Rare Bali Anak Bali Belog Ngiring Ngajegang Bali dengan berbahasa Bali sane becik, senang ring Tembang Bali tur sekancan sastra lan Budaya Bali sane sampun kaloktah ring jagate mangda sumingkin jangkep tur paripurna #Bahasabali #AjegBudayaBali #RareBali

Breaking

Translate

Minggu, 13 September 2026

NUASEN & NEGTEGANG KARYA PUJAWALI PURA DHARMA SIDHI

NUASEN & NEGTEGANG KARYA PUJAWALI PURA DHARMA SIDHI

Pujawali merupakan salah satu cara untuk tetap menegakkan Dharma dan membumikan, melestarikan ajaran Weda. Sebagaimana kita ketahui dalam sastra suci bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasal dari tumbuhan, tumbuhan berasal dari hujan, hujan berasal dari yajnya, dan yajna sendiri bisa terlaksana karena kegiatan kerja (karma).

Maka kegiatan Yajna, bersedekah, tapa brata, dan kegiatan kerja tidak boleh kita tinggalkan karena itu adalah pensuci bagi orang yang memuja Tuhan

 

Nuasen karya adalah tahap atau upacara ritual permulaan yang menandai dimulainya rangkaian persiapan suatu kegiatan atau upacara suci (karya) dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali.

Kata nuasen berasal dari kata dasar asen atau akar kata yang berkaitan dengan penetapan hari baik (dewasa) untuk memulai sesuatu.

Upacara ini dilakukan untuk memohon kerahayuan, penyucian sarana awal, dan kelancaran dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh rangkaian kegiatan utama dapat berjalan sukses tanpa hambatan.

Nuasen Karya merupakan tahapan dari pelaksanaan Pujawali yang paling dahulu dilaksanakan dimana kita mohon panugrahan kepada Sang Hyang Wiswakarma dengan Nanceb Sanggah Bilang Bucu, (Sri, Aji, Kala dan Ludra) dengan tujuan agar dalam mempersiapkan sarana upakara kita diberikan kekuatan, dimudahkan untuk mencarinya, Ajaran Agama juga mengalir serta tidak terjadi perselisihan yang berarti pada saat mempersiapkan upakara/upacara).

Sangar bilang bucu ini ditanceb disetiap sudut di areal Utamaning Mandala. Dari mulai nanceb sanggah ini terus dihaturkan sesajen sesuai dengan kemampuan sampai berahkirnya upacara Pujawali berlangsung.

Upacara Negtegan Karya pada hakekatnya adalah mengekang hawa nafsu bagi seluruh umat yang terlibat dalam mempersiapan piodalan. Agar seluruh umat dapat mengendalikan hawa nafsu terutama sifat-sifat yang tidak baik yang dapat membuat Upacara Pujawali tersebut tercemer.

Pada saat upacara ini juga diadakan upacara Nunas Tirta atau Tirta Catur yaitu Tirta Pingit, Tirta Pawitra, Tirta Sudamala danTirta Sangku.Tirta ini digunakan pada saat ngingsah Beras untuk Nasi Catur.

Beras Catur maksudnya adalah beras yang akan dimasak dipergunakan untuk membuat Tumpeng Catur. Adapun bahannya adalah: Beras biasa, Beras Merah, Ketan Hitan, untuk Kuningnya dipakai beras biasa yang diwarnai .

Dalam upacara ini juga dilangsungkan upacara Nedunang Dewi Tapini, Dewanya para Sarati Banten. Dibuatkan sebuat daksina pelinggih untuk seterusnya nyejer ditempat yang paling dekat dengan aktifitas para sarati, agar beliau secara langsung dapat menuntun Para Sarati Banten dalam rangka mempersiapkan upakara dan berjalan baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Cari Blog Ini

Pengikut

Blog Archive