Rabu, 03 Juli 2013

1001 Tanah Orang Bali

Bali not for sale pulau bali tidak dijual
Bali 100% Halal

1001 Tanah Orang Bali

Hampir semua orang Bali, sejak lama, menganjurkan agar jangan sekali-kali menjual tanah mereka di Bali, kepada orang luar. Resikonya banyak. Kalau kepepet betul akan uang, cukup dikontrakkan saja. Salah satu resiko yang sering mereka lontarkan adalah, nanti lama-lama kita, orang Bali, tidak lagi jadi bos di tanah sendiri. Kita akan terdesak ke pedalaman. Tetapi nyatanya tanah Bali terus diperjualbelikan. Tanah-tanah di pedalaman dan di pedesaan juga. Banyak orang desa yang langsung pucat pasi melihat segepok uang di hadapan mereka, sehingga tanah mudah sekali mereka lepas demi uang.


Turisme begitu banyak menampilkan pergeseran sikap manusia Bali memandang persoalan hidup dan masa depan. Mereka tidak lagi sudi memahami dan mendalami filosofi tentang kesejatian tanah air.  Maklum, sebagian besar orang Bali tidak sudi lagi berpikir seperti petani, yang menganggap hidup hanya diberikan oleh tanah.


Banyak orang Bali yang sekarang merebut uang, kesejahteraan, kenikmatan duniawi, tidak semata dari tanah. Banyak yang bekerja di sektor jasa, menjadi pengusaha besar, jadi manajer, jadi pesuruh di hotel, karyawan, yang memang butuh tanah cuma sepetak untuk tempat tinggal, tidak sebagai sumber penghidupan. Kini banyak orang Bali menganggap, tanah itu tak ubah seperti sebatang pohon bagi burung untuk tidur dan bersarang, tak lagi tumpah darah.

Aneh memang, bagaimana orang Bali yang sangat ketat dan taat pada tradisi leluhur, begitu mudah menjual tanah waris mereka kepada orang luar. Mereka terus menerus mengeluh terdesak, tapi terus menerus pula menjual tanah. Maka yang menciptakan keterdesakan itu adalah orang Bali sendiri.

Orang Bali percaya, kalau merusak, mereka juga akhirnya dipreteli. Kalau menghancurkan, mereka akan binasa. Kebanyakan orang Bali lebih suka mengalah, menyerahkan akhir persoalan pada Hyang Widhi. Egoisme memang bisa muncul sehari-hari di tengah masyarakat Bali. Lihatlah prilaku pengendara motor dan mobil di tengah kemacetan lalu-lintas, tak ada sudi mengalah. Mereka main serobot, dan gampang sekali marah.

Tampaknya, orang Bali mau berkelompok bahu membahu, kalau memang ada kegiatan, tempat dan waktu yang mengharuskan mereka berbuat begitu, seperti dalam kegiatan banjar atau di pura. Kalau mereka beraktifitas sendiri-sendiri, wah, bisa muncul kuat watak ego mereka. Dan Egoisme cuma sejengkal jaraknya dari kekerasan. Kalau orang Bali tidak pintar-pintar mengurus ego mereka, bisa luluh lantak jadinya.

Jika ada orang yang berniat mempelajari betapa tajam uang, alangkah berkuasa dan congkaknya benda ini, Bali masa kini bisa dijadikan contoh. Dulu, orang Bali dikenal sangat sederhana. Mereka pemalu, jauh dari sikap pongah, tidak diaduk-aduk oleh bermacam kepentingan.
Zaman baru selalu melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru, yang awalnya diyakini sanggup mengantarkan orang pada kebahagiaan baru. Tapi kebutuhan-kebutuhan baru selalu menciptakan persoalan-persoalan baru, yang justru lebih cepat berbiak, dan menenggelamkan kebahagiaan yang pernah disuguhkan olehnya. Inilah zaman yang kemudian disebut sebagai masa yang mudah membuat orang lupa diri.

Yang terjadi dalam proses lupa diri itu adalah, orang memandang uang selalu bisa menyelesaikan persoalan. Itulah mungkin sebabnya, orang Bali ingin daerahnya disulap dari sederhana menjadi kaya. Mereka berlomba-lomba berupaya agar dibangun kegiatan yang bisa cepat mendatangkan uang. Karena selama ini orang Bali sangat meyakini bisnis turisme secepat kilat sanggup menyulap wilayah menjadi kaya raya, tanpa pikir panjang mereka meminta kepada siapa saja agar investor ramai-ramai datang membawa banyak uang. Bali not for Sale.

Mengapa orang Bali memiliki daya kreasi cipta seni begitu kuat, sangat tinggi, beraneka ragam dan sangat dalam. Dalam berkesenian orang Bali tampak sangat mudah, melakukannya secara otomatis, naluriah. Keindahan alam Bali memberikan anugerah besar bagi warganya, keindahan itu merupakan sumber inspirasi tiada habis. Artinya, jika alam Bali kering kerontang, meranggas gersang, niscaya tak akan kita jumpai kesenian Bali dengan daya tariknya itu.

Orang Bali memang dilahirkan sebagai seniman. Darah dan daging mereka adalah seni. Nafas mereka seni. Uap yang mengalir di tubuh mereka seni. Panca maha butha, lima zat penyusun tubuh mereka, memang seni. Tanah Bali tanah seni, Bali not for Sale.

Bali masa kini memiliki takaran-takaran baru untuk mengukur keberhasilan seseorang. Banyak hal di takar dari pertumbuhan ekonomi. Dan semua itu menghasilkan benturan-benturan baru di kalangan masyarakat Bali yang mencoba bertahan terus pada tradisi. Tradisi yang membiasakan mereka untuk tidak menonjolkan diri, agar tetap harmoni.
Akhirnya orang Bali harus sadar, Bali jangan gegabah menerima peluang, jangan mudah takluk pada tawaran uang, sebab bisa membuat pulau kecil ini semakin terperosok, kian kaya dengan kesusahan, yang justru diciptakan oleh orang-orang Bali sendiri. Ngadep tanah warisan anggon transmigrasi. hah !! Bali not for Sale.

Akhirnya,1001 tanah Orang Bali; dahulu 1000 tanah milik orang Bali dan 1 tanah milik orang lain akan berakhir, berganti menjadi 1000 milik orang lain dan 1 milik orang Bali. Pendapat ini tak sepenuhnya benar. Tapi, begitulah yang terjadi di Bali.
Rare Angon Nak Bali Belog terinspirasi dari kenyataan dan buku-buku karya Gde Aryantha Soethama.

6 komentar:

  1. ikut prihatin ketika membaca ini, semoga keadaan segera membaik dan masyarakat diberi kesadaran lebih menanamkan rasa cinta kepada tanah kelahirannya. Fenomena seperti ini pun terjadi di daerah saya, tepatnya di jatinangor, dimana banyak penduduk yg baik terpaksa ataupun secara sukarela menjual tanah2 mereka untuk dibangun mall dll, dimana pada akhirnya mereka menjadi satpam, tukang kebun dll di mall itu yg dulu merupakan tanah dan tempat tinggal mereka sendiri...uang memang begitu manis, sampai kadang membuat manusia tak berpikir panjang

    BalasHapus
    Balasan
    1. perpindahan penduduk tidak mungkin dihindari, namun pelestarian budaya musti diutamakan, thanks atas share nya sobat

      Hapus
  2. Kalau melihat deskripsi diatas saya baru tahu dan ikut empati terhadap pergeseran pandangan hidup sebagian orang bali. Saya berharap orang Bali tidak bergeser sejengkalpun dari tanah leluhurnya jangan seperti pada kota2 lain seperti bandung yang penduduk aslinya termarjinalisasi. semoga!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas supportnya, Kang Deden

      Hapus
  3. sangat di sayang-kan yah, tapi itulah era keterbukaan saat ini, kita juga tidak bisa menampiknya, kalau ada pengusaha2 luar yang ingin berinvestasi di bali, mengapa tidak? dan juga menguntungkan kedua belah pihak, Propinsi bali salah satu yang aku kagumi, semoga aku bisa liburan ke bali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih supportnya, Bali membutuhkan perhatian terutama Keberlangsungan Budaya-nya yang sangat erat hubungannya dengan Agama Hindu

      Hapus

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu