Rare Bali Anak Bali Belog Ngiring Ngajegang Bali dengan berbahasa Bali sane becik, senang ring Tembang Bali tur sekancan sastra lan Budaya Bali sane sampun kaloktah ring jagate mangda sumingkin jangkep tur paripurna #Bahasabali #AjegBudayaBali #RareBali

Breaking

Translate

Senin, 19 Oktober 2026

Kenangan Masa Kecil di Sawah Bali: Pematang, Ayah, dan Kerinduan

Jejak Masa Kecil di Pematang Sawah Bali: Ketika Kenangan Tinggal dalam Kerinduan


Ada yang tak pernah benar-benar pergi dari hidup kita: kenangan. Ia mungkin terkubur oleh waktu, tertutup oleh bangunan-bangunan baru, atau perlahan menghilang bersama perubahan zaman. Namun, ketika langkah kaki kembali ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil, kenangan itu seolah bangkit dari tidurnya, membawa kita pulang ke masa lalu yang tak mungkin terulang.


Pagi itu, aku kembali menyusuri jalan yang dahulu begitu akrab dengan langkah-langkah kecilku. Pematang-pematang sawah yang dulu sering kulewati kini telah berubah menjadi jalan beraspal. Jalur-jalur sempit yang dahulu saling terhubung di antara hamparan padi, mengantarkanku menuju sebuah sumber mata air yang dikenal dengan nama Lepasan.


Dulu, dari mata air itulah aku mengambil air untuk minum dan memenuhi kebutuhan upacara keagamaan Hindu, termasuk untuk membuat tirtha, air suci yang memiliki makna sakral dalam kehidupan umat Hindu. Letaknya di tepi Tukad, sungai yang dahulu cukup lebar, sekitar enam meter. Kini, sungai itu telah menyusut menjadi saluran air kecil, tak lagi menyisakan kemegahan aliran air yang kuingat sejak masa kanak-kanak.

Aku terdiam cukup lama.


Tempat-tempat yang dahulu menyimpan begitu banyak cerita kini seolah kehilangan wajah lamanya. Semuanya berubah. Pematang sawah, aliran sungai, jalan setapak, hingga pemandangan yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanku. Di hadapanku terbentang kenyataan, sementara di dalam benakku berputar kembali kenangan masa lalu yang begitu indah.


Entah mengapa, dadaku terasa sesak. Ada rindu yang perlahan mengalir, memenuhi ruang hati yang selama ini mungkin terlalu sibuk dengan kehidupan. Hampir saja air mataku jatuh. Aku merindukan masa kecilku, merindukan tempat ini, dan merindukan kebahagiaan sederhana yang dahulu terasa begitu biasa, tetapi kini begitu mahal harganya.


Bermain Layangan dan Berguling di Atas Jerami


Aku masih ingat betapa bahagianya kami ketika musim panen berakhir. Hamparan sawah yang baru saja dipotong padinya menjadi arena bermain yang luas. Tak ada pagar, tak ada tembok yang membatasi pandangan, apalagi bangunan yang menghalangi kebebasan kami berlari.


Di sanalah kami bermain layangan, berlarian ke sana kemari mengejar angin, seolah dunia ini sepenuhnya milik kami. Ketika tumpukan jerami kering menggunung di pinggir sawah, kami menjadikannya tempat bermain yang paling menyenangkan. Kami berguling-guling di atas jerami, tertawa lepas, saling mengejar, dan terkadang pulang dengan tubuh penuh debu serta rambut yang dipenuhi serpihan batang padi.



Tak ada mainan mahal. Tak ada gawai yang menyita perhatian. Tak ada pula keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang kami punya.


Cukup hamparan sawah, langit biru, angin yang berembus, dan teman-teman sepermainan. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hati kami bahagia.


Ketika musim berganti dan para petani mulai membajak sawah untuk menyiapkan lahan tanam, permainan kami pun berubah. Lumpur menjadi sahabat baru. Kami bermain perang lumpur, melumuri wajah dengan lumpur sebagai penyamaran, lalu berlari saling mengejar sambil melemparkan gumpalan lumpur kepada teman-teman.


Tubuh kotor bukan masalah. Pakaian basah bukan persoalan. Bahkan teguran orang tua pun sering kali tak mampu menghapus kegembiraan kami.


Kini, ketika mengingat semua itu, aku tersenyum getir. Betapa sederhana kebahagiaan masa kecilku. Betapa mudahnya kami tertawa. Dan betapa aku ingin sekali kembali ke masa itu, meski hanya untuk sehari, atau bahkan beberapa jam saja.


Namun, waktu tak pernah menyediakan jalan pulang menuju masa yang telah berlalu.


Menyusuri Sawah Bersama Ayah di Bawah Cahaya Petromak


Ketika benih-benih padi mulai tumbuh dan menghijaukan kembali hamparan sawah, kehidupan di desa seolah menemukan iramanya sendiri. Sawah yang sebelumnya gersang berubah menjadi lautan hijau yang menyejukkan mata. Di sela-sela tanaman padi, kehidupan kecil bersembunyi, menunggu ditemukan oleh anak-anak desa yang gemar menjelajah.

Pada malam hari, aku sering ikut ayah nyuluh, mencari belut di persawahan dengan bantuan lampu petromak.


Kenangan itu masih begitu jelas dalam ingatanku. Cahaya petromak menerangi pematang sawah yang sempit, sementara gelap malam menyelimuti hamparan persawahan di sekeliling kami. Aku berjalan mengikuti ayah, memperhatikan setiap gerakan di antara tanaman padi dan lumpur.


Dengan alat penjepit khusus yang bergerigi, kami menangkap belut yang bersembunyi di lubang-lubang kecil. Sesekali, kami harus masuk lebih jauh ke tengah sawah demi mendapatkan hasil yang lebih banyak. Jika beruntung, kami juga menemukan hewan lain yang bisa dikonsumsi, seperti keong mas, jubel, atau ikan-ikan kecil yang terperangkap di sela-sela lumpur.


Bagiku, malam-malam itu bukan sekadar perjalanan mencari lauk untuk dibawa pulang. Itu adalah waktu berharga bersama ayah. Ada kebersamaan yang tumbuh dalam langkah-langkah sederhana, ada pelajaran kehidupan yang mungkin dahulu tak kusadari, dan ada kehangatan yang kini terasa semakin mahal ketika dikenang.


Aku tidak tahu apakah ayah menyadari betapa berharganya setiap perjalanan itu bagiku. Mungkin, baginya, itu hanyalah rutinitas biasa. Namun, bagiku, malam-malam menyusuri sawah bersamanya telah menjelma menjadi kepingan kenangan yang akan selalu kusimpan di sudut hati terdalam.


Andai waktu bisa diputar kembali, betapa ingin aku kembali berjalan di belakang ayah, menyusuri pematang yang basah, ditemani cahaya petromak dan suara malam yang bersahutan.

Sayangnya, kenangan hanya bisa dikenang. Ia tak bisa disentuh kembali, apalagi diulang sesuka hati.


Gunung Agung dan Gunung Batukaru yang Kini Tersembunyi


Aku mengangkat pandangan, mencoba mencari pemandangan yang dahulu selalu menyambutku dari rumah.

Namun, Gunung Agung yang dulu tampak megah dari kejauhan kini tak lagi terlihat. Begitu pula Gunung Batukaru, yang dahulu menghiasi cakrawala dan menjadi bagian dari panorama sehari-hari.

Keduanya seolah lenyap dari kehidupanku, bukan karena gunung-gunung itu pergi, melainkan karena tembok-tembok rumah kini berdiri rapat di sepanjang jalan. Bangunan demi bangunan tumbuh menggantikan ruang terbuka, menutup pandangan yang dahulu begitu lapang.


Dulu, sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan persawahan hijau dengan latar pegunungan yang berdiri gagah. Pemandangan itu begitu biasa bagiku hingga tak pernah terpikir bahwa suatu hari aku akan merindukannya sedalam ini.


Kini, untuk melihat langit yang luas saja, pandanganku harus melewati sela-sela bangunan. Sawah yang dahulu membentang tanpa batas telah digantikan oleh rumah-rumah yang berdiri kokoh, seakan berlomba mengisi setiap jengkal tanah yang tersisa.

Aku tak menyalahkan siapa pun. Zaman berubah, kebutuhan manusia bertambah, dan kehidupan terus bergerak maju. Namun, jauh di dalam hati, ada bagian dari diriku yang masih ingin mempertahankan desa sebagaimana yang kukenal dahulu.


Aku merindukan bentangan sawah yang menghijau. Aku merindukan pemandangan gunung dari halaman rumah. Aku merindukan jalan-jalan kecil yang menghubungkan satu pematang dengan pematang lainnya.


Dan yang paling kurindukan adalah perasaan menjadi seorang anak kecil yang tak pernah menyadari bahwa semua keindahan itu suatu hari bisa menghilang dari hadapannya.


Bola Api Misterius dan Bioskop Horor di Persawahan


Ada satu kenangan lain yang selalu membuatku bergidik sekaligus tersenyum ketika mengingat masa kecil: bola-bola api misterius yang dahulu menjadi tontonan kami bersama keluarga dari rumah.

Pada masa itu, hamparan persawahan yang luas membentang di sekitar rumah. Ketika siang berganti malam, suasana desa berubah menjadi dunia yang berbeda. Gelap menyelimuti sawah, suara-suara malam mulai terdengar, dan lolongan anjing dari kejauhan menambah kesan sunyi sekaligus menyeramkan.


Dari rumah, kami terkadang menyaksikan bola-bola api yang tampak beterbangan di antara gelapnya persawahan. Cahaya itu muncul dan menghilang secara acak, bergerak ke sana kemari tanpa kami pahami asal-usulnya. Bagi kami yang masih kecil, pemandangan tersebut terasa misterius, bahkan menakutkan.


Belum lagi cerita tentang pesawat jadi-jadian yang konon terlihat terbang rendah di antara pepohonan. Entah apa yang sebenarnya kami saksikan kala itu. Mungkin ada penjelasan yang masuk akal, mungkin pula sebagian kisah itu tumbuh dari imajinasi dan cerita yang beredar di tengah masyarakat. Namun, bagi anak-anak pada masa itu, semuanya terasa nyata dan menyisakan rasa penasaran.


Kami menyaksikannya dengan perasaan campur aduk: takut, penasaran, sekaligus tak sabar menunggu kejadian berikutnya.

Persawahan yang pada siang hari menjadi tempat bermain, ketika malam tiba menjelma seperti bioskop horor terbuka. Tak perlu layar lebar, tak perlu tiket masuk, dan tak perlu efek suara buatan. Gelapnya malam, suara anjing yang melolong, desir angin di antara pepohonan, serta cahaya-cahaya misterius di kejauhan sudah cukup membuat imajinasi kami berkelana ke mana-mana.


Kini, semua itu tinggal cerita.

Lahan-lahan yang dahulu menjadi panggung bagi pengalaman masa kecil kami telah berubah. Pemandangan yang dulu terbuka kini terhalang bangunan. Malam yang dahulu terasa begitu hidup dengan segala misterinya, mungkin tak lagi menghadirkan suasana yang sama.

Dan aku menyadari sesuatu: bukan hanya pemandangannya yang berubah, melainkan juga diriku yang telah tumbuh dewasa. Dunia yang dahulu terasa begitu luas kini perlahan menyempit dalam ingatan, sementara waktu terus membawa kami menjauh dari masa kanak-kanak.


Ketika Desa Berubah dan Kenangan Menjadi Rumah


Aku kembali memandang sekeliling. Jalan beraspal membentang di hadapanku. Rumah-rumah berdiri di tempat yang dahulu menjadi bagian dari persawahan. Aliran Tukad yang pernah begitu lebar kini tinggal saluran air kecil. Pematang-pematang sawah yang dahulu menjadi saksi tawa dan langkah-langkah kecilku telah berubah menjadi jalan yang dilalui kendaraan setiap hari.

Semuanya berubah.

Dunia masa kecilku perlahan menghilang, menyisakan potongan-potongan kenangan yang hanya bisa kuhidupkan kembali melalui ingatan.


Ada kesedihan yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa tempat yang dahulu begitu akrab kini terasa asing. Seolah-olah aku sedang mengunjungi sebuah rumah lama yang pintunya masih ada, tetapi isi di dalamnya telah berganti seluruhnya.


Aku rindu masa kecilku. Rindu bermain layangan di tengah sawah. Rindu berguling di atas jerami kering. Rindu perang lumpur bersama teman-teman. Rindu berjalan mengikuti ayah di bawah cahaya petromak. Rindu pemandangan Gunung Agung dan Gunung Batukaru dari rumah. Bahkan, aku merindukan malam-malam yang dahulu dipenuhi rasa takut ketika menyaksikan bola-bola api misterius di kejauhan.


Semua yang dahulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang luar biasa berharga.

Mungkin begitulah cara waktu mengajarkan kita tentang arti kehilangan. Saat sesuatu masih ada, kita sering menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan. Kita menikmatinya tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari semuanya akan berubah, meninggalkan kita hanya dengan kenangan dan kerinduan.


Aku tahu, perubahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Desa harus berkembang. Jalan harus dibangun. Rumah-rumah tumbuh mengikuti kebutuhan zaman. Tak mungkin pula kita memaksa dunia untuk tetap diam hanya demi mempertahankan kenangan pribadi.


Aku menerima semua perubahan itu dengan hati yang berusaha ikhlas. Bukan karena aku tak sedih, melainkan karena aku mengerti bahwa waktu tak pernah berjalan mundur. Apa yang telah berlalu tak mungkin kembali dalam bentuk yang sama.

Namun, ada satu hal yang tak akan pernah bisa dirampas oleh perubahan: kenangan yang telah tertanam di dalam hati.


Pematang sawah boleh berubah menjadi jalan beraspal. Sungai boleh menyusut menjadi saluran kecil. Gunung-gunung boleh tersembunyi di balik tembok rumah. Hamparan persawahan boleh berganti menjadi permukiman.


Tetapi, anak kecil yang dahulu berlari di antara tanaman padi, tertawa di atas tumpukan jerami, dan berjalan mengikuti ayah di bawah cahaya petromak itu akan selalu hidup di dalam diriku.

Hari ini, aku memang tak lagi bisa bermain di sawah seperti dahulu. Aku tak lagi bisa menyaksikan pemandangan yang sama dari rumah masa kecilku. Namun, selama ingatan ini masih ada, aku akan selalu memiliki jalan untuk pulang.


Bukan pulang ke tempat yang sama, melainkan pulang ke masa yang pernah membuatku begitu bahagia.

Dan ketika akhirnya aku melangkah pergi dari tempat itu, aku membawa satu kesadaran sederhana: kita mungkin tak bisa menghentikan waktu, tetapi kita selalu bisa menjaga kenangan agar tak pernah benar-benar hilang.


Sebab, pada akhirnya, yang paling menyedihkan bukanlah ketika sebuah desa berubah rupa, melainkan ketika kita menyadari bahwa masa kecil yang begitu kita rindukan ternyata hanya bisa kita kunjungi melalui kenangan.


Di sanalah masa kecilku tinggal.

Di antara pematang sawah yang telah menjadi jalan, di tepi Tukad yang kehilangan lebarnya, di bawah langit yang tak lagi sama, dan di dalam hati yang diam-diam masih merindukan semuanya.


Aku telah tumbuh dewasa, tetapi sebagian hatiku masih tertinggal di pematang sawah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Cari Blog Ini

Pengikut

Blog Archive