Sad Guru berkata ," Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kau cintai, kau hormati dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi."

Baca Dulu Kawan

OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

Jumat, 31 Mei 2013

Gita, Kidung, Bhajan atau Kirtan

Genta Puja Mantra
Genta Pandita

  Gita, Kidung, Bhajan, Kirtan. Setiap Upacara Yajna yang tergolong Sattvika Yajna menurut ketentuan kitab Bhagawad Gita harus ada Gita atau Bahajn atau Kirtan sebagai nyanyian suci dari umat untuk memberikan nuansa rohani kepada penyelenggaraan Upacara Yajna tersebut.


Di dalam tradisi Hindu di Bali nyanyian suci umat untuk mengikuti Upacara Yajna disebut Kidung. Dalam tradisi budaya Hindu di Bali ada lima suara yang bertujuan untuk menyucikan jalannya suatu Upacara Yajna. Lima suara suci itu adalah suara kulkul atau kentongan Pura, Gamelan, Kidung dari umat yang mengikuti Upacara Yajna. Suara terpenting adalah suara Puja Mantra dan suara Genta Pandita yang memimpin Upacara.

Mengapa suara Puja Mantra dan suara Genta Pandita itu yang paling utama. Karena hal itulah yang menentukan selesai dan tidaknya Upacara. Sedangkan suara suci yang lainnya sangat tergantung pada besar kecilnya Upacara dan keberadaan Sang Yajamana atau umat yang menyelenggarakan Upacara Yajna tersebut.

Umat Hindu seperti umumnya umat Hindu di luar Bali, melantunkan Kidung itu tidak menggunakan Sekeha Kidung.

Selasa, 21 Mei 2013

Bangun dan Bermimpi

Gerbang Mimpi Kebahagiaan
Gerbang Mimpi
Yajnavalkya bicara :

Ia adalah kesadaran dari hidup. Ia adalah cahaya dari hati. Selamanya selalu sama, Jiwa manusia mengembara dalam dunia hidup terjaga (bangun) dan juga dalam dunia mimpi-mimpi. Dia tampak mengembara dalam pikiran. Dia tampak mengembara dalam bahagia.

Tetapi dalam istirahat tidur yang dalam dia pergi ke luar dunia ini dan di luar bentuk-bentuk yang cepat berlalu. Simak Kematian dan Tidur klik disini

Sebab sesungguhnya ketika Jiwa manusia datang kepada hidup dan mengambil satu badan, maka ia menyertai mahluk-mahluk menderita; tetapi ketika pada waktu kematian dia pergi ke balik itu, maka ia meninggalkan penderitaan di belakanganya.

Jiwa manusia memiliki dua tempat tinggal; dunia ini dan dunia diluarnya. Ada juga tempat tinggal ketiga; negeri tidur dan mimpi. Beristirahat di negeri perbatasan ini Jiwa manusia dapat memandang tempat tinggalnya di dunia ini dan di dunia lain yang jauh, dan mengembara di negeri perbatasn ini dia memandang di belakangnya kesedihan dari dunia ini dan di depannya dia melihat kebahagiaan dari yang di luar.

Mimpi-Mimpi
Ketika Jiwa manusia pergi tidur untuk istirahat, dia membawa bersamanya materi-materi dari dunia yang mengandung semuanya, dan dia menciptakan dan menghancurkan kereta-keretanya sendiri dalam kemuliaannya dan cahayanya sendiri. Lalu Jiwa manusia bersinar dalam cahayanya sendiri.

Di negeri itu tidak ada kereta, tidak ada regu kuda, tidak ada jalan, tetapi dia menciptakan kereta-keretanya sendiri, regu kudanya dan jalan-jalan. Tidak ada kebahagiaan di wilayah itu, dan tidak ada kesenangan, tidak kegembiraan; tapi dia menciptakan kebahagiaannya sendiri, kesenangan-kesenangan sendiri, kegembiraannya sendiri. Di negeri itu tidak ada danau-danau, tidak ada kolam padma, tidak ada aliran air, tapi dia menciptakan danau-danaunya sendiri, kolam padmanya, dan aliran air. Karena Jiwa manusia adalah Sang Pencipta.

Jumat, 17 Mei 2013

Tirta, Bija dan Dharmawacana

Sloka Kitab Suci Weda

"Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk, leburlah segala perbuatan buruk menjadi perbuatan baik; demikianlah gunanya menjadi manusia. " (Sarasamuccaya 2)


Manusia dan Binatang
 
Dari kelengkapan fisik manusia dan binatang hampir sama. Bahkan ada binatang yang bangun tubuh dan bentuk wajahnya sangat mirip manusia. Seperti manusia, binatang memiliki tubuh, lengkap dengan hati dan otak. Bedanya, dalam otak manusia ada akal, kemampuan berpikir , yang berfungsi untuk menuntun hidup manusia.
Dengan akal itu manusia menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempermudah hidupnya. Lihat Ilmu Pengetahuan Teknologi Hindu klik disini

Dengan akal juga manusia mempertanyakan hal-hal paling mendasar dari hidupnya, misalnya siapa sesungguhnya aku ini? Dari mana kita berasal? Apa tujuan kita hidup didunia ini ? Kemana kita pergi dari dunia ini ?

Senin, 13 Mei 2013

Panca Dalam Agama Hindu

Panca Sembah
Panca Dalam Agama Hindu

Panca Aksara; Lima huruf lambang Dewa-Dewa, yaitu Na Ma Ci Wa Ya .
  1. NA : Dewa Maheswara
  2. MA : Dewa Rudra
  3. CI : Dewa Sangkara
  4. WA : Dewa Sambhu
  5. YA : Dewa Ciwa

Panca Sembah ; Lima urutan sembah dalam sembahyang agama Hindu.
  1. Sembah Puyung ; Tanpa sarana (tangan kosong) untuk menenangkan pikiran
  2. Sembah dengan memakai bunga merah ditujukan kepada Sang Hyang Surya Radhitya sebagai saksi dalam persembahyangan
  3. Sembah dengan memakai bunga / kewangen ditujukan kepada Sang Hyang Widhi Wasa memuja keagungan-Nya , memohon waranugraha
  4. Sembah dengan bunga atau kewangen ditujukan kepada para Dewata atau Dewa Samudaya, yaitu para Dewata dan Bhatara - Bhatari leluhur untuk memohon tuntunan-Nya
  5. Sembah Puyung ; Tanpa sarana dengan maksud menerima limpahan anugrah Sang Hyang Widhi.
Panca Atma; Lima jiwa / pikiran, antara lain :
  1. Paratma : Berada di mata pekerjaannnya untuk melihat
  2. Antaratma : Berada di kulit pekerjaannya untuk merasakan
  3. Sukmatma : Berada di telinga pekerjaannya untuk mendengar
  4. Niratma : Berada di mulut pekerjaannya untuk bicara
  5. Atma : Berada di hati pekerjaannya untuk berpikir

Sabtu, 04 Mei 2013

Kebahagiaan Bukanlah Reaksi

Bukan Sorga Bukan Neraka

Kebahagiaan Bukanlah Reaksi. 

Selembar kertas yang dicelupkan ke dalam air niscaya akan basah. Ini sifat alami yang menunjukkan suatu reaksi sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Nah, bagaimana halnya kalau seseorang dicelupkan pada suatu persitiwa atau keadaan ? Bila ada anggota keluarga yang meninggal, maka mereka yang ditinggalkan bereaksi secara mental dalam bentuk kesedihan. Air matanya bercucuran dan pikirannya menerawang. Apakah ini contoh rekasi mental terhadap sebuah keadaan ? Tampaknya memang ya, tetapi bila diteliti lebih lanjut, apa yang terjadi tersebut bukanlah reaksi mental. Kesedihan itu hanyalah petunjuk pada seseorang, bagaimana ia memahami peristiwa kematian itu.

Kasus lain bisa dipakai sebagai alat uji. Biasanya, jika orang yang mati pada usia muda, apalagi pernah berbuat jasa pada suatu komunitas kelompok atau lingkungan tempat tinggalnya, entah kepada keluarga, desa atau negara, maka akan memunculkan kesedihan lebih hebat orang-orang sekitarnya. Berbeda keadaannya bila yang meninggal adalah kakek uzur, maka kesedihan keluarga tidak separah peristiwa sebelumnya. Mungkin mereka menganggap si kakek sudah wajar meninggal, sudah umur.

Ada contoh lebih ekstrim. Misalnya bila orang yang begitu dekat dengan  diri kita meninggal sebutlah pacar, saudara, anak, orangtua dan sebagainya, maka sudah pasti kesedihan itu begitu menusuk. Namun tengoklah bila seorang penjahat kehilangan teman

Rabu, 01 Mei 2013

Lurusing Lathi, Leresing Karep, Lirising Laku, Larasing Karsa

Buku Falsafah Jawa
   Lurusing Lathi, Leresing Karep, Lirising Laku, Larasing Karsa.
Jawa merupakan pulau yang pernah menjadi pusat peradaban sekaligus kejayaan Hindu selama kurang lebih sekitar 1000 tahun. Sebagai pusat peradaban  Hindu di masa lampau, maka tidaklah mengherankan jika hampir semua pemikiran-pemikiran Hindu telah terpatri menjadi bagian dari peradaban atau kebudayaan Jawa itu sendiri. Lebih-lebih pasca proyek besar mangjawaken byasamata pada abad ke-10 di bawah pemerintahan Raja Dharmawangsa. Bahkan surutnya peradaban Hindu dan berkembangnya peradaban Islam di Jawa, tidak menjadikan peradaban Jawa meninggalkan pemikiran-pemikiran Hindu sebelumnya. Justru sebaliknya ketiga peradaban itu malah bermozaik menjadi suatu isme baru yang dikenal sebagai javanisme atau kejawen.

Budaya Jawa sebagai perkembangan cipta, rasa dan karsa menusia Jawa telah dikenal sebagai budaya yang adi luhung. Keseluruhan budaya Jawa tersebut juga menjadi dasar pemikiran-pemikiran orang Jawa dalam memahami hakekat. Pemikiran-pemikiran inilah yang kemudian memunculkan pandangan hidup Jawa yang dikenal sebagai filsafat atau falsafah Jawa.

Pada hakikatnya falasafah Jawa timbul dari kecintaan orang Jawa untuk ngudi kasampurnan (mencapai kesempurnaan hidup) yang juga sebagai tujuan hidup orang Jawa itu sendiri. Untuk mencapai kesempurnaan hidup itu maka mereka memerlukan “ngelmu kasunyatan

Translate

Famous - Sane Pinih Kasub