Selamat Datang

STATUS DAN KEDUDUKAN DIKSITA

STATUS DAN KEDUDUKAN DIKSITA Seseorang  yang telah di Diksa diberi status dan kedudukan sebagai seorang Sulinggih di masyarakat....

Sabtu, 02 Februari 2013

Tawur - Upacara Penyucian

Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali
Tawur - Upacara Penyucian **

Tawur - Upacara Penyucian

Saat kedatangan mereka duduk di atas tandu permata,

Para pelayan dan dayang-dayang yang menemani Sang Putri semua mendekat,

Ketika semua telah berkumpul mereka terlibat seperti sebuah danau penyucian,

Pangeran dan Sang Putri adalah teratai mekar di danau itu.


 

Sekarang tersebutlah semua pejabat yang mondar-mandir ke sana kemari,
tidak pernah diam lama di satu tempat,
Sibuk memberikan petunjuk untuk mengawal tamu ke tempat yang tepat,
Ada wiku tua dan seorang guru spiritual wanita yang ditugaskan untuk melakukan tawur,
Memilih mereka yang memiliki nama baik dan mahir dalam memimpin tawur.

Saat mengerahkan diri dalam melakukan tawur, mereka bergegas bersama,
Diiringi instrumen yang merdu, mengalun pelan mengikuti genta pendeta,
Suara drum dari tawur memberikan elemen keriangan dalam ritual penyucian,
Instrument berhenti pelan-pelan ketika wiku mengakhiri dengan "Mantra Panca Brahma".

Sesuai upacara pembersihan, sucilah areal tanah tempat ritual,
Kapal-kapalan kecil sarawa, kotak air dan tempat duduk semua ditata untuk persiapan upacara,
Mangkuk emas wadah air suci diletakkan di tempatnya,
Semua syarat upacara sudah siap di panggung.

Perintah dari raja dan guru spiritual Sang Putri mengharuskan mereka saling memandikan,
Hati pangeran dan Sang Putri disucikan,
Sekarang setelah mereka selesai mandi, permata perhiasan mereka bersinar,
Seperti kuncup bunga dikuasai musim kering yang mekar pada saat turun hujan pertama.

( Mpu Monaguna, Sumanasantaka 111:4-9, abab ke-13, jawa )

Dua kakawin abad ketigabelas, yakni Sumanasantaka dan Kresnayana mengungkapkan deskripsi tentang upacara penyucian, tawur. Upacara yang dideskripsikan tersebut, bagaimanapun, berbeda pada tiap-tiap karya.  


Tawur, yang nampak seperti upacara penyucian atau upacara pengeluaran mahluk halus, tidak dibatasi sampai hanya pada upacara pernikahan. (Di Bali, tawur masih merupakan bagian dari upacara untuk bhutayadnya - upacara untuk mengambil kekuatan ketidakharmonisan yang ada di dunia. Beberapa ritual yang dilaksanakan dalam pesta pernikahan orang Bali diarahkan pada kekuatan ini). Tawur ini juga dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan untuk pertempuran dalam sejumlah karya-karya Jawa Kuna

Dalam Sumanasantaka, tawur merupakan upacara publik yang pertama untuk pengantin perempuan dan laki-laki dan berlangsung segera setelah Indumati menentukan pilihannya pada Aja dalam swayambara tersebut. Itu berlangsung pada paperasan yang berisi permata dimana sepasang pengantin duduk dikelilingi oleh pelayan wanita; pemuka agama mengucapkan doa dengan genta dan simbal. Tanda kebesaran yang digunakan dalam upacara meliputi hidangan, cupu emas yang berisi air suci dan tahta upacara. 

Dekorasi dari padi, yang melambangkan kesuburan, dan peralatan untuk memukul dan pemisah beras ditempatkan di samping paviliun. Fungsi spesifiknya tidaklah dijelaskan. Sedikit banyak malu-malu, pengantin perempuan dan pengantin laki-laki saling memandikan satu sama lain,
dan diberi pakaian baru. 

Dikawal oleh semua yang menjaganya, mereka dituntun menuju pura, tempat pendeta bergabung untuk berdoa dengan mereka. Bagian dari upacara ini dibedakan dengan jelas dari upacara yang kemudian ditampilkan di dalam pura. Upacara memilij nama dan mandi dan menghiasi pengantin perempuan dan laki-laki dilaksanakan oleh perempuan yang dipimpin oleh atau bersama-sama dengan seorang rohaniawan perempuan (acari).
Berlawanan dengan upacara tawur dalam Sumanasantaka, yang ditemukan dalam Kresnayana tidak menyebutkan pasangan pengantin itu. Uraian tersebut hanya satu stanza, yang memandang upacara upacara tersebut dari kaca mata kerumunan lalu-lalang, yang lebih banyak untuk memperhatikan kemegahan hiasan paviliun daripada aspek religius dari upacara tersebut.

Ada orang lain yang melihat tawur upacara agama,
mengerumuninya, memenuhin arca, tersebar di mana-mana,
Tapi mereka tidak datang untuk mendengarkan doa,
bagi mereka kemeriahan upacara yang memikat.
Pendeta bergegas menyelesaikan upacara,
konsentrasinya terganggu karena banyak orang;
Gentanya berbunyi lembut, diikuti mantra.

Pada Khandawawanadahana, pada pernikahan Arjuna dengan putri Citragandha para petapa perempuan diundang untuk bergabung dengan para pendeta istana (purohita) untuk melaksanakan upacara tersebut. Upacara mandi yang serupa seperti diuraikan dalam Sumanasantaka juga dilaksanakan, walaupun bukan diistilahkan dengan tawur


Arjuna dan Citragandha duduk berdampingan pada tahta kembar dan dibasahi oleh semacam air kunyit dan digosokkan dengan salep dan minyak wijen keemasan. Tidak ada detil lebih lanjut yang diberikan, dan pasangan tersebut kemudian diberkati. Acuan untuk para pendeta dan petapa perempuan menunjukkan bahwa upacara penyucian pengantin perempuan dan laki-laki memerlukan masukan dari seorang wanita ahli dalam upacara agatha.
Semua deskripsi kakawin tentang pernikahan mengalihkan pemberkatan sepasang pengantin oleh para rohaniawan dan pendeta-pendeta. 

Bagi masyarakat penikmat dari syair Jawa dan Bali penyebutan sederhana dari detil seperti pengantin perempuan dan laki-laki yang diberkati oleh para pendeta sudah cukup untuk menimbulkan semua doa tertentu dan upacara yang diperlukan pada suatu pernikahan, dan dalam kebanyakan kakawin, pesta pernikahan diuraikan hanya dalam pengertian yang sangat umum ini.

Agar pengetahuan kita lebih lengkap mohon membaca buku "Perempuan Dalam Dunia Kakawin - Perkawinan dan Seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali" karya Helen Creese.

2 komentar:

  1. Ada Award Buat Sobat Rare Angon ... :)

    BalasHapus
  2. ini Link Gambar Awardnya Sobat ku ... http://4.bp.blogspot.com/-_hg5MAV36vQ/UQ9j7VvMOgI/AAAAAAAAAb8/gX6pIE9JHsc/s320/MY+CARUY.jpg

    BalasHapus

Buku Tamu