Selamat Datang

Gowes Menyan Gunung Bunder Halimun

GOWES GUNDER MENYAN SAH BERSEPEDA kini menjadi kebutuhan manusia, kesadaran akan kesehatan semakin diperhatikan, mengingat pola ke...

Rabu, 05 Juni 2013

Nitidharma, Sakamadharma dan Niskamadharma

Bhimasena

Nitidharma, Spirit kepemimpinan dari serat Mahabharata
Adakah di antara kita yang tak mengenal Mahabharata ? Epos Mahabharata salah satu itihasa yang disebut sebagai Weda kelima mengisahkan perebutan "kekuasaan" di antara keluarga Bharata jaman Bharata warsa. 

Maha Rsi Vyasa, menggubah kisah kuru itu menjadi karya sastra yang indah dengan inti filsafat kehidupan, sarat nilai-nilai adiluhung yang tak lekang didera zaman. Untaian mutiara nilai itu telah merasuki setiap relung kehidupan masyarakat. Bahkan mengilhami dan memperkaya imajinasi serta kreativitas bangsa dalam membangun kebudayaannya. Betapapun arus perubahan melanda, menggoyahkan sendi-sendi eksistensi budaya bangsa, dimana-mana terjadi krisis mental kepemimpinan, degradasi nilai moral spiritual, serat Mahabharata tetap memberi inspirasi dalam semua aktifitas catur warna, sudra, waisya, ksatria dan brahmana.

Adakah serat Mahabharata untuk para pemimpin?

Di antara keresahan berbagai kalangan tentang merosotnya nilai-nilai kepemimpinan dewasa ini, penting kiranya kita membuka kembali lembaran epos Mahabharata untuk memperkokoh keyakinan yang mendalam terhadap kebenaran ajaran Dharma, terutama bagi para pemimpin sebagai "Nithi" dalam menjalankan Dharma sebagai kewajiban dan hukum kodrati yang sangat diperlukan dalam menata kehidupan masyarakat. Ajaran utama Mahabharata, menyarankan setiap manusia terlibat dalam simbiosis kerja tiada henti dengan Dharma sebagai pijakan. Dalam kondisi itu bila Dharma diingkari, maka akan tergelincir ke jurang kenistaan.

'yajnarthat karmano ' nyatra
lolo 'yam karmabandhanah
tadartham karma kaunteya
muktasangah samacara'


kecuali untuk tujuan berbakti
dunia ini debelenggu oleh hukum kerja
karenanya bekerjalah demi bakti
tanpa kepentingan pribadi, oh Kuntiputra
(Bhagawadgita, sloka III.9)

Pengabdian, Yajnyaartha harus dilaksanakan dengan semangat pengabdian berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun dunia ini (dan manusia termasuk di dalamnya) dibelenggu oleh hukum kerja, namun bila kerja itu dilaksanakan dengan tulus iklas demi bakti dan pengabdian, bukan untuk kepentingan diri sendiri, maka belenggu itu tidak lagi mempunyai kekuatan mengekang.

Nitidharmasastra
Niti berarti "Kemudi, pimpinan, etika sosial politik, pertimbangan, kebijakan" Cara menjalankan sesuatu yang benar, ilmu tata negara atau politik, kebijaksanaan duniawi Mahabharata memberi dua pengertian inti hakikat Dharma.

Pertama Dharma merupakan perangkat untuk mendapatkan dhana, yaitu sesuatu yang bernilai, baik berwujud material maupun aspek spiritual. Yang kedua, berarti yang memelihara dan melindungi dari bahaya dan memberikan kebaikan. Makna terdalam dari inti hakikat Dharma ialah hukum eksistensi jati diri manusia maupun non manusia. Inti hakikat tersebut selaras dengan makna rta seperti terkandung di dalam Rg Veda.

Maka Dharma menjadi alat untuk kesejahteraan material dan kebaikan spiritual, sehingga Dharma digunakan sebagai jalan, landasan kerja yang mengarahkan tercapainya artha dan kama. Jika digunakan sebagai jalan, maka disebut Sakamadharma, yaitu ketaatan terhadap Dharma yang memunculkan keinginan mendapatkan artha dan kama. Sebagai landasan kerja yang dianjurkan, Dharma disebut Niskamadharma, yaitu kerja tanpa keinginan untuk kepentingan nafsu atau ego. Sakamadharma merupakan wujud yang memberikan, sedangkan yang melaksanakannya disebut punia. Dengan demikian, Niskamadharma menghantarkan manusia yang melaksanakannya pada pembebasan (moksa).Keduanya itu-

Sakamadharma dan Niskamadharma : merupakan nitidharma yang dianjurkan dan patut diterapkan oleh pemimpin yang kemudian akan diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya.


Nitidharma Dalam Mahabharata
Sakamadharma dan Niskamadharma berkolerasi dengan triwarga dan berakhir pada moksa yang merupakan capaian tertinggi setiap insan manusia. Kemudian melahirkan siklus nilai relatif yang disebut Catur Purusartha yang terdiri dari Dharma, Artha, Kama dan Moksa.
Yudhistira pernah menanyakan kedudukan Dharma, Artha dan Kama sebagai penyangga kehidupan manusia sehari-hari. Bila triwarga itu demikian penting, maka "di antara ketiganya, yang manakah lebih tinggi kedudukannya?", demikian Yudhitira kepada Vidura.
 
Vidura menjawab bahwa belajar, meditasi (tapasya), kerendahan hati, kesederhanaan, keramahtamahan, kebenaran dan pengendalian diri merupakan elemen-elemen Dharma tertinggi. Artha, menempati posisi lebih rendah dari Dharma. Sedangkan Kama lebih rendah kedudukannya dari keduanya.

Arjuna, Sang Mahartha menimpali bahwa Artha memiliki nilai utama karena membantu realisasi Kama. Perburuan Kama direalisasikan dalam kehidupan melalui bekerja dengan tekun, seperti bertani, beternak, sehingga menghasilkan Artha. Dengan Artha seseorang dapat menikmati kesenangan di dunia ini, terutama dapat melaksanakan anjuran Dharma, yaitu melaksanakan Yadnya.


Bhimasena, Sang Susatya angkat bicara, bahwa Kama atau keinginan merupakan daya kekuatan penggerak dalam kehidupan. Adanya keinginan itu, menyebabkan para rsi melakukan kewajiban religius, pengendalian diri, tapa, para seniman melakukan kreatifitas, para petani tekun bekerja, para pedagang tekun berdagang. Dharma dan Artha tiada bernilai tanpa kehadiran Kama.

Nakula dan Sahadewa, Sang Aswin menyatakan bahwa Dharma dan Artha harus digerakkan secara bersamaan. Manusia wajib memegang teguh Dharma dan menghasilkan Artha tanpa melanggarnya. Keduanya menyublim bagaikan tirta amrta bercampur dengan madu. Dharma dan Artha di tangan seseorang merengkuh kenikmatan hidup dalam keadaan ekstase.
 
Terakhir Yudhistira menyatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus diusahakan. Setiap insan manusia harus melaksanakan kewajibannya tanpa dosertai motif pribadi. Dharma harus dilaksanakan dengan kegigihan sikap sama terhadap penolakan dosa dan memegang teguh kebenaran, mencari kekayaan dan menyirnakan kemelaratan, memburu kenikmatan dan meniadakan penderitaan. Kegiatan tersebut disebut Niskamadharma yang mampu memutus lingkaran kelahiran dan kematian, mengantarkan menuju tercapainya yang absolut (moksa, brhamaprapti)

Kakek Bhisma mengatakan bahwa moksa merupakan nilai tertinggi yang harus dicapai (parama purusartha). Baik penderitaan maupun kenikmatan sifatnya sementara, yang satu mengikuti yang lainnya dalam siklus kausal yang dikendalikan oleh keinginan (Kama). Di antara keduanya, Kama lebih disukai karena membebaskan manusia dari siklus kebahagiaan dan penderitaan. Di mana di dalamnya terimplisit doktrin

 "Kebahagiaan diperoleh dengan upaya pengendalian keinginan dan kebahagiaan diperoleh dengan meninggalkan keinginan".


Ajaran yang terkandung di dalam doktrin tersebut iadalah, seseorang dapat mengikuti Niskamadharma pada samnyasa (penolakan kenikmatan dunia) dan melaksanakan yoga. Atau seseorang dapat merengkuh Niskamadharma pada seorang grhi (orang yang hidup berumah tangga) yang diterapkan oleh Vidura.

Yang tertinggi ialah Dharma dalam artian menerapkan Sakamadharma dan Niskamadharma. Ajaran tersebut merupakan ajaran kepemimpinan Hindu kepada Yudhistira agar menjadi seorang penguasa ideal. Ajaran ini merupakan ajaran yang fundamental bahwa seorang raja diikat oleh Dharma. Segala titahnya harus sesuai dengan landasan aturan hukum (dharma), seorang pemimpin harus mengusahakan;
  1. Kesejahteraan seluruh lapisan rakyantnya
  2. Mengamankan negara dari serangan musuh
  3. Menjaga rakyatnya agar senantiasa melaksanakan kewajibannya
  4. Memutuskan dengan hati-hati kebijakan perang atau damai
  5. Mengusahakan bala tentara, polisi dan intelegen yang terlatih dan profesional

Mahabharata juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin negara wajib melaksanakan ajaran triwarga yang dikendalikan oleh Dharma, bukan oleh Kama seperti dinyatakan oleh Bhimasena. Karena doktrin yang dipegang oleh Bhimasena ialah doktrin kepala keluarga ideal.
  1. Mahaguru Bhisma kemudian menyarankan agar seorang pemimpin menghindari sifat-sifat sebagai berikut :
  2. Mendapatkan kekayaan dengan kekejaman
  3. Keberanian dengan membual
  4. Berderma kepada orang-orang rakus
  5. Mempercayai orang berhati jahat
  6. Pemenuhan nafsu seksual yang salah
  7. Berpura-pura bersahabat dengan musuh yang kuat, kemudian pada saat yang sama secara rahasia mempersiapkan perang pada saat yang tepat terhadap musuh.

Kepada Yudhistira, Mahaguru Bhisma memberi nasehat Nitidharma agar seorang raja:
  1. Menolak kemarahan
  2. Setia kepada kebenaran
  3. Membagi artha dengan tepat
  4. Rendah hati
  5. Mempunyai anak dari istri sendiri
  6. Menjaga kesucian pikiran dan tindakan
  7. Tidak melakukan kekerasan
  8. Senatiasa hidup sederhana
  9. Memperhatikan orang yang lemah

Nitidharma yang wajib dilaksanakan seorang pemimpin adalah melaksanakan kewajiban tanpa didorong oleh motif pribadi dan tidak mengikatkan diri pada hasil kerja. Bila Niskamadharma dilakukan dengan tekun dan intens oleh pemimpin, akan mengantarkannya menuju moksa atau menjadikannya Brhamaprapti. Nitidharma sebuah ajaran yang wajib bagi pemimpin, menjaga diri untuk menghindari sifat-sifat terlarang, seperti nasehat Bhisma kepada Yudhistira, Sang Dharmaraja. Dan pemimpin menurut kepemimpinan Hindu ialah Dharmaraja.

Sumber tulisan Kalender Bali 2013 yang disusun oleh I Kt. Bambang Gde Rawi (Alm) dan putra-putranya. Ditulis dalam blog  rare-angon.blogspot.com oleh Rare Angon Nak Bali Belog.
insert picture Bhimasena by Sutadi on deviantart

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu