Selasa, 24 April 2012

Rare Angon Dewa Pengembala

Wayang Cenk Blonk

Dalam Cerita Wayang Lakon Sapu Leger, diceritakan Dewa Kala akan memakan segala yang lahir pada wuku wayang (menurut kalender Bali) atau yang berjalan tengah hari tepat wuku wayang. Atas petunjuk ayahandanya Dewa Siwa, Dewa Kala mengetahui bahwa Dewa Rare Kumara putra bungsu dari Dewa Siwa lahir pada wuku wayang.


Rare Kumara Dewa Welas Asih Rare Angon Dewa Pengembala Pada suatu hari bertepatan pada wuku wayang, Dewa Rare Kumara dikejar oleh Dewa Kala hendak dimakannya. 


Dewa Rare Kumara lari kesana ke mari menghindarkan dirinya dari tangkapan Dewa Kala. Ketika tengah hari tepat, dan dalam keadaan terengah-engah kepayahan Dewa Rare Kumara nyaris tertangkap Bhatara Kala kalau tidak dihalangi oleh Dewa Siwa. Oleh karena dihalangi oleh Dewa Siwa maka Dewa Kala hendak memakan ayahandanya. Hal ini disebabkan karena Dewa Siwa berjalan tengah hari tepat dalam wuku wayang.
Diceritakan selanjutnya, Dewa Siwa rela dimakan oleh putranya Dewa Kala, dengan syarat Bhatara Kala dapat menterjemahkan dan menerka ini serangkuman sloka yang diucapkan Dewa Siwa. Bunyi sloka tersebut :
 “ Om asta pada sad lungayan, Catur puto dwi puruso, Eko bhago muka enggul, Dwi crengi sapto locanam ” 

Dewa Kala segera menterjemahkan sloka itu serta menerka maksudnya ; “ Om asta pada, Dewa Siwa berkeadaan kaki delapan, yaitu kaki Dewa Siwa enam kaki Dewi Uma dua, semuanya delapan, “Sad Lungayan, tangan enam yaitu tangan Dewa Siwa empat, tangan Dewi Uma dua semua enam, “ Catur puto, buah kelamin laki-laki empat, yaitu buah kelamin Dewa Siwa Dua, buah kelamin lembu dua,semuanya empat, “ Dwi puruso, dua kelamin laki-laki, yaitu kelamin Dewa Siwa satu, kelamin lembu satu, semuanya dua, “ Eka bhago, satu kelamin perempuan yaitu kelamin Dewi Uma, “ Dwi crengi dua tanduk yaitu tanduk lembu, “ Sapto locanam, tujuh mata yaitu mata Dewa Siwa dua, mata Dewi Uma dua, mata lembu dua, yaitu hanya enam mata tidak tujuh, mana lagi saya tidak tahu.


Rare Kumara Dewa Welas Asih Rare Angon Dewa Pengembala Dewa Siwa bersabda mataku tiga (Tri Netra) diantara keningku ada satu mata lagi, mata gaib yang dapat melihat seluruh alam ditutup dengan cudamani.

Akhirnya Dewa Kala tidak dapat menerka dengan sempurna ini sloka itu, tambahan pula matahari condong kebarat, maka Dewa Kala tidak berhak memakan Dewa Siwa ayahandanya. Karena itu Dewa Kala meneruskan pengejaran kepada Dewa Rare Kumara yang telah jauh larinya masuk ke halaman rumah-rumah orang. 


Akhirnya, pada malam hari bertemu dengan seorang dalang yang sedang mengadakan pertunjukan wayang, Rare Kumara masuk ke bumbung (pembuluh bambu) gender wayang (musik wayang) dan Dewa Kala memakan sesajen wayang itu. Oleh karena itu, Ki Mangku Dalang menasehati Dewa Kala agar jangan meneruskan niatnya hendak memakan Dewa Rare Kumara, karena Dewa Kala telah memakan sesajen wayang itu sebagai tebusannya. Dewa Kala tidak lagi berdaya melanjutkan pengejarannya, sehingga Dewa Rare Kumara akhirnya selamat.


Dengan demikian dikisahkan Dewa Rare Kumara sebagai mitologi bahwa anak yang lahir pada hari yang bertepatan dengan Wuku Wayang dianggap anak sukerta dan akan menjadi santapan Bhatara Kala, karena itu anak bersangkutan harus dilukat dengan tirta Wayang Sapuleger.


Dalam ajaran agama Hindu ada tiga penggambaran sifat manusia yaitu sifat satwam,sifat rajas dan sifat tamas. Ketiga sifat itu ada dalam diri manusia. Hanya yang menjadi titik permasalahan, dari ketiga sifat tersebut, sifat mana yang lebih ditonjolkan pada diri manusia. 


Jika sifat satwam yang ditinjolkan maka sifat Dewa Rare Kumara yang lebih dominan ditampilkan, dimana sifat Dewa Rare Kumara penuh dengan sifat welas asih, suka menolong dan penyayang, sehingga Dewa Rare Kumara menjadi suatu keyakinan serta kepercayaan bagi wanita Bali yang mempunyai anak kecil, bahwa Dewa Rare Kumaralah yang membantu dan memelihara anak mereka. 

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Pelangkiran (tempat suci yang terbuat dari kayu) sebagai tempat memuja Dewa Rare Kumara, ditempatkan di kamar tidur si anak. Begitu pula sebaliknya, jika sifat rajas dan tamas yang lebih dominan pada diri manusia maka sifat Dewa Kala yang akan ditampilkan sehingga cenderung akan bersifat angkuh, rakus dan egoisme.


Didalam cerita sapuleger diungkapkan Betara Kala hanya mampu menebak dari badan fisik Dewa Siwa, seperti kaki beliau, tangan beliau, alat kelamin beliau dan sebagainya. Akan tetapi, Dewa Kala tidak mampu menebak mata ketiga dari Dewa Siwa


Kalau kita analisis kembali cerita sapuleger bahwa Dewa Kala hanya mampu melihat badan fisik dari Dewa Siwa, tetapi tidak mampu melihat dunia yang ada di luar kekuatan diri manusia atau kekuatan Tuhan. Sama halnya dengan manusia yang dipengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsu dia hanya mampu melihat alam sekala (alam nyata) tetapi tidak mampu melihat alam niskala (alam maya).

Rare Kumara Dewa Welas Asih Rare Angon Dewa Pengembala 


Rare Angon

Manusia wajib menjaga keseimbangan ekosistem, sehingga kehidupan dapat berjalan serasi dan harmonis. Salah satu dari komponen ekosistem rusak atau terganggu, maka akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Di alam ini yang termasuk makhluk hidup adalah manusia, binatang dan tumbuh – tumbuhan.



Manusia dikatakan memiliki tri pramana (tiga unsur kehidupan), yaitu bayu (tenaga), idep (pikiran) dan sabda (suara). Binatang memiliki dwi pramana yaitu bayu dan sabda, sedangkan tumbuh-tumbuhan memiliki eka pramana yaitu bayu saja. Karena manusia memiliki tiga pramana itulah sebabnya manusia dikatakan makhluk yang paling sempurna.


Namun sebagai manusia, tetap harus menjaga alam lingkungan sekitarnya yang juga merupakan sebuah yadnya. Saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga disebut yadnya. Aplikasi dari pemeliharaan lingkungan adalah melakukan yadnya pada Hari Tumpek Wariga atau Tumpek Ngatag atau Tumpek Penguduh yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya setiap hari Sabtu Kliwon, Uku Wariga (kalender Bali). 

Tujuannya melakukan pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara sebagai manifestasinya dari Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Beliau yang menciptakan dan melestarikan semua tumbuh-tumbuhan yang memberi kesejahteraan bagi kehidupan di dunia.


Upacara yadnya yang mencerminkan pemeliharaan lingkungan selain tumbuh-tumbuhan adalah melalui hewan-hewan kecil seperti segala jenis unggas. Dilakukan setiap enam bulan yang disebut Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, jatuh pada Sabtu Kliwon, Uku Uye (Kalender Bali). 


Pada saat itu dilakukan persembahan kepada Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Rare Angon yang menguasai semua binatang besar maupun kecil. Perayaan tumpek kandang bermakna untuk mengendalikan sifat-sifat binatang yang kurang baik, seperti sifat liar, susah diatur, ingin selalu bermusuhan seperti sifat ayam, sifat malas seperti babi.

Sumber; http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=19

2 komentar:

  1. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
  2. thanks sudah share kawan, outbound di malang nolimitadventure, selamat beradventure sobat

    BalasHapus

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu