Selamat Datang

STATUS DAN KEDUDUKAN DIKSITA

STATUS DAN KEDUDUKAN DIKSITA Seseorang  yang telah di Diksa diberi status dan kedudukan sebagai seorang Sulinggih di masyarakat....

Sabtu, 11 Agustus 2012

RAMAYANA, Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi

Ramayana - Kanjeng Madi Kertonegoro

Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi. Kanjeng Madi Kertonegoro. Pulang ke Gianyar bagi Rare Angon Nak Bali Belog merupakan kesempatan emas untuk membeli buku terutama buku-buku Agama Hindu atau tentang Budaya Bali. Ramayana, Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi salah satunya yang sangat bagus sebagai bacaan yang akan memperkaya pengetahuan kita tentang Wayang Jawa dan Wayang Bali, serta kita dapat mempelajari kearifan budaya Indonesia, wawasan budaya dan sikap hidup.  


Bukan seperti di sinetron-sinetron TV atau lawakan dengan berlebel wayang. (red rare-angon)

Kisah Ramayana di Jawa & Bali banyak dipaparkan dalam pertunjukan wayang, baik wayang kulit, wayang wong, wayang golek, wayang beber maupun wayang-wayang lainnya. Wayang berasal dari kata 'wewayangan' atau bayangan. 

Wayang merupakan bayangan kehidupan nyata dunia ini. Dengan melihat wayang kita akan mengenal kehidupan ini. Wayang kulit mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat Jawa dan Bali. Yang terkenal saat ini ada Wayang Cenk Blonk (red rare-angon). Seorang sarjana barat Van Ferde setelah melihat pertunjukan wayang kulit di Jawa menjadi kagum dan seperti yang dikutip oleh Dr.A.Seno Sastromidjojo mengatakan :

"Pertunjukan wayang kulit itu merupakan suatu kesenian yang amat halus sifatnya. Diseluruh dunia tiada bandingannya. Pertunjukan yang dari boneka dihias secara bagus sekali dan daftar ceritanya berdasarkan puisi manusia dengan mutu tinggi, itu merupakan kesenian rakyat yang tiada persamaannya." . 


Ramayana Lakon Abadi Yang Pernah Terjadi Dan Diwayangkan Di Jawa & Bali. 


Ramayana adalah cerita epos India yang merupakan pengajaran Dharma atau kebajikan untuk umat manusia. Ditulis oleh Bhagawan Walmiki kira-kira lima ratus tahun sebelum Masehi. 

Ceriteranya menggambarkan kehidupan jaman Tretayuga. Ada pembagian jaman menurut tradisi India, yaitu; Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga dan Kaliyuga. Saat ini adalahm jaman akhir Kaliyuga. Dalam perhitungan sejarah purba manusia itu sendiri. Sampai kini pun banyak orang yang tetap mempercayai itu termasuk nenek moyang orang Jawa.

Kisah Ramayana itu sendiri sudah populer di India sebagai cerita sejak tahun 3100 sebelum Masehi, lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kisah Ramayana merupakan epos Aryanisasi (bangsa Arya) yang ditulis dalam bentuk stanza (sejenis puisi), meliputi 24,000 buah stanza. Ramayana terdiri dari tujuh kanda atau narasi atau episode. Banyak versi kisah Ramayana setelah penulisan oleh Walmiki, diantaranya adalah Bhattikavya atau Ravanavada yang ditulis oleh Bhatti pada abad ketujuh.

Di Indonesia ceritera Ramayana sudah terkenal sejak dulu, bukti-bukti
ceritera Ramayana bisa kita dapatkan sejak abad ke-9 Masehi, pada relief Candi Siwa 'Candi Larajonggrang' Prambanan, Jawa Tengah, juga terdapat pada Candi Penataran di Jawa Timur yang dibuat abad ke 14 Masehi. Ramayana di Indonesia digubah oleh Empu Yogiswara sekitar abad 10 Masehi. Versi ini ditulis secara ' kakawin ' atau puisi Jawa dalam bahasa Sansekerta. Empu Yogiswara menggali inspirasi dari situasi alam Jawa sehingga menghasilkan interpretasi Ramayana yang seperti kita warisi ini. 

Dihati rakyat Jawa, ceritera Ramayana sungguh menakjubkan dan menempati posisi yang spesifik. Walaupun ceritera Ramayana berasal dari India tetapi leluhur Jawa bisa mem-visualisasikan ceritera Ramayana seolah benar terjadi di Jawa. Dengan bentang alam dan langgam budaya, visualisasi tersebut sangat mengena. Gunung Ungaran (Ngrungrungan) yang menjulang di Jawa Tengah dipercayai sebagai tempat terkuburnya Dasamuka atau Rahwana. 

Tak jauh dari situ berdiri tegak sebuah bukit yang bernama Gunung Kendalisada dipercayai sebagai tempat Hanuman (Begawan Mayangkara) yang bertapa untuk menjaga keamanan pulau Jawa bila Rahwana bangkit. Karena kebangkitan Rahwana dari kuburnya akan membuat petaka dibumi Jawa. Di Lombok, Gunung Rinjani juga dipercaya oleh suku Sasak sebagai tempat tinggalnya Dewi Anjani (Ibu Hanuman). 

Itu semua tentu dimaksudkan agar kisah Ramayana yang merupakan ajaran DHARMA menjadi tak berjarak dengan rakyat Jawa dan Indonesia (red rare-angon). Dalam tradisi Bali, kisah Ramayana selalu diperdengarkan lewat kidung-kidung yang dinyanyikan dalam keperluan upacara-upacara adat maupun keagamaan.

Ramayana adalah ceritera yang keramat dan menjadi tuntunan hidup serta sangat dihormati oleh orang Bali. 

Kisah Ramayana di Jawa & Bali banyak dipaparkan dalam pertunjukan wayang, baik wayang kulit, wayang wong, wayang golek, Wayang Cenk Blonk (red) maupun wayang-wayang lainnya. Di Jawa & Bali, wayang kulit sudah dikenal sejak abad ke 9 M. Di Jawa sesuai prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung dari kerajaan Mataram kuna di Jawa Tengah tahun 907 Masehi disebutkan :

"..........Si Nalu macarita Bhima Kumara mangigal mara dan menari sebagai Kichaka. Si Jaluk mengisahkan ceritera Ramayana, Si Mukmuk berakting dan mebanyol, Si Galigi menceritakan wayang untuk persembahan kepada Tuhan dengan menceritan kisah Bhima Kumara ......"


Demikian juga pada Prasasti Bebetin di Bali yang dibuat pada jaman Raja Ugrasena tahun 896 Masehi menyebutkan adanya pertunjukan wayang. Tetapi tak disebutkan apakah itu wayang kulit atau wayang wong (orang). Kemungkinan besar adalah wayang kulit, mengingat wayang kulit pada saat itu dipakai sebagai sarana upacara adat dan agama. Selain itu kesenian wayang juga dikembangkan oleh Raja Airlangga, salah satu raja besar di Jawa Timur pada abad 11 M.

Saat ini wayang kulit di Jawa masih tetap digemari rakyat dan berkembang dengan baik. Wayang digunakan untuk upacara adat Ruwatan, sebuah upacara untuk keselamatan anak-anak yang diharapkan bisa terjauhkan dari kesialan-kesialan dalam hidupnya. Ceritera dalam ruwatan diambil dari ceritera Murwakala. Wayang ini dipentaskan siang atau sore hari.

Selain di Jawa wayang kulit menjadi pertunjukan yang sangat menarik untuk keperluan orang punya hajat ataupun perkawinan. Pertunjukannya diiringi oleh seperangkat alat Gamelan. Di Bali pertunjukan wayang kulit diiringi oleh gamelan gender wayang. Di Bali ada dua macam pementasan wayang yaitu :

1. Wayang Peteng : Wayang yang dipentaskan dimalam hari, jenis pertunjukan ini untuk odalan (upacara di Pura), juga untuk perkawinan atau kelahiran juga untuk pentas biasa.  

Lihat foto wayang lemah disini


2. Wayang Lemah : Wayang ini dipertunjukkan pada pagi, siang atau sore hari, itu merupakan wayang yang dipersembahkan untuk Tuhan dan tanpa memakai kelir seperti wayang peteng.

Di Bali ada berbagai jenis wayang menurut ceriteranya, yaitu : Wayang Parwa, Wayang Ramayana, Wayang Calonarang, Wayang Sudamala yang dipentaskan diwaktu upacara pembakaran mayat atau Ngaben, Wayang Sapuleger (Samirana) yang dipentaskan khusus bagi anak yang lahir di wuku wayang sesuai kalender pawukon. Bentuk wayang Jawa dan Bali banyak perbedaannya, wayang jawa besar-besar dan abstrak expresionisme, wayang Bali berbentuk realistic dan kecil-kecil. 

Tangan wayang Jawa panjang menjuntai menyentuh kaki, sedangkan tangan wayang Bali seukuran anatomi manusia dan perbedaan lainnya. Sesuai bentuknya wayang Bali lebih tua dari wayang Jawa. Wayang Bali bentuknya mirip relief yang terdapat di candi Jago, Jawa Timur yng dibangun diabad 13 M, sedangkan bentuk wayang Jawa yang sekarang tidak terdapat di relief-relief bangunan atau candi kuna di Jawa.

RAMAYANA Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi oleh Kanjeng Madi Kertonegoro. Penerbit Daya Putih Foundation. Dengan Budaya Lokal sebagai pilar Budaya Bangsa Indonesia yang akan membawa Indonesia kembali untuk berjaya di dunia Internasional. Rare Angon Nak Bali Belog

1 komentar:

  1. Banyak Figur dan Tokoh yang dimainkan dalam TV saat ini tidak mencerminkan sejarah dan "Menertawakan" kewibawaan budaya sendiri; tokoh-tokoh seperti Raja Dasaratha, Dewi Kekayi, Rama, Laksamana, Bharata, Sita, Jatayu, Sugriwa, Hanuman, Angada, Anila, Kapi Jembawanm Subali, Ramabargawa, Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, Kala Marica, Indrajit, Kataksini, Sokrasana, Wibisana, Trijata, Dewi Tara, Tualen, Werdah, Delem, Sangut, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Sarawata. Mana yang Dharma dan mana yang Adharma, tentu kita harus mempelajarinya terlebih dahulu..

    BalasHapus

Buku Tamu