DIJUAL CEPAT VILLA

DIJUAL CEPAT VILLA

Lokasi : Jln . Raya Uluwatu No. 2B, Kuta Selatan

Denpasar Bali – (Lokasi sebelum GWK)

Luas Tanah : 700 M2

Luas Bangunan : 400 M2

SPECC : 1. 3 Kamar Tidur + Kamar Mandi

2. Ruang Makan

3. Ruang Keluarga

4. Dapur

5. Tempat Jaga

6. Kolam Renang

Listrik : 10.000 Watt

Harga : Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar rupiah)

Bisa nego langsung pemilik

Status : SHM

Regards

Made L. Wijaya

HP. 0812 949 9049

HP. 0813 1102 2449

Informasi Lengkap silakan Klik :

http://olx.co.id/iklan/villa-dijual-cepat-IDoDbbL.html

Jumat, 31 Mei 2013

Gita, Kidung, Bhajan atau Kirtan

Genta Puja Mantra
Genta Pandita

  Gita, Kidung, Bhajan, Kirtan. Setiap Upacara Yajna yang tergolong Sattvika Yajna menurut ketentuan kitab Bhagawad Gita harus ada Gita atau Bahajn atau Kirtan sebagai nyanyian suci dari umat untuk memberikan nuansa rohani kepada penyelenggaraan Upacara Yajna tersebut.


Di dalam tradisi Hindu di Bali nyanyian suci umat untuk mengikuti Upacara Yajna disebut Kidung. Dalam tradisi budaya Hindu di Bali ada lima suara yang bertujuan untuk menyucikan jalannya suatu Upacara Yajna. Lima suara suci itu adalah suara kulkul atau kentongan Pura, Gamelan, Kidung dari umat yang mengikuti Upacara Yajna. Suara terpenting adalah suara Puja Mantra dan suara Genta Pandita yang memimpin Upacara.

Mengapa suara Puja Mantra dan suara Genta Pandita itu yang paling utama. Karena hal itulah yang menentukan selesai dan tidaknya Upacara. Sedangkan suara suci yang lainnya sangat tergantung pada besar kecilnya Upacara dan keberadaan Sang Yajamana atau umat yang menyelenggarakan Upacara Yajna tersebut.

Umat Hindu seperti umumnya umat Hindu di luar Bali, melantunkan Kidung itu tidak menggunakan Sekeha Kidung.

Umumnya semua diajak melantunkan Kidung secara bersama-sama. Saat sembahyang dijejeran terdepan umumnya ada dua orang yang menuntun pelantunan Kidung itu. Dua orang penuntun Kidung itu adalah seorang laki dan seorang perempuan yang dianggap sudah cukup menguasai Kidung yang akan dilantunkan. Dengan sistem itu akan mendorong setiap umat bisa menguasai Kidung dengan baik.

Dalam buku Itihasa dan Purana banyak sekali ilustrasi ceritra yang menyatakan bahwa Kidung itu dapat memeberikan vibrasi kesucian pada umat yang melangsungkan Upacara Yajna. Dalam kita Bhagawad Gita nyanyian suci untuk memuja Tuhan disebut Bhajan yang artinya sama dengan Kidung yaitu memuja dengan nyanyian suci. Dalam Bhagawata Purana dan sumber-sumber Sastra Hindu lainnya disebut Kirtan atau Kirtanam. Semuanya itu sesungguhnya hanya beda bahasa dan bersinonim saja.

Asrsta Annam

Upacara Yajna yang tergolong Sattvika Yajna itu hendaknya disertai adanya jamuan makan bagi umat penyelenggara Yajna dan juga dilingkungan Upacara Yajna yang sedang dilangsungkan.
Dalam tradisi Hindu di India disebutkan Anna Seva artinya adanya sumbangan makanan dalam rangga pelaksanaan Upacara Yajna. Kitab Manawa Dharmasastra menyatakan bahwa apabila dalam suatu Upacara Yajna ada orang kelaparan di lingkungan Upacara Yajna tersebut dilakukan, maka Upacara yajna itu tidak akan bertuah apa-apa. Pemberian jamuan makanan itu dilangsungkan sebagai penghormatan kepada para Atithi Yajna atau tamunya Upacara Yajna.

Hal ini dikalangan umat Hindu di Bali sudah berjalan cukup baik, ada istilah Ngujung atau Ngejot, Megibung, itu semuanya istilah lokal sebagai media untuk menjamu masyarakat sebagai Atithi Yajna. 


Dalam Agastya Parwa ada dinyatakan : "Maweh apangan ring kraman ". Artinya memberi makan kepada masyarakat sekitar. Hal itu digolongkan Manusa Yajna. Demikian juga dalam Manawa Dharmasastra ada dinyatakan bahwa menjamu tamu upcara dengan penuh hormat termasuk juga menghidangkan makanan kehormatan termasuk Manusa Yajna. Nampaknya hal ini mengandung maksud bahwa Upacara Yajna itu bertujuan untuk mengajarkan kepada umat agar mewujudkan kesejahteraan ekonomi pada lingkungan. Hal itu juga sebagai wujud dari pengamalan Agama yang baik. Jadinya dengan mengupayakan lapangan kerja bagi masyarakat lingkungan itu sesungguhnya tergolong yajna yang utama. Mendanai umat yang kurang mampu menyekolahkan anaknya termasuk Yajna.

Sumber bacaan buku " Mengapa Bali Disebut Bali ? " Oleh Drs. I ketut Wiana, Penerbit Paramita Surabaya, ditulis dalam blog rare-angon.blogspot.com oleh Rare Angon Nak Bali Belog.
Insert Picture by Pecalang Bali Photo

7 komentar:

  1. mantaap artikelnya kang ... :)

    BalasHapus
  2. dear Friend, I send a smile on the trip,
    with the wind, it pulls out,
    and brings you in this way,
    a dear, Saturday greeting to the house with joy, Dieter

    BalasHapus
  3. Sahabat-sahabat rare yang baik, Boku no Blog, Eka Ikhsanudin, Mr Dieter, thanks for support my blog, enjoy your weekend :)

    BalasHapus
  4. wah kapan yah saya bisa ke bali....

    BalasHapus
  5. Thanks for Nicole Drivedora Rossteffigraf or graphic Design blog, succes for your blog

    Buat sobat Cahyo jm blogger ganteng yang tinggal di jogjakarta, atas segala supportnya

    Wellcome to Bali

    BalasHapus
  6. dear Friend, you reward yourself
    by You're doing you a pleasure
    Your senses are the key to joy
    which you have always with you, I wish you a beautiful Sunday in joy, Dieter

    BalasHapus

Buku Tamu