Rare Bali Anak Bali Belog Ngiring Ngajegang Bali dengan berbahasa Bali sane becik, senang ring Tembang Bali tur sekancan sastra lan Budaya Bali sane sampun kaloktah ring jagate mangda sumingkin jangkep tur paripurna #Bahasabali #AjegBudayaBali #RareBali

Breaking

Translate

Senin, 19 Januari 2026

MENDAKI GUNUNG SEMERU PENGALAMAN PENDAKI LAWAS BERANGKAT SENDIRI

MENDAKI GUNUNG SEMERU PENGALAMAN PENDAKI LAWAS BERANGKAT SENDIRI 

....Jadi persiapkanlah dirimu jika ingin mendaki gunung, hutan rimba padang lalang panas hujan akan menjadi sahabat yang menyenangkan....

Sebuah pengalaman yang tidak akan dilupakan sepanjang hidup ini, mendaki gunung Semeru di Jawa Timur 'nekat' berangkat sendiri dari Bali. Ini memang jaman-jaman tidak tahu rumah, masa mudaku yang penuh dengan gejolak rasa ingin berpetualang, mengukur kemampuan diri dan mencari banyak sahabat di setiap ruang dan waktu. Berikut kutulis kembali di blog ini sebagai informasi dan edukasi bagi para pendaki yang ingin mendaki gunung dimanapun lebih-lebih yang ingin menggapai atap langit di Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Sebelumnya bisa baca dulu Etika Mendaki Gunung 

mendaki gunung semeru
Temen-temen dari Jakarta



Kenapa berani nekat berangkat sendiri ke Gunung Semeru ? Ini sebuah tips sederhana yang bisa kubagi kepada teman-teman pendaki yang berpengalaman mendaki gunung-gunung di Jawa, tetapi belum mencoba mendaki gunung Semeru. Mendakilah pada bulan Agustus dan targetkan berada di puncak pada 17 Agustus. Jamanku dulu setiap 17 Agustus dipuncak-puncak gunung sering diadakan Upacara Bendera HUT Republik Indonesia. Nah ini salah satu tips bagi yang ingin mendaki gunung Semeru tetapi tidak memiliki teman. Pengalamanku saat itu berangkat dari Bali ke Malang menggunakan bus malam, dan tiba di stasiun Arjosari


Di Stasiun Arjosari ini, aku bertemu dengan seorang pendaki dari Jakarta yang juga berangkat sendirian. Terjadilah perkenalan dan kesepakatan untuk karena memiliki tujuan yang sama. Sama-sama ingin mendaki Gunung Semeru, dan sama-sama sendiri. Ah jaman itu begitu akrabnya anak-anak Mapala dimanapun bertemu, saling sapa, saling support satu sama lainnya. Merasa senasib dan seperjuangan. Lalu kita mampir ke Mapala di Kampus Universitas Brawijaya, ini salah satu tips bagi pendaki yang ingin memiliki teman seperjalanan. Wajib mampir ke kampus-kampus guna mendapatkan informasi tentang gunung-gunung dari anggotanya yang sudah berpengalaman. 


Setelah mengurus ijin di Departemen Kehutanan, kami berdua berangkat ke Tumpang untuk mencari Jeep yang ke Ranu Pani. Pada jaman itu ( 1996 ) masih menggunakan jeep-jeep off road jika ingin menuju pos Kehutanan di Ranu Pani. Ternyata di Tumpang sudah ada puluhan pendaki-pendaki untuk berangkat ke Ranu Pani, disana pun kami berkenalan dengan teman seorang diri yang berangkat dari Palembang. Jadilah kita membentuk tim dengan anggota 3 orang. Hehe ... lucu juga ya, ga kenal tapi tujuan sama. Setelah mendapatkan Jeep yang di naikin sekitar 15 orang. Waw Seru Banget di mana selepas Tumpang jalan tanah berdebu. Semua penumpang menggunakan topi, penutup muka, lengan panjang agar debu-debu tidak mengganggu. Sayang sekali jaman itu masih sangat irit dalam dokumentasi, tidak asal main jepret seperti sekarang ini .

Gunung Semeru
Temen-temen dari Solo

Kami bermalam di Ranu Pani tepatnya di pos Kehutanan, dan keesokan harinya menuju ke Ranu Kumbolo. Bertiga memang tidak ada yang tahu trek pendakian, namun teman-teman pendaki jaman itu sangat loyal dan saling mengingatkan, saling membatu, dan benar-benar seperti saudara jika sudah berjumpa di alam petualangan. Di Ranu Kumbolo ternyata aku berjumpa lagi dengan teman-teman dari Solo, temen seperjalanan mendaki Gunung Rinjani, wah kita kembali reuni. Itulah enaknya mendaki di bulang Agustus, banyak teman yang juga memiliki jadwal yang sama, walau tanpa Whatsapp ..


Pendakian selanjutnya menuju Pos Kalimati yang dilaksanakan keesokan harinya, dengan latar belakang Pendidikan Dasar Kepecinta-alaman Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana Bali, Mountaineering, Survival, Manajemen Perjalanan, Peta Kompas, Orientering Medan, dan pengalaman perjalanan hutan gunung di Hutan Gerogak Buleleng hingga di Danau Beratan Bedugul, aku sangat siap untuk mendaki gunung Semeru. Tetapi alam memang tidak bisa di tebak, kadang hujan, panas, berkabut, dan yang pasti mendaki itu adalah penjalanan menanjak yang tidak akan ada habisnya. Jadi persiapkanlah dirimu jika ingin mendaki gunung, hutan rimba padang lalang panas hujan akan menjadi sahabat yang menyenangkan. 

Puncak dengan Letusan Semeru

Baca juga Pengalamanku Pendakian Gunung Argopuro.

Tiba di Kalimati, kami meneruskan menanjak hingga batas vegetasi sering orang-orang bilang Cemoro Tunggal, karena memang masih tersisa satu pohon Cemara. Kami nge-camp kembali di punggungan, memang masa-masa pendakian di bulan Agustus ini sangat ramai. Keesokan harinya 'Summit Attack' menuju puncak gunung Semeru, dimulai pukul 01.00 WIB, bahkan ada yang lebih awal lagi. Akhirnya setelah melangkah dengan rumus 1,2,3 - 2, artinya melangkah 3 kali melorot 2 kali, karena medan berpasir dan kerikil, sehingga langkah kita akan selalu turun, seperti naik eskalator yang berlawanan. 

Tiba di puncak Mahameru, mengikuti upacara Bendera HUT Republik Indonesia yang diadakan oleh komunitas pecinta alam Malang. Kami kembali turun dan bertemu dengan warga yang terkena longsoran batu saat mendaki ke puncak.

Bahaya longsoran batu-batu menjadi tantangan yang sulit dihindari, aku mohon maaf tidak akan menceritakan peristiwa yang terjadi saat itu. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku Tamu

Cari Blog Ini

Pengikut

Blog Archive