Selamat Datang

Gowes Menyan Gunung Bunder Halimun

GOWES GUNDER MENYAN SAH BERSEPEDA kini menjadi kebutuhan manusia, kesadaran akan kesehatan semakin diperhatikan, mengingat pola ke...

Kamis, 08 April 2010

Ngurek – Keyakinan Membangun Percaya Diri

NGUREK

Tradisi Ngurek dalam berbagai tarian sakral ataupun upacara keagamaan telah memancarkan daya magis Pulau Dewata. Sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Manusia  menghujamkan keris ke tubuhnya tanpa ada darah yang memuncrat. Tanpa ada luka namun justru tarian yang mengemuka seni bertabur kesakralan menampak.

 
Dalam hal ini, tampak sekali rasa percaya manusia Bali dalam menjalani kehidupannya. Bila sudah berada di rel Dharma, maka senjata apapun tak akan mempan membedah atau menghancurkan jati diri sameton Bali. Dharma Raksati Raksitah, itulah keyakinannya.

 
Dalam hal ini tentu sangat jelas, tahapan seseorang sampai melakukan ritual Ngurek. Semua proses Ketuhanan sudah dijalankan dan akhirnya memuncak pada Ngurek tersebut. Setelah itu, cukup dengan percikan tirta, kesadaran sameton yang Ngurek di alam sekala kembali ke asal.


 
Sayangnya, fenomena Ngurek ini semakin menampak secara negatif. Manusia Bali begitu bangga melakukan aksi Ngurek yang sayangnya tidak berbasiskan ajaran Dharma. Akibatnya, darah tertumpah, nama baik tercoreng, bahkan harga diri sameton Bali merosot. Sameton Bali, sadar tidak sadar, seringkali menikam diri sendiri.

 
Dulu, berbicara soal Bali dan penghuninya maka kesan ramah, jujur, aman, seni dan magis yang terpancar. Kini, berbicara tentang Bali maka kesan yang muncul kekerasan, kedisharmonisan, arogansi, kemacetan (red), profanisasi hingga sindikat kejahatan internasional menggema. 


Bahkan sekedar untuk menggapai gengsi sebagai anggota dewan, memalsu ijazah pun menjadi sebuah kebanggaan. Kejujuran lenyap, kesederhanaan punah. Bali dari the Last Paradise menuju the Lost Paradise. Sorga yang hilang.
 
Saat ini, mereka yang berteriak ajeg Bali saat diteliti, justru bersikap ngujeg Bali bahkan ironisnya ada yang nguyak Bali. Figur yang berpidato lantang bicara soal pelestarian budaya, namun kenyataannya yang dilakukan eksploitasi budaya, baik demi kepentingan politik maupun pribadi. Oknum yang kritis bicara agama dan aktif di lembaga keagamaan, justru menunggangi lembaga keagamaan untuk target politik pribadinya.


Kemunafikan menjadi kebiasaan, kebiasaan buruk menjadi tradisi. Bali pun diambang kehancuran. Tradisi Ngurek berubah menjadi tradisi bunuh diri akibat Asta Aiswarya (delapan kekuatan suci) Hyang Widhi tidak lagi menyinari sameton Bali. Dulu Ngurek dengan kesucian, kini Ngurek dengan keangkuhan.

 
Di saat dimana kemajuan teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan dan modernitas fasilitas manusia, justru sameton Bali berada dalam degradasi jati diri yang makin turun. Bila etnis China, Vietnam, Thailand menghitung kemajuannya yang melompat pesat, kita di Bali malah termenung menatap tragedi yang terjadi di Bali secara silih berganti.

 
Melihat kondisi ini sudah saatnya ada gerakan revolusioner membangun kembali Bali. Tunjukkan diri dalam pola pikir, pola kata dan pola tindak yang bisa mengembalikan pancaran Bali yang dikenal dengan pancaran ramah, jujur, aman, seni, magis dan lainnya. Tidak usah yang hebat-hebat, cukup yang sederhana dan semampu kita untuk menjadi orang Bali yang Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu