Sad Guru berkata ," Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kau cintai, kau hormati dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi."

Baca Dulu Kawan

OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM -
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

Jumat, 10 April 2015

Peralatan dan Sesajen Untuk Memandikan Jenazah

tikar pandan
Tikeh Plasa Pengulungan
 Peralatan dan Sesajen Untuk Memandikan Jenazah. Upacara Pitra-yajna adalah penyucian dan "meralina" serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran agama Hindu. Upacara ini berlandaskan pada ajaran Tri-Rna, khususnya Pitra-Rna yaitu hutang karma kepada orang tua atau Leluhur. Oleh karena itu patut diselenggarakan oleh anak, cucu, para sentana dan keluarga terdekat. Baca Menghitung Jasa Leluhur





Peralatan dan Sesajen untuk memandikan jenazah.
  1. Pepaga. Sebagai tempat memandikan jenazah dibuatkan sebuah dipan darurat dari bambu; tingginya kira-kira 1 meter, panjang 2 meter dan lebar 75 cm. Dipan ini disebut "Pepaga". Sebagai alas digunakan dua lembar daun pisang yang masih utuh, lengkap dengan ujungnya. Yang dianggap baik untuk maksud ini adalah daun pisang kepok (pisang dangsaba)
  2. Air. Dalam upcara ini digunakan tiga jenis air, yakni : Air Cendana (air bekas gosokan kayu cendana), air yang bersih (yeh anyar) dan air dicampur dengan bunga-bunga yang harum serta minyak wangi, atau yeh kumkuman
  3. Pembersihan. Sesungguhnya yang disebut pembersihan adalah sejenis sesajen berisi peralatan untuk membersihkan gigi, rambut dan badan. Seperti; Ambuh (untuk mencuci rambut) yang terbuat dari daun kembang sepatu atau kelapa yang diparut, minyak wangi, Sisir untuk membersihkan gigi yang terbuat dari jajan yang dibakar sampai gosong, Kekosok (untuk menggosok badan) dibuat dari tepung beras berwarna putih dan kuning, Tepung tawar dibuat dari daun dadap, kunir dan beras ditumbuh menjadi satu, Bija dibuat dari beras, dicuci kemudian dicampur dengan cendana atau bunga yang harum. Peralatan tersebut masing-masing dialasi dengan "tangkih" dilengkapi dengan sisir, cermin dan bunga yang dialasi "sampian payasan"
  4. Menggulung Jenazah. Untuk menggulung jenazah diperlukan satu lembar "Penekep" yaitu kain hitam untuk menutup alat vitalnya (panjang 1 jengkal persegi + 30 - 40 cm), Talin itik-itik yaitu seutas benang putih untuk mengikat menyatukan kedua ibu jari kakinya (panjang cukup untuk 3 kali ikatan). 
  5. Pakaian untuk Wanita. Sinjang yaitu sejenis pakaian dalam berupa selembar kain berbunga-bunga atau polos panjang 1 1/2 meter lebar 90 cm, satu lembar kain panjang batik atau tenunan, Stagtin yaitu ikat pinggang khusus untuk wanita panjang 3 meter, Selendang dibuat dari kain warna polos putih atau kuning, panjang 1 1/2 meter lebar 90 cm. Pakaian untuk Pria, selembar kain panjang tenunan atau batik, ikat pinggang seperti pada wanita, satu lembar kain panjang untuk "kampuh" yaitu satu lembar kain polos atau berbunga panjang 1 1/2 meter, pada salah satu sisinya ditempeli pinggiran khusus yang disebut "tepi". Satu lembar "umpal" atau selendang, satu lembar "destar" batik atau kain putih. 
  6. Kain Putih untuk menggulung jenazah, panjang 2-3 meter sesuai dengan tinggi orang yang meninggal, disebut dengan "kasa pengulungan" . Kain pengulungan ini sedapat mungkin kain putih atau kain kafan. Tikar yang halus dibuat dari daun pandan atau yang sejenis, disebut "Tikeh Plasa Pengulungan". Tali yang sedapat mungkin dibuat dari bambu sesuai adat setempat. Beberapa kain untuk "rurub"
 Demikian secara singkat mengenai Peralatan dan Sesajen untuk Memandikan Jenazah, lebih lengkap dapat dibaca pada buku Panca Yadnya karya Ny. IGA Mas Mt.Putra. Semoga bermanfaat. (RANBB)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Buku Tamu

Translate

Famous - Sane Pinih Kasub