Jejak Masa Kecil di Pematang Sawah Bali: Ketika Kenangan Tinggal dalam Kerinduan
Ada yang tak pernah benar-benar
pergi dari hidup kita: kenangan. Ia mungkin terkubur oleh waktu, tertutup oleh
bangunan-bangunan baru, atau perlahan menghilang bersama perubahan zaman.
Namun, ketika langkah kaki kembali ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian
dari masa kecil, kenangan itu seolah bangkit dari tidurnya, membawa kita pulang
ke masa lalu yang tak mungkin terulang.
Pagi itu, aku kembali menyusuri
jalan yang dahulu begitu akrab dengan langkah-langkah kecilku.
Pematang-pematang sawah yang dulu sering kulewati kini telah berubah menjadi
jalan beraspal. Jalur-jalur sempit yang dahulu saling terhubung di antara
hamparan padi, mengantarkanku menuju sebuah sumber mata air yang dikenal dengan
nama Lepasan.
Dulu, dari mata air itulah aku
mengambil air untuk minum dan memenuhi kebutuhan upacara keagamaan Hindu,
termasuk untuk membuat tirtha, air suci yang memiliki makna sakral dalam
kehidupan umat Hindu. Letaknya di tepi Tukad, sungai yang dahulu cukup
lebar, sekitar enam meter. Kini, sungai itu telah menyusut menjadi saluran air
kecil, tak lagi menyisakan kemegahan aliran air yang kuingat sejak masa
kanak-kanak.
Aku terdiam cukup lama.
Tempat-tempat yang dahulu menyimpan
begitu banyak cerita kini seolah kehilangan wajah lamanya. Semuanya berubah.
Pematang sawah, aliran sungai, jalan setapak, hingga pemandangan yang dahulu
menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanku. Di hadapanku terbentang
kenyataan, sementara di dalam benakku berputar kembali kenangan masa lalu yang
begitu indah.
Entah mengapa, dadaku terasa sesak.
Ada rindu yang perlahan mengalir, memenuhi ruang hati yang selama ini mungkin
terlalu sibuk dengan kehidupan. Hampir saja air mataku jatuh. Aku merindukan
masa kecilku, merindukan tempat ini, dan merindukan kebahagiaan sederhana yang
dahulu terasa begitu biasa, tetapi kini begitu mahal harganya.
Bermain
Layangan dan Berguling di Atas Jerami
Aku masih ingat betapa bahagianya
kami ketika musim panen berakhir. Hamparan sawah yang baru saja dipotong padinya
menjadi arena bermain yang luas. Tak ada pagar, tak ada tembok yang membatasi
pandangan, apalagi bangunan yang menghalangi kebebasan kami berlari.
Di sanalah kami bermain layangan,
berlarian ke sana kemari mengejar angin, seolah dunia ini sepenuhnya milik
kami. Ketika tumpukan jerami kering menggunung di pinggir sawah, kami
menjadikannya tempat bermain yang paling menyenangkan. Kami berguling-guling di
atas jerami, tertawa lepas, saling mengejar, dan terkadang pulang dengan tubuh
penuh debu serta rambut yang dipenuhi serpihan batang padi.
Tak ada mainan mahal. Tak ada gawai
yang menyita perhatian. Tak ada pula keinginan untuk memiliki sesuatu yang
lebih dari apa yang kami punya.
Cukup hamparan sawah, langit biru,
angin yang berembus, dan teman-teman sepermainan. Itu sudah lebih dari cukup
untuk membuat hati kami bahagia.
Ketika musim berganti dan para
petani mulai membajak sawah untuk menyiapkan lahan tanam, permainan kami pun
berubah. Lumpur menjadi sahabat baru. Kami bermain perang lumpur, melumuri wajah
dengan lumpur sebagai penyamaran, lalu berlari saling mengejar sambil
melemparkan gumpalan lumpur kepada teman-teman.
Tubuh kotor bukan masalah. Pakaian
basah bukan persoalan. Bahkan teguran orang tua pun sering kali tak mampu
menghapus kegembiraan kami.
Kini, ketika mengingat semua itu,
aku tersenyum getir. Betapa sederhana kebahagiaan masa kecilku. Betapa mudahnya
kami tertawa. Dan betapa aku ingin sekali kembali ke masa itu, meski hanya
untuk sehari, atau bahkan beberapa jam saja.
Namun, waktu tak pernah menyediakan
jalan pulang menuju masa yang telah berlalu.
Menyusuri
Sawah Bersama Ayah di Bawah Cahaya Petromak
Ketika benih-benih padi mulai tumbuh
dan menghijaukan kembali hamparan sawah, kehidupan di desa seolah menemukan
iramanya sendiri. Sawah yang sebelumnya gersang berubah menjadi lautan hijau
yang menyejukkan mata. Di sela-sela tanaman padi, kehidupan kecil bersembunyi,
menunggu ditemukan oleh anak-anak desa yang gemar menjelajah.
Pada malam hari, aku sering ikut
ayah nyuluh, mencari belut di persawahan dengan bantuan lampu petromak.
Kenangan itu masih begitu jelas
dalam ingatanku. Cahaya petromak menerangi pematang sawah yang sempit,
sementara gelap malam menyelimuti hamparan persawahan di sekeliling kami. Aku
berjalan mengikuti ayah, memperhatikan setiap gerakan di antara tanaman padi
dan lumpur.
Dengan alat penjepit khusus yang
bergerigi, kami menangkap belut yang bersembunyi di lubang-lubang kecil.
Sesekali, kami harus masuk lebih jauh ke tengah sawah demi mendapatkan hasil
yang lebih banyak. Jika beruntung, kami juga menemukan hewan lain yang bisa
dikonsumsi, seperti keong mas, jubel, atau ikan-ikan kecil yang terperangkap di
sela-sela lumpur.
Bagiku, malam-malam itu bukan
sekadar perjalanan mencari lauk untuk dibawa pulang. Itu adalah waktu berharga
bersama ayah. Ada kebersamaan yang tumbuh dalam langkah-langkah sederhana, ada
pelajaran kehidupan yang mungkin dahulu tak kusadari, dan ada kehangatan yang
kini terasa semakin mahal ketika dikenang.
Aku tidak tahu apakah ayah menyadari
betapa berharganya setiap perjalanan itu bagiku. Mungkin, baginya, itu hanyalah
rutinitas biasa. Namun, bagiku, malam-malam menyusuri sawah bersamanya telah
menjelma menjadi kepingan kenangan yang akan selalu kusimpan di sudut hati
terdalam.
Andai waktu bisa diputar kembali,
betapa ingin aku kembali berjalan di belakang ayah, menyusuri pematang yang
basah, ditemani cahaya petromak dan suara malam yang bersahutan.
Sayangnya, kenangan hanya bisa
dikenang. Ia tak bisa disentuh kembali, apalagi diulang sesuka hati.
Gunung
Agung dan Gunung Batukaru yang Kini Tersembunyi
Aku mengangkat pandangan, mencoba
mencari pemandangan yang dahulu selalu menyambutku dari rumah.
Namun, Gunung Agung yang dulu tampak
megah dari kejauhan kini tak lagi terlihat. Begitu pula Gunung Batukaru, yang
dahulu menghiasi cakrawala dan menjadi bagian dari panorama sehari-hari.
Keduanya seolah lenyap dari
kehidupanku, bukan karena gunung-gunung itu pergi, melainkan karena
tembok-tembok rumah kini berdiri rapat di sepanjang jalan. Bangunan demi
bangunan tumbuh menggantikan ruang terbuka, menutup pandangan yang dahulu
begitu lapang.
Dulu, sejauh mata memandang, yang
terlihat hanyalah hamparan persawahan hijau dengan latar pegunungan yang
berdiri gagah. Pemandangan itu begitu biasa bagiku hingga tak pernah terpikir
bahwa suatu hari aku akan merindukannya sedalam ini.
Kini, untuk melihat langit yang luas
saja, pandanganku harus melewati sela-sela bangunan. Sawah yang dahulu
membentang tanpa batas telah digantikan oleh rumah-rumah yang berdiri kokoh,
seakan berlomba mengisi setiap jengkal tanah yang tersisa.
Aku tak menyalahkan siapa pun. Zaman
berubah, kebutuhan manusia bertambah, dan kehidupan terus bergerak maju. Namun,
jauh di dalam hati, ada bagian dari diriku yang masih ingin mempertahankan desa
sebagaimana yang kukenal dahulu.
Aku merindukan bentangan sawah yang
menghijau. Aku merindukan pemandangan gunung dari halaman rumah. Aku merindukan
jalan-jalan kecil yang menghubungkan satu pematang dengan pematang lainnya.
Dan yang paling kurindukan adalah
perasaan menjadi seorang anak kecil yang tak pernah menyadari bahwa semua
keindahan itu suatu hari bisa menghilang dari hadapannya.
Bola
Api Misterius dan Bioskop Horor di Persawahan
Ada satu kenangan lain yang selalu
membuatku bergidik sekaligus tersenyum ketika mengingat masa kecil: bola-bola
api misterius yang dahulu menjadi tontonan kami bersama keluarga dari rumah.
Pada masa itu, hamparan persawahan yang
luas membentang di sekitar rumah. Ketika siang berganti malam, suasana desa
berubah menjadi dunia yang berbeda. Gelap menyelimuti sawah, suara-suara malam
mulai terdengar, dan lolongan anjing dari kejauhan menambah kesan sunyi
sekaligus menyeramkan.
Dari rumah, kami terkadang
menyaksikan bola-bola api yang tampak beterbangan di antara gelapnya
persawahan. Cahaya itu muncul dan menghilang secara acak, bergerak ke sana
kemari tanpa kami pahami asal-usulnya. Bagi kami yang masih kecil, pemandangan
tersebut terasa misterius, bahkan menakutkan.
Belum lagi cerita tentang pesawat
jadi-jadian yang konon terlihat terbang rendah di antara pepohonan. Entah
apa yang sebenarnya kami saksikan kala itu. Mungkin ada penjelasan yang masuk
akal, mungkin pula sebagian kisah itu tumbuh dari imajinasi dan cerita yang
beredar di tengah masyarakat. Namun, bagi anak-anak pada masa itu, semuanya
terasa nyata dan menyisakan rasa penasaran.
Kami menyaksikannya dengan perasaan
campur aduk: takut, penasaran, sekaligus tak sabar menunggu kejadian
berikutnya.
Persawahan yang pada siang hari
menjadi tempat bermain, ketika malam tiba menjelma seperti bioskop horor
terbuka. Tak perlu layar lebar, tak perlu tiket masuk, dan tak perlu efek suara
buatan. Gelapnya malam, suara anjing yang melolong, desir angin di antara
pepohonan, serta cahaya-cahaya misterius di kejauhan sudah cukup membuat
imajinasi kami berkelana ke mana-mana.
Kini, semua itu tinggal cerita.
Lahan-lahan yang dahulu menjadi
panggung bagi pengalaman masa kecil kami telah berubah. Pemandangan yang dulu
terbuka kini terhalang bangunan. Malam yang dahulu terasa begitu hidup dengan
segala misterinya, mungkin tak lagi menghadirkan suasana yang sama.
Dan aku menyadari sesuatu: bukan
hanya pemandangannya yang berubah, melainkan juga diriku yang telah tumbuh
dewasa. Dunia yang dahulu terasa begitu luas kini perlahan menyempit dalam
ingatan, sementara waktu terus membawa kami menjauh dari masa kanak-kanak.
Ketika
Desa Berubah dan Kenangan Menjadi Rumah
Aku kembali memandang sekeliling. Jalan
beraspal membentang di hadapanku. Rumah-rumah berdiri di tempat yang dahulu
menjadi bagian dari persawahan. Aliran Tukad yang pernah begitu lebar
kini tinggal saluran air kecil. Pematang-pematang sawah yang dahulu menjadi
saksi tawa dan langkah-langkah kecilku telah berubah menjadi jalan yang dilalui
kendaraan setiap hari.
Semuanya berubah.
Dunia masa kecilku perlahan
menghilang, menyisakan potongan-potongan kenangan yang hanya bisa kuhidupkan
kembali melalui ingatan.
Ada kesedihan yang sulit dijelaskan
ketika menyadari bahwa tempat yang dahulu begitu akrab kini terasa asing.
Seolah-olah aku sedang mengunjungi sebuah rumah lama yang pintunya masih ada,
tetapi isi di dalamnya telah berganti seluruhnya.
Aku rindu masa kecilku. Rindu
bermain layangan di tengah sawah. Rindu berguling di atas jerami kering. Rindu
perang lumpur bersama teman-teman. Rindu berjalan mengikuti ayah di bawah
cahaya petromak. Rindu pemandangan Gunung Agung dan Gunung Batukaru dari rumah.
Bahkan, aku merindukan malam-malam yang dahulu dipenuhi rasa takut ketika
menyaksikan bola-bola api misterius di kejauhan.
Semua yang dahulu terasa biasa, kini
menjadi sesuatu yang luar biasa berharga.
Mungkin begitulah cara waktu
mengajarkan kita tentang arti kehilangan. Saat sesuatu masih ada, kita sering
menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan. Kita menikmatinya tanpa
pernah berpikir bahwa suatu hari semuanya akan berubah, meninggalkan kita hanya
dengan kenangan dan kerinduan.
Aku tahu, perubahan adalah bagian
yang tak terpisahkan dari kehidupan. Desa harus berkembang. Jalan harus
dibangun. Rumah-rumah tumbuh mengikuti kebutuhan zaman. Tak mungkin pula kita
memaksa dunia untuk tetap diam hanya demi mempertahankan kenangan pribadi.
Aku menerima semua perubahan itu
dengan hati yang berusaha ikhlas. Bukan karena aku tak sedih, melainkan karena
aku mengerti bahwa waktu tak pernah berjalan mundur. Apa yang telah berlalu tak
mungkin kembali dalam bentuk yang sama.
Namun, ada satu hal yang tak akan
pernah bisa dirampas oleh perubahan: kenangan yang telah tertanam di dalam
hati.
Pematang sawah boleh berubah menjadi
jalan beraspal. Sungai boleh menyusut menjadi saluran kecil. Gunung-gunung
boleh tersembunyi di balik tembok rumah. Hamparan persawahan boleh berganti
menjadi permukiman.
Tetapi, anak kecil yang dahulu
berlari di antara tanaman padi, tertawa di atas tumpukan jerami, dan berjalan
mengikuti ayah di bawah cahaya petromak itu akan selalu hidup di dalam diriku.
Hari ini, aku memang tak lagi bisa
bermain di sawah seperti dahulu. Aku tak lagi bisa menyaksikan pemandangan yang
sama dari rumah masa kecilku. Namun, selama ingatan ini masih ada, aku akan
selalu memiliki jalan untuk pulang.
Bukan pulang ke tempat yang sama,
melainkan pulang ke masa yang pernah membuatku begitu bahagia.
Dan ketika akhirnya aku melangkah
pergi dari tempat itu, aku membawa satu kesadaran sederhana: kita mungkin
tak bisa menghentikan waktu, tetapi kita selalu bisa menjaga kenangan agar tak
pernah benar-benar hilang.
Sebab, pada akhirnya, yang paling
menyedihkan bukanlah ketika sebuah desa berubah rupa, melainkan ketika kita
menyadari bahwa masa kecil yang begitu kita rindukan ternyata hanya bisa kita
kunjungi melalui kenangan.
Di sanalah masa kecilku tinggal.
Di antara pematang sawah yang telah
menjadi jalan, di tepi Tukad yang kehilangan lebarnya, di bawah langit
yang tak lagi sama, dan di dalam hati yang diam-diam masih merindukan semuanya.
Aku telah tumbuh dewasa, tetapi
sebagian hatiku masih tertinggal di pematang sawah itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buku Tamu