Selamat Datang

Lirik Lagu Pop Bali Anak - Bapa

Bapa Arinka Lagu Pop Bali Anak // Bapa - Arinka // Officcial video clip 2017 Cipt. Ary Kencana Musik. Dek Artha Vocal. Arink...

Sabtu, 29 Juni 2013

Gunung Cala Lingga Bali

Nama lain Gunung Batur adalah Gunung Cala Lingga
Kaldera Gunung Batur Bali
Gunung Cala Lingga, Cala artinya tidak bergerak dan tidak dibuat oleh manusia, dan Lingga artinya Linggih Abadi tempat para Dewa. Gunung Cala Lingga adalah nama dari Gunung Batur.


KRONOLOGIS PEMBENTUKAN KALDERA BATUR

Gunung Bumbulan (Bubulan, Dungulan, Penulisan), Gunung Payang dan Gunung Abang menjadi satu dengan Gunung Batur Purba yang ketinggiannya 3500 meter dari permukaan laut. Amblasnya bagian atas kerucut yang membentuk Kaldera Satu, kira-kira 29.300 (SM) sebelum Masehi dimana Gunung Abang berdiri sendiri lebih kurang 2152 meter dari permukaan laut dan merupakan sisa kerucut tubuh dari Gunung Batur Purba.

 

Amblasnya yang kedua kali kira-kira 20.150 (SM) sebelum Masehi dimana kerucut Gunung Payang, kerucut Gunung Bumbulan/Penulisan membentuk undag (teras) Kintamani. Inilah yang membentuk Kaldera Batur, kaldera terindah dan berair (danau). Menurut Penglingsir desa Pakraman Batur, Danau Batur merupakan danaunya / tamannya Ida Bhatari Dewi Danu sampai ke Penelokan.
Lalu Timbul Gunung Kecil berpucak dua (anak Gunung Batur Purba) di tengah Danau Batur, yaitu Pucak Kanginan dengan desa Pakraman Batur, Jro Gede Kanginan dan Pucak Kawanan dengan desa Pakraman  Batur , Jro Gede Kawanan.

Nama Lain Gunung Batur



Nama gunung sebelum bernama Gunung Batur yang berpucak dua adalah :
  1. Gunung Cala Lingga, Cala artinya tidak bergerak dan tidak dibuat oleh manusia, dan Lingga artinya Linggih Abadi tempat para Dewa.
  2. Gunung Sinarata, artinya Merata Kena Sinar
  3. Gunung Tampurhyang / Tempuh Hyang, artinya Tampak Ida Betara, tanda Ida Betara dalam perjalanan yang di Gogong oleh Pamucangan.
  4. Gunung Lebah, artinya rendah
  5. Gunung Ederan, artinya dikelilingi bukit
  6. Gunung Lekeh, artinya melingkar
  7. Gunung Sari, artinya inti atau utama
  8. Gunung Indrakila, artinya dikelilingi oleh munduk
  9. Gunung Kembar, artinya pucak (puncak) dua
  10. Gunung Catur, artinya merepat (bersegi empat)
  11. Gunung Batur, artinya suci.

Gunung Batur Meletus
Menurut isi Lontar Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, pada bagian Babad Pati Sora dijelaskan pada tahun Candra Sangkala :
  1. Angeseng Sasi Wak yaitu Tahun Saka 110 ( 188 Masehi ) Gunung Batur meletus
  2. Wak Sasi Wak yaitu Tahun Saka 111 ( 189 Masehi ) Gunung Batur meletus
  3. Tahun Saka 112 ( 190 Masehi ) Gunung Tuluk Biyu meletus
  4. Wedang Sumiranting, Ksiti yaitu Saka 114 ( 192 Masehi ) Gunung Batur meletus lagi
  5. Dari tahun 1804 sampai tahun 2000 Gunung Batur meletus sebanyak 30 kali, dan yang paling dahsyat meletus pada tanggal 2 Agustus - 21 September 1926 yang laharnya menimbun Desa Batur dan pura Ulun Danu Batur.

Pada tanggal 2 Agustus dan berakhir tanggal 21 September 1926 , terjadi letusan yang dahsyat dan besar namun gerakan laharnya lambat, walaupun seluruh desa Batur terendam lahar, namun berkat Batun Sendi Ida Batara ; Bayung Gede, Sekardadi, Bonyoh, Selulung, Sribatu, Buahan, edisan, Abang, Trunyan dan lainnya Pralingga Ida Batara serta Gong Gede, Semar Kirang Bale Pelinggih Mamas-mamas (Tombak Lerontek) dapat diselamatkan dan diungsikan ke desa Bayung Gede. Selama di Bayung Gede pernah diadakan pujawali sebanyak dua kali. 
Masyarakat Batur berkeinginan untuk membangun kembali Pura Ulun Danu Batur pada tempat semula, namun pemerintahan saat itu memberikan tempat baru yang disebut Kalanganyar, sehingga Pura Batur yang dibangun seperti saat ini sangat sama keadaan, posisi pelinggih dan lainnya seperti saat masih berada di sisi Danau Batur.  Pada bulan April 1935 dilaksanakan Ngusaba Kedasa pertama kali di Pura Danu Batur.

Sumber bacaan, Selayang Pandang Pura Ulun Danu Batur, Desa Pakraman Batur, Kintamani - Bangli.

Selasa, 25 Juni 2013

Sivasamkalpa Mantra

Pikiran yang mempunyai kekuatan
Pemusatan Pikiran
 Sivasamkalpa Mantra Yaj jagrato duram udaiti daivam tad u suptasya tathaiva iti, Duram gamam jyotisam jyotir ekam tanme manah siva samkalpam astu. (Yayurveda :34.1)

Pikiran yang dengan kekuatan (yat devam) pada saat sedang bangun (jagratah) pergi jauh ke mana-mana (duram udaiti), demikian juga pada waktu tidur (tad u suptasya) pergi atau berjalan ke mana-mana (tatha eva eti). Pikiran yang demikian (tat) yang pergi ke mana-mana (duram gamam) dan paling bercahaya atau bersinar dalam semua cahaya (jyotisam jyoti) adalah hanya satu, yaitu pikiran (ekam), dengan demikian "oh Tuhan, pikiran seperti itu (tan me mana) akan menjadi tenang, damai, dan memiliki pikiran yang baik atau positif dalam lindungan-Mu (siva samkalpam astu)"
'Pikiran yang mempunyai kekuatan, pada saat bangun demikian pula pada waktu tidur pergi mengembara, pikiran yang demikian bercahaya pada segala cahaya adalah satu. Dengan demikian oh Tuhan pikiran seperti itu semoga menjadi tenang, damai, dan baik berdiam dalam lindungan-Mu'.
 


Dalam mantra tersebut dimohon supaya pikiran (manas) selalu tenang. Dalam seluruh Veda dan Upanisad serta dalam filsafat juga dijelaskan bahwa jika seseorang bisa mengendalikan pikiran maka dia sudah "menang" di dunia ini dan dia disebut jitendriya. Hal tersebut dijelaskan dalam yoga filsafat oleh Rsi Patanjali dalam sutra (yogascittavrtti-nirodhah) bahwa mengendalikan pikiran adalah yoga. Semua masalah di dunia ini diakibatkan oleh pikiran kita sendiri. Kita selalu mengikuti pikiran kita yang suka pergi ke mana-mana pada waktu kita sadar dan juga pada waktu kita sedang tidur, impian kita selalu pergi berkeliaran dan membuat kita pusing.

Dalam filsafat Vedanta dijelaskan bahwa ada tiga jenis pikiran, yaitu jagrat (pada waktu kita sedang sadar/aktif), Svapna (pada waktu kita mimpi), susupti (pada waktu kita tidur tanpa mimpi). Di sini kita bisa melihat bahwa pikiran selalu aktif dalam posisi pada waktu kita sadar dan juga pada waktu mimpi, sehingga dalam mantra tersebut dimohonkan supaya pikiran tidak ke mana-mana dan kita dapat tidur dengan tenang atau dalam posisi yang ketiga yaitu susupti.

Pada saat semua indria beristirahat, hanya atma yang tetap terjaga, dan pada waktu itulah atma bergabung dengan Tuhan. Setelah kita bangun, kita merasa segar dan sehat. Dimohon juga supaya kita tidak mendapatkan mimpi pada waktu kita tidur karena mimpi itu tidak baik bagi kesehatan.

Bahkan dalam Atharvaveda dikatakan seseorang yang banyak mimpi tidak akan hidup lama. Oleh karena itu, mantra tersebut begitu penting dan selalu perlu diucapkan sebelum tidur.

Pikiran dianggap begitu hebat sehingga dalam veda terdapat banyak mantra mengenai hal itu, karena pikiran mengetahui tentang keadaan sekarang, keadaan dulu dan keadaan yang akan datang (yenedam bhutam bhuvanam bhavisyat ..../ Yayurveda:34-4). Juga disampaikan bahwa seperti seorang sarathi atau seorang penunggang kuda yang memegang tali bisa mengatur kuta dengan baik (susarathi asvaniva yan manusyanneyate.../Yayurveda : 34-6), demikian juga seseorang perlu mengendalikan pikiran karena pikiran adalah "tali kekang" tersebut dan indria-indria itu ibarat "kuda" serta penunggang kuda adalah 'buddhi".

Seseorang akan dapat hidup teratur dan tenang, karena pikiran jugalah yang menyebabkan kelahiran dan kematian serta yang menyebabkan moksa. Kehadiran mantra tersebut diperlukan dalam pikiran kita agar tidak menjadi "nakal" dan diusahakan untuk selalu tenang. Walaupun seseorang mempunyai kekayaan berlimpah dan mendapatkan posisi atau jabatan tinggi, jika pikirannya kacau, dia tidak bisa hidup tenang dengan fasilitas duniawi yang hanya sementara. Supaya pikiran kita mendapatkan ketenangan dalam hidup ini, kita hendaknya mengendalikan pikiran dan berusaha menyatukannya dengan Tuhan melalui mantra tersebut.


sumber bacaan 108 Mutiara Veda Untuk Kehidupan Sehari-hari  Oleh DR. Somvir , Penerbit Paramita Surabaya, 2001

Rabu, 19 Juni 2013

Ampas Kehidupan

Masa Paling Indah

  Dalam tubuh manusia terdapat rupa nan indah, sedangkan di bagian dalam mungkin perutnya berisi makanan dan di usus besarnya tersimpan kotoran busuk. 

Begitu juga dalam kehidupan seseorang, dimana yang terkesan baik dan terlihat buruk bersatupadu dalam satu wadah. Semuanya merupakan suatu proses, suatu kesatuan unit yang mesti dipahami dengan cerdas sebelum menolak sesuatu dan sebelum memvonis diri hidup menderita.

Bayangkanlah, dimana setiap hari lidah menikmati hidangan lezat atau mungkin berciuman dengan lawan jenis yang begitu menggiurkan dan mengundang selera, sementara saban pagi orang harus jongkok di WC (termasuk masturbasi-red) untuk buang kotoran. Dapatkah orang mengatakan si lidah bernasib mujur dan si anus menanggung aib dan derita ? Apakah dengan demikian lantas dengan bernafsu dan marah berkilat mencungkil anusnya supaya tidak ada lagi kotoran yang keluar tiap pagi ? Baca Rumus Kedamaian

Demikianlah dalam kehidupan ini orang terlalu cepat terburu nafsu ingin melenyapkan gejala keburukan dalam hidupnya dan dilain pihak memanjakan setengah mati apa yang dianggapnya bernilai. Semuanya hendaknya dilihat dari tatanan fungsi dan seyogyanya setiap fungsi dipelihara dengan baik. Seperti halnya tubuh setiap hari memproduksi kotoran sebagai sisa makanan yang tidak diserap tubuh, atau ampas. Maka apa yang kita sangka penderitaan boleh jadi merupakan ampas atau sisa makanan mental yang tidak sanggup diserap oleh mental. Kebusukan yang banyak dibenci dalam hidup ini seperti kemiskinan, kehinaan, penyakit.

Jumat, 14 Juni 2013

Leak Bali

Bog-Bog Bali Cartoon
  Leak lan Pangiwa Matiosan ? Kocap, leak lan aji pangiwa nika mabinayan ? Napike patut asapunika ? olih : Juliana taman bali ring blog Sutha Abimanyu

Liak kebaosang tuah Lina Aksara (Aksara Mati); Laya Aksara (Papitehan Aksara); Linging Aksara (Kecap Aksara/Munyin Aksara); 


suksemannyane pateh sakadi tiuk, yan tiuke ada ring tangan ibu-ibu sane majejahitan pastika lakar ngawetuang canang anggen ngrastitiang jagat. Kewala yaning tiuke ento wenten ring tangan para garong/penjahat pacang dados penyabut nyawa, sane puniki  kabaosang liak matah. Nah ada nak wikan maosang yen suba bisa ngidupang saananing aksarane ane mati ento, kone anake suba madan bisa ngeliak.

indik liak utawi leak, desti, teluh naranjana, aji wugig, pelet (bukan celak-red) maka miwah sane lian-lianan kawiaktiannyane pateh sakadi kabaos ring ajeng inucap, sakemawon indik tatuek maka miwah pangaptiannyane matiyosan. Indike punika meweh kabuktyang kawentenannyane. Yening pacang uning indike punika mangdane mlajahin sastra maka miwah ngelarang tapa brata yoga samadhi sane pingit turmaning mauttama. mawinan sampunang pisan nyugjagang indike punika duaning nenten pacang mikolihang dharma pamutus, samaliha wenten kode etik-nyane, kocap.

Selasa, 11 Juni 2013

Planet-planet Neraka

Prosesi Ngaben Bali **

Neraka Bagi Roh-Roh Berdosa. Neraka adalah tempat bagi roh-roh yang berdosa mendapatkan hukuman demi mempertanggungjawabkan hasil-hasil perbuatan semasa hidupnya. Orang yang bodoh akibat dipengaruhi oleh 3 sifat alam material, yaitu satvam (kebaikan), rajah (kenafsuan) dan tamah (kebodohan/kegelapan) sendrung berpikir dirinya sendiri adalah pelaku dari kegiatan-kegiatan. 

Mereka beranggapan bahwa tidak ada Tuhan yang mengatur dan menyaksikan apa yang mereka lakukan sehingga mereka sibuk dalam bermacam-macam kegiatan berdosa dan akibatnya mereka ditempatkan dalam neraka yang berbeda-beda setelah meninggal.

Planet-planet neraka terletak di angkasa pertengahan, di antara 3 dunia dan lautan Garbhodaka. Pitraloka juga terletak di daerah ini. Penduduk Pitraloka dikepalai oleh Agnisvatta yang bersemadi dengan khusuk kepada Tuhan agar keluarga mereka selamat. Planet Neraka (nerakaloka) terletak di antara Patalaloka dan lautan Garbhodaka, dengan rajanya bernama Yamaraja. Pembantu Yamaraja disebut Yamaduta, bertugas membawa roh orang-orang berdosa untuk diadili. Yamaraja sangat adil memberi hukuman pada roh yang berdosa. Semuanya didasarkan pada karma, vikarma dan akarma.
Planet-planet Neraka :

Jumat, 07 Juni 2013

SURYA SEVANA

Kembang Sembahyang Hindu
SURYA SEVANA

Pratarjitam bhagamugram huvema vayam putramaditeryo vidharta Addhrascidyamannyamanasturascidraja cidyam bhagam bhaksityaha.

(Yayurveda: 34-35)

Di Waktu pagi (pratah) yang penuh dengan kejayaan (jitam), penuh dengan kekayaan (bhagam), yang bercahaya terang (ugram) putranya antariksa yaitu Surya (aditehputram). Dan kepada Tuhan yang mengendalikan loka-loka (ya vidharta) kepada-Nya kami memuja dalam hati kami (vayam havema). Engkau yang mengendalikan seluruh lapisan (adhrah), Engkau mengetahui semuanya (yascit manyamana) yang memberikan hukuman kepada yang jahat (tirascit). Engkau rajanya semua mahluk (raja). Tuhan yang kita sembah (yam bhagam) saya menerima-Mu (ecitbhaksi) yang memberikan pesan kepada semua umat manusia bahwa semua menyembah Dia dan mengikuti peraturan-peraturan-Nya.

'Oh Tuhan, yang terwujud dalam aspek surya di pagi hari. Engkau penuh kejayaan, kekayaan, dan cahaya terang. Kepada-Mu, wahai Putra Antariksa, kami memuja. Kami juga memuja di dalam hati pada yang mengendalikan loka-loka, karena Engkau sesungguhnya pengendali seluruh lapisan. Engkau mengetahui semuanya, sehingga bisa memberikan hukuman kepada yang jahat'

Rabu, 05 Juni 2013

Nitidharma, Sakamadharma dan Niskamadharma

Bhimasena

Nitidharma, Spirit kepemimpinan dari serat Mahabharata
Adakah di antara kita yang tak mengenal Mahabharata ? Epos Mahabharata salah satu itihasa yang disebut sebagai Weda kelima mengisahkan perebutan "kekuasaan" di antara keluarga Bharata jaman Bharata warsa. 

Maha Rsi Vyasa, menggubah kisah kuru itu menjadi karya sastra yang indah dengan inti filsafat kehidupan, sarat nilai-nilai adiluhung yang tak lekang didera zaman. Untaian mutiara nilai itu telah merasuki setiap relung kehidupan masyarakat. Bahkan mengilhami dan memperkaya imajinasi serta kreativitas bangsa dalam membangun kebudayaannya. Betapapun arus perubahan melanda, menggoyahkan sendi-sendi eksistensi budaya bangsa, dimana-mana terjadi krisis mental kepemimpinan, degradasi nilai moral spiritual, serat Mahabharata tetap memberi inspirasi dalam semua aktifitas catur warna, sudra, waisya, ksatria dan brahmana.

Adakah serat Mahabharata untuk para pemimpin?

Di antara keresahan berbagai kalangan tentang merosotnya nilai-nilai kepemimpinan dewasa ini, penting kiranya kita membuka kembali lembaran epos Mahabharata untuk memperkokoh keyakinan yang mendalam terhadap kebenaran ajaran Dharma, terutama bagi para pemimpin sebagai "Nithi" dalam menjalankan Dharma sebagai kewajiban dan hukum kodrati yang sangat diperlukan dalam menata kehidupan masyarakat. Ajaran utama Mahabharata, menyarankan setiap manusia terlibat dalam simbiosis kerja tiada henti dengan Dharma sebagai pijakan. Dalam kondisi itu bila Dharma diingkari, maka akan tergelincir ke jurang kenistaan.

Senin, 03 Juni 2013

Kawin Paksa

Sekarang raja menginginkan menjadikan Abimanyu menantunya, tapi menyembunyikan pikiran itu di dalam hatinya,
Tidak ingin dia mengatur pernikahan dengan putrinya karena takut akan konvensi duniawi,
Jika mereka datang bersama-sama itu harus tanpa karena mereka diberitahu, dan mereka harus menanggung harga kepahlawanan,
Itu akan menjadi yang terbaik, pikirnya, karena dia juga pernah mengalami suka cita cinta yang dimenangkan melalui kekuatan senjata.
[...]
Lebih-lebih dulu raja sering berkata,
Bahwa ia memuji kebanyakan pahlawan yang menculik wanita yang dicintainya,
Kualitas ilahi pada wanita harus dibayar dengan keberanian,
Tentu saja dasarnya bahwa cinta yang dimenangi dengan kemampuan sebagai sarana.
(Mpu Panuluh, Ghatotkacasraya 3:2, 21:8, abad ke-12, jawa)
Arjuna

Kawin Paksa adalah bentuk perkawinan paling umum yang digambarkan dalam kakawin- baik itu dengan cara melarikan atau penculikan. Satu-satunya kawin paksa yang digambarkan dalam kakawin adalah sebuah penculikan dalam arti yang sebenarnya yaitu penculikan Arjuna terhadap Suprabha. Penculikan ini adalah tema yang paling disukai baik dalam karya sastra  dan tradisi budaya Jawa dan Bali.