Sabtu, 19 Mei 2018

PERAN SEBUAH TULISAN DALAM KEMAJUAN UMAT HINDU


            Sebagai UMAT HINDU, apakah peran dari sebuah tulisan bagi kemajuan umat Hindu ? Peran tulisan sangat penting sehingga diperlukan penulis-penulis dari umat Hindu itu sendiri. Kita ambil contoh artikel dalam dunia maya / internet, dari segi jumlah artikel tentang agama Hindu sangat jauh dibandingkan artikel agama yang lain, dari segi kebenaran tidak semuanya dipastikan mengandung unsur kebenaran hal ini disebabkan oleh adanya tujuan yang tidak baik dari si penulis. Sehingga tulisan yang benar dan penulis yang paham agama Hindu sangat diperlukan sebagai penyeimbang sekaligus menjadi konter serta koreksi dari tulisan yang negatif.

            Umat Hindu membutuhkan umat yang pintar, pandai dan bisa menulis, berani menyampaikan pendapat melalui tulisan. Kemajuan pesat terlihat dari kemampuan umat dalam ber-Dharma Wacana, menyampaikan pencerahan secara lisan kepada umat, namun pencerahan ini sudah seharusnya dituangkan pula dalam tulisan agar menjadi abadi, dapat dibaca kelak dikemudian hari dan turun menurun.

Selama masih belum ada tulisan karya umat Hindu yang dapat mempengaruhi umat dan selama penulisnya memiliki tujuan untuk menjatuhkan umat Hindu maka selama itu pulalah kita akan mengalami kemunduran baik segi kwantitas maupun pengetahuan agama dan sejarah. Tulisan pulalah yang membuat sejarah kerajaan menjadi berbeda, penulis dengan tujuan dan maksud menjatuhkan umat Hindu tentu akan menyampaikan hal-hal yang tidak benar. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang nyata guna menjaga kebenaran, salah satunya adalah dengan menulis dan mempublikasikan melalui media yang ada saat ini.

Banyak orang pintar, rajin membaca namun jarang menulis. Mereka punya banyak ilmu dan pengalaman, namun tidak pernah meneruskannya lewat tulisan. Hal ini sangat disayangkan, karena apa yang mereka miliki hanya akan bermanfaat buat dirinya sendiri. Akan berbeda halnya jika orang tersebut menuliskan apa-apa yang dia kuasai. Tentu dampaknya akan lebih luas. Dia bisa membawa pengaruh dan manfaat kepada orang lain dan akan terus berguna buat generasi selanjutnya.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.   Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer

BAGAIMANA KITA MENULIS ?

            Dasar kegiatan menulis adalah berani menulis. Terkadang kita terlalu memikirkan hal-hal yang rumit dalam menulis. Apakah tulisan saya enak dibaca ? Apakah tulisan saya bermanfaat ? Apakah tulisan saya bagus ? Dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita khawatir sendiri, sehingga kita tidak berani untuk memulai menulis.  

            Hilangkanlah semua kekhawatiran itu, mulailah menulis dan menulis. Menulis satu kalimat yang memiliki makna, kemudian disambung dengan kalimat berikutnya hingga menjadi satu paragraf. Bacalah paragraf tersebut dan pahami, segera koreksi kata yang tidak tepat dalam kalimat yang telah kita tulis. Demikian seterusnya, mudah bukan… ?

            Marilah mulai menulis sesuatu yang sederhana, yang ada disekitar kita dan dalam keluarga kita sendiri. Menulis kegiatan yang telah kita lakukan bersama keluarga atau teman, menulis saat berlibur bersama keluarga atau menulis biografy. Biografy diri sendiri yang sederhana seperti ketika masih kanak-kanak yang menyenangkan, atau biografy keluarga kita. Dengan berlatih mewawancara orangtua kita kemudian menuliskannya menjadi sebuah biografy dan pastinya akan bermanfaat bagi keluarga kita serta saudara-saudara kita. Terus berlatih dalam menulis adalah cara menjadi seorang penulis, membaca untuk mencari inspirasi menjadi penting saat kita  menulis. Kita akan menemukan tema-tema yang unik-unik saat menulis, pilihlah tema yang sesuai dengan usia kita, hobby kita, dan kemampuan pikiran kita.

            Pergunakan kemudahan teknologi saat ini untuk kita menulis. Dengan berbagai bentuk karya tulis yang ada seperti tulisan ilmiah, penelitian, makalah, opini, termasuk tulisan berupa novel, cerita pendek, puisi yang tentu bisa kita sharing dalam bentuk buku, majalah, tabloid, atau media online seperti website, blog, jejaring sosial dan sebagainya.

            Umat Hindu yang memiliki banyak kegiatan sosial dan keagamaan sangat memungkinkan untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, yang dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi. Hal ini sangat penting guna kemajuan umat Hindu, informasi-informasi yang tersebar luas tentang kegiatan umat Hindu pada suatu wilayah akan mempengaruhi motivasi pada wilayah lainnya, sehingga informasi / tulisan kita menjadi sebuah hal yang sangat penting dimasa-masa yang akan datang.  


            Segera nyalakan Laptop / PC dan mulailah Menulis

Sabtu, 28 April 2018

Tri Pramana

Tri, berarti tiga; pramana, berarti; cara, jalan ukuran. Tri Pramana mengandung pengertian; Tiga cara atau jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Tri Pramana terdiri pada : Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana dan Agama (“™abda) Pramana.

Pada Wrehaspati Tattwa 26, dijelaskan :
“Adapun orang yang menggunakan Tri Pramana: Pratyaksa, Anumana, Agama. Pratyaksa artinya dapat dilihat dan dipegang, Anumana artinya sebagai halnya melihat asap dari jauh, sebagai tanda bukti adanya api, dan Agama Pramana ialah pengetahuan yang diberikan (diceritakan) oleh guru. Orang yang menggunakan Tri Pramana untuk mendapatkan pengetahuan, maka dialah yang dapat mencapai pengetahuan yang lengkap”.


Penjelasan singkat mengenai Tri Pramana :
Pratyaksa Pramana :
Pengetahuan yang di dapat dengan cara pengamatan, penghayatan, pembuktian langsung dengan panca indriya (penglihatan, penciuman, pendengaran, sentuhan, dan raba).

Anumana Pramana
Pengetahuan yang di dapat dengan pemikiran yang logis, teratur, rasional, menimbang dengan akal berdasarkan tanda atau gejala-gejala yang kelihatan untuk menentukan atau menyimpulkan sesuatu. “ Yatra-yatra dhumah, tatra, tatra wahnih “ ( dimana ada asap, disana ada api )
Agama ( “™abda ) Pramana

Pengetahuan yang di dapat dengan jalan mendengarkan kata-kata saja tetapi belum pernah membuktikan secara langsung dengan panca-indriya.

Senin, 02 April 2018

KALIMASADA, Rekonstruksi Makna Hoax


Judul : Rekonstruksi Makna Hoax KALIMASADA Dalam Pewayangan Jawa
Penulis : Miswanto
Kata Pengantar : Prof. Dr. I Nyoman Nurjaya, SH., MH
Penerbit : Tri Murti

Kalimasada adalah bagian dari sejarah dan kesusastraan Hindu. Berawal dari kalmasa dalam kitab Mahabharata, kemudian menjadi kalima hasadha dalam Kakawin Bharatayuddha, dan akhirnya menjelma menjadi kalimasada dalam sastra lakon pawayangan Jawa.

Sayangnya kata kalimasada kemudian dibelokkan maknanya, bahkan makna hoax ini dipelihara sejak ratusan tahun silam

Buku ini mengkaji secara ilmiah dengan menyajikan sumber-sumber teks aslinya dari Itihasa Mahabharata dan Kakawin Bharatayuddha terkait dengan hoax kalimasada tersebut. Dalam buku ini pun, penulis mencoba meluruskan kisah dan makna kalimasada yang telah dikaburkan tersebut. Buku ini tentu bisa membuka tirai pemahaman masyarakat Jawa yang selama ini terttutup kabut kelam akibat hoax yang sudah mendarah daging tersebut.


Buku ini tiang dapatkan langsung dari penulisnya Mas Miswanto saat kegiatan Konsultasi Lembaga Kepemudaan Hindu 27-29 Maret 2017 di Jakarta. Semoga buku-buku Hindu semakin banyak yang menulis dan memberikan pemahaman-pamahaman secara kontekstual kepada umat ... Belajar Agama tentu saja tidak hanya berasal dari Buku Agama , namun juga dari buku-buku seperti ini ... 

Senin, 12 Februari 2018

Dewi Saraswati - Dewi Kata-Kata

Dewi Saraswati ; Dewi Kata-Kata
Dharma Wacana

Om Swastiastu

Bapak Ibu Umat Sedharma

Pada malam yang berbahagia ini, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Aji Saraswati, kehadapan sesuhunan kita karena berkat asung kerta waranugraha-Nya, kita dapat ngaturang bakti pada malam hari ini, serta dapat berkumpul bersama merayakan hari suci, hari raya saraswati.


Bapak Ibu Umat Sedharma, seperti kita ketahui bersama Hari ini adalah hari raya suci umat Hindu dalam kaitannya dengan turunnya Ilmu Pengetahuan ke dunia. Dewi Saraswati yang sudah kita pelajari sejak dibangku sekolah tentunya sudah kita pahami dengan baik. Ilmu pengetahuan itu memang menarik seperti seorang dewi yang cantik, siapa yang tidak tertarik dengan kecantikan ?

(bila ada yang tidak tertarik kecantikan, sebaiknya periksa ke dokter ….)

Malam ini, titiang akan mengupas hal yang sedikit berbeda, Dewi Saraswati nike juga dikenal dengan Dewi Kata-kata.

Kita mulai dari cerita Kumbhakarna, Ada kisah yang menarik dari saudara kandung Rahwana ini. Ia telah melakukan tapa dengan kuat yang menyebabkan kekhawatiran para Dewa akan kesaktian yang akan dianugrahkan kepadanya sebagai hasil tapanya itu.

Dewa Brahma atas desakan para Dewa meminta Saraswati berada di ujung lidah Sang Kumbhakarna lalu membelokkan kata-katanya apabila tiba saatnya ia memohon anugerah atas pelaksanaan tapanya.

Dan ketika saat itu tiba. Kumbhakarna pun berkata “ Prasupta-supta juga, meww-iwu warsanya taman pawungwa “ . Artinya “Memohon supaya hamba dapat tidur terus, bertahun-tahun tidak bangun-bangun.”

Apa yang dinyatakan ternyata berbeda dengan apa yang diinginkan, Dewa Brahma pun memberi anugerah sesuai dengan apa yang dinyatakannya.

Kisah ini yang termuat dalam kitab Uttarakanda dan Kakawin Arjuna Wijaya bukan saja menarik untuk direnungkan tetapi juga memberi pengetahuan kepada kita tentang kehadiran Dewi Saraswati. Dewi Saraswati kita ketahui sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan, dan hadir dengan kecantikannya yang mempesonakan.

Tetapi Dewi Saraswati adalah juga Dewi Kata-Kata, Sang Hyang Wagiswari, yang berstana di ujung lidah. Untuk itu marilah kita menggunakan ujung lidah ini dengan baik, karena kata-kata kita bisa guyub, karena kata-kata pulalah kita bisa berpisah.

Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia, Pengarang Kakawin Saraswati-puja setelah memohon supaya Dewi Saraswati menghilangkan kebodohan dirinya – sapunggungi hatingku hilangakna denta sapwani – mohon hilangkan kebodohan ku. Selanjutnya memohon supaya Dewi Saraswati berstana di dalam hati dan di ujung lidah dan di dalam kata-katanya – ring jihwantaraning tutuk ri wanananku kita juga gumantya tan saha.

Pada kisah yang lain, peran Dewi Saraswati sangatlah besar sebagai Dewi Kata-Kata.

Mpu Tanakung menjadikan Sang Hyang Wagiswari sebagai istadewatanya ketika menulis Kakawin Wrettasancaya,  sebuah Kakawin yang memuat kaidah-kaidah prosodi kakawin. (Prosodi adalah hal yang berkaitan dengan sastra, kajian tentang persajakan yaitu mengkaji tekanan, matra, rima, irama, dan bait dalam sajak) . Mpu Tanakung menulis :

Sang Hyang Wagiswari ndah lihati satata bhaktingku i jong Dhatredewi
Pinrih ring citta munggwing sarasija ri dalem twaslanenastawangku
Nityaweha ng waranugraha kaluputa ring duhka sangsara wighna
Lawan tastu wruheng sastra sakala gunaning janma tapwan haneweh

Artinya :

Sang Hyang Wagiswari (Saraswati) lihatlah senantiasa bhaktiku yang tak hentinya kehadapan-Mu Dewi Pencipta Alam
Hamba mengharapkanmu bersemayam dalam hatiku, yang senantiasa hamba puja

Agar senantiasa menganugrahi kemuliaan, sehingga luput dari duka nestapa dan halangan
Dan semoga hamba dapat memahami sastra, serta memiliki ketrampilan sebagai manusia, dan tidak ditimpa kesulitan.

Lewat bait Kakawin ini Mpu Tanakung menyatakan menstanakan Dewi Saraswati dalam padma hatinya. Kehadapan-Nya Mpu Tanakung memohon anugerah keselamatan dan pemahaman terhadap sastra, sebelum beliau melaksanakan keinginannya dengan menyusun buku pelajaran kakawin –kedomrakretang canda-sastra.

Demikianlah Dewi Saraswati mendapat pemujaan istimewa oleh para pujangga di masa lalu. Dewi Saraswati juga dijadikan perumpamaan bagi seorang putri yang cantik, berilmu dan bijaksana, seperti halnya Dyah Tantri dalam cerita Tantri Kamandaka

Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia,
Apabila pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung kita mengadakan Puja Saraswasti, itu berarti kedudukan Dewi Saraswati dalam agama Hindu begitu penting. Apabila pada hari suci itu kita mengumpulkan semua kitab suci, sruti dan smerti,  buku-buku agama kita, itu berarti kita telah ingat akan keberadaan kita sebagai umat beragama.

Dan apabila pada saat itu kita juga mengumpulkan dan mengupacarai kitab-kitab ilmu pengetahuan yang lain itu berarti kita mengangkat semua imu pengetahuan ke tingkat kesucian, ketingkat yang nantinya mengangkat martabat manusia.

Tetapi yang lebih penting marilah kita senantiasa memohon kehadapan Dewi Saraswati supaya menuntun kita ke jalan yang benar, jalan yang diterangi. Karena Beliau adalah penguasa Kata-Kata, semoga kata-kata yang kita ucapkan adalah wacika-parisuda dan tidak seperti Sang Kumbhakarna, apa yang kita pikirkan ternyata tidak sama dengan apa yang kita katakan.

Karena Beliau, Dewi Saraswati adalah penguasa Ilmu Pengetahuan, Dewi Kata-Kata, dan pada malam hari ini marilah kita sama-sama menstanakan Beliau dihati kita dan di ujung lidah kita. Semoga kita diberi ilmu pengetahuan yang dapat mengangkat derajat kemanusiaan kita dan tidak malah menyesatkan.

Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia, asapunika atur Dharma Wacana yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat. Apabila dalam penyampaiannya terdapat kekeliruan, tutur kata, titiang nunas geng rena sinampura.

Puputang titiang antuk paramasanti


Om Santih-Santih-Santih Om

Sumber Bacaan : Buku Wija Kasaur 

Selasa, 30 Januari 2018

Dharma Wacana

Rare AngonNak Bali Belog, Mencoba untuk membuat naskah Dharma Wacana dari berbagai sumber buku agama Hindu dan dipadukan dengan pendapat pribadi, semoga bermanfaat.

Om Swastiastu
Yang Kami Sucikan, Para Pinandita Lanang dan Istri
Yang Kami hormati, Para Pengurus Banjar
Yang Kami hormati, Seluruh Umat Hindu yang melaksanakan persembahyangan pada hari ini



Pada malam hari ini, setelah kita telah melaksanakan persembahyangan dan kini sedang nunas wangsuhpada Ida Bethara, ijinkan titiang ngaturang Dharma Wacana puniki, melarapan antuk pangastungkara , Om Swastiastu

Rasa syukur puja dan puji kita kehadapan Ida Sesuhunan, karena berkat waranugraha-Nya kita dalam keadaan sehat dan dapat melaksanakan swadharma dari pagi hingga menjelang malam ini, dan marilah lengkapi kebahagiaan ini dengan pengetahuan yang akan titiang sampaikan , yaitu tentang TAT dan SAT.

Sebuah sloka Bhagawadgita 17 : 23 menyatakan :

“ OM TAT SAT ini disebut tiga simbol dari Brahman. Dengan ini disebut Weda-Weda dan yajna-yajna serta disucikan para pandita ” .
Dengan demikian ketiga bija-aksara  itu menempati posisi sangat penting dalam seluruh simbol dalam kitab suci Hindu.

OM disebut juga sebagai pranawa mantra adalah aksara suci yang merupakan “sandhi” dari ANG, UNG dan MANG, sebagai simbol utpati (kelahiran), sthiti (kehidupan) dan  pralina (kematian). OM adalah juga hukum alam semesta, selain itu juga lagu suci alam semesta. Maka OM disebut juga sebagai nada-Brahma.



Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia, kembali kita ke TAT dan SAT, yang kita fokuskan adalah TAT dan SAT, dua bija aksara ini merupakan akar kata sejumlah kata kunci dalam ajaran Hindu.

Kata-kata sarat makna seperti tattwa, satya, satwam berasal dari akar kata tersebut. Demikian juga susunan kata yang menjadi ungkapan terpenting dalam filsafat Hindu mengandung bija aksara tersebut.

Tat twam asi ;  "aku adalah engkau, engkau adalah aku."

Sat cit anandam (sat cid anandam) ; kebenaran tertinggi dan kebahagiaan tertinggi

Satyam eva jayate ; Kebenaran Selalu Menang

Ekam sat wipra bahuda wadanti ;  "Tuhan hanya satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama"

Satyam, siwam, sundaram ; satyam (kebenaran/tatwam), sivam (kesucian), dansundaram (estetika/keindahan)
Dan lain sebagainya.

Tidak mudah menerjemahkan akar kata atau kata-kata tersebut. TAT artinya “Yang itu” menjadi Tattwa  yang artinya “Kebenaran, hakikat” . Ada 25 Tattwas yang dikenal dalam ajaran Hindu terdiri atas :

Panca mahabhuta (5 tattwas ), Panca Tanmatra (5 tattwas), panca buddhi indria (5 tattwas), panca karma-indria (5 tattwas), manah, ahamkara, buddhi,purusa dan pradana (5 tatttwas). Dan Siwa disebut sebagai Parama tattwa.
Banyak sumber atau kitab yang memakai judul tattwa, seperti Wrehaspati tattwa, Tattwa Jnana, Dwiwingsati tattwa, yang pada pokoknya menguraikan tentang ‘Hakikat Tujuan Hidup Manusia’

Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia

SAT dan Satya juga tidak mudah dicarikan padanannya dalam bahasa lain. SAT berarti   ‘Kebenaran Yang Tertinggi’, Satya berarti ‘Kebenaran, kejujuran’, menjadi amanat utama dalam karya sastra spiritual, seperti Ramayana  dan  Mahabharata.  

Tokoh-tokoh seperti Rama, Sita, Panca Pandawa, adalah tokoh-tokoh yang berjiwa satya, penegak kebenaran, jujur, adil, bersamaan dengan itu penuh keberanian. Karena mereka meyakini, hanya Satya  yang menang atau Satyam Ewa Jayate , bukan ketidak benaran atau kebohongan (anretam).

Maka sebait ‘ Mantram ’ dari Brihadaranyaka Upanisad yang sangat terkenal itu, baris pertamanya memuat kata-kata yang sangat berkesan : Om asato ma sat (d) gamaya, …….. ‘OM HYANG WIDHI, dari kepalsuan tuntunlah hamba-Mu ke jalan yang benar’.

Dan Gayatri Mantram  yang diambil dari Rg Weda, mantram yang sangat disucikan itu diawali dengan bija-aksara : OM bhur bhuwah swah tat sawitur ….. Sawitur nike tidak lain Sawitri, Dewa Matahari, sumber segala energi dan sumber segala sinar, karena Ia memberikan kecemerlangan fikiran, kesucian dan vitalitas hidup, tetapi juga Ia adalah simbol kebenaran yang tertinggi, kepada-Nya kita memuja !.

OM TAT SAT  bija-aksara yang mengajak kita merenung tentang hakikat, tentang hukum yang mengatur manusia dan alam semesta, tentang misteri alam semesta raya yang mengandung nilai-nilai spiritual, kebenaran, kesucian dan keindahan.
Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia

Dari uraian yang kami sampaikan, OM TAT SAT menjadi sangat penting untuk kita ucapkan, kita tuliskan dan kita sampaikan dengan baik dan benar agar doa tersampaikan pada penerima atau orang lain. Orang Bijaksana mengatakan “Kebaikan dapat disampaikan melalui Ucapan, Tulisan dan Pikiran Anda”.
Sebagai contoh, dewasa ini kita sangat sering menulis OM SWASTIASTU dengan singkatan OSA dan Om Santih Santih Santih dengan OSSSO.

Sesuatu yang keliru dan kurang mendidik bagi anak-anak kita. Mengingat doa dapat kita sampaikan melalui ucapan, tulisan dan pikiran. Om Swastiastu bukan sekedar salam, tetapi yang utama Om Swastiastu adalah Doa, yang artinya  “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”

Walaupun terkadang itu hanya singkatan yang nanti dibaca sendiri dengan Om Swastiastu, lalu apakah demikian jadinya bila yang menerima pesan itu anak-anak kita ?

Terkadang kita meminta kepada anak kita untuk membaca pesan yang sedang masuk pada SMS atau WA kita, dan terbaca OSA, sehingga terekam dalam fikirannya, salam kita OSA, dan doa yang kita sampaikan kepada penerima pesan /pembaca menjadi tidak tersampaikan.
Lebih lucunya lagi, dalam menulis pesan Salam Panganjali atau doa itu kita tulis dengan OSA, tetapi pesan yang disampaikan panjang dan bertele-tele ….. dimana sebenarnya salam dan doa itu kita harus tulis dengan lengkap Om Swastiastu dan Om Santih-santih-santih Om.

Marilah kita sama-sama menjungjung tinggi, kitab sastra kita, para pujangga dengan sabar menuliskan OM Swastiastu dan Om Santih Santih Santih Om  dengan lengkap dan kita merima pesan itu sejak lelulur kita dengan baik dan benar, dan saat ini menjadi tanggung jawab serta kewajiban kita untuk meneruskan kepada generasi mendatang dengan cara baik dan benar pula. Dan begitu seterusnya, tongkat estafet agama dan budaya kita teruskan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jangan sampe intinya atau tatwanya tertinggal ….

Bapak Ibu dan Umat Sedharma yang berbahagia, asapunika atur Dharma Wacana yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat. Apabila dalam penyampaiannya terdapat kekeliruan, tutur kata, titiang nunas geng rena sinampura.

Puputang titiang antuk paramasanti
Om Santih-Santih-Santih Om


Selasa, 02 Januari 2018

Nyepi Dan Saraswati Tahun 2018

KEPUTUSAN PESAMUHAN SABHA PANDITA PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA NOMOR : 07/KEP/SP/PHDI/XII/2017 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN HARI RAYA SUCI NYEPI DAN HARI RAYA SUCI SARASWATI PADA TANGGAL 17 MARET 2018.


Atas Asung Kerta Waranugraha Hyang Widhi Wasa Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Tahun 2017 telah menghasilkan keputusan yang sangat bermanfaat bagi umat Hindu di seluruh Indonesia dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 yang bersamaan dengan Hari Raya Saraswati.

Dalam keputusan, menetapkan bahwa Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Suci Nyepi dan Saraswati pada tanggal 17 Maret 2018 adalah sebagai berikut :
  1. Dalam pelaksanaan Hari Suci Nyepi dilakukan Catur Bratha yakni; 1) Amati Karya, 2) Amati Gni, 3) Amati Lelungan , 4) Amati Lalanguan.
  2. Upacara Hari Suci Saraswati tetap dilaksanakan dengan upacara (ritual) unsur karya, unsur gni, unsur lelungan dan unsur lelanguan.
  3. Terjadinya pelaksanaan hari Suci Saraswati dan Hari suci Nyepi pada hari yang sama dengan suasana yang berbeda mengingat Hari Suci Nyepi bersifat Niwrtti Kadharma (Spiritualisasi), sementara Hari Suci Saraswati Prawrtti Kadharma (Ritualisasi), merupakan anugrah yang istimewa dan sangan utama.

Dalam pelaksanaannya Pesamuhan Sabha Pandita memberikan tatacara pelaksanaan yang meliputi mengatur dan menata waktu pelaksanaan kedua hari suci tersebut sebagai berikut :
  1. Perayaan Hari Suci Saraswati dan upakara-yadnya dilakukan patut sudah selesai pada pukul 06.00 waktu se tempat pada hari Sabtu, 17 Maret 2018.
  2. Dalam pelaksanaan Puja Saraswati dan Upacara Tawur Sasih Kesanga sehari sebelum hari Nyepi, setiap desa atau panitia wajib melibatkan para Pandita/ Sadhaka di wilayah Provinsi, Kebupaten, Kecamatan, Desa bersangkutan secara proporsional.
  3. Pelaksanaan Hari Suci Nyepi dengan Catur Brathanya dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2018 dimulai pukul 06.00 waktu se tempat, sampai pukul 06.00 pada tanggal 18 Maret 2018.
  4. Pelaksanaan kedua Hari Suci tersebut wajib dipandang sebagai kegiatan yang saling mendukung antara Karma Kanda dan Jnana Kanda untuk memperkokoh Sraddha dan Bhakti umat Hindu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan persembahan upacara Sattwika oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.
  5. Umat Hindu Indonesia wajib melaksanakan dharma santhi sebagai rangkaian terakhir perayaan hari suci Nyepi yang dikoordinir oleh Parisada se tempat bekerja sama dengan lembaga keagamaan / lembaga keumatan atau desa di masing-masing daerah / instansi dengan menjunjung tinggi kearifan lokal.


Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat merupakan keputusan yang bersifat nasional demi menjaga kelancaran Hari Suci Nyepi dan perayaan Saraswati maka keputusan ini wajib ditindaklanjuti olah Parisada Provinsi seluruh Indonesia sampai pada tingkat terbawah.

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, 27 Desember 2017.


Selengkapnya silakan klik Keputusan Sabha Pandita

Rabu, 06 Desember 2017

SAD GURU


Sarvada sarva kalesu
sarvatra hari cintanam
Selalu, Disegala Waktu, Disegala Tempat
Tuhan DiMeditasikan


Hidup Adalah Tantangan, Hadapilah !!
Hidup Adalah Impian, Sadarilah !!
Hidup Adalah Permainan, Mainkanlah !!
Hidup Adalah Kasih Sayang, Nikmatilah !!




Sarva jiiva namaskaaram, Keshavam pratigachati
Siapapun Yang Kau Beri Hormat, 
Penghormatan Itu Mencapai Tuhan
Sarva jiiva tiraskaaram, Keshavam pratigachati
Siapapun Yang Kau Kecam,
Kecaman Itu Mencapai Tuhan


Senin, 06 November 2017

Kalender Bali 2018

Rerainan Hindu Kalender Bali 2018

Tahun segera berganti, Kalender Bali 2018 segera harus dimiliki agar kita dapat mempersiapakan kegiatan Yadnya kita sebagai umat Hindu. Yadnya yang dibutuhkan dalam setiap Rerainan, Piodalan, Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon, Saraswati, Siwalatri, Nyepi, Tawur Agung, Melasti, Tumpek, Buda Wage, Rambut Sedana ataupun Anggara Umanis serta kegiatan keagamaan lainnya.

Kalender Bali 2018
Januari 2018
Senin 01 Januari 2018, Soma Umanis Medangkungan Rerainan Purnama Kepitu
Rabu 10 Januari 2018, Buda Kliwon Uwudan / Matal Rerainan Kajeng Kliwon
Senin 15 Januari 2018, Soma Kliwon Uye Hari Raya Siwa Ratri
Selasa 16 Januari 2018, Anggara Umanis Uye Rerainan Tilem Kepitu
Sabtu 20 Januari 2018, Saniscara Kliwon Uye Rerainan Tumpek Kandang
Rabu 24 Januari 2018, Buda Wage Menail
Kamis 25 Januari 2018, Wrespati Kliwon Menail Rerainan Kajeng Kliwon
Rabu 31 Januari 2018, Buda Umanis Prangbakat Rerainan Purnama Kewulu

Februari 2018
Jumat 9 Februari 2018, Sukra Kliwon Bala Rerainan Kajeng Kliwon
Rabu 14 Februari 2018, Buda Kliwon Ugu Piodalan Pura Dharma Sidhi Ciledug
Kamis 15 Februari 2018, Wrespati Umanis Ugu Rerainan Tilem Kewulu
Sabtu 24 Februari 2018, Saniscara Kliwon Wayang Rerainan Tumpek Wayang
Rabu 28 Februari 2018, Buda Kliwon Kulawu Pemujaan Bhatara Rambut Sedhana

Maret 2018
Kamis 1 Maret 2018, Wrespati Kliwon Kulawu Rerainan Purnama Kesanga
Minggu 11 Maret 2018, Redite Kliwon Watugunung Rerainan Kajeng Kliwon
Jumat 16 Maret 2018, Sukra Kliwon Watugunung Rerainan Tilem Kesanga dan Pengrupukan
Sabtu 17 Maret 2018, Saniscara Umanis Watugunung Hari Raya Saraswati dan Nyepi Tahun Baru Caka 1940
Minggu 18 Maret 2018, Redite Paing Sinta Hari Raya Banyu Pinaruh dan Ngembak Geni
Senin 19 Maret 2018, Soma Pon Sinta Rerainan Soma Ribek
Rabu 21 Maret 2018, Buda Kliwon Sinta Rerainan Pagerwesi
Senin 26 Maret 2018, Soma Kliwon Landep Rerainan Kajeng Kliwon
Sabtu 31 Maret 2018, Saniscara Kliwon Landep Rerainan Tumpek Landep dan Purnama Kedasa

Jumat, 03 November 2017

Subhakti Ring Guru



Kacrita wenten Pandita, mapesengan Bhagawan Domia. Ida madue sisya tigang diri, inggih punika : Sang Uttamaniu, Sang Arunika, tur Sang Weda.

Duaning sampun sue Sang Tiga mapagiga punika jagi katureksain kapagehan tur kasubaktian ring guru.  Sang Arunika kapangandikayang makarya ring carik, Sang Uttamaniu kapangandikayang ngangon banteng tur Sang Weda kapangandikayang ngrateng, sarahina-rahina makarya ring pawaregan Sang Bhagawan.


Selasa, 31 Oktober 2017

Memahami Tattwa Susila Upacara

Tattwa Susila Upacara



Tattwa merupakan salah satu kata dalam bahasa Sanskerta. Secara harfiah kata ini berarti "kebenaran status, kebenaran alam, penting, pikiran dan suatu unsur". Dalam ajaran Hindu kata tattwa dijadikan sebagai ikon utama dalam pemahaman tentang ketuhanan, kemanusaan dan kesemestaan. Oleh karena itu tattwa dimaknai sebagai "sraddha" yang berarti "kepercayaan, keyakinan, rasa hormat, kuat, hasrat".

Sebagai dasar dari sraddha, maka tattwa Hindu harus mampu memberikan kekuatan dan keyakinan yang mantap kepada umat Hindu agar mereka betul-betul mempercayai agama yang dianutnya atas dasar tutur (kesadaran pengetahuan) bukan atas dasar keyakinan yang membabi buta karena kebodohannya (gugon tuwon). Dengan dasar tutur ini maka mereka menjadi gugon tuhon. atau -kalau boleh meminjam istilah Filsuf Yunani Kuno- disebut sebagai "corgito ergo sum (saya berpikir maka saya ada)". Konsep gugon tuhon ini akan menjauhkan mereka pengetahuan yang semu (maya) dan mendekatkan mereka pada pengetahuan yang sejati (sat).


Rabu, 25 Oktober 2017

3D Rumah Tinggal



Blog 3d ini merupakan portofolio Eben 3d sebagai penyedia jasa 3d pembuatan perspektif 3d untuk kalangan arsitek, konsultan arsitek, marketing dan dunia properti lainnya.

Eben 3d Impressions menawarkan jasa pembuatan 3d rumah tinggal, 3d apartement, 3d clubhouse, 3d gerbang, 3d fasilitas umum, 3d cluster, 3d masterplan, 3d Residences, 3d Highrise, 3d Kolam Renang, 3d Marketing Office, 3d Konsept Design, 3d Area Service, 3d Interior dan 3d eksterior.

Dengan motto " Jasa 3d Cepat Murah dan Berkualitas "

Terima Kasih Atas Kunjungannya

silakan hubungi via
Call/SMS/WA - 0812 9489 4000
email - sobat_lama007@yahoo.com,

Senin, 11 September 2017

Gowes Nangkil ke PAJK Gunung Salak

Nangkil ke PAJK Gunung Salak Dengan Bersepeda

Perjalanan 10 September 2017, dimulai dari rumah dibilangan bintaro menuju Taman Tekno 2 BSD dilanjutkan ke Muncul, lewat dikit ketemu temen Om Ochied di Pasar Prumpung, kira kira dari rumah ke pasar prumpung sejauh 12 km. Tempat yang memang kita buat janji untuk ketemu pagi itu sekitar 06.30 WIB. Setelah menyantap bubur ayam, kita berdua berangkat gowes sesuai tujuannya ke Pura Gunung Salak.

Niat sudah bulat untuk kedua kalinya (baca Bersepeda keGunung Salak) Nangkil ke Luhur PAJK dengan bersepeda. Bagi sebagian orang mungkin gowes ke sini hanya sebagai kegiatan olahraga biasa, namun bagi saya sebagai Umat Hindu, gowes Ke PAJK memiliki misi tersendiri, selain nangkil juga untuk meningkatkan spiritual pribadi saya. Memiliki ikatan bathin dengan pura sebagai wujud bhakti kita sebagai umat Hindu.

Jalur sepeda Pasar Prumpung, Gunung Sindur, Ciseeng, Putat Nutug, Ranca Bungur, tepatnya di Indomaret Jl. Raya Cagak, sekitar 200 meter sebelum pasar Ciampea, merupakan pos yang selalu dikunjungi oleh goweser yang akan nanjak ke arah Gunung Salak seperti ke Gunung Halimun , Gunder, Papangbon, Kampung Urug, Cirangsad dan ke Pura Gunung Salak itu sendiri. Jarak tempuh dari Pasar Prumpung ke Indomaret sekitar 22 km.


Selasa, 22 Agustus 2017

Membuat Banten Saraswati

Banten Bali

Membuat Banten Saraswati

Untuk membuat Banten Saraswati diperlukan beberapa perlengkapan sebagai berikut :

Jajan Saraswati adalah Jajan yang berbentuk dua ekor cecak bermata hitam lengkap dengan sarangnya, dibuat dari tepung beras berwarna putih. Alas jajan ini dibuat dari bahan yang sama berbentuk bundar dengan lekuk-lekuk dipinggirnya. Akan lebih sempurna bila dilengkapi dengan jajan berbentuk OM-kara, dibuat dari bahan yang sama tetapi berwarna hitam.

Bubur Precet adalah bubur yang berbentuk gilingan melingkar-lingkar, dibuat dari tepung beras dicampur dengan santan dan air cendana.


Bubuh Nganten adalah bubuh berwarna putih dan kuning dibuat dari tepung beras.

Bubuh Roko adalah sejenis rokok dibuat dari daun endong diisi bubur seperti diatas diikat dengan benang putih. Untuk Banten Saraswati diperlukan dua buah bubuh roko.

Sekar Saraswati adalah setangkai cabang beringin berisi 5 lembar daun; tiga diantara diisi bubur seperti diatas tetapi bungkusannya berbentuk segitiga, rokok dan lekukan yang menyerupai "base tempel"
Tadahan Saraswati terdiri dari beras yang dicuci sampai bersih dialasi sebuah tangkih. Ada pula yang membuat dari ketan dicuci sampai bersih dicampur dengan parutan kelapa.

Nasi Pradnyan adalah nasi yang dicampur dengan kacang "komak" atau sejenisnya yang telah direbus dan bumbu yang telah di goreng serta daun kemangi, daun "pradnyan" atau daun-daunan lain yang berfungsi sebagai penyedap.

Jajan Kuskus Putih Kuning, dibuat dari ketan yang dikukus diberi warna putih dan kuning. Bila memungkinkan dapat dilengkapi dengan beberapa jenis "Jaja sesamuhan suci " berwarna putih dan kuning.


Perlengkapan tersebut masing-masing dialasi sebuah tangkih kemudian diatur letaknya pada sebuah tamas atau taledan dilengkapi dengan jajan, buah-buahan, sampian kepet-kepetan, penyenang beserta isinya dan canang buratwangi / canang sari. 

Senin, 24 Juli 2017

PHDI Provinsi Banten

Ida Bagus Alit Wiratmaja terpilih menjadi ketua PHDI Provinsi Banten





Lokasabha IV  provinsi Banten telah terlaksana kemarin, 22 Juli 2017 di Hotel Alium Tangerang, yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Tingkat I Provinsi Banten, Bapak Drs. Wahidin Alim. Dihadiri pula tokoh-tokoh umat Hindu, dan yang teristimewa adalah Bapak Dr. K.H. Romli yang merupakan Sesepuh Umat Hindu Provinsi Banten.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutakn tari Penyambutan yang begitu indah membuat suasana dalam ruangan yang penuh dengan peserta Lokasabha yang berjumlah 200-an peserta dan peninjau menjadi tenang dan damai.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Bapak Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengharapkan umat Hindu di Provinsi Banten agar senantiasa mengingat dan mengamalkan Pancasila dan Panca Srada  yang merupakan lima keyakinan kita sebagai umat Hindu.

Setelah dibuka dengan resmi, persidangan-persidangan yang telah diagendakan dimulai, diawali dengan pembentukan pimpinan sidang. Pimpinan sidang yang akan memimpin sidang-sidang selanjutnya adalah Nyoman Trisna, I Ketut Artha, Komang Priambada, Ida Bagus Alit Ariadi dan Ngurah Purnamajaya.

Terpilihnya Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja SH.MH setelah Peserta melalui PHDI Kota/Kabupaten dan Banjar-banjar se Provinsi Banten mengajukan nama calon Ketua PHDI dan Ketua Walaka. Nama yang muncul sebagai calon ketua PHDI Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja dan Bapak Putu Santika Mahayana. Dan ketua paruman Walaka muncul nama Bapak Anak Agung Anom Suarta dan Bapak Putu Santika Mahayana. Dengan musyawarah dan mufakat diantara calon-calon dan pimpinan sidang, dengan kebesaran hati serta semangat bersama-sama memajukan umat Hindu di provinsi Banten, terpilih sebagai Ketua PHDI Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja SH, MH dan Bapak Anak Agung Anom Suarta sebagai ketua Paruman Walaka periode 2017-2022.

Secara umum kegiatan persidangan berjalan lancar yang dimulai pukul 12.45 yaitu tentang Peraturan Tata Tertib Lokasabha IV PHDI Provinsi Banten. Pembahasan cukup alot pada Bab III mengenai Peserta dan Peninjau, serta pada Bab XI tentang Susunan Pengurus dan Tata Cara Pemilihan Pengurus PHDI Provinsi Banten, pasal 26. Didasari dengan kebersamaan dan keguyuban umat Hindu, pasal-pasal dapat dimusyawarahkan dengan baik.

Persidangan selanjutnya adalah Pandangan Umum atas Laporan Pertanggungjawaban Pengurus PHDI Provinsi Banten Periode 2011-2017, yang secara bergantian PHDI kota/Kabupaten menyatakan menerima dengan beberapa koreksi-koreksi redaksional.

Persidangan di tingkat komisi berjalan dengan baik dan lancar. Dilanjutkan dengan Sidang Pleno yang merekomendasikan agar hasil-hasil sidang komisi dapat segera dibahas lebih mendalam dalam rapat kerja PHDI terpilih.

Persidangan yang dinantikan oleh peserta sidang terlihat mulai berkurang mengingat beberpa Peninjau yang memang tidak memiliki hak suara telah meninggalkan sidang. Sangat disayangkan mengingat para Peninjau inilah yang akan menjadi peserta-peserta Lokasabha yang akan datang, dimana mereka diharapkan dapat merasakan suasana persidangan dan tata cara pemilihan, pengambilan keputusan yang baik dan benar.


Pelantikan pengurus PHDI Provinsi Banten dilaksanakan pada pukul 18.30 oleh Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Bapak Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya dengan Surat Keputusan Nomor : 09 / SK/ Parisada Pusat / VII/ 2017  tentang Pengesahan Susunan dan Personalia PHDI Provinsi Banten 2017-2022. (Sek-BPH)