Sabtu, 27 Februari 2010

Ke Bali (Hanya) Untuk Mati


Sebagai prajurit, Wayan Bamia bertugas hampir di separo Indonesia. Ia pernah mengabdi lima tahun di Bali. Menjelang purnawirawan, ia berbakti di daerah transmigrasi orang-orang Bali di Sumatera. "Di sini aku paling betah bertugas selama karierku,"katanya pada sang istri, wanita Cianjur, yang disuntingnya ketika ia bertugas di Bandung.


Pangkatnya terakhir letnan kolonel. Ia memutuskan tinggal di tempat terakhir ia aktif sebagai prajurit. "Daerah transmigrasi ini cocok buat aku," katanya lagi."Aku seperti berada di kampung halaman, hidup di antara rekan-rekan seumat, satu suku. "Ia beli sawah ladang di Sumatrea, memutar hidupnya sari prajurit jadi petani. Ia banting kemudi, dari memegang senapan ke menggenggam pacul. berkali-kalu ia bercerita kepada siapa saja ia jumpai, bahwa ia sangat bahagia.


Tapi semua anak-anak (ketiganya lelaki), ia kirim ke Bali. "Kamu harus sekolah di Universitas Udayana,"Ujar wayan kepada putera-puteranya."DI Bali banyak sanak saudara dan kerabat, kalian gampang minta pertolongan dan perlindungan jika dalam kesusahan. Puteranya yang berniat meneruskan kuliah di Yogya ia larang."Kita sudah punya Bali, untuk apa kamu ke Jawa ?" sarannya.



Sesungguhnya, Bamia memendam rencana rahasia, mengapa ia menyekolahkan anak-anak ke Bali."Pada akhirnya aku ingin ke Bali," ujarnya jujur pada istri. "Melepas kangen, kita bisa jalan-jalan menengok anak-anak. Namun tujuan utamaku, ada anak kita yang kelak tinggal di Bali, cari kerja di Bali, kawin di Bali. Dengan begitu suatu ketika kita bisa bersama mereka,"ujarnya."Aku ingin mati di Bali," bisiknya."Bagiku, di situlah tempat paling nikmat untuk mati."


Dulu, orang-orang Eropa memuji Bali sebagai sebuah firdaus terakhir yang harus dikunjungi sebelum mati. Tapi kini pujian itu tentu tak pantas lagi dilontarkan, kalau melihat Bali yang penuh sesak dan acak-acakan. Mana ada firdaus yang amburadul? Mulai banyak orang Bali Justru tidak ingin tinggal di Bali. Tapi kalau mati mereka tetap ingin di Bali. Adakah ini pertanda, Bali tak Pantas lagi untuk dihuni dan cuma cocok buat tempat mati?


Orang-orang Bali di perantauan semakin banyak. Mereka tumbuh menjadi masyarakat baru di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa. Sebagai suku minoritas, mereka tetap menjaga rasa kebalian, terus berusaha untuk sebisa dan sedekat mungkin menciptakan fisik dan jiwa yang Bali. Tentu banyak di antara mereka yang mati di tanah rantau. Namun jika mereka diberi kesempatan untuk memilih, mereka berniat seperti Wayan Bamia; mati di Bali. Tak apa ke Bali hanya untuk mati.



Mereka lebih suka diaben di Bali tinimbang di tanah rantau. Lihat Foto Ngaben Se DKI JAKARTA.  Kalau pun mereka mati mendadak, jenazah di kremasi, sedapat mungkin, nanti, mereka diaben di Bali. Mereka berniat menghabiskan hari tua di Bali. Mereka ingin, kalau nanti mati dan roh menjadi pitara, bisa tetap tinggal di Bali, dekat dengan anak cucu, dekat pula dengan roh nenek moyang. Mereka seperti menganggap, di tanah rantau, kendati dihuni oleh puluhan ribu orang Bali, disitu tidak ada cukup banyak roh leluhur. Mungkin bagi orang Bali rantau yang ingin mati di Bali, roh leluhur orang Bali hanya bersedia tinggal di Bali, tidak di Sumatera, di Sulawesi, Aceh, atau Ambon.


Tapi benarkah roh nenek moyang orang Bali tidak ada di Jawa, di Kalimantan, atau di Lombok? Jika orang Bali meninggal di rantau, kemanakah roh mereka? Apakah mereka melesat ke Bali? Jika roh-roh dan pitara itu semua numplek di Bali, siapa pula yang menjaga dan melindungi orang-orang Bali di rantau? Bukankah menurut kepercayaan orang Bali, roh-roh leluhur itu bertugas menjaga keturunan mereka?


Alangkah kuat daya ikat orang Bali pada tanah kelahirannya, sehingga kalau mati pun mereka ingin di Bali, kendati mereka sudah puluhan tahun di tanah rantau.Kita sebagai orang Bali sudah pasti cinta Bali "lovebali" (red)


Basa Basi Bali olih Gde Aryantha Soethama
Gambar adalah Foto pribadi dalam Flickr Sobat Lama

3 komentar:

  1. benar sekali,, walau hidup lama diperantauan,, mereka tidak akan melupakan Bali.. I love Bali.. :-)

    BalasHapus
  2. cerita yg menarik pak bozzz!!
    tp, klo semua orang luar mati di bali, ntr bali jadi sesek, apa lagi klo ga di aben!! bisa2 abis tanah di bali :D hehehehehehe, bcanda pak bozz!!

    BalasHapus
  3. Selamat malam, sahabat IT dan Chuky yang telah berkunjung dan memberi komentar membangun

    BalasHapus

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu