MENDAKI DUA PUNCAK GUNUNG SEKALIGUS LOMPOBATANG DAN BAWAKARAENG DI SULAWESI SELATAN
Pengalaman mendaki dua puncak gunung Lompobatang dan puncak gunung Bawakaraeng ini sudah lama saya lakukan, namun karena banyaknya peristiwa kecelakaan bahkan kematian di gunung yang dialami Gen-z dan pendaki pemula, pendaki tektok yang lagi trend, membuat saya prihatin dan ingin berbagi pengalaman bagaimana mendaki gunung yang aman dan nikmat serta selamat sampai puncak hingga kembali ketemu orang tua kita di rumah. Peristiwa yang tidak kita inginkan di gunung saat melakukan pendakian dapat diminimalisir sedemikian kecil, sebaliknya tujuan kita menikmati keindahan puncaknya dapat dilakukan dengan menyenangkan. Inilah sebenarnya salah satu tujuan kita mendaki gunung waktu itu, kini tujuan mendaki gunung bertambah yaitu 'pamer' di media sosial, update status di puncak gunung, merasa diri paling gagah dan pemberani. Waw kamu keren sekali berada di puncak gunung, bagaimana caranya agar bisa keren ? Simak juga Etika Mendaki Gunung
![]() |
| Gunung Lompobatang & Bawakaraeng |
Mendaki gunung olahraga yang menuntut fisik dan mental yang baik. Fisik dapat dipersiapkan dengan olahraga jalan kaki, lari pagi, jalan jongkok dan yang menguatkan betis serta lutut. Latihan beban juga membuat kaki kita kuat. Latihan nafas dan mengatur nafas dapat dilatih dengan berenang sehingga paru-paru kita dapat maksimal menghirup oksigen. Banyak latihan fisik yang dilakukan semakin siap pula fisik kita untuk diajak berkegiatan di alam, terlatih dengan aneka perubahan suhu, dingin, panas, sejuk, hujan, basah dan lembab. Jadi hindari mendaki gunung asal berangkat.
Dari segi mental perlu yang kuat dan penguasaan diri yang baik. Mental yang kuat itu sama artinya dengan tahu diri, tahu situasi, tahu kemampuan diri, dan dapat berpikir dengan tenang. Fisik sangat dipengaruhi oleh mental kita yang lemah dan sebaliknya, sehingga dalam setiap aktifitas fisik di gunung akan sangat cepat mempengaruhi mental kita. Lelah, selalu menanjak, kapan sampainya inilah tantangan mental kita dalam mendaki gunung. Jadi persiapkan mental kita dengan mempelajari gunung atau tempat yang akan kita jajaki. Jika mendaki gunung maka pejalarilah karakter gunung tersebut. Gunung-gunung di hutan tropis ini punya hutan yang lebat, vegetasi yang basah dan lembab, tanah yang licin, pohon yang tinggi-tinggi. Sedangkan gunung apinya akan memiliki batuan lava yang tajam-tajam dan mudah longsor. Jadi pelajarilah sifat-sifat gunung yang akan kita daki agar menguatkan mental kita dalam perjalannannya. Simak Pendakian Gunung Argopuro
| Punggungan Tajam |
Kembali ke kegiatan mendaki dua puncak gunung sekaligus Lompobatang dan Bawakaraeng di Sulawesi Selatan ini saya lakukan saat Ekspedisi Celebes Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana Bali 1997. Waktu itu kita Ekspedisi Pendakian Gunung Lompo Batang, Bawakaraeng dan Latimojong, Pengarungan Sungai di Toraja, Penelusuran Goa di Maros, dan Penyelaman di Pulau Barang Lompo. Ekspedisi berjalan lancar, semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik, ini tentunya berkat persiapan kami yang cukup lama, baik persiapan administerasi, komunikasi dengan Mapala Universitas Hasanudin Ujung Pandang ( waktu itu pake surat menyurat ), pengumpulan data lokasi, penggalian dana, persiapan atlit fisik dan mental, pengurusan transportasi, peminjaman peralatan Selam dan kerjasama dengan perusahaan rafting di Toraja.
Tidak hanya kegiatan ekspedisi yang membutuhkan persiapan, setiap kegiatan aktivitas alam bebas seperti mendaki gunung ini membutuhkan latihan fisik dan mental, sehingga kita dalam melakukannya sangat enjoy, menyenangkan, menikmati, bukan sebaliknya menyengsarakan, menyedihkan bahkan terjadi pertentangan-pertentangan sesama kelompok yang akan berakibat fatal, seperti kesasar di gunung, kelompok terpecah-pecah, bahkan kegagalan kita kembali kerumah. Simak juga Pendakian Ke Gunung Semeru Berangkat Sendiri.
Dari kampus Universitas Hasanudin Ujung Pandang tempat menginap di Sekretariat Mapala Unhas kita berangkat ke Jeneponto tempat start pendakian Gunung Lompobatang, setelah singgah dan bermalam di Kuncen Gunung, bersilaturahmi memohon doa restu, mohon cuaca yang cerah dan mohon perlindungan serta petuah akan adat-istiadat setempat perihal tata krama kita selama mendaki gunung Lompobatang dan gunung Bawakaraeng. Keesokan hari kita mulai mendaki dengan medan dan hutan yang rapat serta batu-batu besar dikanan kiri kita. Pendakian ke Puncak Lompobatang berjalan lancar. Selanjutkan kita turun ke lembah Lohe, sempat kehilangan jalur penyebrangan sungai yang cukup terjal, dan berkemah di penggir sungai. Melanjutkan perjalanan di punggungan yang sangat tajam, dimana kiri-kanan nya adalah jurang yang dalam, berkabut dan hutan yang basah. Hingga kami dapat melewatinya dengan baik hingga ke Puncak Bawakaraeng. Perjalanan turun melalui jalur yang berbeda. Entah apa nama desanya saya lupa.
Selamat mendaki gunung, nikmatilah keindahannya dengan persiapan yang matang... Salam Lestari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buku Tamu