NUASEN & NEGTEGANG KARYA PUJAWALI PURA DHARMA SIDHI
Pujawali merupakan salah satu cara untuk tetap
menegakkan Dharma dan membumikan, melestarikan ajaran Weda. Sebagaimana kita
ketahui dalam sastra suci bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan
berasal dari tumbuhan, tumbuhan berasal dari hujan, hujan berasal dari yajnya,
dan yajna sendiri bisa terlaksana karena kegiatan kerja (karma).
Maka kegiatan Yajna, bersedekah, tapa brata,
dan kegiatan kerja tidak boleh kita tinggalkan karena itu adalah pensuci bagi
orang yang memuja Tuhan
Nuasen karya adalah tahap atau upacara ritual
permulaan yang menandai dimulainya rangkaian persiapan suatu kegiatan atau
upacara suci (karya) dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali.
Kata nuasen berasal dari kata dasar asen atau
akar kata yang berkaitan dengan penetapan hari baik (dewasa) untuk memulai
sesuatu.
Upacara ini dilakukan untuk memohon
kerahayuan, penyucian sarana awal, dan kelancaran dari Ida Sang Hyang Widhi
Wasa agar seluruh rangkaian kegiatan utama dapat berjalan sukses tanpa hambatan.
Nuasen Karya merupakan tahapan dari
pelaksanaan Pujawali yang paling dahulu dilaksanakan dimana kita mohon
panugrahan kepada Sang Hyang Wiswakarma dengan Nanceb Sanggah Bilang Bucu,
(Sri, Aji, Kala dan Ludra) dengan tujuan agar dalam mempersiapkan sarana
upakara kita diberikan kekuatan, dimudahkan untuk mencarinya, Ajaran Agama juga
mengalir serta tidak terjadi perselisihan yang berarti pada saat mempersiapkan
upakara/upacara).
Sangar bilang bucu ini ditanceb disetiap sudut
di areal Utamaning Mandala. Dari mulai nanceb sanggah ini terus dihaturkan
sesajen sesuai dengan kemampuan sampai berahkirnya upacara Pujawali
berlangsung.
Upacara Negtegan Karya pada hakekatnya adalah
mengekang hawa nafsu bagi seluruh umat yang terlibat dalam mempersiapan
piodalan. Agar seluruh umat dapat mengendalikan hawa nafsu terutama sifat-sifat
yang tidak baik yang dapat membuat Upacara Pujawali tersebut tercemer.
Pada saat upacara ini juga diadakan upacara
Nunas Tirta atau Tirta Catur yaitu Tirta Pingit, Tirta Pawitra, Tirta Sudamala
danTirta Sangku.Tirta ini digunakan pada saat ngingsah Beras untuk Nasi Catur.
Beras Catur maksudnya adalah beras yang akan
dimasak dipergunakan untuk membuat Tumpeng Catur. Adapun bahannya adalah: Beras
biasa, Beras Merah, Ketan Hitan, untuk Kuningnya dipakai beras biasa yang
diwarnai .
Dalam upacara ini juga dilangsungkan upacara
Nedunang Dewi Tapini, Dewanya para Sarati Banten. Dibuatkan sebuat daksina
pelinggih untuk seterusnya nyejer ditempat yang paling dekat dengan aktifitas
para sarati, agar beliau secara langsung dapat menuntun Para Sarati Banten
dalam rangka mempersiapkan upakara dan berjalan baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buku Tamu