Selamat Datang

Gowes Menyan Gunung Bunder Halimun

GOWES GUNDER MENYAN SAH BERSEPEDA kini menjadi kebutuhan manusia, kesadaran akan kesehatan semakin diperhatikan, mengingat pola ke...

Kamis, 15 Januari 2015

Petuah Orang Tua; Dharmaning Yayah Rama Rena

Dalam upacara metatah, potong gigi, disebut juga dengan Mesangih, Manusa Yadnya, ataupun Mepandes. Pada penghujung Upacara, anak yang telah melaksanakan Mesangih ini memperoleh petuah, Piteket dari orang tua. Piteket atau petuah orang tua kepada anak selaku Dharmaning Yayah Rama Rena ring Putra dan Suksmaning idep anak terhadap orang tuanya selaku Dharmaning Putra ring Yayah Rama Rena pada saat Sungkeman kepada orang tua.

Piteket orang tua kepada anak diutarakan dalam bahasa kawi (jawa -kuno) adalah sebagai berikut :
Duhai Tanayan mami anakku makabehan, duhai Nanda anakku semuanya
Hana panugrahanku riko, ada pemberian Ayah dan Ibu dalam wujud ritual kepada Nanda anakku
Atatah manuting sastra Agama, yang namanya Upacara Potong Gigi sesuai ketentuan dalam Sastra Agama
Moga-moga anakku tan wus manggihang Dirgayusa, mudah-mudahan Nanda anakku senantiasa dikarunia umur panjang
Amanggih wirya gunamanta, menemukan kemuliaan karena berlaku bijaksana
Jana nuraga asihing Widhi, disegani orang banyak dan dikasihi oleh Sanghyang Widhi
Susila wruhing naya, berprilaku mulia dan berbudi pekerti yang luhur
Kita anakku kabeh, hana pawekas Yayah Ibun nira mangke, Nanda anakku semua, ada pesan Ayah dan Ibumu sekarang
Pahenak akena talinganing pangrenge, perhatikan Nanda anakku dan dengar baik-baik
Aywa lupa amanggehaken Sastra Agama, jangan lupa didalam memegang teguh Ajaran Agama
Wilasitaning amanggehaken Sastra Agama, sebagai bukti Nanda anakku benar-benar tidak lupa pada Ajaran Agama
Tan wenang Nanda anakku rumaketing Panca Indrya mwah Irsya, tidak boleh Nanda anakku diliput oleh hawa nafsu Panca Indria dan sirik dengki
Ginawe ya ambek drowaka ika pada tan wenang, apalagi berani untuk melawan dan menentang orang tua itu semuanya tidak boleh dilakukan
Apan dudu ulahing kadharma, karena itu bukan perbuatan orang yang memegang Dharma
Mangkana kengetakena aywa lupa, mangke sembahen juga manira, Demikian Nanda anakku, ingat-ingat, jangan sampai lupa dan sekarang Nanda anakku sujud baktilah kepada Ayah dan Ibu


Piteket atau petuah ini kaarsa dreda bakti atau disambut baik oleh Anak kepada Ayah dan Ibunya dalam Bahasa Kawi (Jawa-Kuno), sebagai berikut :
Suksma manah Anakira dreda bakti, angolih panugrahan ta, dengan rasa bakti yang tulus Nanda Anakmu sampaikan terima kasih atas pemberian dari Ayah dan Ibu ini
Anakira makabehan umiring sadyan ta, Nanda Anakmu semua akan mengikuti keinginan orang tua
Moga-moga tan amurugaken pawekas ta, mudah-mudahan Nanda Anakmu tidak akan melanggar pesan Ayah dan Ibu

Prasida umanggehaken Sastra Agama, untuk itu Nanda Anakmu bisa memegang teguh Ajaran Agama
Mauwarsa manggihang kapramartan, yang menyebabkan Nanda Anakmu memperoleh ketentraman dan kebahagiaan
Mwang kadirgayusan ri jagahita, ataupun panjang umur dan kesejahteraan dalam hidup ini
Mangkane atur anakira makabehan, demikian Nanda Anakmu semua dapat sampaikan
Mangke hulun aneda nuhun sadyan ta, andulu panganjali, sekarang Nanda Anakmu mohon doa restu dari Ayah dan Ibu disertai sujud bakti.

Dikutip dari Sinopsis Upacara Potong Gigi, Metatah, Mesangih, Mepandes oleh Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. Dalam setiap kegiatan banjar di Ciledug,www.banjarciledug.org, beliau adalah Manggala Upakara dan Upacara kami. Suksma (RANBB)

2 komentar:

  1. setuju banget sob... kita harus patuh sama orang tua dan mengikuti suri tauladan mereka...

    BalasHapus
  2. Pastinya sobat .... marilah senantiasa menghormati orangtua kita, dengan patuh pada nasehat-nasehatnya..

    BalasHapus

Buku Tamu