Rare Bali Anak Bali Belog Ngiring Ngajegang Bali dengan berbahasa Bali sane becik, senang ring Tembang Bali tur sekancan sastra lan Budaya Bali sane sampun kaloktah ring jagate mangda sumingkin jangkep tur paripurna #Bahasabali #AjegBudayaBali #RareBali

Breaking

Selasa, 15 Januari 2019

Cara Untuk Mendapat Moksa

Rare Angon
Rare Angon Nak Bali Belog
Cerita seekor burung dari khasanah puisi Persia menarik untuk direnungkan. Prof. Sharma mencatatnya dalam konteks pembicaraan  tentang sthitaprajna dan jiwanmukti. Kisah singkatnya sebagai berikut : Seorang  saudagar bangsa Persia seringkali melakukan perjalanan dagang ke India. Pada suatu hari ketika ia kembali ke negerinya ia membawa seekor burung Kakatua India. Burung ini lalu dipeliharanya dalam sangkar emas, diberikan makanan yang paling enak, dan akhirnya ia menjadi sahabat burung itu.

Baca Juga : Cerita Tiga (3) Perampok Di Jalan

Burung itu ternyata dapat berkata-kata seperti manusia, dan dapat pula membicarakan ajaran-ajaran agama dengan saudagar itu yang kebetulan juga seorang yang saleh. Ketika saudagar itu berangkat kembali ke India, si burung Kakatua meminta kepadanya supaya membawakan sebuah hadiah : "Cara-cara untuk mendapat moksa ". Burung Kakatua itu berkata, "Saya sangat berterima kasih karena anda telah memberikan saya sangkar terbuat dari emas, makanan enak dan perhatian yang paling akrab. Tetapi saya tidak punya kemerdekaan. Oleh karena itu tolong usahakan menghimpun dari burung-burung Kakatua India yang lain, yang mungkin terbang bebas, bagaimana saya bisa mendapatkan kebebasan bagi diri saya sendiri". 



Baca Juga : Sastra Jawa Kuna : Kawin Paksa

Saudagar itu ketika menjelang kembali dari India sempat bertemu dengan segerombolan Kakatua. Segera ia menceritakan keadaan burung yang sekarang sedang terkungkung, dan minta diberitahukan bagaimana agar ia itu dapat bebas. Mendengar cerita itu salah seekor burung itu lalu tiba-tiba terjatuh dan mati. Sang saudagar berkesimpulan bahwa burung yang baru mati itu adalah pasangan tercinta burung Kakatuanya yang mati kesedihan.

Saudagar itu tidak berhasil mendapatkan "Cara-cara untuk mendapatkan Moksa/ kemerdekaan". Ketika ia sampai di rumahnya, dan ketika si burung Kakatua peliharaannya mendesak menanyakan tentang cara mendapatkan kebebasan, dengan berat hati diceritakan oleh saudagar itu tentang kejadian yang ditemuinya : betapa seekor burung Kakatua telah mati seketika ketika ia menanyakan hal itu kepadanya. 

Baca Juga : Cerita Rakyat Bali : Kutukan Ekalaya

Sementara sang saudagar melanjutkan ceritanya, si burung yang berada dalam sangkar emas itu lalu terdiam, pingsan dan akhirnya mati. Sang Saudagar menyesali kekeliruannya, dan berjanji tidak akan mengurung burung lagi, dan dengan tujuan memberikan kebebasan kepada burungnya,setidak-tidaknya setelah burung itu mati, lalu ia membuka sangkarnya dan melemparkan bangkai burung itu ke suatu tanah lapang.

Seketika burung itu terbang dan hinggap diatas rumah saudagar itu.Ia berterima kasih kepada saudagar itu karena benar-benar membawakan "Cara untuk mendapatkan Moksa / kebebasan" sebagai oleh-oleh dari India, dan menawarkan untuk memberinya pelajaran terpenting tentang kerokhanian dengan mengatakan bahwa burung yang mati di India setelah mendengarkan cerita saudagar itu dengan sangat cerdiknya menyampaikan kepada Kakatua di Persia, bahwa untuk mendapatkan kebebasan iapun harus mati. Demikianlah maka Kakatua di Persia juga mati setelah mendengar kisah saudagar itu dan akhirnya mendapatkan kebebasannya dari kurungan.

Renungan Cerita Burung Kakatua

Kisah ini memang perlu direnungkan. Ada dua segi yang menarik dari cerita ini : segi akal dan segi spiritual. Tentang segi akal yang pertama sudah jelas bagi kita, namun tentang segi yang kedua disebutkan bahwa "agar mendapatkan emansipasi spiritual seseorang harus mati sebelum kematian yang sebenarnya menimpanya" . Bagaimana kita memberi makna pada kata "mati: itu . Mari kita renungkan kembali cerita bermakna ini !! 

Dikutip dari buku Wija Kasawur Ki Nirdon

Baca Juga : 


 

My Channel Youtube

Cari Blog Ini

Pengikut

Blog Archive