DIJUAL CEPAT VILLA

DIJUAL CEPAT VILLA

Lokasi : Jln . Raya Uluwatu No. 2B, Kuta Selatan

Denpasar Bali – (Lokasi sebelum GWK)

Luas Tanah : 700 M2

Luas Bangunan : 400 M2

SPECC : 1. 3 Kamar Tidur + Kamar Mandi

2. Ruang Makan

3. Ruang Keluarga

4. Dapur

5. Tempat Jaga

6. Kolam Renang

Listrik : 10.000 Watt

Harga : Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar rupiah)

Bisa nego langsung pemilik

Status : SHM

Regards

Made L. Wijaya

HP. 0812 949 9049

HP. 0813 1102 2449

Informasi Lengkap silakan Klik :

http://olx.co.id/iklan/villa-dijual-cepat-IDoDbbL.html

Senin, 11 September 2017

Gowes Nangkil ke PAJK Gunung Salak

Nangkil ke PAJK Gunung Salak Dengan Bersepeda

Perjalanan 10 September 2017, dimulai dari rumah dibilangan bintaro menuju Taman Tekno 2 BSD dilanjutkan ke Muncul, lewat dikit ketemu temen Om Ochied di Pasar Prumpung, kira kira dari rumah ke pasar prumpung sejauh 12 km. Tempat yang memang kita buat janji untuk ketemu pagi itu sekitar 06.30 WIB. Setelah menyantap bubur ayam, kita berdua berangkat gowes sesuai tujuannya ke Pura Gunung Salak.

Niat sudah bulat untuk kedua kalinya (baca Bersepeda keGunung Salak) Nangkil ke Luhur PAJK dengan bersepeda. Bagi sebagian orang mungkin gowes ke sini hanya sebagai kegiatan olahraga biasa, namun bagi saya sebagai Umat Hindu, gowes Ke PAJK memiliki misi tersendiri, selain nangkil juga untuk meningkatkan spiritual pribadi saya. Memiliki ikatan bathin dengan pura sebagai wujud bhakti kita sebagai umat Hindu.

Jalur sepeda Pasar Prumpung, Gunung Sindur, Ciseeng, Putat Nutug, Ranca Bungur, tepatnya di Indomaret Jl. Raya Cagak, sekitar 200 meter sebelum pasar Ciampea, merupakan pos yang selalu dikunjungi oleh goweser yang akan nanjak ke arah Gunung Salak seperti ke Gunung Halimun , Gunder, Papangbon, Kampung Urug, Cirangsad dan ke Pura Gunung Salak itu sendiri. Jarak tempuh dari Pasar Prumpung ke Indomaret sekitar 22 km.

Melanjutkan mengayuh sepeda ke Cinangneng, melalui jalan Raya Cibadak Ciampea keluar Pasar Ciampea belok kiri sedikit lalu  belok kanan di pertigaan Cinangneng, sedikit menangjak sebagai pemanasan hehehe… Menyusuri jalan raya Cinangneng hingga ke Terminal Tumaritis Tenjolaya sekitar 16 km dari Indomaret Ranca Bungur. Jalan memang cendrung menangjak, baik pendek, sedang maupun panjang, serta dengan kecuraman yang bervariasi. Bila kita lihat di strava ada segmen tanjakan dengan nama, tanjakan tanpa perasaan … hehehe silakan dicoba….

Pukul 11.00 kita sampe di Tenjolaya, istirahat kembali di Indomaret yang tepat berada pada pertigaan Tenjolaya, bila ke kekiri kita ke Taman Sari sedangkan ke kanan menuju terminal Segog. Panas yang mulai menyengat, kaki sudah mulai cape, kita putuskan istirahat, eh malah ketiduran … hahahaha…. Tidur didepan Indomaret ..  Pukul 12.45 kita mulai berangkat, mengingat perut mulai laper, setelah melewati rolling jalanan yang naik dan turun, sedikit melwati Curug Luhur kita makan siang, gado-gado yang nikmat sekali, dengan pemandangan yang sangat indah serta udara yang sejuk…

Menyusuri jalan gunung Malang yang rolling dan berkelok-kelok membutuhkan kesiapan mental, cukup panas memang … sahabat Om Ochied sempet menjalankan solat di Masjid Baitul Mu’minin. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pura. Jarak dari pertigaan ke pura sekitar 8 km. Sekitar pukul 14.00 kita sampai di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Taman Sari Gunung Salak. Setelah melakukan persiapan persembahyangan dengan membersihkan badan, kami naik ke madya mandala. Om Ochied senang dan puas, setelah berfoto2 kita menuju uttama mandala, dengan sedikit penjelasan tentang pelinggih-pelinggih yang ada , bagaikan seorang guide yang sedang mengantar tamu ‘bule’, saya melakukan persembahyangan… senang dan bahagia bisa nangkil serta ngaturang bakti ring ajeng Ida Sesuhunan…

Astungkara, setelah menikmati kopi di warung pukul 16.30 kita kembali ke BSD, melewati Pasar Dramaga, Atang Sanjaya, kembali ke Ciseeng, Pasar Prumpung. Berpisah kerumah masing-masing di pasar prumpung walau dengan keadaan hujan yang cukup deras..


Makasih om Ochied yang telah menjadi teman seperjalanan yang sangat mengesankan, hehehe … tidur siang karena kecapean di indomaret Tenjolaya takan dilupakan…
Bagi yang sudah expert dalam bersepeda, mungkin ini cerita terlalu lebay ... maklumlah saya bukan lah goweser sejati, dan sejatinya memang bukan goweser .. semoga cerita singkat ini bisa bermanfaat ..

Selasa, 22 Agustus 2017

Membuat Banten Saraswati

Banten Bali

Membuat Banten Saraswati

Untuk membuat Banten Saraswati diperlukan beberapa perlengkapan sebagai berikut :

Jajan Saraswati adalah Jajan yang berbentuk dua ekor cecak bermata hitam lengkap dengan sarangnya, dibuat dari tepung beras berwarna putih. Alas jajan ini dibuat dari bahan yang sama berbentuk bundar dengan lekuk-lekuk dipinggirnya. Akan lebih sempurna bila dilengkapi dengan jajan berbentuk OM-kara, dibuat dari bahan yang sama tetapi berwarna hitam.

Bubur Precet adalah bubur yang berbentuk gilingan melingkar-lingkar, dibuat dari tepung beras dicampur dengan santan dan air cendana.


Bubuh Nganten adalah bubuh berwarna putih dan kuning dibuat dari tepung beras.

Bubuh Roko adalah sejenis rokok dibuat dari daun endong diisi bubur seperti diatas diikat dengan benang putih. Untuk Banten Saraswati diperlukan dua buah bubuh roko.

Sekar Saraswati adalah setangkai cabang beringin berisi 5 lembar daun; tiga diantara diisi bubur seperti diatas tetapi bungkusannya berbentuk segitiga, rokok dan lekukan yang menyerupai "base tempel"
Tadahan Saraswati terdiri dari beras yang dicuci sampai bersih dialasi sebuah tangkih. Ada pula yang membuat dari ketan dicuci sampai bersih dicampur dengan parutan kelapa.

Nasi Pradnyan adalah nasi yang dicampur dengan kacang "komak" atau sejenisnya yang telah direbus dan bumbu yang telah di goreng serta daun kemangi, daun "pradnyan" atau daun-daunan lain yang berfungsi sebagai penyedap.

Jajan Kuskus Putih Kuning, dibuat dari ketan yang dikukus diberi warna putih dan kuning. Bila memungkinkan dapat dilengkapi dengan beberapa jenis "Jaja sesamuhan suci " berwarna putih dan kuning.


Perlengkapan tersebut masing-masing dialasi sebuah tangkih kemudian diatur letaknya pada sebuah tamas atau taledan dilengkapi dengan jajan, buah-buahan, sampian kepet-kepetan, penyenang beserta isinya dan canang buratwangi / canang sari. 

Senin, 24 Juli 2017

PHDI Provinsi Banten

Ida Bagus Alit Wiratmaja terpilih menjadi ketua PHDI Provinsi Banten




Lokasabha IV  provinsi Banten telah terlaksana kemarin, 22 Juli 2017 di Hotel Alium Tangerang, yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Tingkat I Provinsi Banten, Bapak Drs. Wahidin Alim. Dihadiri pula tokoh-tokoh umat Hindu, dan yang teristimewa adalah Bapak Dr. K.H. Romli yang merupakan Sesepuh Umat Hindu Provinsi Banten.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutakn tari Penyambutan yang begitu indah membuat suasana dalam ruangan yang penuh dengan peserta Lokasabha yang berjumlah 200-an peserta dan peninjau menjadi tenang dan damai.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Bapak Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengharapkan umat Hindu di Provinsi Banten agar senantiasa mengingat dan mengamalkan Pancasila dan Panca Srada  yang merupakan lima keyakinan kita sebagai umat Hindu.

Setelah dibuka dengan resmi, persidangan-persidangan yang telah diagendakan dimulai, diawali dengan pembentukan pimpinan sidang. Pimpinan sidang yang akan memimpin sidang-sidang selanjutnya adalah Nyoman Trisna, I Ketut Artha, Komang Priambada, Ida Bagus Alit Ariadi dan Ngurah Purnamajaya.

Terpilihnya Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja SH.MH setelah Peserta melalui PHDI Kota/Kabupaten dan Banjar-banjar se Provinsi Banten mengajukan nama calon Ketua PHDI dan Ketua Walaka. Nama yang muncul sebagai calon ketua PHDI Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja dan Bapak Putu Santika Mahayana. Dan ketua paruman Walaka muncul nama Bapak Anak Agung Anom Suarta dan Bapak Putu Santika Mahayana. Dengan musyawarah dan mufakat diantara calon-calon dan pimpinan sidang, dengan kebesaran hati serta semangat bersama-sama memajukan umat Hindu di provinsi Banten, terpilih sebagai Ketua PHDI Bapak Ida Bagus Alit Wiratmaja SH, MH dan Bapak Anak Agung Anom Suarta sebagai ketua Paruman Walaka periode 2017-2022.

Secara umum kegiatan persidangan berjalan lancar yang dimulai pukul 12.45 yaitu tentang Peraturan Tata Tertib Lokasabha IV PHDI Provinsi Banten. Pembahasan cukup alot pada Bab III mengenai Peserta dan Peninjau, serta pada Bab XI tentang Susunan Pengurus dan Tata Cara Pemilihan Pengurus PHDI Provinsi Banten, pasal 26. Didasari dengan kebersamaan dan keguyuban umat Hindu, pasal-pasal dapat dimusyawarahkan dengan baik.

Persidangan selanjutnya adalah Pandangan Umum atas Laporan Pertanggungjawaban Pengurus PHDI Provinsi Banten Periode 2011-2017, yang secara bergantian PHDI kota/Kabupaten menyatakan menerima dengan beberapa koreksi-koreksi redaksional.

Persidangan di tingkat komisi berjalan dengan baik dan lancar. Dilanjutkan dengan Sidang Pleno yang merekomendasikan agar hasil-hasil sidang komisi dapat segera dibahas lebih mendalam dalam rapat kerja PHDI terpilih.

Persidangan yang dinantikan oleh peserta sidang terlihat mulai berkurang mengingat beberpa Peninjau yang memang tidak memiliki hak suara telah meninggalkan sidang. Sangat disayangkan mengingat para Peninjau inilah yang akan menjadi peserta-peserta Lokasabha yang akan datang, dimana mereka diharapkan dapat merasakan suasana persidangan dan tata cara pemilihan, pengambilan keputusan yang baik dan benar.


Pelantikan pengurus PHDI Provinsi Banten dilaksanakan pada pukul 18.30 oleh Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Bapak Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya dengan Surat Keputusan Nomor : 09 / SK/ Parisada Pusat / VII/ 2017  tentang Pengesahan Susunan dan Personalia PHDI Provinsi Banten 2017-2022. (Sek-BPH)