak menangis, gerimis dari hujan awan tipis bagai air matanya, meratapi kematian raja.

Ini adalah tanda-tanda bahwa Sang Ratu akan mengikuti, dan ketika dia datang ke sana, ia melihat jasad suaminya

Mata jasad suaminya tanpak menatap, menunjukkan giginya yang indah seolah menyambutnya.


Kemudian, dia menangis keras, memeluk kaki almarhum suaminya yang meninggalkannya diam-diam saat dia tidur.
Tidak tahu harus berbuat apa, dia membelai jasad suaminya, membawa ke pangkuan kemudian melemparkan dirinya padanya, berbaring menghadap ke bawah.
Berulang kali dia mencoba menghidupkannya, berulang kali menyentuh bibir dan mata, tetapi semuanya tidak berhasil karena jasad suaminya tidak berkedip sama sekali.
Bagaimana mungkin luka-lukanya disembuhkan, bahkan jika pun menggunakan daun sirih yang dikunyahnya sebagai salep ?

"Ya Rajaku, sambutlah aku ! Mengapa kau diam membisu, Rajaku,
Dan tidak mengucapkan sepatah kata pun bagiku yang tak berdaya ini ? Siapa yang akan merawatku sekarang dalam keadaan menyedihkan ?
Mencarimu melelahkanku, dan sekarang aku telah menemukanmu, tampak kamu marah dan tidak mau melihatku,
Jika kamu memiliki sempati untuk air mataku, silakan jawab sekarang dan jangan berpaling.

"Namun, aku tahu bahwa kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, Rajaku, bahwa ketika kau berpura-pura untuk menghiburku dengan kata-kata manis mengharukan,
Setiap ucapanmu seperti tetes madu, tetapi jelas sekarang bahwa kata-kata itu tidak datang dari hati,
Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa kau tak berperasaan untuk meninggalkanku diam-diam saat aku tertidur.
Jadi sekarang kau telah pergi ke surga; tetapi aku pasti akan mengikutimu, bahkan jika kau tidak peduli padaku."

"Tapi aku mohon kepadamu, Rajaku, untuk bertemu denganmu di jembatan goyang ke alam sana,
Karena aku merasa kesepian, takut dan ragu untuk menyebranginya, kecuali kau berada di sana untuk melindungiku,
Dan, bahkan jika kau saat ini membelai wanita surgawi, jangan bersikap kejam kepadaku, tinggalkan mereka sementara waktu,
Berikan setengah dari kasih sayangmu kepadaku, orang yang bingung dan berkeliaran tanpa tujuan."

Akan memakan waktu terlalu lama untuk menceritakan ratapan Satyawati ini. Kesedihannya yang mendalam yang tak tertahankan,
Dan karena tampaknya tidak ada lagi yang ditunggu, ia buru-buru mempersiapkan diri untuk mati,
Dia menarik keris yang telah digenggamnya, yang berkilauan, dicabut dari sarungnya,
Dia menghujamkan keris ke badannya tanpa rasa takut, dan darah mengucur laksana air merah.
( Mpu Panuluh, Bharatayuddha 44:14-45:2, abad ke 12, Jawa )

Buku Helen Creese dengan judul PEREMPUAN DALAM DUNIA KAKAWIN - Perkawinan dan Seksualitas di  Istana Indic Jawa dan Bali, merupakan buku baru Rare Angon Nak Bali Belog untuk bacaan dikala menunggu Nge-Render. Buku ini membuka wawasan kita tentang dunia Kakawin baik Jawa maupun Bali, yang mana selama ini kita tahu Kakawin lebih banyak tentang perang, sikap kepahlawanan dan Patriotisme, namun dalam buku ini dipaparkan Kakawin dalam kisah romantisme perempuan dalam kodrat dan seksualitasnya.

Seberapa banyak yang kita tahu tentang Kakawin Jawa dan Bali ? 

Selasa, 21 Agustus 2012

Filosofi Jalanan Ala Tukang Becak

BECAK WAY.....

The Becak Driver's Philosophy. Harapan dan panduan hidup tukang becak sebagai orang yang hidup dijalanan dapat dibaca melalui tulisan-tulisan di becak kami, seperti ' wong kabur kanginan ', artinya, orang yang tidak mempunyai rumah, tidur di jalanan. ' Waton urip ', artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri, melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan.


 ' Banyu mili ' atau ' Lumintu ', yakni memuat keyakinan, kendati sedikit, toh rezeki bakan mengalir terus tiada henti. Tegar, menyiratkan keuletan bertahan dalam situasi dan kondisi yang senantiasa tidak ramah. ' Sri Rahayu ', membuktikan kesungguhan dalam membesarkan dan melindungi anak perempuan.

Filosofi Jalanan Ala Tukang Becak. Siapa tahu bisa menjadi kaca benggala, cermin yang mencoba memperbaiki, syukur-syukur mengubah kondisi yang belum tertata rapi di negeri ini.

Urip Iku Urup
Artinya hidup itu nyala, life is a flame. Hidup itu berkobar laksana nyala api. Maka ketika hidup ada, hendaknya mampu membakar semangat dan memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Sebagian besar orang berusaha yang terbaik demi keluarga, demi anak dan istri.

Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha

Kalimat ' Sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha ' memiliki makna bahwa harta dan kekuasaan bukan segala-galanya dalam melaksanakan hidup. Yang harus kita utamakan adalah budi pekerti. Kaya tanpa harta, kuat tanpa ajimat adalah kekayaan dan kekuasaan yang hakiki. Setiap dari kita diberi kekayaan oleh Tuhan, Sang Maha Pencipta. Setiap kita pun diberi kekuasaan oleh Yang Mahakuasa.


Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Makin lama manusia hidup, makin banyak hal yang dialami, makin banyak pula hal yang bisa dipelajari. Hal ini menjadi sesuatu yang alamiah. Sehingga sudah lumrah jika usia makin tua maka (seyogyanya) makin bijaksana, juga makin jernih dalam berpikir di samping tidak mudah terkejut, terkagum-kagum, tidak manja serta tidak gampang kecewa. Istilah Jawanya, ' aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman '. Artinya, jangan mudah terheran-heran atau kagum, jangan mudah menyesali, jangan mudah terkejut, serta jangan mudah kolokan atau manja.'

Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Artinya, janganlah terobsesi atau terkungkung keinginan memperoleh kedudukan, materi dan kepuasan duniawi lainnya. Ada kalanya kekuasaan begitu memesona, tapi kita tidak pernah tahu bahwa di balik semua itu banyak menyimpan hal-hal yang menakutkan. Hanya kesadaran manusia sebagai pelaku di dunia yang mampu mengimbanginya. Jika kesadaran itu lenyap tertimpa nafsu maka kehancuran akan berproses untuk melahirkan kenistaan.

Aja Kuminter Mundak Keblinger

Sabtu, 18 Agustus 2012

A.L.A.L. & A.L.A.P

**UANG APA PEKERJAAN ??**

A.L.A.L. & A.L.A.P .Di suatu kota hiduplah seseorang yang tidak dapat memperoleh pekerjaan. Ia sudah berusaha sebaik mungkin. Ia sudah bosan mendatangi orang banyak, pergi dari rumah ke rumah mencari pekerjaan, dan memberitahu mereka mengenai keadaannya yang kepepet.Ia memikirkan suatu rencana, ia membuat papan nama yang menarik dan menambahkan namanya dengan dua gelar : A.L.A.L. & A.L.A.P. Beberapa orang yang lewat di jalan itu heran memikirkan sesungguhnya gelar itu untuk keahlian apa. 



Mereka mengira penghuni rumah itu pasti cendikiawan hebat yang amat pandai. Pada suatu hari ada seorang tua yang datang ke rumah itu. Pemburu pekerjaan itu menyambutnya dan menduga bahwa ia pasti datang karena amat terkesan oleh gelarnya.

Ia berkata, " Pak, boleh saya tahu, mengapa Anda ke sini ?" Pria itu menjawab, "Pak, maafkan saya. Bolehkah saya tahu, gelar A.L.A.L. dan A.L.A.P. itu singkatan dari apa ? Saya pernah mendengar tentang F.R.C.S. dan gelar yang sejenis, tetapi sejauh ini saya belum pernah mendengar atau membaca tentang kedua gelar tersebut. 

Meskipun begitu saya sungguh gembira karena di antara kita ada seseorang yang amat terpelajar." Pemburu pekerjaan itu menjawab, "Pak ! Maafkan saya. Karena saya amat membutuhkan pekerjaan dan karena saya tidak dapat mengatakan kepada setiap orang betapa saya amat membutuhkan pekerjaan, saya membuat papan nama seperti itu. A.L.A.L. adalah singkatan dari

Sabtu, 11 Agustus 2012

RAMAYANA, Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi

Ramayana - Kanjeng Madi Kertonegoro

Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi. Kanjeng Madi Kertonegoro. Pulang ke Gianyar bagi Rare Angon Nak Bali Belog merupakan kesempatan emas untuk membeli buku terutama buku-buku Agama Hindu atau tentang Budaya Bali. Ramayana, Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi salah satunya yang sangat bagus sebagai bacaan yang akan memperkaya pengetahuan kita tentang Wayang Jawa dan Wayang Bali, serta kita dapat mempelajari kearifan budaya Indonesia, wawasan budaya dan sikap hidup.  


Bukan seperti di sinetron-sinetron TV atau lawakan dengan berlebel wayang. (red rare-angon)

Kisah Ramayana di Jawa & Bali banyak dipaparkan dalam pertunjukan wayang, baik wayang kulit, wayang wong, wayang golek, wayang beber maupun wayang-wayang lainnya. Wayang berasal dari kata 'wewayangan' atau bayangan. 

Wayang merupakan bayangan kehidupan nyata dunia ini. Dengan melihat wayang kita akan mengenal kehidupan ini. Wayang kulit mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jawa dan Bali. Yang terkenal saat ini ada Wayang Cenk Blonk (red rare-angon). Seorang sarjana barat Van Ferde setelah melihat pertunjukan wayang kulit di Jawa menjadi kagum dan seperti yang dikutip oleh Dr.A.Seno Sastromidjojo mengatakan :

"Pertunjukan wayang kulit itu merupakan suatu kesenian yang amat halus sifatnya. Diseluruh dunia tiada bandingannya. Pertunjukan yang dari boneka dihias secara bagus sekali dan daftar ceritanya berdasarkan puisi manusia dengan mutu tinggi, itu merupakan kesenian rakyat yang tiada persamaannya." . 


Ramayana Lakon Abadi Yang Pernah Terjadi Dan Diwayangkan Di Jawa & Bali. 


Ramayana adalah cerita epos India yang merupakan pengajaran Dharma atau kebajikan untuk umat manusia. Ditulis oleh Bhagawan Walmiki kira-kira lima ratus tahun sebelum Masehi. 

Ceriteranya menggambarkan kehidupan jaman Tretayuga. Ada pembagian jaman menurut tradisi India, yaitu; Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga dan Kaliyuga. Saat ini adalahm jaman akhir Kaliyuga. Dalam perhitungan sejarah purba manusia itu sendiri. Sampai kini pun banyak orang yang tetap mempercayai itu termasuk nenek moyang orang Jawa.

Kisah Ramayana itu sendiri sudah populer di India sebagai cerita sejak tahun 3100 sebelum Masehi, lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kisah Ramayana merupakan epos Aryanisasi (bangsa Arya) yang ditulis dalam bentuk stanza (sejenis puisi), meliputi 24,000 buah stanza. Ramayana terdiri dari tujuh kanda atau narasi atau episode. Banyak versi kisah Ramayana setelah penulisan oleh Walmiki, diantaranya adalah Bhattikavya atau Ravanavada yang ditulis oleh Bhatti pada abad ketujuh.

Di Indonesia ceritera Ramayana sudah terkenal sejak dulu, bukti-bukti

Selasa, 31 Juli 2012

Inilah Hindu Indonesia

***Senthong***

Inilah Hindu Indonesia. Rare Angon Nak Bali Belog dalam posting kali ini menuliskan kumpulan singkat hal-hal yang berkaitan dengan Budaya Agama Hindu yang ada di Indonesia. Hindu Indonesia dikenal dengan sebutan Hindu Bali, Hindu Toraja, Hindu Pedukuhan Gunung Lawu, Hindu Kaharingan, Hindu Tengger, Hindu Dayak Maratus dan lainnya yang mana akan sangat "memiskinkan" keberadaan Hindu itu sendiri. 


Kenapa demikian karena Bali yang dulu mayoritas Hindu berkembang sangat pesat dan saat ini sudah menyebar keseluruh pelosok Indonesia, nama Bali menjadi pisau bermata dua, satu sisi bisa membanggakan tetapi disisi lain bisa memiskinkan, bisa menyebabkan Hindu seolah-olah hanya di Bali dan budaya Bali adalah cerminan Hindu di Indonesia, tentunya ini tidak akan mendukung keberadaan Agama Hindu di daerah yang lain. 

Penyebutan yang berbeda-beda berdasarkan daerah menyebabkan Hindu terkotak-kotak, oleh karena itu sudah saatnya Kejayaan Agama Hindu Indonesia untuk kembali bangkit dan berkembang baik secara kwantitas dan kwalitas dalam pemahaman Ajaran Weda ( Tattwa, Susila dan Upakara ) serta dapat membawa Indonesia segera menjadi negara yang maju dan sejahtera.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.(wikipedia) memang berbeda dengan Agama, budaya ( budi dan daya ) lahir dari pemikiran manusia untuk dapat beradaptasi dengan alam dan penciptanya. Pemakaian budaya yang sama pada agama yang berbeda tentunya sah-sah saja, seperti penggunaan Pupuh, Macapat, Wayang dan tradisi penyucian diri saat menghadapi sebuah hari besar keagamaan. 


Dengan demikian betapa besarnya nilai-nilai budaya tersebut sehingga fungsi dan maknanya dapat diterima oleh semua agama. Inilah Budaya Indonesia, yang segera musti disadari oleh pemeluk agama, tidak usahlah kita berebut, fanatisme agama hendaknya tidak merembet pada egoisme budaya. 
Berikut adalah budaya-budaya yang dilaksanakan oleh pemeluk dan masyarakat Hindu di Indonesia.

Tawur dan Nyepi di Lawu, Beras Tawur Pengusir Hama.

Satu-satunya pedukuhan di seputaran Gunung Lawu dengan mayoritas beragama Hindu, mereka hidup rukun dalam kebersamaan; semua itu karena mereka umumnya hidup njawani. Acara Tawur yang digelar sangat sederhana di perlimaan ( bukan perempatan ) jalan di tengah-tengah pedukuhan, menghadap ke timur. 



Umat yang hadir membawa dua wadah untuk tirtha ( Penglukatan dan Amertha ) dan satu lagi untuk beras tawur. Sebuah lubang tepat di perlimaan jalan telah siap, di sebelahnya beberapa jenis sesaji Jawa telah juga siap dan bayang-bayang seekor ayam brumbun, yang dagingnya telah diolah, serta beberapa tumpeng kecil, cok bakal, beberapa jenis kembang dan juga beberapa jenis tirtha dari beberapa Pura, Puncak Lawu, Banyukuwung, Sendang Cempaka Mulya dan Prambanan.

Acara dimulai dengan puja Pemangku diiringi kidung Jawa, diteruskan dengan menanam ayam dan sesaji lainnya dan diperciki semua tirtha yang ada. Setelah itu dilanjutkan dengan kramaning sembah dengan cakupan tangan mengarah ke bawah. Acara ditutup dengan puja diiringi kidung penutup. Malam itu juga ketiga sarana tadi digunakan untuk areal rumah dan juga kebun. Setelah tawur dilaksanakan Penyepian dan Ngembak Geni di belasan pura di seputaran Lawu. Umat Hindu di jawa memang umumnya sangat gemar mendengarkan Dharma Wacana. ( edisi 100 - Juni 2012 )

Nenek Sando di Desa Tia'tang Toraja

Di Desa Tia'tang, desa terpencil di Tana Toraja ini sangatlah unik, dimana peradaban Hindu Toraja tumbuh dan masih berkembang. Di Desa Tia'tang terdapat 20 KK warga beragama Hindu asli Toraja, agama nenek moyang yang sampai saat ini masih mereka pertahankan, baik agama maupun semua ritual Hindu tradisi Toraja. Pura yang di desa ini berbeda dengan di Bali, bentuknya berupa bangunan rumah. Seorang pemangku adat/ tetua adat disebut dengan Nenek Sando. 


Nenek Sando adalah seorang pria tua atau lazim dipanggil nenek, pemberian nama ini merupakan nama Kebesaran atau nama kehormatan buat seorang pemangku adat. Kondisi umat Hindu masih tertinggal di desa ini, namun mereka berkomitmen untuk terus mempertahankan Hindu sebagai agama mereka. Pemakaman bagi mereka yang meninggal berada di goa-goa, namun untuk bayi yang baru lahir akan dikuburkan di dalam pohon-pohon. Dari Kunjungan KMHDI ke Toraja ( edisi 89 - Juli 2011 )

Senthong, Tempat Pemujaan Kawitan Masyarakat Hindu Jawa

Rumah adat Jawa terbagi dalam ruangan-ruangan dengan fungsinya masing-masing. Salah satunya Senthong atau Nepen atau Petanen atau Patangaring atau Kerobogan mempunyai landasan filosofis Agama Hindu untuk pemujaan terhadap para leluhur. Senthong memiliki arti tempat yang hening atau suwung, sengat bagus buat meditasi/nepi. 


Senthong mempunyai karakter yang ditentukan oelh adanya ikatan wit atau leluhur berdasarkan garis keturunan, sehingga Senthong merupakan tempat memuja para leluhur yang telah disucikan dari masing-masing kelompok kerabatan. Senthong dilihat dari bentuknya terdiri dari tiga pintu, pintu yang besar berada di tengah-tengah sehingga mirip rong tiga pada sanggah kemulan di Bali. Hal tersebut menunjukkan pemujaan dalam 3 (tiga) aspek yaitu sebagai penciptaan, pemeliharaan dan memprelina atau sabda, bayu dan idep. Secara fisik terdapat burung Garuda wahana Dewa Wisnu, adanya pedaringan untuk memuja Dewi Sri dan gundukan kemenyan untuk memuja Hyang Ciwa.

Dalam Serat Kawruh Kalang disebutkan bahwa Senthong merupakan Sanggar pemujaan bagi keluarga Hindu di Jawa, dalam keluarga batih/keluarga inti yang terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak diwajibkan membuat rumah jawa yang dilengkapi dengan Senthong sebagai tempat suci untuk memuja leluhur dan para Dewa, sedangkang dalam masyarakat besar diwajibkan membuat Candi ( secara nasional tempat sembahyang Agama Hindu disebut Pura ) (edisi 90 - Agustus 2011 )

Suku Borneo Mempraktikan Jenis Hindunya Sendiri.

Hindu Kaharingan adalah suatu agama untuk orang Dayak dari Kalimantan Tengah, salah satu dari empat propinsi yang menjadi bagian Kalimantan. Sudah 30 an tahun usia Agama Hindu Kaharingan, diatur oleh birokrasi Hindu di Indonesia yang resmi. Dalam Sidang Agung Hindu Kaharingan ( Hindu Kaharingan's Grand Council ) di Palangkaraya, kepala badan penasihat agama Hindu Kaharingan, Lewis Koebek Dandan Ranying menyatakan bahwa orang-orang Dayak adalah orang-orang Hindu selama berabad-abad, mereka hanya tidak tahu saja. 


Kepercayaan dari berbagai suku-suku Dayak, katanya, turun dari Kerajaan Kutai, di Kalimantan Timur dari abad keempat yang agamanya dari India. Aturan-aturan pemerintah mensyaratkan satu agama resmi untuk mempunyai satu kitab suci, maka pemimpin Dayak di Kalimantan Tengah menciptakan satu kitab suci, Panaturan. Suatu pendeta diperlukan, tempat upacara pemujaan disebut Balai Basarah. Agama Hindu telah menjadi bagian dari kepercayaan lokal, dan Hindu Kaharingan bukanlah "agama yang dibuat-buat" . ( edisi 95 - Januari 2012 )

Upacara Aruh Baduduk Umat Hindu Dayak Meratus

Desa Labuhan kecamatan Batang Alai Selatan Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantas Selatan penduduknya beragama Hindu yang sebelumnya disebut dengan Kaharingan. Di desa ini dilaksanakan persembahyangan bersama setiap purnama dan tilem maupun hari raya Hindu lainnya di Balai ( tempat suci umat Hindu etnis Dayak Meratus ) yang dipimpin oleh seorang pinandita asli keturunan Labuhan. Salah satu budaya yang dipertahankan dan tetap dijalankan adalah Aruh Baduduk. Aruh berasal dari kata upacara roh ( a-roh; Yang Esa/Nining Bahataral )


Sedangkan Baduduk berasal dari kata "duduk" yang dalam bahasa Labuhan ditambah dengan "ba" yang berarti berduduk. Aruh Baduduk adalah suatu persembahan suci atau perwujudan rasa terima kasih dari manusia kepada Nining Bahataral ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa ) setelah selesai kegiatan  panen padi, dengan mempersembahkan upcara selengkapnya yang dipimpin para Balian. ( edisi 99 - Mei 2012 )

Rare Angon Nak Bali Belog mengucapkan terima kasih atas perhatiannya pada artikel singkat ini yang tentunya sangat jauh dari sempurna. Marilah kita gali budaya-budaya Hindu Indonesia, semakin banyak yang kita ketahui tentunya akan memperkaya khasanah budaya nasional. Mohon pembaca untuk dapat melengkapi artikel ini. Sumber artikel dari Media Hindu dalam berbagai edisi dan tahun penerbitan.