Selamat Datang

Gowes Menyan Gunung Bunder Halimun

GOWES GUNDER MENYAN SAH BERSEPEDA kini menjadi kebutuhan manusia, kesadaran akan kesehatan semakin diperhatikan, mengingat pola ke...

Senin, 29 April 2013

Kesadaran

Kita Pulang pada-Nya
 Jika kecerdasan secara seksama mengadakan pengamatan pada setiap proses, maka tentulah akhirnya diketahui, bahwa penderitaan menunjukkan habisnya kebahagiaan dan kebahagiaan merupakan pertanda kenyapnya penderitaan. Kesadaran mengenali semua ini berlangsung dalam hati. Kebahagiaan yang mantap diperoleh dengan dominasi kecerdasan mengatasi pikiran yang bersifat berubah dengan cepat. Pikiran yang dikondisikan kembali sesuai fungsinya, yaitu sebagai pengunyah informasi bukan memberikan makna dari informasi itu membantu seseorang bertindak objektif terhadap dirinya.




Dengan kesadaran baru ini orang tidak
lagi mengusahakan sesuatu kebahagiaan dengan mengatur kondisi di sekelilingnya atau juga berusaha menciptakan kondisi pengalaman melainkan mengatur kondisi pikirannya. Pikiranlah sumber bahagia dan derita bolak-balik silih berganti. Ibarat sekeping mata uang dengan dua sisi yang masing-masing ditempati kebahagiaan dan penderitaan. Jika seseorang merasa bahagia, maka potensi penderitaan tersembunyi di baliknya, demikian juga sebaliknya. Masalahnya sekarang adalah kita tinggal memilih sisi mana yang kita pilih untuk dipandang dari dua sisi mata uang itu. Ingatlah kita tidak mungkin melihat dua sisi itu sekaligus secara bersamaan. Pada satu waktu hanya dapat memandang satu sisi saja dari permukaan keping logam itu. Maksudnya, jika ingin bahagia maka tataplah sisi positif dari setiap kejadian dan situasi yang ada, itu baru cerdas.

Organ kecerdasan sering dihubungkan dengan ruang spiritual, sebuah aspek intelektual terdalam, sebuah kemurnian. Latihan-latihan berat dilakukan oleh praktisi spiritual melalui yoga dan metode lain untuk menembus lapis kesadaran ini. Mengapa begitu penting sampai pada tingkat intelektualitas tertinggi ini, karena pada organ mental inilah kejernihan menimbang dan menilai itu gampang, jelas, tidak menipu lagi. Penderitaan itu hanya gara-gara keliru menafsirkan segala sesuatunya saja, bukan akibat yang lain. Namun, sebagai orang awam tidak perlu repot mengadakan latihan semacam itu yang akan menyita waktu dan bisa menelantarkan kewajiban. Cara memunculkan daya kesadaran itu cukup dengan metode-metode di atas, seperti; mengurangi kecendrungan pikiran bertindak sebagai hakim peristiwa.

Sumber bacaan Bukan SORGA bukan NERAKA, Oleh Nyoman Putrawan, Penerbit Majalah Hindu Raditya, 2006

Jumat, 19 April 2013

Nama Lain Kitab Suci Veda



Veda Sabda Suci
         Nama-Nama Lain Kitab Suci Veda.
Diketengahkan pembahasan nama-nama lain kitab suci Veda mengingat dalam membaca kitab suci Veda maupun susastra Hindu yang lain, baik yang berbahasa Sanskerta maupun yang berbahasa Jawa Kuno kita jumpai berbagai nama atau istilah untuk menyebutkan kitab suci umat Hindu ini. Adapun nama-nama lain dari kitab suci Veda itu antara lain :


1. Kitab Sruti. Kitab Sruti menunjukkan bahwa isi kitab itu merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima para maharsi. Seorang maharsi disebut Mantradrasta yang artinya karena kesucian diri pribadinya mampu merekam sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Apauruseya, atau Tuhan Yang Maha Esa yang bukan berwujud manusia dan di dalam susastra berbahasa Jawa Kuno kita sering menemukan istilah Sang Hyang Sruti yang maksudnya tidak lain adalah untuk memuliakan kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa.


2. Kitab  Catur Veda. Nama Catur Veda dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Veda itu merupakan himpunan (Samhita) dari Rgveda, Yayurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Tiga yang pertama diyakini umurnya jauh lebih tua. Sesungguhnya Veda dapat dikelompokkan dalam 2 jenis yaitu Rgveda dan Atharvaveda, karena 2 kitab lainnya (Yayur dan Samaveda) bersumber pada Rgveda. Di dalam susastra Jawa Kuno kita jumpai istilah Sang Hyang Catur Veda.


3. Kitab Rahasya. Kata rahasya artinya bahwa Veda mengandung ajaran yang bersifat rahasia yakni ajaran moksha atau kelepasan. Ajaran Veda yang meliputi ajaran Ketuhanan serta penciptaan alam semesta yang penuh misteri dan selalu menjadi pertanyaan serta usaha untuk bersatu dengan-Nya merupakan tujuan tertinggi agama Hindu.


4. Kitab Agama. Kitab Agama menunjukkan bahwa kebenaran Veda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya. Kata Agama merupakan salah satu istilah pramana yaitu tiga cara untuk menentukan kebenaran sesuatu, yaitu agama pramana, anumana pramana, dan pratyaksa pramana yang masing-masing berarti kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang suci yang sangat diyakini kesucian pribadinya, kebenaran yang berdasarkan pertimbangan analisis yang sistematis dan kebenaran berdasarkan pengamatan. Kebenaran Veda yang bersifat mutlak ini karena merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para maharsi. Tuhan Yang Maha Kuasa disebut Satyasya Satya, yaitu kebenaran sejati.


5. Kitab Mantra. Kitab Mantra adalah nama lain dari kitab Veda. Nama ini diberikan karena Veda memang berbentuk mantra atau puisi (syair) yang dapat pula dilagukan. Mantra artinya ucapan yang keluar dari pikiran (manah) dan pikiran merupakan saluran membentuk rupa atau wujud yang dapat dibayangkan. Seluruh kitab Sruti syairnya pada umumnya disebut mantra meliputi seluruh kitab Samhita (Catur Veda), Brahmana, Aranyaka dan kitab-kitab Upanisad di luar kitab tersebut syair-syairnya disebut sloka, seperti kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) termasuk kitab Bhagavadgita dan lain-lain. Di Bali umat Hindu menyebut setiap syair berbahasa Sanskerta disebut mantra sedang doa pujian yang menggunakan bahasa Bali disebut “Sehe


Demikian beberapa nama yang diberikan kepada kitab suci Veda yang dalam khasanah susastra Jawa Kuno atau Kawi disebut Sang Hyang Veda menunjukkan bahwa kitab suci ini diyakini sebagai ajaran yang mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat dan tentunya ditempatkan pada tempat yang dipandang layak untuk itu. Jangankan kitab Suci Veda, bagi umat Hindu di Bali, lontar-lontar puja dan lontar-lontar sastra lainnya pun di tempatkan pada tempat yang sangat terhormat (tinggi) dan pada hari raya Sarasvati, dirawat dengan baik, dibersihkan dan diperbaiki tali atau jilidannya dan diupacarakan sebagai mana mestinya. Umat Hindu yakin sastra suci atau huruf Bali adalah sthana atau wujud dari devi Sarasvati, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.


Sumber buku  Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan karya I Made Titib. Ditulis dalam blog oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

Senin, 15 April 2013

Ajaran I Balian Putus

  
Tapel Celuluk
Siapakah I Balian Putus
? I Balian Putus tidak lain dan tidak bukan adalah I Buda Kacapi. I Buda Kacapi adalah seorang Balian yang amat sakti, yang di dalam lontar disebutkan bahwa dia; ati anta kasub kajana lumraha pria, pageh kukuhing sandi sakti, weruh ta kita ring sidi ngucap, weruh tegesing lara muang pati urip, satitah basa batita, weruh ring ngastawa sidi.
Mungkin I Buda Kacapi inilah Balian Usada yang ada pertama kali di dunia ini. Beliau mendapatkan kemampuan untuk mengobati orang sakit dari Dewa Siwa melalui perantaraan Sang Hyang Nini Dalem atau Ida Bhatara Dalem.

Balian I Buda Kacapi sangat termashur dan terkenal kondang pada jamannya, sehingga banyal menerima murid untuk belajar ilmu pengobatan kepadanya. Murid pertama yang beliau terima adalah Balian Kalimahosada dan Kalimahosadi. Adapula yang menulis kedua Balian itu dengan sebutan  Balian Kalimosada dan Kalimosadi, yang berasal dari desa Lemah Tulis. Kedua Balian itu berguru kepada I Buda Kacapi, akibat kegagalannya mengobati orang sakit. Dalam lontar lain disebutkan bahwa murid Balian I Buda Kacapi adalah Balian I Warga Sari dan I Rangke Sari.

Beginilah ajaran, maka bersabdalah I Buda Kacapi yang bergelar I Balian Putus :
"Anakku, bila hendak memberi obat harus hati-hati dan jangan gegabah, peganglah roh si sakit. Lihatlah matanya, karena disitulah terlihat bayangan roh yang hitam atau putih, panas, dingin atau sebeha ( seeb=siram, beha= bae = bara api, artinya; bara aip yang disiram, tidak begitu panas ). Mati dan hidup seseorang dapat dilihat dari matanya. Jika tahu pasien akan meninggal, jangan memberikan obat. Bila kasihan kepada si sakit, berikan obat tetapi tanpa disertai mantra, agar tidak dikutuk oleh Sang Hyang Mantera ". Baca Kode Etik Balian klik disini.

I Balian Putus menguraikan ajarannya sebagai berikut;
" Ketahuilah anakku, Sang Hyang Tiga, yakni Brahma, Wisnu dan Iswara adalah sumber penyakit, Balian dan obat. Beliaulah yang mengadakan penyakit, menjadikan Balian serta membuat obat atau menjadi obat. Beliau pula yang menyebabkan adanya baik dan buruk di Bhuana Alit dan Bhuana Agung, di dalam diri manusia maupun di alam raya ".
Di Bhuana Agung Dewa Brahma berkedudukan di Selatan, Dewa Wisnu di Utara dan Dewa Iswara di Timur ( kadang-kadang Dewa Iswara disamakan dengan Dewa Siwa, yang berkedudukan di tengah-tengah ). Di dalam Bhuana Alit Dewa Brahma berada di hati, Dewa Wisnu di amperu (empedu) dan Dewa Iswara di jantung. Dewa Brahma bersifat panas, sesuai dengan api. Dewa Wisnu bersifat dingin (nyem, tis) sesuai dengan air. Dan Dewa Iswara bersifat sebeha atau dumelada (hangat) sesuai dengan udara. Warna ketiga Dewa ini adalah Brahma merah, Wisnu hitam dan Iswara putih, dengan akasara sakti ANG, UNG dan MANG.

Ketiga Dewa ini dapat mengadakan penyakit melalui murid-muridnya. Dewa Brahma melalui muridnya Bhagawan Empu Swaganda (Siwa Ganda) dan dianugrahkan lagi kepada Ki Bhuta Rarung, untuk menyebabkan penyakit panes ( panas ). Dewa Wisnu melalui muridnya Bhagawan Mercu Kunda, dan dianugrahkan lagi kepada Ki Bhuta Dengen, untuk menyebabkan penyakit nyem (dingin). dan Dewa Iswara melalui muridnya Bhagawan Kasyapa, yang dianugrahkan lagi kepada Ki Bhuta Breganjong, untuk menyebabkan penyakit sebeha (antara panas dan dingin). Jadi ada 3 (tiga) penyakit yakni panes, nyem dan sebeha. Menyadari datangnya kematian klik disini.

Jumat, 12 April 2013

Sunda Wiwitan

Trie Utami & Nyanyian Dharma
  Dapat email dari sahabat lama, sahabat waktu di SMA Negeri Gianyar, yang isinya sebuah berita. Berita tentang Sunda Wiwitan, dimana Mbak Trie Utami sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Budaya Sunda Wiwitan Program Pascasarjana IHDN Denpasar. Sebuah email yang merupakan berita bagi Rare Angon Nak Bali Belog dan perlu untuk disebarluaskan, melalui blog ini pula email itu Rare Angon posting, semoga dapat bermanfaat bagi sahabat dan pengunjung blog ini.

Penyanyi Trie Utami mengungkapkan harapan dan keinginanya agar Bali dan Sunda jadi satu. Ungkapan itu disampaikan ketika ia memberi makalah dalam “Seminar Nasional Budaya Sunda Wiwitan Program Pascasarjana IHDN Denpasar,” baru-baru ini.

Dalam seminar yang dipandu oleh I Gusti Ngurah Artha dari perguruan spiritual Sandhimurti itu, Trie Utami mengatakan:
“Saya menginginkan Sunda dan Bali mesikian [jadi satu]”

Iie panggilan akrab Trie Utami yang pernah berkolaborasi dengan Dewa Budjana dalam album “Nyanyian Dharma” itu pun menjelaskan mengapa ia berpendapat bahwa Bali dan Sunda disatukan.
Alasan utamanya, menurut Ibu mungil yang mengaku sedang asik mendalami sejarah Nusantara ini, karena antara Sunda dan Bali memiliki banyak kemiripan, dan sepertinya memiliki akar yang sama. Ia mencontohkan:

“Di Bali masih gampang kita melihat orang melaksanakan ritual, sebuah rangkaian upacara, pemujaan dan lain sebagainya. Sedangkan di Sunda ada juga ajaran murni leluhur yang tidak jauh berbeda dengan di Bali, hanya situasinya berbeda.”

Belakangan ini, menurut Iie, ada gejala dimana orang kita masih ragu menunjukan jati diri, di negerinya sendiri. Sementara sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk di wariskan ke anak-cucu, selain budaya dan ajaran-ajaran leluhur. Ia menjelaskan:

“Bayangkan, negara yang kita tempati sudah dimiliki orang asing; laut, pertambangan, lari ke luar negeri, mereka telah mengontrak puluhan tahun, apa yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita nanti.”

Hal sama juga diungkapkan oleh pembicara lainnya, yakni Kang Uci, seorang tokoh Sunda Wiwitan yang sehari-harinya sebagai dosen di Institut Harapan Bandung.
Menurut Kang Uci, Sunda dan Bali memiliki keterkaitan yang erat di masa lalu. Hanya saja, sejarah itu telah diputarbalik, sehingga kita tidak mampu lagi mengenali siapa diri kita sesungguhnya. Ia menjelaskan:

“Makanya kita ini telah dicacah [dipisah-pisahkan] sekitar 400 tahun lamanya, jadilah sebuah negara yang kini sudah tidak terasa berada di negeri sendiri, mulai bahasa, ajaran luhur kita sudah dirampas dan dimusnahkan, hanya itu karakter penjajah dalam melumpuhkan sebuah negara.”

Mengawali makalahnya, Kang Uci yang mengaku pemuja Sang Hyang Ciwa itu membacakan sebuah mantra yang diiringi dengan sebuah alat musik. Mantra itu, menurutnya, dimaksudkan untuk keselamatan dan menyebarkan energy positif. Sedangkan alat musik yang ia gunakan bernama ‘Karinding’. Kang Uci menjelaskan:

“Ini namanya Karinding, sebuah alat musik yang terbuat dari bambu, ‘ka’ berarti kepada, ‘ari’ arti bhatari, ‘ding’ itu sanding menyertai.”

Sehingga secara keseluruhan “Karinding” artinya “kepada para bhatara dan bhatari semoga bisa menyertai kita,” papar Kang Uci.
Dalam sambutannya, Rektor IHDN Prof. Dr I Made Titib mengungkapkan seminar itu penting artinya untuk menambah wawasan.
Menurutnya, ada banyak kemiripan pemujaan yang dilakukan antara kepercayaan Bali dan Sunda Wiwitan. Ia mencontohkan:

“Seperti Sunda Upasunda, yang selama ini cukup dikenal di Bali, kemudian pemuja Sanghyang ciwa, dikenal bathara guru, ternyata di Sunda akarnya adalah budaya dengan memiliki ajaran yang mulia.”

Sehingga Prof Titib mengkonfirmasikan apa yang diungkapkan oleh Trie Utami dan Kang Uci; ada keterkaitan atau hubungan erat antara Sunda, Jawa dan Bali.

Catatan: Video di bawah ini adalah “Mantram Gayatri” disertai arti dan menggunakan melodi Sunda, Trie Utami dan Dewa Budjana yang juga tampil di album “Nyanyian Dharma” (1998). Direkam di Babakan, Siliwangi, Bandung , 17 Desember 2011.
 
Thank you for your cooperation.

Suksma buat I B G W.

Selasa, 02 April 2013

Hari Suci Kuningan

 
Yadnya Amertha Suci Hindu
Amertha 
Hari Jumat
, sehari sebelum hari Suci Kuningan adalah hari Penampa Kuningan, bukan penampahan Kuningan. Dinamakan hari Penampa Kuningan karena pada hari ini memiliki magis (kekuatan)  sebagai pemagpag kala (penyambutan) dari Tumpek Kuningan, oleh karena itu pada hari Jumat tidak ada kegiatan persembahyangan.

Lontar Sundharigama menyatakan :
"Sukra Wage Wara Kuningan, Ngaraning Penampa Kuningan, Sawetaning Enjangnia Tumpek Kuningan, Tahina Mapag Kala Ngaran, Tan Wenang Angelaraken Puja, Nirgawe'ya Tan Hana Puspa, Kewala Gaweakna Sopecaraning Gen Engjangnia ...."

Pada hari Jumat Wage Wuku Kuningan, disebut hari Penampa Kuningan, karena besoknya disebut Tumpek Kuningan, dikatakan sebagai hari mapag kala, tidak boleh memuja, akan sia-sia, tidak boleh melaksanakan persembahyangan, tetapi bisa mempersiapkan segala keperluan untuk kebutuhan pelaksanaan upacara Kuningan pada esok harinya ....


Makna Hari Suci Kuningan
Dari segi makna, hari Suci Galungan dan Kuningan, tidak ada perbedaan yang ini tingkatan besar atau yang itu kecil, diutamakan atau dinomerduakan, diharuskan atau boleh-boleh saja. Hari Suci Kuningan jatuh pada Sabtu-Kliwon-Wuku Kuningan. Hari Suci Kuningan adalah hari yang penuh makna sehubungan dengan kehidupan semua mahluk di alam semesta ini. Dalam sastra agama Hindu, Kata Kuningan berasal dari kata " Kuning ", yang dapat diberikan arti selain warna adalah " AMERTHA ".  Kuningan dapat pula berarti " Keuningan " yang mengandung arti " Kepradnyanan " ( uning = tahu, mengerti, bahasa Bali )

Dengan demikian makna dan tujuan dari pelaksanaan hari Suci Kuningan adalah pada hari itu segenap umat Hindu memohon Amertha berupa kepradnyanan kehadapan Sang Hyang Widhi, dengan manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Mahadewa, yang disertai para leluhur (Dewata-dewati).

Lontar Sundharigama menyatakan :
"Saniscara Keliwon Wara Kuningan Payoganira Bethara Mahadewa Tumuruna Pepareng Para Dewata Muang Sang Dewa Pitara, Inanggapa Bhaktin Manusa, Amaweha Waranugraha Amertha Kahuripan Rijanapada, Asuci Laksana, Neher Memukti, Bebanten Sege Selangi, Tebog, Saha Raka Dane Sangkep Saha Gegantungan Tamiang Kulem, Endongsara, Maka Pralingga. Aja Sira Ngarcana Lepasing Dauh Ro, Apan Riteles Ikang Dauh, Prewateking Dewata Mantuk Maring Sunia Taya, Hana Muah Pengaci Ning Janma Manusa, Sesayut Pryascita, Penek Kuning Iwak Itik Putih Maukem-ukem ......"

Melalui petikan Sastra ini telah memberikan tuntunan kepada umat mengenai Tattwa, Etika dan Upacara hari Suci Kuningan, sehingga tidak ada lagi anggapan hari raya Galungan lebih utama dari hari raya Kuningan, atau sudah me-Galungan tidak usah me-Kuningan. "Tiang sampun me-Galungan , kanggeang nenten me-Kuningan ...." Begitulah sering ungkapan salah yang kita dengar di kalangan umat Hindu.

Rare Angon Nak Bali Belog mengucapkan selamat hari raya Suci Kuningan - Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu 6 April 2013. Semoga Umat Hindu memperoleh Waranugraha Kepradnyanan dan Amertha dalam setiap aktivitas.