Rabu, 12 Februari 2014

Penengen, Magis dan Sisi Kanan

Tumbal Azimat melawan sihir
Tumbal, Azimat melawan Sihir
Penengen, Magis dan Sisi Kanan. Melawan pengiwa yang menakutkan terhadap magis yang menetralisir yang digunakan oleh para pendeta da dukun untuk melindungi pelanggan mereka dari leyak sebuah magis sama kuatnya dengan yang dipunyai tukang sihir dan mengandung unsur-unsur yang sama seperti magis dari "kiri" - rumus (mantra), pesona (serana), dan azimat (penawar, sikepan, pergolan, tetulak).
Pesona yang khas adalah kelapa "kuning", daun dadap, bawang merah dan garam, bunga, gosokan emas, air hujan yang dikumpulkan dari tanaman, kampor, minyak lampu menyala yang diberi wewangian, pisang kembar, di atas barang-barang tersebut sebuah rumus diucapkan.
Azimat-azimat ini sering berupa gambar setan dan dewa-dewa yang didistorsi secara luar biasa, dikelilingi dengan simbol-simbol rahasia, digambarkan pada secarik kain putih baru atau piagam tipis dari perak atau tembaga, yang dikenakan pada pinggang, digantung di atas gerbang rumah atau di depan lumbung padi.

Gambar-gambar yang ditorehkan pada bendera-bendera kecil ini disebut tumbal, mungkin merepresentasikan senjata-senjata (senyata) bagi para dewa, atau mungkin gambar-gambar Batara Kala, Batara Gana, atau representasi yang aneh dari Tintya Dewata Bali yang abstrak dan membangkitkan minat, dikenal juga sebagai Sanghyang Tunggal - Yang Tak Terpikirkan, yang Sendiri, Tuhan Sejati.
Tintya sering muncul di dalam benda-benda ritual di dalam bentuk patung lelaki telanjang, tegak dengan nyala api berbentuk trisula yang muncul dari kepalanya tertangkup di dalam sikap berdoa dan kaki kanannya bertumpu pada roda api, sebuah cakra. Tintya yang digunakan sebagai azimat gaib secara luar biasa didistorsi, sering di dalam berbagai posisi yang tidak masuk akal, dengan banyak kepala, atau hanya kepala Tintya pada bentuk-bentuk abstrak dan geometris.
"Rangda" dan berbagai macam setan yang digunakan sebagai tumbal dimaksudkan untuk mengusir, dengan magis yang simpatis, hantu-hantu dan serigala jadi-jadian yang mengganggu dan menganiaya orang Bali. Baca Tingkat Pelajaran Ilmu Leak.

Rumus gaib dari "kanan" [penengen] sering kali doa-doa sederhana, rangkaian doa-doa dari nama-nama arwah-arwah pelindung dan mengutuk untuk menakut-nakuti serta mengacaukan leyak. 
Contoh-contoh di sini diambil secara acak dari naskah penengen yang ada :
"Ih, deriya mata malem, lima langah, batis jojo ..."
"...........kamu yang berhati jahat, matamu dibutakan, tanganmu dilumpuhkan, kakimu tak berguna."

"Ne manusa luwih penguruh merta sandi mantra, ngijing sai, ring awaku petang lemah, ala-ayu, ane nunggu aku apangeda mati ngipi, mati ngawag-ngawag, tan kuwasa molah."
"..... yang tinggi dan terpelajar yang memahami rumus-rumus, jagalah tubuhmu siang malam, dalam keadaan baik maupun buruk, mereka menjagaku sehingga aku tidak akan mati di dalam mimpiku, matilah dalam keadaan sehat, Jangan takut"
"Ong, saremula, sutajaniya kadi kangin ngikehing akasa, tula tumpu umahku alas agung macan mengiderin, lelo tumpuragung siu leyake membah, sing serana punah pegawen sandelung, paweh dewa punah, teka punah."
"Ong! Kata yang Sejati, yang kecemerlangannya seperti udara yang mengisi langit, sinarnya pada rumah, hutan belantara dikelilingi oleh harimau. Seribu ahli sihir membungkuk padaku dengan tanpa melawan dan dengan rasa takut [tersebab] azimat yang diberikan pada musuh-musuhku oleh dewata telah usang dan rusak...."
"Ong ang ung mang ang ah. Aranku Sanghyang Sukla Wisesa, tumurun aku ring Surya amor ring Sanghyang Ulan, anunggang aku Kala Rahu, gelunganku winten petak, sarwa dewa kasih, anelengku Sanghyang Tintya, wetu Sarad Manik, apayong aku jenar, anelang aku ring Brahmka, metu geni melesat sejagat, sekuwihning buta pereselk geseng, leyak geseng, Banaspati Raja geseng, teka geseng..."
"...Ong! Ang ung mang ang ah. Aku Sanghyang Sukla yang Kuat. Aku turun bersama matahari dan rembulan, aku di atas Kala Rahu. Hiasan kepalaku mempunyai intan putih dan dewa-dewa mengasihiku. Sanghyang Tintya dan Sarad Manik menerungkan aku, payungku kuning dan Brahma mengagumiku. Api turun! Bersihkan negeri dan bakarlah semua setan, bakar semua tukang sihir, bakar Banaspati Raja, bakar mereka semua...."

Di dalam banyak rumus ini, para leyak, setan dan bahkan roh-roh yang lebih tinggi dengan tanpa belas kasihan disiksa dan sering ada frasa-frasa dengan apa tukang sulap yang dimuliakan menempatkan dirinya sendiri pada pijakan yang setara dengan dewa-dewa bahkan di atas mereka. Jadi, mudahlah untuk memahami mengapa orang Bali takut mengucapkan rumus-rumus dan mengapa mereka merasa bahwa hanya mereka yang sangat siap atau secara alamiah orang-orang sakti seperti para pendeta boleh melakukannya dengan bebas. Baca Kode Etik Balian. Banyak pendeta dan dukun secara tulus percaya mereka mempunyai di dalam diri mereka sendiri kekuatan-kekuatan setara dengan arwah-arwah, tetapi orang kebanyakan yang memandang kagum pada semua permainan sulap, baik dengan membeli azimat yang sudah diperkuat dengan rumus dari pendeta atau dukun tau, selalu banyak akal, tergantung pada sesaji, kerasukan dan pertunjukan dramatik pengusiran setan berupa sandiwara dan tarian seperti calonarang atau sanghyang , ketika dewata sendiri menyediakan azimat yang diperlukan.
Sumber bacaan buku Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan oleh Miguel Covarrubias. (RANBB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu