Rabu, 09 Oktober 2013

Klasifikasi Pendeta Brahmana

PENDETA HINDU
Pendeta Brahmana

Dr. Goris (secten op Bali) menunjukkan jejak-jejak sekte terdahulu yang pada saatnya diserap atau menjadi usang dan hilang. Semua pendeta Brahmana diluar bodda termasuk sekte siva dan semua pengetahuan mengenai pembagian yang terdahulu sekarang hilang. Klasifikasi Dr. Goris adalah sebagai berikut :

(miguel C. hal 355)
Civa Siddhanta, kelompok yang paling penting, kepada kelompok inilah kebanyakan pendeta termasuk. Ciri kelompok ini adalah penggunaan rumus-rumus. Pendeta siwa berdoa dengan menggunakan genta dan bunga, dan menggunakan songkok merah dan emas yang atasnya ada bola kristalnya. Tempat air sucinya disebut siwamba. Suatu teks khusus dari sekte ini adalah naskah Bhuwana Kosa, salah satu tutur dari mana banyak naskah sesudahnya diambil.

Pacupata, sekarang seluruhnya lenyap, hanya dengan jejaknya di dalam tempat pemujaan berupa lingga yang merupakan simbol siwa.

Bhairawa, sebuah sekte yang diberikan pada ilmu gaib dari kaum kiri dan pemujaan dewa-dewa kematian. Sekarang hilang sebagai kelompok terpisah dan penting diungkapkan di dalam tempat pemujaan dukun, dengan leyak, rangda dan barongnya. Banyak peristilahan ritualnya berasal dari naskah Tantri pada naskah mana ilmu hitam Hinduisme termasuk.

Wesnawa, jejak-jejak pemujaan Wisnu dan Sri, dewa pertanian, kesuburan dan keberhasilan dengan kekhasan bahwa Wisnu muncul sebagai penguasa dunia bawah.


Bodda (atau Sogata). Pendeta bodda menyelenggarakan dengan kepalanya tidak menggunakan apa-apa, berdoa dengan menggunakan genta dan senjata khusus (bajara) dan bukannya bunga dan tempat airnya sucinya disebut pamandiyanga. Dia menggunakan mantra khusus, kedudukan tangannya berbeda saat berdoa, dan dia punya buku sastranya sendiri.

Brahmana, sekarang sepenuhnya berbaur dengan kaum Siwa, tetapi Brahmana yang khas adalah pemikirannya mengenai suku kata suci Ong, yang adalah Om di India.

Rsi (resi), kaum Satria yang karena studi dan meditasi menjadi pendeta tinggi, pedanda, yang bagaimanapun, bukan Brahmana, tetapi pangeran yang melalui sebuah contoh kehidupan dan penolakan terhadap hak-hak keduniawian, memperoleh kesucian.Mereka mungkin melantunkan mantra-mantra Brahmana seperti pasucian, rumus pensucian, tetapi dilarang menggunakan Weda. 

Sora, pemuja matahari yang tua, sekarang berbaur dengan kaum Siwa. Pemujaan Surya, dewa matahai, menurut Goris, adalah sebuah cara pemujaan kuno yang berhubungan dengan pemujaan matahari India yang berasal dari Persia. Pedanda Siwa dianggap sebagai Pendeta Matahari, Pelayan Matahari dan Putera Matahari.

Ganeca, pemuja Gana, "Pengganggu Gangguan" sebuah pemujaan Hindu kuno dari masa pra-Majapahit dan sekarang hilang. Jejak satu-satunya darinya adalah adanya patung-patung Ganeca kuno, dewa gajah, dan patung-patung dari dewa ini yang muncul di dalam azimat.

Sumber buku Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan oleh Miguel Covarrubias. (RANBB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu