Selamat Datang

Blog Pribadi Blog Yang Bermanfaat

Ayoo Nge-Blog Hello Blogger, Apa khabarnya guys ? So pasti tetap semangat yaa... , kita ga boleh lemes apalagi malas dalam update B...

Minggu, 29 Januari 2012

I Gajah Nyapa Kadi Aku | Mesatua Bali

Gajah Lampung

Ditu di alase bet ngeriung, ketuturan ada Gajah ane meawak gede, tegeh, kulitne tebel kakah, tur kereng ipun tanpa ingen. Sedak dina anu, I Gajah ento ngamuk. Sekancan taru ane ada ditu karubuh baan I Gajah. I Kedis, I Bojog, Kidang, tur ane lenan tusing ngelah tongos mesayuban. Taluh tur sebun I Kedis makejang ulung. I Kedis Siung kaliwat sebetne sawireh taluhne ane makere lekad ulung tur pianakne mati. Tan kodag baan jengah basangne nepukin solahne I Gajah. Keto masih buron ane lenan.

Sedek dina anu, buron-buron makejang mapunduh di carang-carang kayune bah. Para burone ento sangkep ngundukin solah ia I Gajah ane nyapa kadi aku. I Kedis Siung mepajar kene," Nah nyama-nyama ajak makejang ane idup dini dialase, yan buka kene sesai-sai solahne I Gajah, sinah suba iraga ajak makejang lakar mati. Sawireh umah tur amah-amahan I Rage suba telah keuwug tur kematiang teken I Gajah. Jani jalan ngeka daya, kenken baan apang nyidayang ngematiang I Gajah ". Semeton Rare Angon Nak Bali Belog sane wangiang titiang.


Yan mepalu arep, sinah suba iraga kaon, wireh ia buron kaliwat gede tur kereng" . Mesaut lantas I Kedis Blibis kene," Cang ngelah daya buka kene, kenken baan apang I Gajah buta tusing nepukin apa, di subane keto mara lantas dedehang ia apang ulung". Nah di subane keto, I Kedis Siung midep teken ia I Blibis tur mepaitungan ditu ajak ia I Goak, I Kedis Corek, teken I Kedis Gadangan. Di subane ingkup paitunganne ditu lantas pengeka dayane ento kelaksanayang.

Rikala rahina lemah galang, I Gajah klincak-klincak ditu di padange linggah laut I Kedis Corek mekeber tur maekin I Gajah. I Kedis Corek ngotolin sekancan kutu, tuma, tur ketekulan ane ada di awak I Gajah, apang tusing genit. I Corek sambilange magending di duur tundun ia I Gajah. Di subane keto, kasuen-suen, I Gajah merasa tis tur merasa kiap baane teken I Kedis Corek, lantas I Corek nyeritin la I Kedis Goak. I Goak teka kema, tur nyotot matane I Gajah buka dadua. I Gajah lantas bangun mekyayangan tur ngelur. Jlempah-jlempoh pati kaplug ia I Gajah wireh matane buta. 
Di subane keto lantas I Kedis Siung ngorahin ia I Buyung apang metinggah tur metaluh di matane, apang kanti matane mauled. Semeton Rare Angon Nak Bali Belog sane wangiang titiang. Nah, jangkep suba sakitne I Gajah. Ditu I Gajah sing medaya, tur pules dogen gaene naanang sakit. 

Ia tusing nyidayang ngamah tur nepukin yeh lakar inem. Di subane suba, I kedis Siung buin ngorahin nyamane ia I Kedis Gadangan apang memunyi di duwur pangkunge. Sinah suba ia I Gajah ngaden di tongos I Kedis Gadangan mamunyi ada yeh. Ningeh munyin I Kedis Gadangan, I Gajah kedropon melaib kema ngalih yeh baan keliwat bedakne. Nanging lacur, I Gajah tusing nawang teken ada pangkung dalem. I Gajah lantas ulung meglebug ke pangkunge dalem tur ngemasang mati.

Sasukat matine ia I Gajah, sebatek buron ane ada di alase ento sing ja buin ada ane ngadug-ngadug, stata nemuang rahayu, tur sukerta. Keto masih punyan kayu tumbuh mokoh-mokoh tur mebuah nged buin gede-gede. Mekejang pada liang.
Nah, kewiaktiang satuan I Gajah Nyapa Kadi Aku ento tuah medaging tutur apang sing raga nyapa kadi aku. Merasa awak paling ririh, paling aeng, paling gede tur tanpa tanding. Meparisolah nganguang idep. Solah ane nyapa kadi aku sinah lakar nemu baya, sengkala, tur ngemasang. Buka parisolah ia I Gajah..
Tetuwek Satua Bali I Gajah Nyapa Kadi Aku inggih punika :
- Tusing dadi sombong teken awake sugih, bagus, duweg, tur ngelah awak gede buin siteng.
- Laksana Nyapa Kadi Aku boya ja parisolah Dharma, laksana Nyapa Kadi Aku lakar liu nepukin musuh.
- Di gumine liu ajak idup. Sing ja patut iraga ngangguang keneh pedidi. Pasawitra uttawi penyama braya ento kone ane mautama.

Kambil saking Satua Bali I Punyan Kepuh Teken I Goak, oleh I.N.K. Supatra. Di edit dan diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

Selasa, 24 Januari 2012

Mepandes, Metatah, Mesangih, Potong Gigi, Manusa Yadnya

Sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yaitu Kama;keinginan, Kroda;kemarahan, Lobha;serakah, Moha;kebingungan, Matsarya;dengki/irihati, dan Mada;mabuk.


Potong Gigi Massal
Dalam menjalankan Swadharma kehidupan di dalam agama Hindu berbagai kegiatan kerohanian/ yadnya yang wajib dilaksanakan umat Hindu dalam segala manifestasinya untuk menuju/ mencapai jalan yang luhur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Brahman).
Salah satu dari berbagai kegiatan Yadnya (Panca Yadnya) yang dilaksanakan umat Hindu adalah Manusa Yadnya yaitu Upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau Potong Gigi yang merupakan kegiatan sakral bagi umat Hindu.

Jadi Upacara Potong Gigi ini sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dan terus berkembang sampai saat ini dengan peningkatan pengertian filsafatnya dan diarahkan kepada keagamaan, sejak kedatangan Hinduisme di bumi Ibu Pertiwi Nusantara (Indonesia). 


Adapun pengertian Potong Gigi bagi umat Hindu adalah :

- Untuk merubah prilaku agar mampu mengendalikan diri dari godaan Sadripu untuk menjadi manusia sejati, yang menurut " Lontar Tutur Kamoksan " adalah sebagai Manusia nantinya bisa bertemu dengan orang tuanya di Alam Paratra setelah meninggal dunia.
- Menjalankan kewajiban Leluhur terhadap anaknya yang menurut " Lontar Puja Kala Pati " pada dasarnya untuk menemukan hakekat manusia sejati.

Upacara Potong Gigi bertujuan dan mempunyai filsafat sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu bentuk untuk membayar hutang budi kepada leluhur. Manusia dalam hidupnya mempunyai tiga hutang budi yang disebut Tri Rnam dan salah satu diantaranya adalah Pitra Rnam yaitu hutang budi kepada orang tua (leluhur) yang menyebabkan manusia lahir, jadi untuk membayar hutang budi kepada leluhur harus dibayar dengan memelihara dan mengupacarai keturunannya ( pari sentana ).
2. Merupakan suatu simbolis untuk melenyapkan atau mengendalikan hawa nafsu yang disebut Sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yaitu Kama;keinginan, Kroda;kemarahan, Lobha;serakah, Moha;kebingungan, Matsarya;dengki/irihati, dan Mada;mabuk.

Pada upacara Potong Gigi juga diadakan persaksian kepada Sanghyang Widhi dalam prabawanya sebagai Sanghyang Semara Ratih yang merupakan perlambang/simbol dari pada keinginan seperti cinta kasih yang tumbuh kembang pada setiap insan yang menginjak dewasa yang memerlukan pengendalian diri agar tidak terjerumus dalam nafsu keinginan yang berlebihan.

Pustaka Lontar yang berkaitan dengan Upacara Potong Gigi adalah :

Senin, 16 Januari 2012

Bhagavad-gita, Kitab Sumber Abadi Tentang Reinkarnasi

Krsna dan Arjuna
Sri Krsna dalam sabda-Nya " Bila ia meninggal dalam sifat kebodohan, maka ia akan lahir dalam kerajaan binatang."

Untuk mengerti reinkarnasi jauh ke dalam, banyak orang barat mencari sumber-sumber pengetahuan yang orisinil mengenai kehidupan-kehidupan di masa lalu dan yang akan datang. Di antara seluruh kesusastraan yang tersedia, Veda berbahasa Sansekerta dari Indialah yang tertua di bumi ini yang memberikan pemaparan paling luas dan logis tentang pengetahuan reinkarnasi itu, yang ajarannya tetap hidup dan menarik perhatian orang di seluruh dunia selama lebih dari lima ribu tahun.


Keterangan paling mendasar tentang reinkarnasi hadir dalam Bhagavad-gita, hakikat terpenting kitab-kitab Upanisad dan seluruh pengetahuan Veda. Bhagavad-gita disabdakan lima puluh abad silam oleh Sri Krsna, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, kepada Arjuna, kawan dan murud-Nya, di tengah medan perang untuk mendiskusikan reinkarnasi, sebab dalam perang, orang akan berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan penting menyangkut kehidupan, kematian, dan kelanjutannya sesudah meninggal dunia.



Ketika Krsna mulai bersabda tentang kekekalan sang roh, Krsna memberitahu Arjuna, "Tidak pernah ada satu masa sesaat pun bahwa Aku, engkau, maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satu pun di antara kita ini akan lenyap." Dan, petuah-petuah Bhagavad-gita lebih lanjut,

 "Ketahuilah bahwa yang keberadaannya menyebar di seluruh badan tidaklah dapat dimusnahkan. Tak seorang pun dapat membinasakan sang roh yang bersifat kekal itu."  


Tentang sang roh - di sini kita berbicara mengenai sesuatu yang begitu halus tak terlihat sehingga tidak segera diiakan oleh pikiran maupun indera-indera manusia yang terbatas. Karena itu, tidak semua orang akan dapat menerima keberadaan sang roh. Krsna memberitahu Arjuna,

 " Ada orang yang memandang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, ada yang menjelaskan tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan, ada yang mendengar bahwa dia itu mengherankan, dan yang lainnya lagi, walau telah mendengar tentang sang roh, tetap tidak dapat mengerti sama sekali tentang dia. "


Bagaimanapun, mengakui bahwa roh itu ada bukanlah soal keyakinan semata.

Selasa, 10 Januari 2012

Sang Hyang Dyaus

Yupiter Dewa Langit

Dalam beberapa literature kitab Purana maka nama suci Dewata Sang Hyang Dyaus ini sangat jarang kita temukan. Yang paling utama disebutkan adalah dalam kitab Mantra Samhita, bahwa Sang Hyang Dyaus adalah diyakini serta dipuja sebagai sosok Dewata yang memiliki sebuah kekuasaan tertinggi. Sang Hyang Dyaus adalah Dewata yang paling tertua dan memiliki pengaruh kuat dari seluruh Dewa yang ada.

 
Secara harfiah, maka kata Dyaus sendiri memiliki difinisi angkasa, atau ether. Dengan demikian jika kita berbicara konteks ini, kita akan mengenal sebuah persepsi bahwa tidak ada ujung dan pangkalnya. Ini merupakan sebuah makna simbolik bahwa Sang Hyang Dyaus adalah menyimbulkan sebuah kemahaadaan dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

 
Dalam kitab Mantra Samhita, maka Sang Hyang Dyaus adalah Dewata yang dinyatakan memiliki kuasa atas Surga Loka. Ini akan membawa kita pada sebuah persamaan bahwa Sang Hyang Dyaus sebenarnya adalah aspek lain dari Bhatara Indra sendiri. Atau dapat juga berbeda secara personalitas. Mengingat Purana senantiasa berbicara tentang Bhatara Indra sebagai penguasa Sorga dan nama suci Sang Hyang Dyaus sepertinya tidak disebutkan.

 
Mungkin ini diberikan karena jika kita membicarakan masalah angkasa yang maha luas dan tidak terbatas, dan berada di atas, maka persepsi kita bahwa langit itulah tempat Surga. Padahal, Surga sendiri merupakan bagian dari Sapta Loka yang memiliki wilayah berbeda dengan Bumi kita. Karena itu, sebaiknya memuja Sang Hyang Dyaus secara terpisah dalam pengertian yang sama dengan Paduka Bhatara Indra. Jika kita melihat langit, dan dari sana mendatangkan hujan, maka keberadaan Sang Hyang Dyaus tidak akan pernah lepas dari Bhatari Pertiwi atau Bumi.

 

Oleh sebab itulah, maka Bumi dan Langit dalam filsafat ini tidak dapat dipisahkan. Karena itu dari sinilah sebenarnya datang sebuah konsep Bapak dan Ibu. Ayah dan Ibu alam semesta. Ayah adalah Sang Hyang Dyaus dan Ibu adalah Sang Hyang Prhtiwi. Dengan demikian, ayah akan melimpahkan hujan pada ibu Bumi dan disanalah ada sebuah kesuburan hingga mahlukpun hidup.


Dengan konsep inilah, maka Sang Hyang Dyaus dan juga Bhatari Prhtiwi dipuja secara bersamaan. dalam konteks inilah, beliau di berinama suci yakni Sang Hyang Dyavaprthiwi. Artinya ayah langit dan ibu bumi. Dalam kita Reg Veda Samhita sendiri nama suci Sang Hyang Dyaus disebutkan sebanyak kurang lebih 50 Mantra, dan kesemuanya mengagungkan kebesaran Beliau.
Dalam iconografi Hindu,