PENDAKIAN GUNUNG RAUNG DAN KAWAH IJEN PENGALAMAN JAMAN DULU BANGET
Teknik yang harus dilakukan bila tersesat, kami menuju ke atas ke arah punggungan, sedapat mungkin tetap berada di punggungan bukan sebaliknya dilembah atau ngarai yang sewaktu-waktu bisa ada air besar.
Ini cerita lama yang bisa membuat inspirasi bagi Pendaki Pemula, sebuah cerita keberanian sang petualang muda namun sudah dibekali ilmu dan ketrampilan kepecinta-alaman, jungle survival, orientasi medan, navigasi darat, perencanaan perjalanan, mountaineering lainnya serta pengalaman mendaki alami sejak kecil. Maklum hidup di desa setiap hari harus berjalan kaki baik ke sekolah maupun ke sawah, sehingga kaki-kaki ini sudah terbiasa untuk berjalan jauh.
Awalnya perencanaan pendakian hanya ke Gunung Raung, ini salah satu syarat untuk menjadi anggota Organisasi Mapala Wanaprastha Dharma bagi anggota baru, sedangkan saya selaku pendamping kegiatan ini. Setelah pengurusan surat perijinan di Polsek (saya lupa) kami melanjutkan perjalanan menuju desa terakhir, sebelum tiba di Pondok Mbah Srani. Kami bermalam disana. Suasana pondok yang hangat di tengah-tengah hutan pinggiran desa.
Keesokan harinya kami berangkat pendakian ke Gunung Raung dengan tujuan puncak Sumber Wringin. Pendakian pada awalnya berjalan lancar, hingga tim mengalami perubahan jalur dari yang jelas ke arah semak-semak, semakin jauh dan jauh menerobos semak-semak belukar. Sebagai pendamping waktu itu saya hanya mengamati saja, karena belum disadari oleh tim arah yang dilewati itu salah. Setelah bersusah payah menerabas semak belukar di punggungan hutan, saya berusaha untuk menenangkan tim. Bahwa bila Gunung Raung sering didaki oleh pendaki maka jalurnya akan jelas, dan bila sudah ada tanda-tanda tidak jelas maka itu bukan lah jalur pendakian.
Kami akhirnya bermalam di tempat seadanya, pada malam itu pula kami evaluasi kegiatan ini, kenapa sampai kita tersasar ke tengah hutan yang tidak ada jalur pendakian. Teknik yang harus dilakukan bila tersesat, kami menuju ke atas ke arah punggungan, sedapat mungkin tetap berada di punggungan bukan sebaliknya dilembah atau ngarai yang sewaktu-waktu bisa ada air.
Pagi-pagi setelah berkemas-kemas untuk berangkat kita pastikan dulu bahwa jalur pendakian menurut informasi berada di sebelah kiri kita, karena saat awal terjadinya kesalahan tim dalam memilih jalur tidak melihat adanya pertigaan dan justru berbelok ke arah kanan. Diputuskan untuk mendaki punggungan ke arah kiri, dan ternyata benar, diujung punggungan terdapat jalan trek pendakian yang lebar, yang semestinya kita lalui kemarin. Namun karena tersasar kita terlambat satu hari.
Pendakian kembali normal sesuai informasi yang kami kumpulkan dari Mapala Universitas Jember, yang waktu itu sebagai tempat kami bermalam dan guide saat menuju ke Pos Mbah Srani. Kami melewati pos 4 pendakian Pondok Sumur, artinya kami tersesat masih di kaki gunung, sehingga tidak melewati pos 2 dan pos 3. Selanjutnya trek semakin jelas tim melewati Pondok Mayit dan bermalam di Pondok Angin dimana vegetasi sudah mulai paku-pakuan dan semakin jarang ditemui pohon-pohon besar, sebagai pertanda perbatasan vegetasi di gunung api.
Summit Attack kami lakukan pagi hari, setelah bermalam di Pondok Angin, diawali dengan doa dan kami menuju puncak, menyusuri bebatuan terjal dan sesekali memastikan jalur yang kami lalui memang benar, sebab terkadang juga kita menemui cekungan aliran air sehingga harus turun dan kembali naik. Dan kami tiba di puncak Sumber Wringin dengan tim yang utuh.
Mendadak ke Kawah Ijen.
Di luar perencanaan tim ternyata setelah melapor diri pada polsek, bahwa kami sudah kembali turun dari pendakian Gunung Raung, tim dalam perjalanan pulang jalan kaki menelususi perkebunan teh di sarankan agar ke Kawah Ijen, katanya deket hehehe.
Kami naik truk perkebunan hingga sore hari masih di perkampungan tempat pemetikan teh, akhirnya menginap pada salah satu tempat rumah pemetik teh yang kebetulan kosong. Menurut petunjuk petugas bahwa kendaraan yang menuju Kawah Ijen hanya truk pengangkut pekerja, tidak ada angkutan umum di perkampungan ini.
Sebuah pengalaman yang "nekat" berpetualang di perkebunan teh yang entah dimana. Keesokan paginya kita sudah bersiap-siap di pinggir jalan desa yang sunyi, agar tidak tertinggal truk. Pukul 09.00 ada truk membawa pupuk dan bersedia mengangkut kami menuju ke arah Kawah Ijen. Nanum perjalanan belum sampai kami harus turun. Dan entah dimana ini. Kembali kita berjalan menyusuri jalan yang sepi. Dan akhirnya ada truk yang sebenarnya kami tunggu, truk pengangkut pekerja pemetik teh, yang kebetulan menuju ke arah Kawah Ijen.
Tak jauh dari tempat kami diturunkan kembali berjalan sedikit dan tiba di Pos Kehutanan Kawah Ijen, dan melapor serta mohon ijin bermalam di mes. Pendakian ke Kawah Ijen dilakukan keseokan harinya bersama para penambang Batu Belerang.
Perjalanan pulang dari Kawah Ijen tidak semudah dibayangkan. Saat itu memang sangat sulit mencari angkutan bahkan tidak ada, yang ada hanya truk pengangkut pekerja pemetik teh, akhirnya disarankan mengikuti para pemikul batu Belerang yang menuju ke arah Banyuwangi. Saat itu memang sedang dibuat jalan dari Banyuwangi menuju Kawah Ijen, kami menyusuri jalan tanah bekas buldoser yang cukup lama, terkadang pula berpapasan dengan pemikul Batu Belerang.
Akhirnya kami tiba di pangkalan Batu Belerang, setelah diguyur hujan sepanjang perjalanan. Bila diingat-ingat kenangan itu, terpikir "NGAPAIN NAIK GUNUNG" .
Baca Juga Pengalamanku
Mendaki 2 Puncak Lompobatang & Bawakaraeng
Mendaki Gunung Semeru Sendirian
Mendaki Gunung Argopuro Sabana Cikasur
Wajib Tahu Etika Mendaki Gunung
Pendakian Gunung Rinjani Lombok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buku Tamu